Cerita sebelumnya...
Steven seorang putra mahkota dari Kerajaan Kilau bersama sang adik, William, berencana ingin menaklukkan Kerajaan Sinar dengan ikut serta dalam kontes kecantikan kerajaan yang diadakan disana.
Tapi sayang, rencana mereka ketahuan dan gagal, menyebabkan Steven harus melarikan William dan membuat Steven sendiri terkepung oleh pasukan Kerajaan Sinar. Steven tak bisa melawan lagi dan pada akhirnya ditahan sebagai tawanan oleh mereka.
***
Klang! Tap... tap...
Samar-samar Steven mendengar suara pintu selnya dibuka dan langkah kaki yang menghampirinya saat dirinya setengah terlelap.
Steven langsung membuka matanya karena ada seseorang yang menyentuh luka dilengannya.
"Kamu." ucap Steven, bangun dari tidurnya.
"Iya, ini aku. Aku hanya ingin mengobati lukamu." ucap seseorang itu yang ternyata adalah Jenita.
Selama beberapa hari, Jenita selalu datang menjenguknya hanya sekedar untuk mengobati dan mengganti perban Steven.
"Kenapa kamu mau menolongku? Padahal kita ini musuh dan kami sudah menyerang kalian secara diam-diam." ucap Steven heran.
"Jangan salah paham. Sabagai tawanan kami, kami tidak ingin kamu mati begitu saja sebelum kami bisa menaklukkan kerajaan kalian." ucap Jenita dengan nada kesal, tapi tangannya telaten mengobati dan mengganti perban Steven.
"Pft, tentu saja." ucap Steven tersenyum samar.
"Maafkan Kak Nathan yang sudah melukai wajahmu." ucap Jenita melihat bekas luka gores di pipi kiri Steven.
"Ini hanya luka gores, nanti juga cepat hilang." ucap Steven tertawa kecil.
"Jadi, sebenarnya selama ini kalian juga sudah merencanakan semua ini sejak awal, ya?" tanya Steven.
"Tentu saja. Saat kalian berencana ingin menaklukkan kerajaan kami, kami sudah lebih dulu berencana untuk menaklukkan kerajaan kalian." ucap Jenita tersenyum menang.
"Heh, sudah kuduga. Pantas saja rencana kami berjalan terlalu mudah begini. Ternyata kalian sudah dengan matang merencanakannya duluan." ucap Steven.
"Apa kamu tak curiga dengan adikmu?" tanya Jenita, Steven terlihat bingung menatapnya.
"Maksudku, kamu tahu kan setiap kerajaan pasti para pangerannya saling berebut untuk mendapatkan tahta... Siapa tahu ini bagian dari rencananya untuk menyingkirkanmu yang merupakan putra mahkota." ucap Jenita.
"Tidak mungkin, aku sangat mengenal Will. Adikku tak akan begitu. Sejak ibu kami meninggal, aku membantu ayah merawat Will dan Rose. Mungkin karena itulah Will jadi terobsesi padaku. Apapun pasti akan dilakukannya untukku tanpa berpikir panjang. Tapi, ujung-ujungnya aku juga yang kena getah dari ulahnya itu. Dan pastinya saat ini dia sedang membawa pasukan kesini untuk menyelamatkanku." ucap Steven.
"Kami sudah memperhitungkan itu." sahut Jenita.
"Kalian memang menyebalkan. Ternyata kami masuk ke kandang yang sangat berbahaya." ucap Steven tersenyum kesal.
"Entah kenapa aku jadi kepikiran dan merasa bersalah pada kerajaan lainnya. Mereka pasti tak akan terima kalau tahu pemenang kontes kecantikan kali ini adalah laki-laki." ucap Steven terkekeh mengalihkan topik.
"Itu sudah pasti." Jenita ikut tertawa.
Entah kenapa mereka berhenti tertawa dan saling berpandangan. Mereka baru tersadar kalau sudah mengobrol begitu akrab.
"Ehem, aku sudah selesai mengobati lukamu." ucap Jenita salah tingkah. Padahal dia sudah selesai dari tadi mengobati Steven.
"Oh iya? Terima kasih."
Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut, ternyata prajurit istana yang berlari tergesa-gesa menghampiri Jenita.
"Tuan putri, Anda harus pergi dari sini dan bersembunyi ke ruang bawah tanah karena saat ini Kerajaan Berani datang menyerang kerajaan kita." ucap prajurit panik.
"Apa?" kaget Jenita tak percaya.
Dengan sigap para prajurit mengawal Jenita ke tempat persembunyian bawah tanah.
"He? Mereka tak mengunci pintu selku?" batin Steven, membuka pintu selnya.
Penjaga penjara tak mengunci pintu selnya karena panik dengan serangan dari Kerajaan Berani.
"Kupikir Will yang datang menyerang, ternyata bukan." batin Steven, keluar dari sel dan berjalan ke lantai atas istana.
Selain kerajaan kami, Kerajaan Berani juga sangat ingin menaklukkan Kerajaan Sinar yang memiliki banyak artefak kuno berharga yang bernilai tinggi.
Kerajaan Berani adalah kerajaan yang terkenal akan gladiator dan prajurit-prajurit terkuatnya. Kerajaan Sinar pasti akan kesulitan untuk menghadapi mereka.
"Lagipula apa urusanku? Aku tak ada hubungannya dengan peperangan mereka saat ini." batin Steven.
Dia sudah sampai ke tempat yang tinggi dari istana dan dari sana dia bisa melihat peperangan yang sedang terjadi dibawah sana. Tak sengaja Steven mendengar suara ribut-ribut panik pelayan yang masih ada disana.
"Bagaimana dengan yang mulia raja?"
"Yang mulia raja sudah dibawa ke tempat persembunyian aman bersama Putri Jenita."
"Kita harus mengumpulkan banyak obat-obatan untuk yang mulia raja kalau-kalau kondisi beliau tak memungkinkan."
"Ah... Ternyata raja Kerajaan Sinar juga sedang sakit-sakitan." batin Steven. Lalu melihat lagi ke bawah sana.
"Sebenarnya ini bukan urusanku. Tapi... kalau melihat Pangeran Jonathan, entah kenapa aku jadi teringat Will." batin Steven melihat Jonathan yang sedang memimpin peperangan di bawah sana.
Di medan perang...
"Sial! Sulit sekali mengalahkan pasukan Kerajaan Berani." batin Jonathan mulai kewalahan.
Karena terlalu fokus melawan musuh didepannya, Jonathan lengah, tak sadar kalau ada musuh yang menyerangnya dari belakang. Tapi untunglah aksi musuh dihentikan karena tiba-tiba di serang oleh sebuah panah yang mengenainya. Jonathan terkejut dan melihat arah panah yang mengenai musuh tadi.
"Pangeran Steven?" batin Jonathan kaget melihat Stevenlah yang menolongnya dari benteng jauh disana.
"Ternyata rumor itu memang benar kalau Pangeran Steven sangat ahli dalam seni memanah daripada seni berpedang. Matanya begitu tajam, bidikannya tepat dan akurat bahkan sampai dari jarak yang sangat jauh sekalipun. Tapi, kenapa dia bisa keluar dari penjara dan menolong kami?" batin Jonathan tersadar.
"Hanya kamilah yang harus menaklukkan Kerajaan Sinar." batin Steven kesal, melepas anak panahnya.
Sementara itu...
"Apa-apaan ini? Kerajaan Berani juga menyerang Kerajaan Sinar?" kaget William. Dia dan pasukannya baru datang dan kaget melihat pemandangan di depan matanya.
"Pangeran, pasukan dari Kerajaan Kilau juga datang kesini." lapor prajurit pada Jonathan.
"Yang benar saja!? Kami memang sudah menduga mereka akan datang, tapi karena Kerajaan Berani juga datang menyerang, kami jadi melupakan mereka." ucap Jonathan kesal.
"Apa itu?" tanya William heran melihat bendera Kerajaan Sinar bergerak-gerak seperti suatu pesan yang sangat dikenalinya dari kejauhan sana.
"Itu kakak. Kakak masih selamat." ucap Will senang melihat dari teropong kalau Stevenlah yang menggerakkan bendera itu.
"Tapi... kenapa kakak menyuruh kita menolong Kerajaan Sinar? Terserah sajalah. Semuanya maju!" teriak William pada pasukannya.
"Eh? Kenapa mereka malah menolong kami?" batin Jonathan kaget.
"Baguslah, Will mengerti dan menuruti apa yang kuperintahkan." batin Steven tersenyum dan melanjutkan memanah lagi.
Keadaan jadi berbalik sekarang, malah Kerajaan Beranilah yang jadi kewalahan karena kedatangan serangan dadakan dari Kerajaan Kilau. Merasa tak terima akan dikalahkan, panglima Kerajaan Berani geram, mengambil busur dan panahnya untuk menghabisi Jonathan. Tapi perhatiannya teralihkan pada Steven yang tangkasnya melepas panahnya.
"Grrr... dia juga pembuat kekacauan ini." batin panglima itu geram dan melepas panahnya ke arah Steven.
Steven yang terlalu fokus memanah, tak menyadari ada panah yang terarah padanya dan langsung saja panah itu menembus masuk kedadanya.
"Sial. Kenapa tidak kena jantungnya saja?" ucap panglima itu kesal.
"KAKAK...?!" teriak William kaget.
Steven terbelalak melihat panah yang menancap di dada kanannya, darah terlihat mengalir dari lukanya dan akhirnya tumbang.
"Kamu akan kuhabisi...!!!" teriak William tak terima dan langsung menyerang panglima yang menyeringai senang itu.
"Sakit. Ternyata begini rasa sakit yang dirasakan orang yang aku panah. Perang itu kejam, ya. Karenanya kita harus kehilangan orang yang kita cintai. Tapi kalau kita tak melawan, kita akan kehilangan segalanya. Jadi... harus bagaimana?" batin Steven, dilihat langit biru yang indah diatasnya. Perlahan-lahan Steven menutup matanya, suara kebisingan perang tak lagi bisa didengarnya .
Beberapa bulan kemudian...
Jenita duduk termenung di jendela kamarnya melihat pemandangan di luar istana sana.
"Jenita." panggil Jonathan, membuat Jenita tersadar dari lamunannya dan menoleh kearahnya.
"Aku tadi habis menjenguk ayah. Untunglah keadaan ayah sudah agak membaik. Lalu aku kesini menjengukmu." ucap Jonathan, berdiri di samping Jenita.
"Aku sangat bersyukur ayah sudah membaik dari sebelumnya." ucap Jenita.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Jonathan khawatir.
"Aku tidak apa-apa. Aku... hanya merindukannya." ucap Jenita lirih.
"Kakak juga merindukannya." ucap Jonathan membelai lembut rambut adiknya. Dia tahu siapa yang sedang dipikirkan oleh Jenita.
Kembali kepeperangan beberapa bulan lalu...
Karena melihat Steven yang tumbang oleh panah musuh, William menjadi hilang kendali dan menyerang musuh dengan membabi buta dan tanpa ampun. Tapi, saat melawan panglima Kerajaan Berani, William kewalahan juga menghadapinya karena panglima itu terkenal sangat kuat.
Tapi dengan bantuan Jonathan, panglima itu akhirnya berhasi ditumbangkan oleh William dan Jonathan. Pasukan musuh kalah dan mundur dari peperangan. Berkat 'pertolongan tak sengaja' dari Kerajaan Kilau membuat kedua kerajaan ini berdamai dan menjadi kerajaan bersahabat.
Lalu, Steven...
"Pangeran Jonathan dan Putri Jenita, ada rombongan dari Kerajaan Kilau dan sekarang mereka sudah ada di depan gerbang kerajaan." ucap seorang prajurit melapor.
"Secepatnya kita gelar penyambutan." perintah Jonathan.
Di aula singgasana raja, raja yang keadaannya sudah mulai membaik, bersama Jonathan dan Jenita menyambut kedatangan tamu mereka. Para tamu itu masuk, Jenita berusaha menahan debaran jantungnya saat melihat orang yang begitu dirindukannya ada dibagian depan barisan.
"Selamat datang, Pangeran Steven dari Kerajaan Kilau." sambut raja ramah pada Steven.
Saat peperangan dulu, Steven mengalami luka berat dan kondisinya sangat kritis. Tapi, untunglah Kerajaan Sinar memiliki ilmu medis yang memadai. Steven bisa diselamatkan dan bisa kembali dengan selamat bersama William dan pasukan ke Kerajaan Kilau.
Setelah beberapa bulan berlalu, Steven datang lagi ke Kerajaan Sinar. Bukan untuk berperang, tapi datang untuk melamar Jenita.
Dan saat ini, Steven dan Jenita sedang jalan-jalan di rumah kaca.
"Kamu benar-benar menumbuhkan kumis dan jenggot, ya? Aku hampir tak mengenalimu tadi." ucap Jenita manyun melihat brewokan Steven.
Dulu, sebelum kembali ke kerajaan, Steven sempat meminta tanaman penumbuh rambut di wajah pada Jonathan.
"Jadi, bagaimana menurutmu?" tanya Steven berbinar-binar.
"Tidak cocok!" jawab Jenita tanpa berbasa-basi.
"Hiks, reaksimu sama seperti adik-adikku. Padahal aku suka sekali dan selalu merawat kumis dan jenggotku dengan baik." ucap Steven lesu.
"Memang benar-benar tidak cocok. Kamu harus mencukur habis semuanya." saran Jenita.
"Tidak mau! Aku tidak akan mencukurnya." tolak Steven.
"Harus dicukur!" Jenita bersikeras.
"Tidak akan!" Steven juga bersikeras.
Dan selama jalan-jalan di rumah kaca, mereka berdua hanya meributkan permasalahan kumis dan jenggot Steven saja.
-TAMAT-