Untuk kesekian kalinya, aku masih tetap bersikukuh menulis sepucuk surat untukmu. Dan slalu ku baca setiap kali bintang kecil kita muncul di langit gelap malam hari.
"Iya, aku janji mulai sekarang aku tak akan pernah meninggalkanmu lagi .."
Kata-kata itu selalu membuatku merasa senang, merasa bahagia, merasa dimiliki.
Bertahun-tahun sudah berlalu, semenjak kepergianmu, kepergian orang yang paling aku cintai, kepergian orang yang paling ingin ku miliki untuk selamanya, kepergian orang yang paling ingin ku ajak menua bersama.
Semenjak hari itu ..
Aku seperti orang linglung, aku seperti orang gila, aku seperti kehilangan arah lagi tuk melangkah. Satu-satunya orang yang aku sayangi, pergi jauh meninggalkanku.
Hari-hari selalu berlalu sebagaimana mestinya.
Sang mentari senantiasa menyambut keindahan di pagi hari. Hari-hari yang dulu ku lalui dengan penuh senyuman, canda tawa kebahagiaan, kegembiraan. Kini semuanya berubah seketika semenjak hari itu. Yang sering ku lakukan akhir-akhir ini hanyalah melamun. Aku bahkan tak pernah fokus tuk mempelajari pelajaran sekolahku, pekerjaan rumahku. Hingga tak sedikit dari mereka yang menegurku.
"Lisa, udah. Kamu harus ikhlas, kamu harus tabah .." ucap teman sebangkuku, silvy.
"Hemmb, ikhlas ? Tabah ? Susah sil, itu gak semudah hanya dengan mengucapkan kata-kata saja" jawabku dengan lemah.
"Iya aku tau, bahkan semua tau kalo itu gak mudah. Tapi sampe kapan ? Sampe kapan kamu begini terus ?"
"Aku gatau sil, aku gatau, gatau .." jawabku seraya air mata mulai menetes membasahi pipi.
"Hussst, udah udah sabar. Kamu pasti bisa, aku yakin kamu pasti bisa. Dia juga pasti gak pingin liat kamu jadi kek gini lis .."
Aku semakin dalam memikirkan lamunanku. Tiba-tiba aku teringat tentang dia, tentang dia yang selalu saja mempunyai 1001 cara untuk menjahiliku ketika aku tengah serius belajar di kelas.
"Sil, aku gabisa sil aku gabisa .." ucapku bersandar pada temanku silvy.
"Udah lis, udah. Kamu bisa, kamu harus bisa. Pliss balik jadi lisa yang dulu. Kenanganmu bersamanya biarlah menjadi kenang, tapi kehidupan harus tetap berjalan .." jawab silvy sembari mengelus-elus rambutku.
"Iya sil, aku akan berusaha. Makasih sil .."
"Harus, sama-sama lis. Udah ini makan dulu tadi udah aku beliin di kantin buat kamu" ujar silvy sembari memberi sekresek penuh jajanan dari kantin.
Malam pun tiba ..
Aku masih ingat, hari dimana kita menghabiskan waktu bersama di tengah padang bintang yang menawan sekali. Lalu tiba-tiba kau tunjuk 1 bintang, dan menamainya dengan 'Bintang Kecilku'.
Aku menengok ke atas. Ku pandangi bintang kecil itu kembali, senyuman ini tiba-tiba kembali ke bibirku. Aku terkejut, aku mengira bahwa setelah kehilanganmu, aku tak akan pernah lagi tersenyum kembali. Namun malam ini, tiba-tiba senyuman itu muncul kembali.
Mungkin, kamu melihatku dari atas sana. Mungkin, kali ini kamu ingin melihatku tersenyum, mungkin kali ini kamu ingin membuatku bersemangat kembali tuk menjalani hari-hariku, mungkin kali ini kamu ingin melihatku kembali ceria, mungkin mungkin ..
Segera aku berlari menuju ke dalam kamarku. Ku ambil sebuah buku, buku yang dulu penuh dengan foto-fotomu, foto kita, dan penuh dengan curahan hati kita. Satu-satunya buku yang di dalam buku itu tertulis sebuah tulisan yang kamu tulis dengan tanganmu sendiri. Buku yang penuh dengan kenangan tentangmu.
Ku buka halaman demi halaman buku itu, ku lihat masih banyak halaman kosong. Ku ambil bolpoint bertinta merah dan mulai kuisi setiap halaman kosong itu.
Setiap hari, aku selalu senantiasa mengisi buku harian itu. Tiap lembar, slalu penuh dengan curahanku tentang keseharianku tanpa kamu.
Slalu senantiasa ku tuliskan sepucuk surat untukmu yang berisikan kalimat ..
"Aku merindukanmu, sangat sangat merindukanmu.."
Setiap hari, aku slalu menulis surat itu, hingga surat-surat itu menumpuk di dalam lemari ku.
Malam itu, bintang kecilku menghilang.
Dia terkalahkan oleh derasnya air hujan di malam itu yang jatuh membasahi bumi.
Aku menangis sejadi-jadinya, ku genggam erat fotomu di tanganku, ku biarkan air hujan jatuh membasahi diriku dengan derasnya.
Hujan ini, hujan yang sama, hujan yang mengawali pertemuan pertama kita. Hujan yang dahulu membawamu bertemu denganku, hujan yang dahulu memperkenalkan kamu padaku, hujan yang menemani kita bercanda tawa malam itu.
Aku teriak sekencang-kencangnya !
Aku rindu, aku rindu, aku rindu. Sungguh hariku sangat berbeda semenjak kepergianmu !
Ku tengadahkan mukaku menghadap langit malam, ku biarkan air hujan ini menyiksaku malam ini.
Tiba-tiba, tak lama setelah itu hujan pun berhenti. Ia kembali menjadi tenang, bulan mulai muncul bersinar, bintang kembali bersinar.
Aku berdiri dari tempatku, ku berlari mencari bintang kecilku itu. Dimana ? Ahhh akhirnya aku menemukan bintang kecil itu.
Kali ini bintang kecilku tak sendirian, ia bersinar di temani oleh bintang yang lainnya.
Pertanda apa ini ? Mungkinkah ..
Apa ini ? Apa cara ini kamu menyampaikan pesanmu padaku ? Apa kamu ingin aku kembali hidup seperti dahulu lagi ? Apa kamu ingin melihatku bahagia seperti dahulu lagi ? Apa kamu ingin aku membuka hatiku kembali ? Hati yang dulu ku khususkan hanya untuk kamu ? Membuka hati yang masih tertutup rapat dan dipenuhi dengan namamu ?
Apa ini yang kamu inginkan ??
Aku kembali menuju kamarku, aku merenungkan segalanya. Aku tersadar, kepergianmu telah bertahun-tahun yang lalu.
Aku akan mencoba membuka kembali hati ini, hati yang dahulu hanya untuk dirimu, hati yang dulu slalu penuh dengan namamu, akan ku coba ..
Hari berganti, aku mulai bisa tersenyum lagi, aku mulai bisa tertawa lagi, aku mulai bisa ceria lagi, perlahan aku mulai kembali ke kehidupanku yang dahulu.
Hanya saja yang berbeda kali ini, tiada kamu lagi di hari-hariku.
Sebulan telah berlalu setelah aku membuat keputusan untuk membuka hati dan menjalani hariku seperti dahulu.
Perlahan, aku mulai mencoba menerima cinta yang datang dalam hidupku. Aku mulai mencoba beradaptasi setelah kehilangan cinta dari kamu.
Kini, aku mulai menjalin kembali hubungan cinta bersama dia. Dia, teman sekelasku Fahrul namanya. Dia tau cerita tentangku, dia tau bagaimana keadaanku tanpamu, dia tau seberapa besarnya aku mencintaimu dahulu.
Dia berhasil meyakinkan aku untuk membuka kembali hatiku untuk dia, dia percaya bahwa dia bisa dan mampu menggantikan kamu dalam hidupku. Dia percaya, dia mampu membuatku benar-benar terasa hidup seperti dahulu.
Malam itu, dia datang ke rumahku. Dia ingin sekali menemaniku melewati sabtu malam minggu ini. Aku mengiyakan keinginannya, aku perbolehkan dia datang ke rumahku malam itu.
Ketika dia sudah tiba di rumahku, aku tersenyum melihatnya.
Haahhhh, setelah sekian lama setelah kepergian almarhum, tiada satupun teman yang aku perbolehkan datang ke rumahku, tapi malam ini ??
Aku mengijinkannya datang kerumah. Dia membawa sekresek penuh cemilan yang dia belikan untukku. Aku kembali tersenyum, ku genggam tangannya dan ku ajak dia menuju halaman depan rumahku.
"Ngapain kok keluar gini ? Kan enakan di dalam gak dingin ?" Tanyanya heran padaku.
Aku kembali tersenyum,
"Aku akan memperkenalkan kamu dengannya, dia yang sangat istimewa untukku .." jawabku senyum.
Fahrul kebingungan dengan apa yang aku maksutkan.
"Itu dia, bintang yang disana itu dia .."
Tunjukku ke salah satu bintang yang tengah bersinar di langit malam.
"Oohhhh .." jawab fahrul mulai memahami maksut perkataanku.
Dia tersenyum padaku dan mengacak-acak rambutku sembari berkata ..
"Iya sayang, aku taua. Aku bakal minta ijin ke dia untuk hubungan kita ini. Aku bakal bilang ke dia kalo aku beneran sayang ama kamu dan bener-bener pengen bahagiain kamu seperti cara dia ngebahagiain kamu dahulu .."
Aku tersenyum mendengarnya. Bintang kecilku itu pun bersinar terang seperti memberi isyarat bahwa dia merestuiku, dia bahagia melihatku bahagia.
Tentangmu, tentang kita, semuanya biarlah menjadi kenangan. Aku sadar, kehilanganmu memang sungguh sangat berat bagiku, sangat sangat sangat berat bagiku kehilanganmu.
Namun aku sadar, kehidupan tetap berjalan.
Segala sesuatu yang memang harus terjadi, ya akan tetap terjadi. Kita bisa berencana namun kita tak akan pernah tau bagaiman takdir Tuhan pada kita.
Terimakasih, karenamu aku slalu lebih menghargai waktu lagi.
Kini, aku dapat menemukan sosok yang mampu menggantikan kamu dalam hidupku, Fahrul namanya.
Dan untukmu, bintang kecilku ..
Untukmu, almarhum joko ..
Kamu tetap menjadi yang terindah dalam kehidupanku. Kamu tetap menjadi yang terbaik dalam kehidupanku.
Bintang kecilku, aku rindu, aku rindu, aku rindu.
Bintang kecilku, semoga slalu bahagia di alammu sana.
Bintang kecilku, aku sayang kamu ..
Bintang kecilku, sampai jumpa pada suatu hari nanti ..
Ini, surat yang ku tulis setelah puluhan surat yang ku simpan dalam buku kenangan kita.