Entah apa yang terjadi, tiba-tiba aku masuk ke dalam sebuah kelas yang begitu tenang-mereka tampak sedang fokus mengerjakan sesuatu di meja masing-masing. Tanpa sadar, aku sudah duduk di salah satu kursi bersebelahan dengan seorang laki-laki. Aku mencoba mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas dengan teliti, mengamati satu persatu sesuatu yang terpasang di dinding kelas. Pencahayaan ruang kelas itu tak terlalu terang, yang ku lihat hanya lingkungan yang berwarna kecoklatan. Entahlah, karena semuanya tampak berkabut bagiku. Aku tak terlalu tahu apa saja yang ada di dalam kelas tersebut.
Aku mencoba mengalihkan pandanganku dengan menoleh ke arah samping dan tak sengaja saling bertatapan dengan laki-laki di sebelahku. Aku melirik seragamnya dan aku membaca sederet tulisan pada seragam laki-laki itu-Bryan, tampaknya itu adalah namanya. Saat dia mencoba mengajakku untuk memulai percakapan, tiba-tiba lampu padam namun aku masih bisa melihat sekitar dengan jelas.
Anak-anak dalam kelas itu memekik sebagai setelah lampu padam. Tiba-tiba atmosfer mendingin seketika, suasana tampak begitu mencekam. Entah datang dari mana, namun angin berhembus begitu kencang dan mengikutsertakan debu-debu. Jika berpikir secara logika, ruang kelas itu bersih dan anehnya dari mana asal debu tersebut. Kertas-kertas berterbangan dan anak-anak mulai panik karena hal itu. Ditambah dengan suara-suara aneh mulai terdengar nyaring.
Saat masih sibuk bergelut dengan segala macam pemikiranku, aku merasakan jemariku digenggam oleh seseorang, aku mencoba melihat siapa pelakunya dan ternyata itu adalah Bryan. Dapat kulihat, dia menatapku dengan was-was, aku masih tak mengerti dengan suasana seperti ini. Tampaknya ada sesuatu yang membuat mereka begitu panik begitu pun dengan Bryan.
Angin masih berhembus begitu kencang dan tampak memutar dalam kelas dengan suasana yang semakin aneh. Tak lama, meja serta kursi saling bergeser dengan sendirinya. Semua anak perempuan di sana menjerit ketakutan dan tampak saling memeluk teman-temannya.
Bryan tiba-tiba menarikku untuk naik ke atas salah satu meja. Dan, hal yang membuatku ikut panik adalah genangan darah muncul begitu deras. Lebih terkesan seperti air sungai yang mengalir. Atmosfer semakin dingin dan suara teriakan anak-anak dalam kelas membuatku berdebar. Mereka semua mencoba untuk keluar dari kelas dengan tergesa dan saling dorong. Tanpa berlama-lama, aku ikut berlari keluar kelas dengan genangan darah yang semakin menjadi-jadi.
Semua orang dari kelas lain tampak berkerumun untuk melihat apa yang terjadi. Dan mereka pun ikut menjerit ketakutan ketika melihat genangan darah yang tampak mengejar mereka. Di tengah keadaan menakutkan itu, ada satu siswi yang tampak terdiam di dalam kelas dengan keadaan kacau dan anehnya dia sama sekali tak di kejar darah-darah itu.
Aku mencoba untuk menetralkan nafasku setelah berhasil keluar dari kelas, awalnya aku ingin mengajak gadis itu untuk keluar namun seseorang menyuruhku untuk bersikap acuh dan lebih baik menyelamatkan diri sendiri. Dan berakhirlah aku di depan kelas tadi sambil menyandarkan punggungku di tembok dengan terengah.
Bryan tiba-tiba berlari dengan tergesa, entah apa yang dia cari namun laki-laki itu tampak khawatir. Dan, setelah pandangannya tertuju padaku dia segera berlari dengan raut ketakutan. Dia menggenggam jemariku yang bergetar hebat.
"Apa kau baik-baik saja?"
Suaranya yang lembut membuatku tak lagi dapat menahan rasa takut tadi. Aku terisak dengan tubuh yang semakin bergetar.
"Hiks-aku takut-hiks-aku-takut-hiks"
Bryan menarikku kedalam pelukannya, rasa hangat serta nyaman dia berikan kepadaku. Aku tak tahu kenapa, tapi Bryan memang mengkhawatirkan keadaanku sejak tadi. Ternyata dia berlari dengan tergesa untuk menemukan keberadaan ku dan memastikan bahwa aku baik-baik saja.
"Kita harus pergi dari sini." ajaknya sambil mengusap pelan rambutku dan terus menggenggam jemariku yang masih bergetar. Aku sungguh ketakutan, ini sungguh mengerikan. Darah-darah itu sungguh membuatku nyaris pingsan. Karena memang pada dasarnya aku takut darah, aku begitu lemah jika melihat darah. Dan, aku sangat bersyukur jika Bryan-laki-laki yang baru aku temui begitu memperhatikan keadaanku dan ada di saat aku membutuhkan sandaran.
Dia mulai menuntunku untuk berjalan menjauh dari sana, dan saat aku mencoba untuk menoleh. Aku tercekat ketika melihat seorang perempuan tengah berdiri di ambang pintu kelas tadi dengan keadaan luar biasa kacau. Rambutnya kusut dan seragamnya lusuh. Noda darah menguasai tubuhnya dan dia tampak menyeramkan bagiku. Tubuhku semakin menggigil hebat dan suara Bryan seakan menghentikanku untuk terus menatap perempuan itu.
"Jangan pedulikan dia." interupsi Bryan dengan pelan. Kini aku mengalihkan atensi dari perempuan itu sesuai permintaan Bryan. Aku sungguh ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi tadi. Kenapa kejadian tadi begitu mengerikan?
Lantas, Bryan tetap menuntunku untuk pergi menjauh dari kelas itu. Yang aku lihat dengan jelas, saat ini aku berjalan menyusuri koridor sekolah. Di sebelah kanan koridor ada banyak tanaman yang entah apa itu dan sebuah kolam air mancur. Tapi, anehnya air itu berwarna hijau. Suasana sekolah tampak redup dan berkabut. Angin berhembus dan begitu menusuk sukma. Dingin dan mencekam. Aku hanya ingin tahu, misteri apa yang sebenarnya ada di sekolah ini.
Sekolah ini tampak megah, namun begitu berkabut sehingga segalanya tak terlalu terlihat indah. Entah ini sore atau malam aku tak tahu sama sekali. Sekolah ini cukup terbuka namun aku tak bisa melihat langit dengan jelas. Aroma yang menguar begitu aneh, aku tak yakin aroma semacam apa yang kini menyapa indera penciumanku.
Tiba-tiba Bryan menghentikan langkahnya dan kini aku dapat melihat banyak sangkar burung. Entah berapa jumlah sangkar burung itu, yang jelas sangkar burung yang berbentuk segiempat dan saling bertautan satu sama lain itu cukup panjang. Jika tak salah menghitung, tiap sangkar terdapat 7 burung merpati berwarna abu-abu. Bryan menatapku sejenak dan semakin mengeratkan genggamannya pada jemariku. Aku menanti dengan was-was, pasalnya wajah Bryan tampak begitu ketakutan.
Dan, dengan gerakan cepat dia membuka satu persatu sangkar itu dan membiarkan burung merpati yang berada di dalamnya berterbangan keluar. Aku cukup bingung dengan tindakan Bryan saat ini. Aku tak terlalu paham, namun tampaknya Bryan memiliki maksud tertentu melakukan semua ini. Dan aku cukup penasaran akan hal itu.
Detik di mana burung merpati itu keluar dengan ribut, tiba-tiba suasana lingkungan menjadi semakin menyeramkan. Burung-burung yang keluar tampak mengeluarkan aura hitam dan asap hijau mengepul. Hewan yang biasa tampak cantik itu kini terlihat seperti burung gagak. Angin berhembus ribut dan suara-suara aneh mulai muncul kembali. Bryan semakin menggenggam jemariku, dan aku semakin ketakutan dengan keadaan saat ini.
Aura sekolah tampak seperti rumah hantu, dapat ku lihat sebuah pohon beringin tumbuh tiba-tiba, menjulang begitu mengerikan. Bryan menarikku dan membawaku untuk pergi dari tempat tadi. Sekolah tampak sepi, entah kemana perginya para penghuni sekolah yang tadi tampak ramai setelah kejadian munculnya genangan darah.
Bryan membawaku ke sebuah tempat gelap namun tidak tampak menyeramkan seperti tempat-tempat sebelumnya. Dia menuntunku untuk duduk di sebuah kursi dan tepat di belakang kami sebuah kolam air mancur dengan bentuk lingkaran. Udaranya terasa tenang, namun aku masih ketakutan setelah menyaksikan banyak kejadian aneh beberapa saat lalu.
"Kita di mana?" tanyaku dengan nada yang lemah. Sungguh, nafasku terasa sesak karena ketakutan. Air mataku terasa mengering setelah menangis tadi dan mataku terasa sembab.
"Kita masih di area sekolah. Tapi jangan khawatir, tempat ini aman. Kau bisa rasakan perbedaannya bukan?"
Memang benar, perbedaan atmosfer di tempat ini lebih baik daripada yang lain. Tampaknya memang benar, tempat ini lebih aman dari sebelumnya. Aku mengangguk lemah dan menyandarkan punggungku pada kursi.
"Kenapa banyak sekali merpati yang terkurung tadi?" tanyaku penasaran. Karena memang merpati yang Bryan lepaskan bukan hanya satu dua saja, tetapi hampir puluhan merpati yang di lepaskan olehnya.
"Itu bukan seperti apa yang kau lihat. Jika kau lebih teliti lagi, merpati itu mengeluarkan aura lain. Mereka adalah jiwa-jiwa yang terkurung di sekolah ini."
Dahiku berkerut heran, aku masih tak mengerti dengan penjelasan Bryan barusan. Namun, tak sempat melontarkan kalimat tanya kembali, seseorang menarikku tiba-tiba. Aku menoleh dan menemukan seorang gadis yang tampak menatapku serius.
"Kau harus ikut denganku!"
Aku menoleh kearah Bryan dan dia mengangguk. Namun, sorot mata Bryan tampak sendu seolah tak ingin melepaskan genggaman tangannya dariku.
"Ingat, jangan pernah kembali." Itu kalimat terakhir yang Bryan ucapkan setelah aku benar-benar pergi dari sana.
Gadis yang membawaku tampak tergesa sehingga aku harus bisa menyesuaikan langkahnya. Kami melewati banyak lorong aneh dan cukup berbelit. Banyak ruangan yang cukup seram dan membuat nyaliku seakan menciut. Kakiku pegal. Tampaknya aku berjalan cukup lama melewati banyak ruang kosong dalam sebuah gedung. Lebih mirip sekolah.
Dan, aku melihat satu pintu yang nampak sebuah cahaya diujung sana. Gadis itu membawaku keluar, dan disinilah kami berdua. Aku berdiri digerbang depan sekolah. Aku sempat terkejut melihat gedung sekolah megah didepanku dengan horor. Disana, tampak aura mengerikan mengelilingi gedung tersebut.
Satu orang yang kuingat, Bryan.
Aku terlanjur mengandalkannya dan aku mengkhawatirkannya.
"Sekolah ini terlalu berbahaya untukmu. Pulanglah, dan lupakan Bryan."
Mana bisa aku melupakannya sementara dia sudah bersusah payah membantuku.
"Sebenarnya apa yang terjadi disini?"
Gadis itu tersenyum, "Kau tak perlu tahu."
"Selamat tinggal."
TAMAT