Malam yang larut terasa dingin, di luar hujan lebat mengguyur rumah kontrakan yang berada di dekat pasar kambing Kota Serang. Rumah yang dihuni pasangan suami-isteri yang sudah dikaruniai 2 orang anak itu terlihat angker. Pasalnya rumah sederhana itu lama tak berpenghuni. Mereka tinggal di rumah kontrakan tersebut baru 2 bulan. Sebenarnya mereka sudah tahu jika rumah itu sebelumnya pernah terjadi insiden pembunuhan yang menewaskan seorang laki-laki yang pernah mengontrak di rumah itu belasan tahun lalu. Masyarakat sekitar yang mengetahui hal tersebut merasa ketakutan setiap melewati rumah itu, karena sering mendengar suara jeritan, tangisan dari dalam rumah. Namun sekarang masyarakat sekitar merasa lega manakala rumah itu sudah ada yang menempati. Dan masyarakat salut atas kegigihan dan keberanian keluarga Karim yang mau tinggal di rumah itu, luaaar biasa! padahal me-na-kut-kan! Membuat bulu kuduk berdiri. Pantesan ada yang mau tinggal di rumah angker itu karena biaya ngontrak di sana jauh lebih murah hanya 1 juta /tahun. walaupun angker terpaksa dengan budget yang pas-pasan mau saja tinggal di rumah itu ya itung-itung uji nyali walaupun mempertaruhkan hati yang ketar-ketir.
Di dalam rumah tampak seorang anak kecil berumur 4 tahun terbangun, saat itu pukul 00.00 wib, bermain mobil-mobilan.
Aktivitasnya terhenti setelah mendengar suara dari luar, seperti ada orang yang sedang mencangkul di halaman rumahnya. Padahal di hujan sangat lebat, petir pun sesekali menyapa. Pandu menghampiri jendela dan melihat di balik tirai, tampak seorang kakek sedang mencangkul di bawah pohon mangga, melihat ke arah Pandu, seraya melambaikan tangan seolah meminta Pandu untuk keluar rumah.
"De Pandu ngapain? Mau kemana?' Karim terjaga dari tidurnya, awalnya mau mengambil minuman karena haus, ia urungkan. Langkahnya terhenti ketika melihat anaknya memegang handle pintu hendak keluar rumah.
"Itu ayah, Pandu mau nolongin kakek-kakek. Biar suruh masuk kasihan kehujanan pasti kedinginan" jelas Pandu. Karim mengintip dari celah jendela, menyibakkan tirai perlahan. Matanya menyapu sekitar halaman rumah tersebut. Tidak ada siapa-siapa. Sepi hanya guyuran air, dan suara pohon yang menari tertiup angin kencang.
Deg
Deg
Merasa ada yang tidak beres Karim langsung memeluk Pandu dan membawanya masuk ke dalam kamar. Pandu memohon pada ayahnya agar secepatnya membuka pintu dan menolong kakek itu.
" Ga ada siapapun di luar sayang"
" Tapi tadi ada kakek lagi angkul teyus nyuluh Pandu elual acian kake ayah" Melasnya.
Merasa tidak aman, Karim mengambil kunci pintu rumah dan menyimpan kunci itu di tempat yang tidak terjangkau oleh Pandu
Keesokan harinya, di tempat lainnya tampak seorang gadis sedang berjalan sambil mencari angkot dengan tujuan Pasar Rau. Setelah mendapatkan angkot, dia duduk di pojok bagian belakang. Angkot tidak langsung beranjak, ternyata ada seorang bapak berbadan tinggi besar, gagah menaiki angkot yang sama dengan gadis itu. Bapak itu membawa tas kerja duduk berhadapan dengan gadis itu. Tangan kanannya memegang hidung dan mulut nya dengan sapu tangan, sehingga dalam perjalanan, dia tidak menampakkan wajah nya hanya mata yang terlihat. Dia membuka jendela yang ada di dekatnya.
Hoek....Hoek.....Hoek
" Aneh, orang kelihatan segar bugar begitu kok kayak orang sedang mabok perjalanan" Batin Farah menaruh curiga pada bapak itu lantaran beberapa Minggu terakhir ini sedang marak pencopetan di dalam angkot dengan berbagai modus.
Kemudian angkot berhenti lagi, ibu-ibu masuk dan di belakangnya 2 orang laki-laki menaiki angkot tersebut. Farah menggeser tubuhnya tepat di belakang supir. Laki-laki pertama duduk di pojok berhadapan dengan bapak aneh tadi sedangkan si ibu duduk di sebelah laki-laki tersebut. Laki-laki yang satu lagi duduk di samping pintu angkot. Ada komunikasi antar 2 orang laki-laki tersebut, terlihat akrab. Karena Farah sudah curiga, dia mendekap tas kecil yang berisi hp dan uang yang alakadarnya, pasti lumayanlah jika tas itu diambil oleh mereka.
Angkot berjalan dengan kecepatan sedang tidak ada penambahan penumpang lain hanya berempat duduk di belakang dan di depan hanya ada sopir.
Ibu-ibu tadi memperhatikan bapak aneh itu. Merasa iba ibu itu pun menawarkan minyak kayu putih untuk melegakan pernafasan. Aksi tersebut disambut baik oleh bapak aneh.
" Terima kasih" Dia menghirup kayu putih perlahan. Dan memberikannya kembali setelah badannya merasa lebih baik. Setelah itu bapak aneh tersebut turun di Ciceri. Ibu tadi turun di royal sedangkan dua orang laki-laki turun di pasar lama.
Sepi
Itulah yang dirasakan Farah saat itu. Setelah beberapa saat yang lalu menyaksikan secara live drama pencopetan yang dilakukan sekelompok orang tidak dikenal.
" Gimana mbak, baik-baik saja,kan? Mbak....Mbak!" Farah bergeming saat sopir menanyakan kondisinya.
' i....iya mang. Alhamdulillah semua aman kok, ga ada yang ilang" Farah seolah tahu perihal pertanyaan sopir.
"Syukurlah Mbak. Tapi itu ibu-ibu yang tadi gimana ya? Biasanya 3 orang laki-laki tadi turun kalo sudah dapat korban™
"Jangan-jangan ???"
Farah turun tepat di depan pasar kambing. Dia sengaja turun di sana karena ingin mampir ke rumah Mbak Rena isteri Bang Karim. Hatinya yang shock dan ketar-ketir membuatnya kebelet pipis.
Rumah itu tampak sepi. Ucapan salam tidak dijawab oleh penghuni nya. Dia mengintip dari jendela, terlihat televisi masih menyala. Farah pun menelpon, siapa tahu di dalam memang ada orang tapi tidak mendengar salamnya.
" Mbak di mana, di dalam rumah ada siapa? itu tevenya masih nyala?
" Ini mbak lagi di luar bareng Bang Karim ada di lapak. itu tadi tevenya sudah dimatikan kok sebelum pergi. Duh.....selalu aja ya! Ntar tolong matikan aja tevenya kalo mau pulang. Itu kuncinya ada di bawah pot bunga ambil aja!" Penjelasan Rena membuat Farah bergeming. Merasa hatinya dipermainkan lagi, Farah memasuki rumah itu dengan perasaan was-was. Kebelet pipis yang mengharuskan memasuki ruangan sepi itu. Terdengar suara air mengalir dari kamar mandi yang mengusik hati. Ayat kursi dan surat-surat pendek Alquran dilantunkan tanpa suara. Diraihnya remote teve yang ada di atas meja kemudian Farah menekan tombol off. Dengan cepat dia berjalan memasuki kamar mandi seraya berdoa sebelum memasukinya. Sial! Air kran tidak mengalir tapi tunggu tadikan Farah mendengar dengan jelas ada suara air mengalir tapi kenapa embernya kosong. Duh ada apakah gerangan dengan telinga Farah, apa mungkin telinga Farah ada sedikit gangguan? Ia mengambil ember kecil kemudian keluar menuju dapur mencari ember besar yang menampung air. Secepatnya Farah mengisi ember kecil itu dengan air. Dengan sekali tarikan nafas Farah memasuki kamar mandi itu kembali.
Selesai membuang hajat, Farah dengan langkah cepat meninggalkan kamar mandi tapi .......langkahnya terhenti ketika televisi itu nyala kembali. Matanya menyapu sekitar ruangan, sepi. Hanya ada Farah di ruangan itu. Farah meraih remote itu kembali dan menekan tombol off. secepatnya menyimpan remote di atas meja tamu. Farah keluar dari rumah itu dengan mengunci pintu dan mengembalikan kunci tersebut di tempat semula. Farah membuang nafas kasar. Akhirnya ....nikmat benerrr hari ini.