Pesawat mendarat dengan sempurna, satu pesatu penumpang turun dengan rapi, begitupun dengan gadis cantik bernama Anaya Fradella Putri, seorang mahasiswi yang tengah menikmati waktu liburanya untuk melihat keindahan negeri orang.
Wajahnya terlihat sangat antusias dan tidak sabar untuk berpetualang, kali ini Anaya menjadikan London sebagai tempatnya berpetualang, menikmati kota pada saat dedaunan berguguran.
"Akhirnya." ujarnya dengan semangat menggebu.
Kakinya melangkah menuju pintu keluar bandara, matanya melihat banyak orang berkulit putih khas masyarakat benua Eropa. Dirinya membayangkan bagaimana jika dirinya bisa menikahi salah satu dari mereka, pasti akan sangat menyenangkan.
"Mrs.Anaya?" ucap sebuah suara berat khas seorang pria.
Anaya menoleh melihat pemilik suara yang memanggil namanya, matanya menangkap pria tampan dengan pakaian sopir. Ahh, Naya akhirnya ingat jika dirinya sudah menyewa mobil untuk menemaninya melihat-lihat pemandangan kota.
Menurutnya, mencari taxi dinegara asing akan cukup merepotkan. Ditambah mendengar cerita temanya jika akan sangat sulit mendapatkan taxi walaupun ditempat para wisatawan asing berkumpul.
"Sir Thomas?" tanya Naya ragu, takut jika salah orang.
"Bukan, nama saya Johnny." jawabnya sambil menggelengkan kepala
"Lalu siapa kamu" tanya Anaya bingung, jika bukan Thomas lalu siapa pria tampan ini?
"Saya anaknya nona, papa saya sakit hingga tidak bisa menjemput anda. Saya juga yang akan menggantikan beliau menemani anda berkeliling kota." jawab John dengan senyum manisnya.
"Ahh baiklah." jawab Anaya mengerti.
"Silahkan nona?" ujar John memberikan Anaya jalan menuju mobil milik ayahnya.
Keduanya memasuki mobil berwarna hitam yang pikir Anaya milik Thomas, ayahnya Johnny. Naya tidak mau duduk dikursi belakang layaknya nona muda dengan alasan tidak terbiasa.
"Apakah anda tidak keberatan duduk disamping seorang anak supir?" tanya Johnny heran.
"Gue mah seneng duduk disamping cogan." gumam Anaya lirih.
"Anda mengatakan sesuatu?" tanya Johnny.
"Tidak, tidak ada. Aku tidak masalah duduk dengan kamu tuan Johnny." jawab Anaya gugup seperti maling yang tertangkap basah.
"Baiklah, jika mau anda bisa memanggil saya John saja." katanya dengan senyuman meluluhkan.
Tidak ada percakapan berarti selama perjalanan menuju hotel tempat Anaya menginap, Johnny sibuk menyetir dan Anaya yang sibuk memandangi wajah tampan Johnny, sehingga pria itu sedikit salah tingkah dibuatnya.
Beberapa menit perjalanan mereka tiba disebuah hotel besar nan mewah, Anaya menatap puas dengan hotel yang dipesankan oleh papanya. Sebagai anak tunggal, ia mendapatkan kasih sayang lebih dari orangtuanya, bahkan gadis itu sangat dimanjakan.
"Mari saya bantu." ujar Johnny membawakan koper milik Anaya.
"Terimakasih tuan John." jawab Anaya sumringan.
"Panggil John saja nona, rasanya aneh mendengar anda memanggil saya dengan sebutan tuan." kata John canggung.
Ahh, betapa bahagianya dia berjalan berdampingan dengan pria tampan seperti Johnny, mungkin usia pria ini sekitar 25 atau 27 tahunan. Sangat pas untuk memulai berkeluarga, atau mungkin sudah berkeluarga.
"Apa kau sudah memiliki istri?" tanya Anaya keceplosan, sontak gadis itu membekap mulutnya sendiri atas ucapan ambigunya.
Betapa memalukanya dia, bertanya mengenai hal privasi yang sangat sensitive. John menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebelum menjawab pertanyaan gadis berwajah Asia disampingnya.
"Tidak, dengan wajah pas-pasan dan ekonomi keluarga yang sederhana membuat gadis-gadis tidak menyukai tipe pria seperti saya." ujarnya sedikit merendah.
"Baguslah." jawab Anaya secara lantang.
"Maksud anda?" tanya Johnny sedikit kaku, apakah gadis ini menginginkan ia sendiri selamanya? jahat sekali.
"Ahh, maksudku bagus kau masih sendiri jadi aku memiliki kesempatan mendekatimu hahah." ujarnya frontal.
"Candaan anda sungguh lucu nona." ucap John ikut terkekeh mendengar pernyataan yang menurutnya sebuah candaan yang lucu.
"Aku serius tahu!" sinis Anaya meninggalkan John yang terdiam membatu.
Didalam lift Anaya terkekeh kecil melihat wajah John yang sudah semerah tomat, puas rasanya menggoda pria bule yang satu ini, entah kenapa Anaya merasa jika John terlalu polos.
"Terimakasih bantuanya, besok kutunggu pukul delapan pagi. Bye, hati-hati dijalan honey!" ujar Anaya melambaikan tanganya sebelum menutup pintu kamar hotelnya.
~~
Besoknya Anaya sudah siap dengan pakaian casual yang terkesan santai dan sederhana, sedari tadi ia menunggu kedatangan Johnny. Memikirkan John membuat Anaya menjadi antusias.
Lamunanya buyar saat mendengar bel kamarnya berbunyi, dengan gerakan cepat gadis itu membuka pintu dengan menampilkan senyuman terbaiknya.
Saat pintu terbuka dugaanya ternyata benar, John berdiri didepan pintu dengan pakaian santai sesuai permintaan Anaya semalam waktu menelfon nomor pribadi Johnny yang pria itu berikan. Ohh, tampanya.
"Pagii John sayang!" sapanya semangat.
"Pa-pagi nona." jawabnya canggung.
"Masuklah dulu." ajaknya asal menarik tangan pria yang terlihat gugup setengah mati.
"Baiklah." jawab John sedikit memerah malu.
Ada rasa bahagia dihati John ketika dirasa tangan kananya menyentuh kulit lengan Anaya yang terasa sangat lembut, bahkan mengalahkan kelembutan busa shampo yang sering John pakai.
"Tanganya sungguh lembut." guman John pelan namun masih terdengar ditelinga Anaya.
"Terimakasih pujianya, aku tersanjung loh." jawab Anaya membuat John tersentak kaget.
Setelah semalaman berpikir akhirnya Anaya memutuskan untuk terus menggoda John, kalau jodoh syukur kalau tidak ya tidak masalah. Lagian awalnya ia hanya bercanda ingin mennggoda.
"Bantu aku memasukan beberapa lembar pakaian itu kedalam rensel hitam itu John." ucap Anaya menunjuk beberapa pakaian yang berada diatas ranjang.
"Dengan senang hati nona." jawab John.
"Panggil aku Anna saja!" ujar Anaya.
Baiklah, khusus John yang boleh memanggilnya Anna. Yang lain akan tetap memanggilnya Anaya atau Naya. John tersenyum dan menganggukan kepalanya tanda mengerti.
"Apa kau pernah berpacaran John?" tanya Anaya penasaran, apakah John pernah berpacaran? apakah John pernah berciuman? atau mungkin pernah bercinta?!
Menurut cerita temanya yang pernah bertahun-tahun tinggal di Eropa, masyarakat Eropa lebih bebas daripada Asia. Maksudnya, pergaulan mereka berbeda dengan pergaulan penduduk Asia terutama Indonesia.
Tapi Anaya tidak mengetahui apakah ucapan temanya adalah sebuah kebenaran atau kebohongan belaka untuk menipu Anaya yang pada saat itu bertanya secara tidak sengaja.
"Tidak pernah, seperti yang aku katakan Anna. Tidak ada gadis yang mau denganku." jawab John lesu karna masalah percintaan yang nol besar.
Itulah penyebab ia sangat malu mendengar godaan Anaya yang diperuntukan kepadanya, perutnya seperti terisi ribuan bunga yang membuatnya merasa geli dan bahagia dalam satu waktu. Seperti terbang diawan setelah mendengar pujian-pujian yang Anaya lontarkan untuknya.
"Ayo Anna!" ajak John setelah semuanya siap.
Tempat pertama yang akan mereka kunjungi adalah Tower Bridge, sebuah kamera menggantung indah dileher putih Anaya, John sangat terpesona akan paras rupawan gadis berdarah Asia ini. Ditambah wajah Anaya yang menurutnya unik.
Ya, selama ini yang ia lihat hanyalah wajah-wajah kebanyakan masyarakat Eropa pada umumnya, setelah melihat wajah Anaya membuatlah langsung terpesona.
Andai saja ekonomi keluarganya sedikit tinggi, maka ia tidak akan ragu mengungkapkan perasaan cinta pada pandangan pertamanya untuk Anaya.
"Apakah aku begitu cantik hingga kau memandangku dengan seintens itu?" tanya Anaya mengedipkan sebelah matanya menggoda.
"I-iya." jawab John dengan jujur.
"Terimakasih honey." ujar Anaya dengan nada manja ala dirinya yang biasanya ia keluarkan saat membujuk kedua orangtuanya.
Keduanya berjalan beriringan karna Anaya meminta agar John mengikutinya berkeliling, kadang gadis itu meminta John untuk mengambil gambarnya yang asik berpose ria.
John mengikuti permintaan gadis cantik tersebut dengan senang hati, matanya menatap Anaya yang asik berpose dengan ia yang menjadi fotografer.
Setelah berpose dengan banyak pose akhirnya Anaya kembali menghampiri John, gadis itu melihat hasil jepretan tangan John yang sangat cantik menurutnya.
"John, ayo berfoto berdua!" ajak Anaya.
Gadis itu menarik lengan John mendekati beberapa gadis muda yang ikut menikmati keindahan Tower Bridge yang benar-benar memanjakan mata.
"Permisi, bisa tolong fotokan kami berdua?" tanya Anaya dengan nada sopan.
"Baiklah." jawab salah satu diantara ketiga gadis bule tersebut, seperti berasal dari Rusia.
Anaya dan John berpose beberapa gaya, Anaya mendekatkan tubuhnya ketubuh John dan saat gadis tersebut ingin memotret mereka, Anaya berjinjit dan mencium pipi kiri Johnny.
Gadis yang menjadi fotografer mereka terkekeh melihatkan sementara John terbelalak kaget dengan mulut sedikit terbuka, semburan merah menghiasi pipinya yang putih dan mulus.
"Terimakasih nona." ujar Anaya dengan senyuman merekah kepada gadis yang ia kira berasal dari negara Rusia, negara yang terletak pada dua Benua, Benua Asia dan Benua Eropa.
"Sama-sama. Kalian sangat cocok dan membuat iri orang yang melihat kemesraan kalian berdua." ujarnya dengan memberikan senyuman menggoda.
Gadis ini sepertinya mudah diajak berteman, ada baiknya jika Anaya menjadikan gadis ini sebagai temanya. Menambah pertemanan bukanlah hal buruk, sekalian ia menambah koneksi yang berada dinegara lain.
"Hohoho, terimakasih. Saya menganggap ucapan anda sebagai pujian. Kalau boleh saya tahu, siapa nama anda nona?" tanya Anaya ramah.
"Perkenalkan nama saya Calista Gillbert. Ini teman saya Laurent dan Alice." ujar Calista mengulurkan tanganya untuk berjabat.
"Saya Anaya." ujar Anaya.
"Laurent Marcelo, senang berkenalan dengan anda nona Anaya." ujar Laurent dengan senyuman ramah dan terkesan sangat ceria.
"Alice Partidge, senang berkenalan dengan anda." ujar Alice memberikan senyuman manisnya.
"John sayang, kenalkan dirimu!" suruh Anaya melihat John hanya diam saja.
"Johnny." ujarnya singkat. Wajahnya memerah saat mendengar panggilan Anaya untuknya.
"Senang berkenalan dengan kalian berdua, jika boleh tahu, Anaya berasal dari negara mana? saya rasa Johnny berasal dari Inggris, tetapi Anaya seperti berasal dari Asia." tanya Alice sopan, gadis itu sungguh penasaran.
"Indonesia, aku berasal dari Indonesia. Tepatnya lagi kota Jakarta." jawab Anaya bangga.
"Bali?!" seru Calista, Laurent, dan Alice serempak.
"Yeah, wisatawan asing biasanya berlibur ke Bali karna tempat itu sungguh indah." ujar Anaya.
"Iya, kapan-kapan kami bertiga akan berkunjung ke Bali dan kita bisa bertemu!" ujar Laurent antusias.
Anaya hanya mengangguk, mereka bertukar nick name instagram masing-masing lalu kembali pada aktivitas mereka semula.
Saat hari menjelang malam, Anaya mengajak Johnny mengunjungi London Eye. Gadis berdarah Asia itu ingin sekali mencoba menaiki London Eye yang sangat terkenal. Anaya ingin mencoba merasakan sensasi berada diketinggian 135 meter!
Interaksi antara John dan Anaya sudah mulai tidak canggung, walaupun terkadang John memerah malu atas godaan atau tindakan mendadak yang Anaya lakukan, seperti mencium pipinya tiba-tiba.
"Kita naik?" ajak Anaya kepada John saat sudah tiba di London Eye.
"Ayo!" ajak John bersemangat, lelaki itu menggandeng tangan Anaya dan menaiki wahana bianglala tersebut, John sebenarnya tidak sadar akan tindakanya yang menggandeng lengan Anaya yang kini sudah tersenyum dengan sangat lebar.
Kedua insan tersebut ikut mengantri untuk membeli tiket agar bisa menaiki London Eye, tidak lama mereka mengantri, keberuntungan ada pada mereka karna antrian yang tidak terlalu panjang.
Akhirnya mereka dapat menaiki wahana bianglala setelah tiket berada ditangan, keduanya tersenyum saat bianglala London Eye sudah mulai bergerak, ada rasa berdebar dan bahagia dihati Anaya.
Canda dan tawa terdengar saat Anaya melontarkan candaan lucu, hingga akhirnya mereka akan tiba dipuncak tertinggi bianglala, John tiba-tiba berdiri dari duduknya dan berjongkok dihadapan Anaya.
"Ada apa John?" tanya Anaya bingung.
"Anna, aku tahu ini terlalu cepat. Tapi aku ingin kau mengetahui perasaanku, saat pertama kali melihat wajahmu aku merasa jantungku berdebar, ada rasa ketertarikan dihatiku, wajahmu sungguh cantik dan unik bagiku. Aku tahu aku tidak pantas untukmu, aku hanyalah anak seorang sopir, tapi aku ingin mengatakanya. Anaya, aku mencintaimu, apakah kamu mau bersamaku? aku bukan seorang pria yang romantis, tapi aku berjanji akan membuat hidupmu bahagia semampu yang aku bisa, hidup bersama dan membuat keluarga kecil kita yang bahagia. Apakah kamu mau menjadi pacarku? tidak! aku tidak ingin berpacaran, tapi aku ingin menikah. Apakah kamu mau menjadi istriku? menjadi ibu untuk anak-anaku kelak?" ujar John dengan nada lembut, matanya menatap mata Anaya teduh.
Mendengar pernyataan John membuat Anaya tidak bisa mengatakan apa-apa, gadis itu merasakan kebahagiaan mendengar John mengungkapan rasa cintanya. Cinta untuknya. Kata siapa John tidak pantas untuknya? tidak ada orang yang pantas untuk Anaya kecuali Johnny. Johnny seorang.
"Kau melamarku John?" tanya Anaya tidak percaya, matanya berkaca-kaca dengan penuh rasa kebahagiaan.
"Yes, darling." jawab John tersenyum lembut, tanganya tergerak untuk menyelipkan anak rambut Anaya ketelinga gadis itu.
"Jadi, will you merry me Anaya?" tanya John dengan tatapan mata lembut menggoda.
"Yes John! i will!" seru Anaya bahagia.
Jantung keduanya berpacu dengan kencang, rasa bahagia tiada kira menghampiri keduanya. Tidak menyangka jika mereka berjodoh, berawal dari John yang menggantikan ayahnya menjadi supir Anaya hingga kini keduanya akan menikah.
John mendekatkan wajahnya kewajah Anaya, deru nafas keduanya terasa menambah suasana romantis yang tercipta, bibit lembut nan kenyal milik John kini bersentuhan dengan bibir Anaya.
Keduanya berciuaman berlatarkan pemandangan indah dari atas bianglala London Eye, ciuman yang lembut dan menenangkan, beberapa saat saling berpangut hingga akhirnya terlepas karna kehabisan nafas.
Nafas mereka memburu dengan kencang, keduanya saling tatap dengan senyuman bahagai, John memeluk tubuh Anaya dengan erat, memberi gadis itu kenyamanan dan kehangatan.