Sudah bertahun-tahun aku hidup bersama rasa sakit ini. Dan sekarang apa yang bisa kulakukan? Aku hanya mampu berbaring dan terus berbaring di ranjang rumah sakit. Menikmati sisa-sisa waktu yang kumiliki sekarang, entah kapan Tuhan akan memanggilku. Mungkin hari ini atau esok. Tak ada yang tahu.
Aku pun tak tahu dosa apa yang sudah ku perbuat hingga Tuhan memberi sakit yang sebegitu parah untukku. Dimulai saat aku memasuki dunia SMA, tubuhku semakin lemas setiap harinya dengan kulit yang berubah warna menjadi kuning. Aku kira ini hanya penyakit kuning biasa, namun nyatanya ini lebih parah dari yang aku kira. Kanker hati, dan kini aku sudah berada di fase stadium akhir. Di ujung waktu yang kumiliki mungkin?
Semuanya berubah sejak aku terkena kanker, teman-temanku perlahan menjauh, dan kedua orang tuaku bercerai. Kini, di titik dimana seharusnya aku bersama orang yang ku sayang, aku hanya sendirian. Menikmati pagi dan malam yang sama di rumah sakit. Ya, setidaknya ayah masih mau membiayai segala pengobatanku.
Aku mengambil cermin yang tergeletak di meja sampingku. Menatap pantulan wajahku yang kini terlihat agak menyeramkan. Wajah yang dulu sering aku bangga-banggakan kecantikannya, kini semakin tirus memperlihatkan tulang pipiku yang menonjol. Rambutku yang dulu hitam panjang, kini tak bersisa barang satu helai pun. Segera ku letakkan kembali cermin itu dengan posisi menelungkup, cukup, aku tak kuat melihat wajahku sendiri.
Pintu kamarku terbuka menampilkan seorang suster membawa nampan berisi makan siangku.
“Nona Aira, ini makan siang anda. Oh ya, ada seseorang yang ingin menemui anda di depan. Apa ia diizinkan masuk?” tanya suster itu.
Aku hanya mengangguk, rasanya tak kuat lagi meski hanya berucap ‘iya’. Suster itu pergi dan tak berlangsung lama, seorang pemuda dengan baju kotak-kotak khasnya masuk. Ia tersenyum sembari membawa sebuket bunga lili kesukaanku.
“Bagaimana kabarmu hari ini, Aira?” tanyanya sembari memberikan bunga itu untukku.
Aku mencium bunga tersebut sebelum akhirnya menjawab pertanyaan lelaki tampan didepanku itu.
“Seperti biasa. Tak ada yang berubah, selalu sendirian,” jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari buket ini.
Ia menghela napas, “Sudah kubilang, Aira. Kau tak sendirian, kau lihat kan? Masih ada aku. Aku selalu kesini menemanimu.”
“Sudahlah Rian, aku sudah bilangkan tak usah kau buang waktumu hanya untuk menjengukku disini. Lagipun aku sudah di ujung waktu, jika bukan hari ini mungkin esok Tuhan memanggilku.” Aku meletakkan buket bunga itu, lalu memandang ke luar jendela.
“Sayangnya aku tak bisa, menemanimu hingga sembuh adalah tugasku sekarang. Menggantikan keberadaan orang tuamu,” ujar Rian. Meski tak melihat, aku tahu jika kini matanya menatapku dalam.
Aku tak mau melihat matanya. Aku takut jatuh terlalu dalam saat melihat ketulusan itu. Akupun bukan gadis yang bodoh, aku tahu jika Rian menyukaiku. Hanya saja aku tak mau membuatnya sakit hati karena umurku yang tidak lama lagi.
“Kau belum makan siang kan? Mari aku suapi.” Rian mengambil mangkuk makananku dan mulai menyuapiku.
Kegiatan biasa yang kini sering ia lakukan.
“Kau tahu Ri? Di ujung waktuku nanti, aku hanya ingin seperti anak lainnya. Dipeluk hangat oleh ayah dan ibu dan berkata bahwa mereka sangat menyayangiku,” ujarku di sela-sela kunyahanku.
“Hei! Apa yang kau katakan? Kau akan mendapatkan itu untuk selamanya. Kau pasti sembuh, Aira.” Tangan Rian membelai lembut pipiku.
Aku hanya menggeleng pelan. Setelahnya tak ada lagi pembicaraan di antara kami, Rian hanya fokus menyuapiku. Setelah makan siangku habis, Rian pun pamit pergi. Dan kini aku sendirian lagi. Aku menatap langit-langit rumah sakit, setetes butiraan bening jatuh di pipiku. Semakin hari tubuh ini semakin melemah, tapi tetap saja tak ada yang peduli bahkan kedua orang tuaku.
Oh Tuhan, aku hanya berharap, di ujung waktuku nanti aku bisa bahagia seperti anak pada umumnya. Hanya itu saja Tuhan. Setelahnya, aku terlelap dalam indahnya mimpi di siang hari.
Esoknya, hari berlalu seperti biasa, tak terasa hari pun telah siang. Seperti biasa, Rian selalu menjengukku, membawa sebuket bunga dengan wajah yang senantiasa tersenyum. Aku heran, kenapa ia selalu tersenyum, apa ia tak pernah merasa kesedihan?
Rian kembali menyuapiku, namun tak seperti biasa, kali ini ia lebih diam dari biasanya. Apa ia sudah bosan menjengukku terus?
“Kau kenapa?” tanyaku akhirnya.
“Tidak ada. Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Rian balik. Aku tahu ia hanya mencoba mengalihkan pembicaraan, tapi ya sudahlah.
“Lebih buruk, rasanya semakin sakit, Ri. Aku rasa waktuku hanya tinggal hari ini.”
Rian terdiam mendengar jawabanku. Ia meletakkan mangkuk makan siangku yang telah kosong kemudian menggenggam tanganku lembut.
“Hari ini aku akan disini, menemanimu seharian, Aira.”
“Kau tak bekerja?” tanyaku bingung. Pasalnya aku mengenal Rian dengan baik, dan ia adalah seorang pekerja keras.
“Aku sudah meminta izin, setelah makan siang aku akan menemanimu sampai sore atau mungkin sampai malam,” ujarnya dengan senyum yang menawan.
Aku tersenyum. Alangkah bahagianya diriku jika kedua orangtuaku juga disini, bersamaku di ujung waktuku.
Aku mengalihkan pandanganku ke luar jendela, melihat pemandangan rumah sakit dari sini bukanlah sesuatu yang buruk. Lama aku menatap ke luar hingga tak terasa air mata ini jatuh kembali.
“Aku ingin ayah dan ibu disini memelukku, aku sudah lama tak merasakan itu, Ri. Sejak aku SMA, 3 tahun yang lalu sejak kanker ini mulai menggerogoti tubuhku,” ucapku sendu tanpa mengalihkan pandangan dari jendela.
Hingga akhirnya aku merasakan kehangatan, ini bukan selimut melainkan sebuah pelukan. Segera ku alihkan pandanganku dan melihat dua orang tengah memelukku. Seorang pria dan wanita dengan setelan kantornya. Apa ini nyata? Atau sekadar mimpi? Mereka? Kedua orang tuaku disini memelukku?
Aku menangis haru, dengan susah payah kugerakkan tangan ini membalas pelukan mereka. Hangat dan nyaman. Aku sempat melirik ke arah Rian yang tengah tersenyum.
“Maafkan kami, Aira. Seharusnya dari dulu ayah dan ibu menemanimu disini,” ujar ayah sembari melepas pelukan kami.
“Maafkan ibu juga, Aira. Ibu telah gagal menjadi seorang ibu yang baik untukmu,” kini giliran ibu yang berujar.
Aku bahagia Tuhan, jika boleh aku tak ingin waktu segera berlalu.
“Tidak apa Ayah, Ibu. Aku bahagia melihat kalian disini.”
“Mulai hari ini, ibu dan ayah akan menemanimu sampai kau sembuh. Tak ada lagi Aira yang sendirian sekarang,” ucap ibu sembari membelai kepalaku.
Tapi kenapa, tubuhku kini terasa sakit, bahkan untuk bernapas pun semain sulit. Apa ini sudah waktunya Tuhan? Jika iya, tak apa. Aku ikhlas, yang terpenting aku sempat merasa bahagia di ujung waktuku.
“Ayah, Ibu, tolong peluk aku lagi,” pintaku dengan pelan.
Kedua orang tuaku mengangguk. Mereka kembali memelukku, sangat hangat. Aku sungguh bahagia Tuhan. Aku merasa napasku semakin pendek. Ya, ini sudah saatnya. Aku menjulurkan tanganku ke arah Rian.menggenggam tangannya yang hangat dengan tanganku yang mulai mendingin.
“Terimakasih, Rian.”
Dan setelahnya, semuanya gelap. Aku kira hanya untuk sementara, tapi ternyata gelap ini berlangsung selamanya. Aku pergi menuju sisi-Nya. Aku bahagia, di ujung waktuku aku masih bisa merasakan pelukan hangat keluarga yang telah lama tidak aku rasakan. Untukmu Tuhan aku ucapkan, terimakasih telah memberi kebahagian di ujung waktuku. Sekali lagi terimakasih.