Desi remaja duduk melamun di antara gunungan barang bekas yang menyemut di gudang milik kakek. Desi sengaja ada di situ, ia ingin bersembunyi, menghindari riuh suara orang-orang yang datang hendak mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya kakek.
Ya, kemarin, lebih pasnya dua hari yang lalu, Kakek telah balik menghadap sang Khalik-nya. Tepat pukul tujuh pagi, di kamarnya, sehari setelah usianya genap tujuh puluh tahun, ketika musim penghujan dengan gerimisnya yang berukuran kecil gegas mengakhiri musim penghujan.
Desi remaja memang duduk melamun, tapi tak sedikit pun ia berniat untuk melamunkan sang kakek, entah mengenang sang kakek, sedikit pun ia tak punya niat, sebab menurutnya tidak ada sesuatu yang pantas dikenang dari sang kakek. Hal tersebut disebabkan tak lain karena usia perkenalan mereka tak lebih dari seminggu, jadi kata kenal pun sungguh tak pantas untuk disematkan.
Desi remaja hanya tahu, bukan kenal, dan itu pun cuma sedikit. Yang Desi tahu ia punya kakek yang gemar mengumpulkan barang-barang bekas, tak lebih.
"Kemana saja kamu selama ini?"
Itu omongan pertama kakek ketika Desi remaja tiba dan menghampiri tubuhnya yang telah renta di ranjang tidurnya.
Dan dengan santainya Desi remaja hanya mengangkat bahunya, tanpa sedikit pun rasa bersalah. Tangan tua yang tampak keriput itu mencoba untuk menjangkau tangan muda yang kulit tangannya masih tampak berseri.
Si pemilik tangan muda yang masih tampak berseri itu sebenarnya hendak menarik tangannya, sesungguhnya ia hendak menjauhkan tangan tersebut dari jangkauan si tangan tua, tapi oleh karena gelengan kecil dari seseorang yang berdiri di sebelah kanannya niat tersebut pun ia urungkan.
Tangan tua yang keriputan tersebut pun menjangkau lalu mengusap-usap tangan muda tersebut, ia tertawa kecil, gigi depannya masih terlihat utuh.
"Keangkuhan benar-benar telah...." Ia tak menyelesaikan kalimatnya, sebab sealiran air mata jatuh dari pelupuk matanya, omongannya tersela. Dengan sebelah tangan yang lain ia berniat menghapus airmata tersebut, tapi seseorang di sebelah kanan Desi mendahului, dengan ujung jarinya ia menyekah air mata tersebut.
"Kau bukan seperti lelaki yang kukenal dulu... Aku tak suka kau yang selemah ini..." Begitu ucap seseorang yang menyekah airmata si lelaki tua.
"Kau mendidik anakmu dengan baik, setidaknya..." Lagi omongannya tersela, kali ini ia terbatuk.
"Maafkan saya, ia hanya..." Ia yang berdiri di sebelah kanan Desi sekonyong-konyong menarik nafas, ia pikir itu sebagai sindiran atas perilaku sang anak yang terkesan cuek bebek.
"Tidak persoalan, bagaimana pun ia anak jamannya..." ucap sang kakek mencoba mengangkat sebelah tangan dengan sedikit tertawa tak lupa.
"Kapan Harry akan datang?"
"Mungkin besok, kalau tidak ada halangan."
"Kami adalah dua lelaki yang benar-benar keras kepala ya,"
"Dia merindukanmu..."
"Begitukah?!" Kakek menyela. Kaget? Sepertinya ia cuma berpura-pura. "Akhir-akhir ini...." Lanjut seseorang yang berdiri di sebelah kanan Desi. Mendengar ucapan tersebut kakek karuan mengangguk-anggukkan kepala." Tapi aku tidak..." Ucap kakek dengan mimik muka yang serius, tapi kemudian ia tertawa. Tertawa yang panjang. "Aku juga, aku juga..."
"Kau dan dia tidak jauh berbeda." Seseorang yang berdiri di sebelah kanan Desi berucap dengan santai namun tegas.
"Iya bagaimana pun dia anakku..." Kakek mengangguk kecil.
"Iya, dia anakmu, memang anakmu..." Seseorang yang berdiri di sebelah kanan Desi ikutan mengangguk. "Dan dia cucuku..." Kemudian kakek menunjuk ke arah Desi remaja.
"Cucu pertama dan satu-satunya..." Tegas seseorang yang berdiri di sebelah kanan Desi. "Maaf aku tak bisa..." Seketika awan mendung menyelimuti. Tapi seseorang yang berdiri di sebelah kanan Desi lekas-lekas menggulung awan tersebut. "Sudahlah dia sudah beristirahat dengan tenang."
"Anak lelaki itu. Siapa namanya?!" Tanya Kakek sembari mengangguk. "Sama seperti namamu Daniel."
"Dia jauh lebih beruntung, dia tidak perlu merasakan apa yang harus aku rasakan bertahun-tahun. Sungguh beruntung anak muda itu." Ucap kakek.
"Tuhan lebih mengasihinya." Ucap seseorang yang berdiri di sebelah kanan Desi.
"Niken dari hatiku yang terdalam aku ingin..."
"Aku sudah memaafkan. Aku sudah memaafkan." Ucap seseorang yang berdiri di sebelah kanan Desi.
"Bisakah kau melepaskan genggaman tanganmu? Soalnya aku..." Desi remaja akhirnya membuka suara, setelah sekian jam ia bungkam, tepatnya sejak kedatangan ia dan ibunya ke rumah masa kecil papanya, Harry Adrian. Dengan serta Merta angan tua milik kakek melepaskan genggaman tangannya dari buku jemari Desi remaja.
"Aku ingin ke toilet di..." Belum lagi Desi menyelesaikan omongannya telunjuk kakek sudah menuding ke satu arah. Desi remaja menolehkan kepalanya kemudian mengangguk hendak berjalan tapi suara parau kakek membuatnya menghentikan niatnya. "Kau pasti tidak nyaman di sini bukan begitu?"
"Sepertinya aku tidak sepandai mama iya," Desi remaja tertawa kecut. Niken, sang mama, bersuara kecil, menyebut nama sang anak, sepertinya ia ingin mengingatkan Desi remaja untuk berlaku sopan.
"Dia bukan seorang yang hipokrit, Ma." Desi remaja berucap lugas. "Bukan begitu, lelaki tua!?" Kala Desi remaja menyebutkan kata 'lelaki tua' seketika itu mama karuan bereaksi, kesal, dijawilnya panggul sang anak. Sang anak agak mengaduh. Si kakek tua tersenyum seadanya.
"Setelah sekian lama kenapa kau baru menghubungi kami!?" Nada suara Desi remaja agak meninggi. "Emangnya orang seperti kau percaya dengan neraka!?"
"DESI..." Sekali ini mama meninggikan suara, pun giginya menggemeretak, jelas ia marah kepada sang anak. "Maafkan anakku."
"Dia juga cucuku. Aku salah aku tahu..." Sang kakek merespon dengan nada suara yang lembut. "Tentu saja kau salah," Desi remaja berucap tegas.
"Maukah kau memaafkan ku?!" Tanya sang kakek masih dengan nada suara yang sama, tapi terkesan memohon. Dengan santun mama yang menyahut. "Dia pasti memaafkan mu."
Tapi reaksi Desi remaja sebaliknya, ia tersenyum mencibir, setelahnya dari cuping hidungnya helaan nafas panjang mencuat keluar. "Beri aku satu alasan." ucap Desi remaja.
"Kalau kau tidak memaafkan ku setelah nanti aku mati aku bakal menghantui mu. " Kakek berucap dengan suara yang serak, lambat dan agak terbatuk, jelas ia sedang bercanda. Tapi tidak dengan Desi remaja. "Maaf! Orang yang berdiri di depan mu sekarang bukan bocah ingusan." respon Desi remaja datar.
"Aku benar-benar telah..."
"Tidak, tidak, jangan kepedean, kau tidak merusak hatiku, hatiku ini masih terlalu tangguh untuk kau remuk redamkan. Aku hanya heran, kenapa baru sekarang kau baru menghubungi kami. Setelah kau... Apa sekarang kau baru merasa kesepian!? Pikirmu dengan kehadiran... Akh, sudahlah, tak baik juga untuk diteruskan. Oh, iya, bukankah kau ingin maaf dari ku..."
"Tadinya..."
"Hah! Berarti sekarang..."
"Aku mohon ampunan mu," ucap kakek tegas.
"Please, jangan seperti itu, aku ini cuma manusia biasa, aku bukan raja, bukan pula seorang tiran... seperti dirimu, bukan begitu!?" Desi remaja berucap lugas. "DESI CUKUP...!" Seperti suara gemuruh yang tiba-tiba menggelegar di siang bolong yang terik sekonyong-konyong Mama amuk, sungguh ia tak kuasa lagi menahan. "Apa seperti itu kami mendidik mu!?" Mama mencengkeram pundak Desi remaja.
"Kenapa juga kau membawaku ke tempat ini," seru Desi remaja. "Apa kau pikir aku peduli, atau menaruh belas kasihan. Gimana ceritanya!? Kenal saja aku tidak!?"
"Kau..." Mama hendak melayangkan tamparan, saking ia tak mampu lagi menahan amarahnya. Tapi suara di luar kamar menjeda, suara seseorang yang memanggil si kakek tua dengan sebutan Papa. "Pa..." Mama buru-buru membuka pintu kamar tersebut.
"Harry. Harry Adrian." ucap seseorang yang sedang terbaring di ranjang tidur. Harry Adrian berdiri di depan pintu. Entah kekuatan dari mana seketika kedua tangan tua milik kakek terjulur ke depan. Harry Adrian berlari kecil menghampiri, disambutnya tangan renta milik kakek. "Tuhan untunglah..."
"Belum. Aku belum mati. Dan belum mau mati. Sebelum aku mengucapkan kata maaf kepada mu. Belum, aku belum mau mati..." Ucap kakek terbatah-batah, bersama deras air mata yang mengguyur kedua pipinya.
"Tidak, tidak, tidak... Aku yang terlalu angkuh untuk mengakui kesalahan. Kau tidak salah, Pa. Aku yang salah. Maafkan aku, Pa. Maafkan aku..." Harry Adrian sontak mendekap tubuh lelaki renta itu. Kedua tubuh itu pun saling berguncang setelahnya, keras. Mama pun larut kemudian turut mendekap kedua tubuh itu. Ada isak tangis dari desir suara mama. "Kalian dua laki-laki yang sama keras kepalanya." Ucap Mama terbatah-batah.
Sehari sebelum kepergian kakek, hari ulang tahunnya yang ke tujuh puluh dirayakan dengan cara yang sangat-sangat sederhana, sesuai dengan permintaan kakek. Hanya dengan semangkuk bubur ayam kesukaan kakek, yang dibuat oleh... Aku sangat menyukai bubur ayam buatan tanganmu, Des, begitu kata kakek.
Perlu diketahui kalau kakek bukanlah seorang yang menyukai makanan lembek, dia sangat membenci segala kunyahan yang teksturnya terlalu mudah lumer ketika dikunyah. Jika ada yang berani menyajikan makan tersebut ke hadapannya, tak jarang ia akan melemparkan hidangan tersebut. Terlebih ketika ia sakit, jangan-jangan coba, selain tetap menolak, ia juga bakal mogok makan.
Lalu bagaimana ceritanya ia bisa menyukai bubur ayam buatan Desi remaja?
Cerita itu terjadi beberapa tahun lalu, ketika Desi berusia sepuluh tahun. Kala kakek dan almarhumah nenek datang bertandang ke kota Desi beserta ayah-ibunya tinggal menetap. Tapi itu pun kakek cuma sebatas berpelesiran ke kota itu, tak sekalipun ia sudi menginjakkan kakinya ke rumah anak-mantunya tersebut, hanya nenek yang datang berkunjung.
Sepulang berkunjung dari rumah anak-mantunya, nenek membawakan serantang bubur ayam, serantang bubur ayam buatan tangan Desi, cucunya. Tak ada niat nenek untuk membagi hidangan tersebut kepada kakek, karena nenek tahu, kakek tak menyukai makanan yang seperti itu, nenek hanya ingin memakanan makanan tersebut sesampainya di hotel kelak.
Di kamar hotel, ketika kakek yang sedang asyik menonton televisi, dengan tiba-tiba saja perutnya bersuara keras, ia lupa kalau seharian ini ia belum juga memasukkan sesuatu ke lambungnya.
Sebenarnya kakek ingin mengajak nenek untuk makan di luar, tapi berhubung nenek letih, acara itu pun dibatalkan.
Alhasil, ia melihat ada sebuah rantang kecil yang tergeletak di meja dan belum dibuka. Kakek pun beranjak ke meja ke tempat dimana rantang itu tergeletak. Kemudian ia membuka rantang tersebut. Awalnya kakek mendesis, sepertinya ia menolak makanan tersebut untuk masuk ke lambungnya, tapi kesekian kalinya lambung itu bersuara keras, maka tak mau, niatnya cuma ingin mengganjal saja, tapi ujung-ujungnya malah keterusan, hingga serantang bubur ayam tandas dilahapnya.
Ketika nenek terbangun keesokan hari dan melihat rantang tersebut telah kosong melompong, ia pun menggeleng lucu.
Kakek yang sudah terbangun sejam lebih dulu akhirnya diberi tahu kalau bubur ayam itu, adalah bubur ayam buatan cucunya sendiri. " Persis seperti bubur ayam buatan ibuku dulu, " begitu kata kakek, apakah ini sebentuk pujian?
"Oh iya kemarin seseorang menitipkan sepucuk surat buatmu," kata nenek bersegera bangkit dari perpaduan, berjalan dua tiga langkah, pada sebuah meja ia meraih sebuah tas sandang berwarna hitam, mengambil sepucuk kertas yang tertinggal di dalam situ. "Tagihan hotel barangkali," canda si nenek, memberi sepucuk surat tersebut, kemudian beranjak ke kamar mandi.
"Surat dari masa depan!" Kakek membaca kalimat pembuka surat tersebut. "Apakah kau mencintaiku seperti aku mencintaimu? Apakah kau menyayangiku seperti aku menyayangimu? Papa mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu. Begitu juga Mama, ia lebih mencintaimu dari papa yang mencintaimu. Daniel apalagi, dia mencintaimu. Papa menyayangimu. Mama menyayangimu. Daniel juga menyayangimu. Dan aku juga! Meski kita hanya saling mengenal melalui cerita. Papa dan mama bercerita banyak tentang dirimu. Dan aku yakin, nenek juga bercerita banyak tentang kami. Kek, apakah kau mencintaiku seperti aku mencintaimu? Kek, apakah kau menyayangiku, seperti aku menyayangimu? Kek, percayakah kau pada cinta!? Please, balas...!" Si lelaki tua menarik nafas dalam-dalam. "Apa itu cinta!" Sekonyong-konyong gurat wajahnya mengeras, tangannya bergerak mencengkeram sepucuk surat yang dibacanya tadi, melumatnya, lalu melemparkan surat tersebut keranjang. Dengan langkah tegak ia pun keluar dari kamar hotel sambil membawa koper. "Bu, buruan nanti kita ketinggalan pesawat." Dia berseru kencang.