Aku terlahir berbeda dengan anak seumuranku. Sejak kecil aku dianggap aneh karena sering berbicara sendiri padahal tak ada seorang pun yang ada di dekatku. Sebagian orang mengatakan jika apa yang ku alami hal yang wajar untuk seorang indigo.
Aku tak paham apa arti indigo, namun aku dapat berinteraksi dengan makhluk tak kasat mata. Terasa nyaman dapat berinteraksi dan bermain dengan mereka sedangkan dalam kehidupan sehari-hari aku dijauhi karena aneh menurut teman-teman.
Namun komdisiku membuat ibu dan bapak resah, tak jarang aku sangat ketakutan mana kala ada setan atau jin yang seram. Ku katakan kepada mereka jika aku sering diajak ke dunia (alam) mereka. Namun entah kekuatan dari mana yang secara tidak langsung melindungi ku.
Beragam cara dilakukan orang tuaku untuk menghilangkan rasa trauma akan kehadiran makhluk tak kasat mata itu. Mulai dari ruqyah ke beberapa kiai atau pondok pesantren baik di kotaku ataupun di kota lain.
Hingga suatu saat aku bermimpi di datangi leluhurku jika aku mewarisi kekuatan turun temurun keluarga. Aku diminta untuk membantu sesama dengan kemampuan tersebut. Aku pun tak khawatir kembali karena leluhur tersebut selalu mendampingi dan menjagaku.
Aku pun cuek tak menghiraukan mereka yang terpenting mereka tak menggangguku. Kejadian tersebut terus berlangsung hingga aku dewasa dan menikah.
Aku ingat saat itu sedang mengandung anak pertama dan berkunjung ke rumah orang tua (sejak menikah aku ikut suami dan berbeda kota dengan kota asalku). Suatu petang ada seorang teman bapak berkunjung tak ada yang ganjil dengan kedatangannya. Namun saat akan berbelanja ke warung aku melihat ada sesosok Buto ijo di luar rumah terus melihat kearah tamu. Aku pun berpikir jika makhluk itu kiriman seseorang yang mungkin ada masalah dengannya. Makhluk itu tak dapat mengikuti sampai masuk rumah karena leluhurku memasang pagar gaib disekitar rumah dengan tujuan jika ada makhluk berniat jahat tidak dapat mengganggu keluarga ku.
Kulanjutkan menuju warung untuk membeli gula dan kopi. Sepuluh menit berlalu aku pun pulang, kulihat makhluk itu tetap ditempat awal kami bertemu. Aku berusaha untuk berkomunikasi dengannya tentang tujuannya apa mengikuti teman bapak.
"Hai makhluk jelek, ada apa gerangan mengapa engkau berada disekitar rumah ku"
Awalnya makhluk itu tak menanggapi pertanyaanku. Akhirnya aku konsentrasi mengumpulkan energi alam disekitar di kedua telapak tangan, saat bola energi berukuran bola kasti segera ku lemparkan ke arah makhluk itu.
"Siapa yang telah menggangguku?" ucap makhluk itu
"Aku yang melakukannya. Apa tujuan mu datang kerumahku dan mengganggu ketenangan rumah ini."
"Aku mengikuti orang yang datang berkunjung itu. Tujuan ku untuk mencelakainya, seseorang yang berselisih dengannya menginginkan nyawanya untuk sesembahan kami."
"Apa maksudmu? Dia akan dijadikan tumbal pesugihan oleh tuanmu?"
"hahahaha.... Memang benar apa yang kau katakan."
"Jangan beralasan sedang berselisih lalu engkau mengatakan jika orang tersebut akan dijadikan tumbal pesugihan. Sejak awal ia pasti telah menjadi target kalian. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."
"Apakah engkau dapat mengalahkan kami anak kecil? Kami berasal dari sebuah gunung **** engkau tak mungkin menang melawan kami."
"Aku tak pernah takut berhadapan dengan makhluk sepertimu. Tuhanku akan selalu menyertaiku karena aku melawan kedzaliman."
Pertarungan pun tak dapat dihindari, leluhurku muncul untuk membantu bersama seekor harimau putih yang aku tak paham siapa itu. Kemudian beliau berkata.
"panggil kembaranmu nak, untuk menjaga keluarga mu disini juga keluarga suamimu. Karena masalah ini tak sederhana."
"baik kek"
Aku pun berdoa kepada sang pencipta untuk memanggil keempat kembaran gaibku. Setelah mereka muncul ku bagi menjadi dua kelompok masing-masing terdiri dari dua orang, yang pertama menuju rumah tuan (Buto ijo) dan kedua menuju ke rumah orang tua suami di kota S.
Sedangkan aku dan leluhur bertarung disekitar rumah dengan Buto ijo itu yang telah memanggil beberapa temannya.
Setengah jam pun berlalu akhirnya kami memenangkan pertarungan itu baik di sekitar rumah maupun pertarungan dengan orang yang mengirim Buto ijo itu. Orang itu mengalami luka dalam imbas dari pertempuran dan musnahnya makhluk yang ia kirim.
Aku pun segera memanggil bapak, bercerita tentang apa yang terjadi. Bapak segera bertanya kepada temannya apakah sebelumnya ia sering merasa sakit tiba-tiba terutama saat malam dan berobat kemanapun namun tak ada hasil. Beliau tak menyangkalnya, dan ia bertanya dengan curiga mengapa bapak menanyakan hal tersebut. Bapak segera menjelaskan apa yang terjadi sesuai apa yang aku ceritakan. Teman bapak pun meminta agar aku bergabung di ruang tamu dan menceritakan detail nya.
Segera ku ceritakan hal yang ku ketahui dan meminta ia agar segera mencari seorang kiai atau ustadz yang dapat meruqyah. Aku menjelaskan jika ilmu yang kupelajari belum sampai tingkat meruqyah seseorang (aku sering berlatih di alam gaib bersama leluhurku).
Tak lama ada sebuah Telepon masuk di hpku. Aku pun segera memohon ijin kepada bapak untuk mengangkat telepon. Saat ku memeriksa siapa yang telepon ternyata adik iparku.
"Ada apa Wulan engkau menelpon? Apakah keluarga disana sehat?"
"Mbak sekarang dimana? Beberapa menit lalu aku melihat bayangan mbak menyapu halaman belakang. Namun saat kembali dari dapur niat hati mencari mu namun tak bertemu. Kamarmu pun terkunci. Apa jangan-jangan hantu mbak?
"Jangan bicara sembarangan, nanti jika ada hantu yang mendengarnya dan mendatangimu apa kau tak takut" ujarku bertanya jahil karena Wulan penakut jika berhubungan dengan hal gaib.
"Jangan mbak, aku takut sendirian di rumah karena bapak dan ibu menghadiri acara pernikahan sepupu di desa sebelah"
"positif thinking dek, jangan berpikiran berlebihan. Itu mungkin hanya halusinasi mu karena ketakutan di rumah sendiri. Sebaiknya kamu main ke rumah bibi sampai ibu dan bapak pulang".
"baiklah mbak"
Aku pun segera mengakhiri telepon itu dan menuju ruang tamu. Teman bapak itu segera berpamitan karena hari semakin sore, ia pun berterima kasih telah dibantu dan akan segera mencari informasi seseorang yang bisa meruqyah.
TAMAT.
Demikian lah ceritaku berdasarkan kisah nyata. terimakasih yang sudah menyempatkan untuk membaca cerita ini.