Leo berjalan tergesa-gesa menghampiri gerbang sekolah yang hampir ditutup itu. Ini adalah hari pertama di sekolah barunya dan ia hampir terlambat. Fiuh. Beruntung, pak satpam yang baik hati bersedia membukakan gerbang kembali untuknya, meskipun ia terlambat.
"Anak baru toh? " kata Pak satpam, dengan logat Jawa yang kental.
"I-iya pak" sahut Leo sembari tersenyum gugup ketika pandangan beberapa siswa mengarah padanya. Dia bergegas masuk.
"Oh, kelas berapa mas? Mas tau kelasnya? "
Untuk pertanyaan itu, sebagai jawaban, Leo menggeleng. Dia tidak tahu dimana persis kelasnya, karena data tentang kepindahannya sangat mendadak sekali. "Belum pak, saya masih baru di sini, jadi gak kenal sama wilayah sini" tuturnya.
Pak satpam manggut-manggut. "Oh, ya udah. Mas masuk saja dulu. Jalan-jalan atau cari teman dulu. Nanti saya kabari gurunya"
Leo tersenyum melihat kebaikan pak satpam. "Oke pak.makasih ya pak"
Pak satpam itu juga tersenyum padanya. "Sip mas. Oh ya, panggil saja saya Den. Semua orang disini memanggil saya Den. "
"Iya Pak Den. Saya masuk dulu ya" sebelum meninggalkan pak satpam itu, Leo sekali lagi tersenyum padanya.
"Eh, mas, mas" panggil Pak Den mendadak ketika Leo sudah beberapa langkah jauh darinya. Leo menoleh dan menatap pria yang kira kira berusia pertengahan empat puluhan itu dengan tatapan bertanya. "Iya pak? "
"Hati-hati ya, mas"
Entah kenapa, kalimat itu sukses membuat Leo waspada.
***
Bel berbunyi. Jam istirahat. Leo masih di kelasnya, tidak pergi ke kantin karena ia tidak lapar, sudah sarapan tadi pagi. Cowok berkacamata itu menyandarkan kepala di lengannya, menelungkupkan kepalanya, tanda bosan terpancar di wajahnya.
"Eh, Le, mending lo tidur disini, kantin yuk" Tiba-tiba Raka datang menepuk pundaknya. Raka adalah teman sebangku nya. Cowok yang merupakan idola sekolah itu, tersenyum ramah padanya.
" Kamu duluan saja. Aku sudah sarapan tadi" tolak Leo halus.
"Kalo pun lo udah sarapan, camilan nya mana? " Raka menarik-narik lengannya. "Yuk ah. Gak ada teman gue. Kita kan baru temanan. Masa lo tega sih"
"Oke oke. Aku ikut kamu" Leo tersenyum geli.
Mereka berdua pun pergi ke kantin dan sepanjang di kantin itu, tak henti-hentinya para siswi menatap Raka dengan tatapan kagum, dan tatapan aneh kepada Leo. Leo tidak memperkirakan itu, karena ia tahu bagaimana penampilannya sekarang ini, di tatapan orang-orang.
Leo tidak terlalu ganteng, tidak juga terlalu jelek. Wajahnya pas pasan. Dengan kacamata bingkai tipis menghiasi wajahnya, tentunya menambah kesan kutu buku untuknya. Tubuhnya jangkung, dan kurus, tidak seperti orang orang yang gemar ke gym untuk sekedar olahraga dan melatih otot otot. Dia, seperti manusia normal lainnya. Seorang pelajar yang biasa biasa saja, polos tidak tahu apa-apa.
"Eh, lo diliatin tuh? Mana tau mereka naksir sama lo" bisik Raka, menggoda Leo.
Leo hanya tersenyum tipis menanggapinya. Masa? Bukannya naksir, Leo tahu tidak ada siapapun yang tertarik pada cowok cupu sepertinya. "Perasaan kamu saja mungkin. Tuh, yang ada mereka melihatmu"
Mendengar itu, Raka tersenyum kocak. Leo menyukai cowok itu. Baik, dan juga ramah. "Lo emang cupu sih. Tapi teman adalah teman, kan? "
***
"Heh! Mata lo kekecilan apa? HEH! SIAPA SURUH LO DUDUK SITU! "
teriakan cempreng itu mengagetkan Leo. Kalaupun suara yang terdengar cempreng, itu pasti suara cewek. "Eh? Siapa itu? Kok teriakannya keras sekali? Ada yang berkelahi ya?"
Raka yang disebelahnya hanya menganggap bahu. "Oh itu biasa sih. Anak anak kayaknya nyari masalah lagi sama si Tetha"
"Tetha?"
Raka mengangguk. "Itu lho. Disekolah ini ada satu preman, cewek, tapi garangnya minta ampun. Namanya Tehta. Anak kelas X IPS 3. Semua anak mana berani macam macam sama singa itu. Yang ada lo dicabik-cabik sampai mampus"
Leo menatap ke arah sumber suara cempreng itu. Seorang gadis bertubuh mungil dengan rambutnya dikuncir berantakan. Kulitnya putih dan wajahnya terlihat ayu. Sayang, dibalik wajah yang ayu itu, sepasang mata melotot dengan garang. Waduh. Bukan cewek namanya nih.
"LO! BELIKAN GUE ES CENDOL DI PAK MUN SEBAGAI PERMINTAAN MAAF LO JIKA MAU LOLOS. DAN ELO! MASIH DUDUK DUDUK, SINI, KIPASIN GUE! "
Para anak lelaki yang dibentak cewek itu, terlihat takut-takut. Leo jadi menggeleng-geleng melihatnya. Masa cowok takut cewek sih?
Saking terhanyut terlalu lama menyaksikan adegan sadis itu, tak sengaja Leo menabrak seseorang. Jus yang dipegangnya tumpah mengenai seragam orang itu.
Leo mendongak, menyapa si tubuh tinggi yang ia tabrak. Uh-oh. Cowok yang ditabrak nya berukuran tubuh dua kali lipat dari tubuhnya, Leo merasa tidak berdaya. Wajahnya sangar, terlihat seperti ingin menelan Leo. Susah payah Leo menelan ludah.
"Hei, lo tahu siapa yang lo tabrak ini? "
"Ma-maaf kak" Leo menundukkan kepalanya, meraih sapu tangannya, dan berusaha mengelap noda di seragam cowok itu. Cowok itu menepis nya kasar.
"Heh, lo jadi anak baru mentang mentang, jangan sok belagu lo" cowok itu mengepalkan tangannya seperti hendak meninju Leo. Leo kaget bukan main. Baru dihari pertama di sekolah barunya, dia sudah terkena masalah, atau mencari masalah. Sontak, dia melangkah mundur, memejamkan matanya, pasrah akan keadaan.
EH? Leo membuka matanya. Tinju yang ingin ditujukan padanya, tertahan di udara, dan tubuh cowok itu seperti bergeming. Oh, apakah cowok itu merasa takut? Atau sepertinya dugaan Leo salah tepatnya.
Tetha. Cewek yang kata Raka cewek preman itu berdiri di samping cowok bertubuh besar itu, dan seketika Leo tahu mengapa cowok itu tidak berhasil meninju nya dan bergeming ditempatnya. Disampingnya, meskipun kecil, Leo melihat Tetha mencubit pinggang cowok itu, hingga ia meringis. Sepertinya sakit.
"UDAH GUE BILANG GAK ADA YANG BOLEH NYARI MASALAH DI KAWASAN GUE, LO MAU GUE HAJAR LAGI? " Tetha melotot ke cowok itu, dan memutar pitingannya. Tentunya itu akan terasa sakit sekali.
"Dibilangin lo makin menjadi ya? Ini rasakan ini" Tehta mengeraskan pitingannya.
"Aw, aw, sakit boss. I-iya, saya tau salah, lepaskan saya" cowok itu memohon dan
akhirnya Tetha melepaskan pitingannya. Cowok itu langsung kabur tanpa melihat Leo lagi.
Leo terkagum-kagum. Hanya seorang cewek mungil bisa membuat semua orang bertekuk lutut padanya. Leo berdecak kagum.
Mendengar sebuah decakan muncul dari mulut Leo, Tehta segera menatapnya. "He-eh. Anak baru lo? "
Waduh. Mesti jawab apa nih? Mana si cewek bukannya lunak malah melotot juga padanya. Jadi salah apa dia?
"Iya" Leo mengangguk gugup, berusaha terhindar dari tatapan setajem laser cewek itu.
Tetha, cewek itu seperti mengamatinya, lama, dan terdengar kritikan terucap pedas dari mulut mungilnya. "Cupu"
Lalu cewek itu pergi.
Dan Leo merasa satu kata itu cukup pedas.
***
" wah, perempuan itu juga pedas ya" komentar Leo pada Raka setelah bel pulang berbunyi. Mereka berjalan beriringan menyusuri koridor.
"Lo baru tahu Tetha. Kalo lo kenal lebih dalam, gue jamin lo bakal gak bisa tidur nyenyak setiap hari" setuju Raka, lalu meringis. " Lo gak tau, bagi kami, anak anak sekolah ini, menganggap si Tetha tuh" ia berhenti sejenak, menatap Leo, lalu mendekatkan wajahnya dan berbisik. " seperti Ratu neraka"
Leo tertawa mendengarnya. Raka pura pura tersinggung. "hei, yang gue bilang tuh beneran lho. lo bisa tanya sama anak-anak lain"
"Iya, iya, aku percaya kok"
Raka meninju lengannya pelan. " hehe. Jangan dipikirin. Gue cuma canda kok. Tapi itu beneran lho, tentang si Tetha."
Mereka tertawa-tawa. Ketika melewati taman sekolah yang sepi, sayup-sayup Leo mendengar sebuah lirikan mirip isakan, pelan, namun ia bisa mendengarnya.
"Kenapa, Le? Lo kebelet? " tanya Raka asal.
Leo menggeleng pelan. Ia mengisyaratkan Raka untuk diam, memastikan apakah pendengarannya tidak salah. Masa sih? Siang bolong begini, sekolah ini ada penunggu kah?
Tapi isakan itu masih terdengar. Tangisan. Cewek. Suara cewek yang sedang menangis. Ingin mencari tahu, kemudian Leo berkata pada Raka, "Ra, kamu duluan dulu ya, aku lupa ada urusan"
Langsung, Leo bergegas meninggalkan Raka tanpa memperdulikan tatapan protes dari cowok itu. Suara itu bersumber dari arah taman. Suasananya cukup sepi. Tidak ada siapapun disana. Ketika Leo melewati pepohonan besar disana, suara itu kembali terdengar, sangat jelas, lebih dekat.
Ah, dibalik semak-semak yang menutupi pepohonan-pepohonan disana, Sebuah bayangan terlihat sedang berjongkok. Degan takut-takut, Leo menghampiri semak belukar itu. Dugaannya benar. Ada seorang cewek sedang berjongkok disana dengan menyembunyikan wajahnya dalam lututnya, isakan pelan keluar dari mulutnya.
"Hiks.. Jangan tinggalkan aku mama, aku... Ta-takut sendirian... " lirih cewek itu.
Eh? Bukankah itu Tetha? Jika diperhatikan lebih seksama, sepertinya postur tubuh itu, tak salah lagi itu Tetha. Cewek itu tidak menyadari kehadirannya. Perlahan, Leo mendekatinya.
"Tetha? Itu kamu? "
Mendengar namanya dipanggil, Tetha segera menegakkan kepalanya dan terkejut ketika mendapati Leo berdiri tepat di hadapannya. Ia tersentak kaget, melompat, lalu segera mengelap air matanya dengan kasar. Ia tidak tahu sejak kapan cowok cupu yang ditolongnya berdiri di dekatnya, sedang menatapnya, dan sialnya, sepertinya cowok itu melihatnya menangis. Sesuatu yang tidak suka Tetha perlihatkan pada orang lain.
"Ngapain lo? Kesesat? Cewek itu kemudian memelototinya. "Mau ngejek? Sini, kita berantem."
Cewek itu segera menggulung lengan bajunya, dan Leo buru-buru menjelaskan.
"Eh, bukan, Tha. Aku kesini bukan untuk ngejek kamu kok. Aku tadi dengar suara tangis, ternyata itu kamu"
Perlahan, wajah cewek itu sedikit melunak. "Ya udah. Lo boleh pergi sekarang. Hush-hush" ia mengibaskan tangannya, membuat gerakan mengusir.
"Kamu lagi ada masalah ya?" tanya Leo.
"Bukan urusan lo!" ketus Tetha. "Lo, kita gak saling kenal, jangan SKSD sama gue."
"Kalau kamu ada masalah, jangan ditahan, Tha. Aku mungkin tidak bisa menolong, tapi aku bersedia mendengarkan"
Leo menunjuk kursi salah satunya di taman itu, mengajak Tetha untuk duduk. Walau curiga, Tetha tetap menurut dan duduk. Kepada Leo, yang selama ini dipendam Tetha, akhirnya meluap hari ini juga. Ia menceritakan tentang dirinya, papa dan mamanya yang telah bercerai sudah lama itu.
" jadi gitu, mama udah gak sering kunjung sini lagi" kata Tetha diakhir ceritanya. Disampingnya, Leo manggut-manggut, tidak sedikitpun menyela.
"Heh, lo disini buat jadi patung aja, atau sebenarnya punya niat lain?" melihat Leo terdiam cukup lama, Tetha menatapnya curiga. Ia tidak pernah menceritakan masalahnya kepada orang lain, Leo adalah yang pertama. Mungkin, karena penampilannya yang biasa itu, Tetha tidak curiga ataupun khawatir cowok itu akan ember sana-sini. Dia kan masih baru.
"Oh, bukan Tha. Mendengar ceritamu, aku jadi berpikir, seharusnya aku bersyukur meski ayahku jarah pulang karena bisnisnya terutama ibuku, mereka masih bisa menyempatkan diri untuk keluarga, Tha. " Leo tersenyum pada Tetha. "Kamu tahu? Tdak ada yang tidak akan menangis dalam hidupnya. Sekali sesesakit pun kamu, kita juga mundur ataupun mengubah semua yang telah terjadi Tha. Adapun saat ada keadaan dimana kamu udah tidak bisa menangis lagi, artinya Hatimu udah mati, tidak bisa merasakan apa apa lagi, hanya pasrah akan yang terjadi selanjutnya. Hari ini, kamu masih menangis, artinya kamu masih memikirkan mamamu, keluargamu, Tha, meskipun mereka telah bercerai. Maka dari itu menangislah sepuasnya Tha. Karena masih ada hari esok untuk tetap berjalan meskipun rasa sakit itu membayangimu."
Tetha tertegun mendengarkan penjelasan panjang lebar dari Leo, kemudian ia mendengus. "Huh. Mendengar lo, seperti mendengar pendeta sedang berceramah. Tapi itu cukup bagus. Thanks. Lo udah buat perasan gue jadi baik. "
Leo tersenyum menanggapinya. Ia menggeleng perlahan, lalu berkata. "Bukan bantuan besar kok. Lagipula, aku juga harus berterima kasih sama kamu karena telah membelaku ketika dibully sama kakak kelas, thanks ya, Tha"
"Ya udah deh. Lo gak mau balek? Udah sepi tuh. Makasih atas sarannya, tapi sebaiknya lo pulang sebelum hari tambah gelap"
"Iya.aku pulang dulu ya Tha. " sebelum pamit, Leo menatap Tetha sejenak. Cewek itu balas menatapnya dengan pandangan bertanya.
" namaku Leo. Kelas X IPS 5. Salam kenal ya"
"Iya iya, pergi sono. Hush-hush" cewek itu mengusirnya dengan kasar. Tapi Leo tidak tersinggung.
Setelah punggung cowok itu menghilang, entah kenapa, sebuah senyuman terbit di wajah Tetha, tanpa bisa ia cegah dan tahan.
***
Sudah beberapa hari setelah Leo bertemu dengan Tetha, dan hari ini, artinya sudah seminggu Leo di sekolah barunya. Pagi yang sejuk itu, sambil bersenandung riang, Leo menyusuri koridor sekolah yang masih tampak sepi. Bertemu dengan Raka, cowok itu menyapanya.
"Hai" sapa Raka dan mereka berjalan bersama ke kelas. "Tumben lagi happy. Ada apa tuh?"
Mengingat pertemuannya dengan Tetha tempo hari, membuat Leo tersenyum. "Ah, enggak ada kok"
"Anak baik gak bohong lho" Goda Raka. " gak mungkin gak ada yang buat lo happy. Tuh, muka lo daritadi gue liat senyam senyum sendiri"
"Ah, iya ya? " Leo meraba raba wajahnya dengan polos.
"Keliatan banget tuh"
Mereka tertawa-tawa.
Saat melewati ruang kelas x ips 3, Leo mencuri pandang di celah pintu yang sedikit terbuka. Entah insting apa yang memasukinya, Leo mengedarkan pandangannya, berusaha melihat sosok Tetha. Tapi nihil. Tidak ada siapapun disana. Sepi. Tanpa disadari ia menghela nafas. Entah kenapa ia merasa sedikit kecewa.
"Cari Tetha? " tambak Raka tepat sasaran, melihat gelagat Leo. "Ciee yang lagi jatuh cinta"
"Apaan kamu, itu tidak benar, tahu" Leo merasa wajahnya memanas. Tapi, Raka tetap tersenyum, senyum yang memiliki arti. Apakah Raka salah paham?
"Aku tidak ada apa-apa sama dia. Kamu jangan salah paham deh"
"Tapi kalau jadian, boleh juga tuh. Sayang, mungkin kalo pacaran sama lo, Doinya jadi lebih lembut"
"ngapain lo bawa bawa gue?"
Ah, yang dibicarakan panjang umur. Saat mereka berbalik, Tetha sudah berkacak pinggang, meski mereka harus menundukan kepala agar dapat menatapnya dengan tubuh mungilnya itu.
"Emang gue tas? Bisa dibawa, digandeng ke mana-mana! "
"Mampus gue. Harusnya tadi gue gak bilang itu" bisik Raka ditelinga Leo.
"Minggir" dengan kasar, Tetha menerobos, melewati mereka. Galak amat. Sumpah.
"Makanya, kamu jangan ngomongin orang, orangnya dengar tuh" nasihat Leo.
Mereka menggeleng-geleng lalu segera pergi ke kelasnya. Mereka tidak ingin mencari masalah dengan ratu singa itu. Bisa bisa pulang kerumah botak nanti.
***
Pulang sekolah, sekolah sudah sepi. Karena hari ini jadwalnya piket, Leo terakhir pulang. Ia menyapu, mengepel, dan menyusun bangku dan meja agar terlihat rapi. Bukannya dibantu, yang mendapat jadwal sama dengannya, malah pergi dengan alasan bantu emak. Ada aja deh. Tapi Leo tidak merasa terpaksa. Dia sudah sering membantu ibunya membersihkan rumah, jadi ia terbiasa dengan pekerjaan sepele ini.
Satu jam tak terasa saat Leo berhasil menyelesaikan piketnya. Setelah memastikan semua sudah beres, mengambil tasnya, lalu ia memutuskan pulang.
"Eh, si Tetha tuh emang sombong banget ya! "
Langkahnya terhenti ketika ia melewati toilet cewek. Sekolah udah sepi, masih ada orang di sekolah? Dan sepertinya mereka membicarakan Tetha.
"Iya tuh. Masa gue melenggang di depannya, Dibilangnya gue kecentilan. Apa gak kelewatan tuh? Bilang aja dia iri! " suara kedua menyahuti.
"Haha, mungkin iya. Rata gitu mana yang suka? "
Wah, kayaknya tukang gosip ini. Mana mereka gosipnya kelewatan lagi. Leo mendekat lagi, menempelkan kepala di dinding toilet, tak sadar berusaha menguping.
"Hei hei. Bukan tuh aja. Kalian liat waktu di kantin minggu minggu lalu? "
"Ah iya iya. Tuh si Tetha ngebela anak baru tuh. Siapa tuh? Ah gak tau gue. Yang penting liat gayanya tuh. Sok banget! "
Mereka membicarakan Leo. Kenapa mereka mengaitkan Tetha dengannya? Kenapa dia juga terlibat sih?
"Si anak baru tuh culun gitu, gak biasa si Tetha tuh ngebelain yang kayak gitu"
"Jangan-jangan Tetha naksir sama dia? Kan gak ada yang suka sama dia? "
Mendengar itu, tanpa di saudarinya, Leo menggeleng kepala. Tetha suka padanya? Sama dia yang culun begini?
"Ahaha. Cocok banget tuh. Si ratu singa sama si culun. Ntar kalau jadian beneran, gue sorakin paling keras."
"Kalau mau, satu sekolah kita sorakin. Itung-itung buat permalukan dia"
Beberapa suara menyahuti dengan semangat. Sepertinya mereka merencanakan sesuatu. Sesuatu yang jahat, dan melibatkan Tetha, dan juga dirinya. Tak heran. Dengan penampilan Tetha yang seperti ini, tentu tak mungkin tidak ada kesan yang tidak baik untuknya.
Entah kenapa wajah Leo terasa memanas. Nafasnya seperti memburu dan entah kenapa, sesuatu seperti meledak dalam dirinya. Ia tidak tahu kenapa, tapi ia merasakan itu, marah.
Ia sampai tak sadar ketika ia masuk ke toilet cewek, yang tentunya mengundang beberapa jeritan beberapa cewek di sana, yang mengosipkan Tetha. Untung saja, sekolah sepi, jadi Leo tidak perlu khawatir ia dicap mesum.
"Kalian. Kenapa kalian jahat sekali? Apa salah Tetha? " Pertanyaan itu tiba-tiba meluncur dari mulutnya. Cewek-cewek itu, menatap Leo terkejut, berganti dengan memandang satu sama lain, lalu tertawa keras.
"Apa yang lucu? Aku tidak berusaha melucu"
"Heh.Lo lucu tau. Lo nguping, lo gak tau. Dan lo sesudahnya bertanya, 'apa salah Tetha?'" cewek rambut sebahu itu tertawa, tawa yang terdengar menyeramkan di telinganya. "Giliran pangeran menyelamatkan putrinya. Atau jangan-jangan lo emang suka sama si jalang itu? "
"Dia bukan jalang! Kata kata kalian kasar sekali"
Mereka tertawa tawa lagi. Cewek itu maju mendekati Leo. Leo menatapnya dengan berani.
"Asal lo tau aja, banyak yang gak suka sama si Tetha itu" cewek itu berbisik, lalu menyeringai. " dengan seperti itu, siapa yang mau suka? Dia tidak berkuasa disini. Dan lo" dia menunjuk Leo. "Lo juga anak baru tidak berhak ikut campur.lo suka sama si Tetha. Itu urusan lo sendiri"
"Kamu sembarang bilang" wajah Leo terasa memerah. "Kata siapa aku suka Tetha? "
"Nyatanya kan? Tuh lo bela"
Cewek itu mendengus. Lalu berjalan melewati Leo, seolah Leo bukan siapa-siapa, hanya angin lewat. "Gue saranin lo tetap diam. Ini urusan gue, dan lo gak perlu ikut campur. "
"Apa yangingin kalian lakukan? Apa yang kalian rencanakan? "
"Menurutmu?" Cewek itu menatapnya lamat. "Urusan dengan Tetha, bukan berarti siapa bisa ikut dalamnya"
Setelah sekumpulan cewek itu pergi, Leo membisu di tempatnya. Kata kata cewek itu terngiang di kepalanya. Apa yang harus dia lakukan? Apakah dia harus mengatakannya pada Tetha? Cewek itu pasti punya musuh yang banyak.
Tapi, kenapa pula dia bisa bilang kalau Leo suka Tetha? Rasanya memalukan. Padahal, di antara dia dan Tetha tidak terjadi apa-apa. Dan tidak mungkin Tetha suka padanya.
Untuk pertama kalinya, Leo merasa sedikit bimbang.
***
Saat esok harinya lagi, Leo berusaha mencari Tetha. Dari semalam, perasaanya tetap tidak bisa dihilangkan rasa bimbang nya. Mungkin, sebaiknya dia mengatakannya pada Tetha. Dia ingin tahu bagaimana reaksi cewek itu.
Karena tidak ingin mengundang perhatian dan rasa yang tidak tidak dari orang-orang. Leo mencoba pergi ke kantin. Dan benar. Cewek itu ada di sana.
"Jadi lo cuma ke sini buat ngomongin ini? Hah. Rese banget jadi orang" itulah respon Tetha ketika ia memberitahukannya. Bukannya merasa terpancing ataupun marah, cewek itu menanggapi dengan santai. Leo jadi merasa dia seperti orang yang tidak berguna.
"Dia kayak rencanain sesuatu deh. " kata Leo. "Kamu pasti banyak musuh ya? "
"Bukan banyak lagi, tapi emang banyak." Tetha mendengus. "Jadi, apa yang di bilang cewek tuh lagi? Ajak berantem? "
Sebagai jawaban, Leo mengangkat bahu, tanda tidak tahu. "Apa kita harus aduin ke guru? Mungkin cewek itu tidak berani nanti"
"Heh.takut lo? Leo tapi" Tetha mencibir. "Nama lo itu, pasti zodiak lo Leo kan? Mana mana gue tahu Leo itu pemberani, tapi gak sesuai banget sama lo." lanjutnya pedas. Sangat kasar.
"Aku serius kok. Kamu kok ngomongnya pedas? Malah aku yang baik hati ini kamu ejek" Leo cemberut.
Bukannya meminta maaf langsung, Tetha tertawa-tawa. "Iya deh. Leo. Walau cupu, nama lo keren kok"
"Iya deh. Aku pasrah saja" Leo pura-pura terlihat pasrah. Ia tidak tersinggung saat cewek itu menertawakannya. Aneh. Mungkin karena ia sudah terbiasa dengan penilaian orang lain tentang dirinya, atau kenapa ia merasa nyaman saat melihat cewek itu tertawa.
"Kenapa lo? Kesambet? " melihat Leo terdiam, Tetha berhenti tertawa.
"Dari kata orang-orang, ternyata kamu gak terlalu seram juga ya?" kata kata itu keluar begitu saja. Melihat tatapan Tetha yang berubah seketika, Leo segera menggumam. "Maaf"
"Gak. Lo emang benar. Penampilan gue yang begini, emang seperti orang-orang yang bilang"
"Kamu cukup cantik kok. Cuma tidak terlalu menonjol"
Aish. Apa yang baru dikatakannya? Perkataan yang aneh, konyol, dan terasa gombal banget!
Tetha menatapnya dengan terkejut. Dia tidak menyangka, untuk pertama kalinya ada yang memujinya cantik. Kalau seperti cewek normal lainnya, mungkin ia akan salting. Mukanya memerah, namun ia berhasil mengontrol dirinya. Ia berdeham. "Makasih kalo lo bilang gitu"
Leo menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia merasa malu mengatakan hal yang aneh. "Maaf.aku.. Tidak bermaksud untuk sesuatu. "
"Oke"
Canggung. Lenggang sejenak. Namun, rasa penasaran karena perkataan cewek itu di tempo hari itu, Leo kemudian bertanya pada Tetha. "Kamu, kalau aku boleh tahu, kamu ada atau pernah punya pacar? "
Pertanyaan itu spontan membuat Tetha mengangkat alisnya. "Kenapa lo? Naksir lo sama gue? "
"Tidak ah. Aku cuma tanya kok" Leo berusaha mengalihkan pandangannya. "Cewek yang gosip kamu kemarin, dia tahu kalau kamu nolongin aku yang dibully, dia bilang... "
"Dia bilang kita pacaran gitu?"
"Bukan itu saja" Leo terdiam sejenak, bimbang apakah ia harus mengatakannya pada Tetha atau tidak. Dia tidak ingin cewek itu jadi berpikir yang tidak tidak tentangnya. "Dia... Juga ada bilang kalo aku itu.. Aku... Suka sama kamu"
"Dia bilang begitu?" Tetha terbahak. "Dan lo jadi kepikiran itu? Emang deh, lo itu lucu"
"Yah.. Yang penting aku masih oke kan? Aku juga normal kok"
"Gue tahu" Tetha menatapnya. "Jangan dipikirin nenek sihir itu. Lo belum tau tabiatnya sepenuhnya. Gue saranin lo tetap jaga jarak, jangan sampai... "
"Jangan sampai terkena akibatnya, benar bukan? " cewek berambut sebahu waktu itu, Tiba-tiba muncul, tidak sendirian. Dia, bersama rombongannya.
Spontan, Tetha dan Leo berdiri, lalu menatapnya dengan waswas.
Untungnya, kantin masih sepi. Jadi, tidak ada tontonan banyak. Hanya mereka, rombongan cewek cewek pen gosip, dan hanya ibu ibu penjual makanan di kantin, itupun tidak berusaha ikut campur, semua mencari aman.
"Lo, kenapa kemari? " Tetha mendesis, menatapnya dengan sinis. "Sissha, anak cheerleader? "
Cewek berambut sebahu yang dipanggil Sissha itu, hanya tersenyum. Senyum penuh makna. "Lo masih gak berubah juga sampai sekarang Tetha. Sok sombong, seperti bokap lo"
"Jangan basa-basi. Lo mau apa, tinggal lo bilang, jangan bawa-bawa bokap gue"
"Dasar Tetha" Sissha tetap mempertahankan senyumannya. " Gue cuma mau sama teman gue kok. Lo cuma sendiri, gak kesepian lo? "
"Oh? Makasih banget deh atas perhatian lo. Tapi thanks, gue gak butuh orang munafik buat temenan sama gue. Gak pantas tau"
"Yah, mau gimana lagi? Terserah lo mau bilang apa. Gue munafik, karena lo juga"
"Itu sudah lalu. Jangan lo kaitkan dengan sekarang. Semua beda"
Aura ketegangan terasa memenuhi ruangan itu. Leo merasakan suasana terasa mencekam, dan menyeramkan. Bahkan ibu ibu penjual hanya menatap dari balik dagangannya, tanpa bisa ikut campur dalam kasus anak preman di sekolah ini.
"Oh, gue pikir si culun ini gak ada. Sori ya" Akhirnya, Sissha menatap Leo. "Gue pikir, apa yang gue omongi ke lo waktu itu, lo jadi tahu diri. Siapa Tetha, dan siapa lo. Siapa gue" ia bertepuk tangan. " dan sekarang, sepertinya gue tau. Kalian berpacaran kan? Wah congrat ya"
Sissha bertepuk tangan lebih keras, kemudian diikuti rombongannya. Merasa sedang diejek, Leo hanya bisa diam, menatapnya tanpa ekspresi, merasa marah walau ia tidak bisa apa apa, sampai baru menyadari kalau tangannya terkepal.
"Kamu... "
"Aduh, makasih banget ya. Nanti gue undang ke pertunangan kami" Tetha segera memotong, lalu dengan sengaja menggandeng lengan Leo, yang membuat laki-laki itu terkejut. Tetha menatapnya sejenak, lalu menatap Sissha dengan tersenyum manis. "Makasih udah selametin. Leo emang pacar baik buat gue. Tidak seperti pacar lo yang suka mencicit itu" Sindirnya.
"Lo!" Sissha yang awalnya berencana memancing amarah Tetha supaya ia dan teman-temannya lebih mudah mengeroyokinya, menjadi tidak menyangka semuanya berbanding terbalik.
Saat ia memberi isyarat, teman-temannya mulai mengambil ancang-ancang. Perkelahian akan dimulai, pikir Leo dan berdoa dalam hati semoga ia tidak ikut babak belur.
Namun, tidak ada yang terjadi. Aksi siap menyerang mereka ditahan oleh tatapan Tetha, yang super luar biasa menyeramkan. Bukan pertama kali lagi Sissha melihat tatapan itu, aura membunuh yang sangat kuat.
"Lo kesini cuma buat kasih ucapan selamat kan? Lo udah lakuin itu. Jadi minggir. Gue mau ngedate sama pacar gue dulu."
"LO TIDAK AKAN PERNAH BAHAGIA TETHA! TIDAK AKAN PERNAH!
" gue tahu itu.makasih udah ingetin" Tanpa menoleh lagi, ia segera menyeret Leo keluar dari sana. Tak lupa, cewek itu mengacungkan jari tengah nya tinggi tinggi ke udara.
"Apa tidak apa-apa? Dibiarkan seperti ini, apa dia bisa balas balik? " Leo bertanya pada Tetha saat mereka berada di Koridor, jauh dari kantin.
"Sebaiknya begitu. Gue juga lagi gak mood buat main jambak-jambakan" Tetha menanggapi dengan lesu, tidak menatapnya.
Menyadari lengan mereka masih bertaut, Baik Tetha dan Leo segera melepaskan diri.
"Sori. Gue gak bermaksud centil" Tetha yang pertama membuka suara saat lenggang sejenak. "Gue cuma mau ngetes liat reaksinya."
"bisa dikira kita pacaran beneran nanti" kata Leo. Dalam hati, Leo merasa bergidik sendiri. Berpacaran dengan cewek preman, pikiran itu tidak pernah ada dalam pikirannya.
"Oh, jadi lo gak mau dibilang pacaran gue gitu? Karena gue galak? Preman, gak manis, kayak cewek lain gitu? " Tetha melotot, dan gadis itu berkacak pinggang. "Ya udah. Ngapain lo sini lagi? Hush. Masih banyak ikan di laut kali. Cari yang centil tuh macam Sissha."
"Kenapa kamu marah? Aku tidak bermaksud begitu" Leo jadi panik sendiri, melihat gadis itu marah padanya. Bisa bisa pertemanan mereka jadi putus dan Tetha tidak mau berteman dengannya. "Aku gak pernah bilang kalau kamu galak, tomboy, gak seperti cewek lainnya yang bersikap manis. Aku cuma mau bilang aku suka yang seperti sekarang ini, suka sama Tetha yang adalah Tetha seperti biasa. "
Tetha langsung terdiam. Apa dia tidak salah dengar? Apa itu pengakuan? Yang benar? Cowok cupu seperti Leo? Untuknya? Yang tomboy ini?
Tetha memang menyadari kalau dirinya berbeda. Dia tidak manis dan elegan seperti cewek lainnya. Dia yang begitu tomboy, sehingga orang-orang takut berteman dengannya. Dan, bersama Leo, cowok itu seperti menerima Tetha apa adanya.
"Tetha? Kenapa kamu diam? " ia mendengar suara Leo bertanya padanya tapi telinganya seperti tuli. Ia merasakan sesuatu yang panas menjalari wajahnya, rasa terbakar, dan tubuhnya terasa bergetar.
Melihat Tetha yang terdiam cukup lama, membuat Leo takut perkataannya yang menyinggung gadis itu. Saat tangannya menyentuh lengan Tetha, barulah cewek itu tersadar.
Tetha langsung tersadar dari lamunannya, lalu ia menepis tangan itu. Tanpa berkata apa-apa, cewek itu berjalan melewati Leo, mendahului cowok itu , tidak menatapnya sekalipun.
"Lho Tetha? Kamu mau kemana? " Leo kebingungan melihat Tetha berjalan cepat.
"Nih. Pegangin tas gue" Tetha melemparkan tasnya, yang segera ditangkap Leo.
"Apa? "
"Lo mau bantah? Oh, kalo mau cari cewek lain, silakan. Gue gak ngelarang" Ancam Tetha dibuat-buat. Dia memeletkan lidahnya, sesuatu yang tidak pernah Tetha lakukan pada orang lain, lalu segera berlari-lari kecil pergi ke kelasnya.
Butuh waktu setelah Leo menyadarinya. Mengapa Tetha terdiam cukup lama, menjadi judes, lalu melemparkan tasnya padanya. Ah, sepertinya gadis itu tidak tersinggung, atapun marah.
Senyuman terbit di wajah Leo.
Perkataannya itu, ia baru menyadari kalau ia baru membuat sebuah pengakuan.
like ya kalau kalian suka
jika ada kritikan boleh isi komentar kok:)
semoga kalian menyukainya:)