Rumahku terletak di pelosok kampung di tepi sungai. Orang-orang jaman dulu selalu melakukan aktivitas mandi dan mencuci di sungai tersebut.Sebelum sampai di sungai,kita harus melewati hutan kecil yang ditumbuhi pepohonan besar dan semak belukar.
Anak-anak di kampung ku suka sekali mandi di sungai.Bahkan kadang mereka sampai lupa waktu kalau sudah bermain di sungai.
Pernah suatu waktu,temanku menghilang setelah mandi di sungai.Orang-orang dan para tetua kampung beramai-ramai mencari.Mereka memanggil nama temanku sambil memainkan bunyi-bunyian agar temanku segera ditemukan.
Untunglah saat tengah malam temanku itu ditemukan tengah duduk di atas pohon besar.Wajahnya pucat pasi.Setelah diturunkan dari sana,dia seperti orang yang linglung,tak ingat apa-apa.Orang-orang bilang dia diajak oleh Wewe.Sejenis hantu wanita yang suka sekali membawa anak-anak.
Konon katanya kalau kita mau diberi makan oleh si Wewe,maka otomatis kita tidak bisa kembali ke dunia,alias meninggal dibawa si Wewe sebagai pembantunya.
Sejak saat itu aku takut bermain di sungai lagi.Kalaupun ada anak-anak yang mandi,habis ashar mereka akan langsung pulang.
Tak seperti biasanya,malam ini ibuku kebelet bab.Ibu meminta ayah dan kakek menemaninya ke sungai.Maklum,jaman dulu belum ada yang punya WC.Akupun ikut menemani ibu karena tak berani di rumah sendirian.
Sebelum berangkat,Kakek sudah mewanti-wanti untuk berjalan lurus,tidak boleh tengak-tengok ataupun menoleh ke belakang.Serta kakek mengingatkan untuk selalu berpegangan tangan.
Tanpa banyak tanya aku pun mengiyakan permintaan kakek.Maklum,kakek termasuk sesepuh kampung ini,jadi dia tahu tentang seluk-beluk makhluk halus.
Sesampainya di sungai,ibu secepat mungkin menunaikan hajatnya.Sembari menunggu ibu,sayup-sayup aku mendengar bunyi gamelan.
Aku mengedarkan pandangan ke dalam hutan.Rupanya suara itu berasal dari sana.Hutan yang tadinya gelap,dalam sekejap berubah terang benderang.Hiruk pikuk orang-orang menonton pagelaran wayang.Suasanya meriah seperti pasar malam.
Aku melepaskan genggaman ayah dan berlari ke keramaian untuk menonton pertunjukkan wayang.Aku juga naik wahana yang ada di sana.Anehnya,setiap orang yang aku jumpai mukanya pucat dan hanya diam saja.Sepertinya mereka enggan bicara,namun tetap melayaniku.
Setelah puas bermain-main aku diajak makan oleh orang yang punya hajatan.Karena belum lapar aku menolak.Aku asyik bermain-main dengan anak-anak di sana.
Saat hendak pulang,aku dituntun nenek-nenek untuk diajak ke rumahnya.Aku meminta nenek mengantarku pulang,tapi sudah lelah berjalan rumahku tak kelihatan juga.Aku menangis memanggil ayah ibuku.Tiba-tiba sosok nenek didepanku berubah menjadi wanita yang menyeramkan dengan tawa melengking.
Aku semakin takut dan gemetar.Suasana pertunjukkan wayang yang tadinya meriah juga berubah menjadi hutan yang gelap gulita.
Aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya,apalagi wanita tadi kemudian membawaku terbang ke pohon dan membopongku.Aku meronta dan berteriak meminta tolong,sampai akhirnya aku kelelahan dan pingsan.
Keesokan paginya aku terbangun di dalam kamarku.badanku panas sekali,dan ada kyai yang sedang mendoakan ku.Simbah juga komat-kamit entah membaca apa.
Ibu memelukku erat sambil menangis.Rupanya aku sudah satu Minggu menghilang di hutan.Kata ibu aku masuk ke kampung hantu.Mereka enggan menyerahkan ku kembali.Untunglah Simbah sebagai sesepuh pintar bernegosiasi dengan penghuni kampung hantu.
Mereka mau melepaskan ku dengan meminta tumbal 1ekor kerbau dan sesajen lengkap sebagai ganti nyawaku.
Rupanya selama seminggu menghilang,aku masuk ke kampung hantu.Untung lah akuasih selamat.Anehnya,,,perasaanku hanya sebentar aku melihat wayang,tapi kenapa bisa 1 Minggu di dunia nyata????.Entahlah......yang jelas kita harus hati-hati saat memasuki hutan dan selalu mengingat nasehat embah supaya selamat.