"Kenapasih kamu selalu mengkalkulasikan segalanya dengan uang?"
"Karna aku matre!"
Dicka begitu tercengang ketika mendengar sebuah jawaban sarkartis meluncur begitu mudahnya dari mulut seorang gadis bernama Aurora.
Dia tidak habis pikir, bagaimana seseorang bisa sangat jujur menyebut dirinya adalah sosok materealistis, yang sangat mencintai uang. Sifat yang biasanya sangat ingin ditutupi oleh makluk yang bergenre wanita, sama seperti makluk yang tengah berdiri dihadapannya sekarang.
"Wah kau sungguh luar biasa, bagaimana bisa ada gadis tak tahu malu sepertimu?" Dicka mencibir wanita didepannya.
"Memangnya kenapa?" Pertanyaan tidak terduga menyapa gendang telinga Dicka.
"Kau memang wanita bar bar, bukankah permintaan maaf lebih pantas kau ucapkan daripada menawarkan sejumlah uang atas kesalahanmu?" Dicka mengepalkan tangan. Ia merasa marah dengan sikap Aurora yang terkesan merendahkannya.
"Benarkah, aku baru tahu jika orang sepertimu lebih menghargai ucapan maaf daripada sejumlah uang?" Aurora terkekeh, ia sama sekali tidak merasa terintimidasi dengan aura kemarahan Dicka. Sesaat kemudian ia meneruskan ucapannya,
"Bukankah orang orang dari golongan kaya sepertimu biasanya akan melakukan sama sepertiku sekarang ini, dalam menangani sebuah permasalahan?" Kalimat Aurora, bagai sebuah tamparan keras untuk Dicka.
"Mulutmu sangat ahli dalam merendahkan orang lain." Sinis Dicka yang muak dengan sikap Aurora.
"Aku pikir kita sama!" Sebuah jawaban yang membuat Dicka terdiam.
Memang benar uang bisa jadi senjata ampuh untuk menangani masalah selama ini, begitu pula dengannya. Seringkali dirinya menggunakan kekuasaan uang dalam setiap langkah dan masalahnya. Dan Clara bisa membacanya dengan sangat jelas.
"Aku tidak begitu." Akhirnya kata kata ambigu keluar dari mulut Dicka, yang membuat Aurora semakin menyunggingkan senyum sinisnya.
"Aku tidak sedang mencari jawaban. Tapi aku sedang memastikan tentang kebenaran dari sebuah jawaban." Mulut Dicka menganga, mencoba mencerna ucapan Clara.
"Hmm?" Dicka mengernyitkan keningnya.
"Yah, bukankah sebuah kebenaran membutuhkan pembuktian?" Aurora mendengus, berpikir laki laki arogan ini sebenarnya sangat naif dan sedikit bodoh.
"Apa maksudmu?" Dicka kembali dibuat kebingungan oleh wanita muda itu.
"Ambillah, aku yakin ini lebih dari cukup untuk mengganti kaca spion mobil mewahmu." Aurora menyerahkan selembar kertas cek, setelah menuliskan nominal diatasnya. Lalu melenggang pergi tanpa permisi.
"Hei tunggu, minta maaf padaku! Teriak Dicka menuntut permintaan maaf dari Aurora, yang hanya dibalas oleh lambaian tangan tanpa menoleh sedikitpun.
"Shit,, " Dicka menendang ban mobilnya, sadar bahwa Aurora benar benar mengacuhkannya.
Sekali lagi, pria yang biasanya sangat kharismatik dihadapan semua wanita ini, merasa terusik harga dirinya. Wanita mungil yang tengah menjauh dari hadapannya, dengan enteng bisa mematahkan semua penilaiannya tentang makluk bergenre wanita, yang selalu ingin dipandang baik dihadapan laki laki tampan dan kaya sepertinya.
Namun tidak untuk Aurora, bahkan gadis itu berani menawarnya dengan sejumlah uang setelah insiden kecil beberapa saat lalu. Dicka melirik kertas bertuliskan dua puluh juta, angka yang memang tepat untuk harga satu spion mobil mewahnya.
Dia begitu shock, dengan tindakan gadis yang baru saja meruntuhkan harga dirinya. Bagaimana tidak, seorang gadis berpenampilan sederhana dan sudah pasti lebih miskin darinya, begitu mudah mengeluarkan uang sebanyak itu? Dimana orang kebanyakan akan lebih memilih mengemis permohonan maaf darinya daripada menguras tabungan yang mereka miliki.
Bahkan dengan penuh percaya diri, Aurora melenggangkan kaki meninggalkannya seorang diri. Aurora berhasil melindungi harga dirinya untuk tidak terinjak oleh orang yang lebih berkuasa. Seolah sedang menunjukkan pada dunia jika dia adalah sosok kuat yang tidak mudah tertindas dan mampu menjatuhkan harga diri lawannya secara tiba tiba. Meskipun yang menjadi lawannya sekarang adalah orang yang lebih tinggi kedudukannya.
Dua bulan berlalu,
Siang ini Dicka tengah menikmati secangkir kopi espresso disalah satu kedai kopi ternama.
"Ah nikmatnya." Lelaki ini memang sangat menyukai rasa pahit bercampur sedikit asam seperti secangkir espresso kental yang dia nikmati sekarang.
"Mas moccachino satu ya, gulanya dikurangi." Dicka mengedarkan pandangan matanya ke arah kasir, saat mendengar suara yang tidak asing ditelinganya.
Mengamati seseorang yang tengah berdiri disana. Seorang gadis bertubuh langsing, dress berwarna jingga serta garis hitam bagian bawah, sepatu high heels berwarna hitam senada dengan warna dress yang dikenakan, dan rambut dikuncir kuda, sungguh terlihat cantik.
"Sepertinya aku mengenalnya, tapi siapa ya?" Guman Dicka mencoba mengingat sosok cantik nan modis itu.
"Ah benar, gadis dua puluh juta." Dicka menyeringai dalam hati.
Ia menyahut sisa espressonya, lalu berjalan menghampiri gadis yang kini tengah duduk disalah satu kursi yang terletak dipojok.
"Kita bertemu lagi nona." Tanpa permisi Dicka langsung mengambil posisi duduk didepannya.
"Hmm?" Aurora bingung melihat laki laki itu. Benar gadis itu adalah Aurora. Gadis yang terlibat insiden kecil dan merusak spion mobilnya beberapa waktu lalu.
"Hei, apa kau benar benar tidak mengenaliku?" Dicka berdecak tidak percaya, ada gadis yang tidak mengingatnya.
"Kenapa aku harus mengenalmu?" Clara kembali menanyakan pertanyaan yang membuat hati Dicka mencelos.
"Tidak ku sangka, ternyata ada wanita yang benar benar melupakan aku." Sekali lagi Dicka menyeringai, namun bukan seringai jengkel. Entah kenapa dirinya justru tertarik dengan kepribadian Aurora yang menurutnya langka.
"Aku tidak suka mengenali orang asing." Dengan cuek Aurora berdiri dan berjalan meninggalkan kedai kopi itu karena dia tidak ingin meladeni pria aneh yang mengganggunya.
Aurora memang sudah tidak mengenal laki laki dihadapannya sekarang. Aurora adalah salah satu gadis yang tidak mudah mengingat orang baru dalam hidupnya.
Gadis itu mengidap Aquired Prosopagnosia, salah satu kelainan kesulitan mengingat wajah orang lain akibat adanya trauma otak, sejak berumur dua belas tahun.
Bagian girus fusiformisnya mengalami gangguan, ketika sebuah kecelakaan tragis menimpanya. Kecelakaan yang merenggut nyawa seluruh keluarganya, menyisakan dirinya hidup sebatang kara seperti sekarang.
Syaraf otak bagian girus fusiformis Aurora memang hanya mengalami sedikit gangguan. Bukan kerusakan fatal yang membuatnya kehilangan memori untuk merekam wajah seseorang. Dia masih bisa mengenali wajah orang lain, namun hanya orang orang yang dekat dan sering berinteraksi dengannya. Atau hanya orang yang sangat berkesan baginya saja, yang bisa dia ingat. Dan Dicka adalah salah satu orang yang belum memiliki kesan baginya sekarang, sehingga Clara benar benar tidak mengingat lelaki itu.
"Aku tidak akan melepasmu kali ini." Dengan semangat Dicka berlari keluar menyusul Aurora.
Dia menyusul dan mengikuti kemana perginya gadis itu. Namun tidak juga menghampirinya. Dia terus mengikuti Aurora, mengambil jarak agar tidak ketahuan, seperti seorang penguntit yang tengah mengikuti mangsanya saja. Merasa bodoh, tapi naluri laki laki dan rasa penasaran tentang Aurora membuat kakinya terus melangkah menyusuri jalan yang sama dengan Aurora.
"Kenapa dia pergi ke tempat seperti itu?" Dicka menghentikan langkahnya, saat netranya melihat Aurora memasuki sebuah panti asuhan.
Sudah hampir tiga puluh menit Dicka diam, berdiri dan mengamati panti asuhan yang dimasuki oleh Aurora. Namun Aurora belum juga keluar dari tempat itu. Rasa bosan mulai menghinggapi, akhirnya Dicka memutuskan pergi dari tempat itu.
Seminggu pun berlalu, sore hari Dicka duduk didalam mobilnya yang dia parkir dipinggir jalan, menghadap ke arah panti asuhan. Panti asuhan yang dia tahu seminggu ini sebagai tempat tinggal Aurora, gadis yang sudah mengusik hatinya akhir akhir ini.
Terlihat Aurora memakai celana pendek hitam dan kaos berwarna hijau muda, tengah menyapu halaman panti asuhan. Benar sudah seminggu ini Dicka mengintai Aurora, dan semakin yakin bahwa Aurora adalah salah satu penghuni panti asuhan ini.
Sungguh hatinya menolak mempercayai semuanya, tapi kenyataan benar benar diluar nalarnya. Jika dua bulan yang lalu dia hanya menilai Aurora lebih miskin darinya, maka sekarang dia menilai Aurora sangat miskin sampai harus tinggal dipanti asuhan.
Bagaimana seorang gadis yang tinggal disebuah panti asuhan, bisa memiliki cek kosong ditanggannya? Bagaimana bisa seorang gadis yang menjadi penghuni panti asuhan bisa dengan mudah memberikan dua puluh juta sebagai uang ganti rugi spion mobil yang tidak sengaja ditabraknya? Bukankah seharusnya angka dua puluh juta sangat besar dan berharga untuk gadis seperti Aurora? Dari mana dia mendapatkan cek itu? Apa dia mencuri cek itu dari orang kaya diluaran sana? Tidak dia sudah mengkonfirmasi pada pihak bank, cek itu asli, dan ditanda tangani oleh Aurora sendiri sebagai nasabah bank yang mengeluarkan cek tersebut. Lalu apa gadis itu sudah bekerja? Tapi dia terlihat sangat muda, mungkin usianya baru sembilan belas tahun.
Dicka melirik cek pemberian Aurora yang masih dia simpan, berbagai pertanyaan telah merasuki pikirannya yang tidak menemukan jawaban. Semua tentang Aurora, terasa sangat menarik untuk dia kupas sampai tuntas. Dia tidak sadar bahwa rasa penasaran dihatinya sudah dirasuki oleh virus cinta Aurora.
"Hei nona, kita ketemu lagi." Dicka sengaja menggunggu Aurora keluar dari panti.
Namun Aurora yang disapa dan dihampiri oleh seorang pria hanya melihat sekilas tanpa menanggapinya.
"Hei, ini sudah pertemuan kita yang ketiga dan kau masih tidak mengingatku?" Dicka benar benar geram.
"Apa kau memang selalu pura pura lupa dan bodoh seperti ini?" Sinis Dicka melihat tingkah masa bodoh Aurora.
"Dan kau, apakah orang yang suka merendahkan orang lain?" Tak kalah pedas membalas cemoohan dari Dicka.
"Lalu apa kau sudah mengingatku sekarang?" Dicka kembali semangat, mendengar nada pedas Aurora.
"Tidak, karena aku tidak mengenalmu." Santai Aurora meneruskan langkahnya.
"Kau wanita pertama yang tidak mengingatku, ayo kita pacaran!" Dicka yang sudah tertarik dengan Aurora pun tanpa ragu menawarkan hubungan yang lebih dekat dengan
"Dasar orang gila, bagaimana aku mengenal wajahmu sedang aku adalah penderita aquired prosopagnosia!" Aurora menggeleng gelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan lelaki aneh yang terus mengikutinya sedari tadi.
Sudah tidak tahan lagi dengan sikap Aurora yang terlampau cuek dan tidak mengenalnya, akhirnya Dicka tidak tahan lagi. Ia meraih pergelangan tangan gadis itu, memaksa Aurora mengikuti langkahnya.
"Hei lepaskan tanganku." Aurora berteriak, namun Dicka sama sekali tidak memperdulikannya.
Perbedaan tinggi badan yang cukup banyak, membuat Aurora kesulitan mengimbangi langkah Dicka. Bahkan gadis itu harus berlari kecil agar tidak jatuh.
Dicka membuka pintu mobil dengan salah satu tangannya, namun tangan satunya masih memegang erat pergelangan tangan Aurora.
"Sekarang apa kau sudah mengingatku?" Dicka menunjukkan cek senilai dua puluh juta didepan mata Clara.
"Kamu, tuan seperempat?" Aurora ia mulai mengingat laki laki yang mobilnya dia tabrak beberapa waktu lalu.
"Cih, jelek sekali kau memanggilku." Terkejut dengan julukan yang diberikan Aurora kepadanya.
"Kau tidak lihat wajahku yang tampan, postur tubuhku sangat sempurna. Kenapa kau hanya memanggilku seperempat?" Imbuhnya tidak terima.
"Kita bertemu didekat perempatan, dan aku juga tidak mengenalmu. Jadi jangan salahkan aku jika memanggilmu tuan seperempat." Seperti biasa Aurora, dia tidak mudah terintimidasi dengan lawan biacaranya.
"Huft, baiklah. Namaku Dicka, mulai sekarang panggil namaku saat kita bertemu." Dicka mengulurkan tangannya.
Namun Aurora dia sama sekali tidak menerima uluran tangan darinya, sehingga darah Dicka kembali mendidih.
"Kamu ternyata memang sangat sombong dan tudak punya sopan santun." Dicka menghujat Aurora, merasa marah karena uluran tangannya diabaikan lagi.
"Kau itu bodoh atau pikun, bagaimana aku bisa bersikap sopan dan mengulurkan tanganku, sedang kedua tanganku kau borgol dengan tanganmu yang seperti hulk?" Aurora memutar bola matanya malas.
"Eh, maaf, aku tidak sengaja. he he he. " Dicka tertawa absurd saat menyadari ketololannya.
"Hmm, " Aurora hanya menganggukan kepala. Lalu terdengar suara nyaring berasal dari perut gadis itu. Ia memang menahan lapar sedari tadi. Bahkan acara membeli makan pun harus tertunda gara gara ulah absurd Dicka.
"Kau lapar, ayo kita makan." Dicka tanpa menunggu jawaban Aurora, langsung membawa gadis itu duduk disamping kemudi mobilnya, tanpa memberi kesempatan untuk menolaknya. Karena dia tahu, Aurora gadis yang tidak mudah.
Disebuah restoran, Aurora tengah menikmati makanannya dengan lahap. Rasa lapar dan nikmatnya menu yang disajikan, membuat Aurora lupa ada sosok pria yang terus mengamati wajahnya. Sampai suapan terakhir, Aurora baru menyadari keberadaan Dicka yang terus tersenyum sangat manis kepadanya.
"Sepertinya kau benar benar kerasukan. Kau terus tersenyum dari tadi. Apa mulutmu tidak kebas?" Aurora, tidak ambil pusing dengan tingkah Dicka.
Sedang Dicka yang dicemooh, entah kenapa tidak bersuara. Ia enggan kehilangan moment menatap wajah cantik Aurora. Sampai ia melihat Aurora berdiri hendak meninggalkan bangku, Dicka kembali beraksi meraih pergelangan tangan gadis itu untuk ketiga kalinya, membimbingnya supaya duduk seperti semula.
"Ayo kita pacaran." Dicka mengulang ucapannya beberapa saat lalu, membuat Aurora tertegun.
"Aku mencintaimu." Dicka menunggu jawaban Aurora, namun Aurora masih membisu. Dia terkejut dengan ucapan cinta Dicka.
"Tulislah semaumu yang kau inginkan, lalu ayo kita pacaran." Serius, Dicka meletakkan selembar cek kosong serta sebuah pena diatas meja.
"Aku tidak menjual cintaku demi uang." Aurora, dia tidak terluka, dengan cara Dicka. Gadis mungil ini, punya sudut pandang tersendiri dengan cara yang dilakukan Dicka terhadapnya.
Aurora mengerti ada beberapa orang didunia yang tidak peka dalam sebuah hubungan. Dan mereka punya cara tersendiri, untuk mengungkapkan perasaannya. Salah satunya adalah lelaki dihadapannya ini. Lelaki naif yang tidak peka dalam menilai Aurora. Bagaimana lelaki itu dengan lucunya membeli cinta dengan selembar cek. Dia tahu lelaki ini tulus meski caranya sedikit arogan dan berbeda.
"Lalu apa yang kau inginkan, agar bisa mencintaiku?" Pasrah Dicka, merasa tidak pernah berdaya dihadapan seorang gadis bernama Aurora.
"Kenapa kau jatuh cinta padaku, sedang aku tidak mengenalmu." Aurora kekeh, namun tidak dipungkiri, sosok Dicka mulai membuatnya sedikit tertarik.
"Tapi aku mengenalmu, sejak pertemuan kita yang pertama." Jelas Dicka.
"Dan aku mengikutimu sejak pertemuan kedua kita!" Dicka sedikit malu mengakui dirinya sebagai penguntit.
"Aaah, jadi kau menguntitku?" Aurora manggut manggut seolah menyadari bagaimana cara Dicka mengenalnya.
"Ekspresi apa yang dia tunjukkan sekarang?" Batin Dicka.
Lagi lagi Dicka kembali dibuat bingung oleh Aurora. Aurora, dia tidak terkejut maupun marah saat mengetahui Dicka menguntitnya seminggu ini. Wanita ini sungguh diluar kendalinya, dia luar biasa unik dan langka.
"Kau tidak marah?" Tanya Dicka hati hati.
"Tidak, mungkin kau menguntitku hanya karena penasaran." Ajaib, Aurora bisa menangkap semua gelagatnya.
"Jadi kau menerimaku?" Dicka kembali mempertanyakan keinginannya untuk memiliki Aurora.
"Kau yakin mencintaiku?" Selidik Aurora memastikan.
"Ya, aku mencintaimu." Tegas Dicka mantap tanpa keraguan.
"Kalau kau begitu mencintaiku, kenapa kau ingin membeli cintaku?" Aurora melirik, cek yang ada diatas meja.
"Karena kamu matre!" Jawaban yang berhasil membuat Aurora tergelak.
Sungguh jawaban yang sangat lucu, terdengar ditelinga Aurora. Gadis itu menyadari, pertemuan pertamanya dengan Dicka yang menggiring opini matre terhadapnya. Dan dia mengakui itu semua.
"Kalau kamu tau aku sangat matre, kenapa kau tidak menawarkan apa yang kau punya? Bukankah menuliskan beberapa angka diatas kertas ini terlalu murah untuk kau tukar dengan cintaku yang sangat berharga?" Masih dengan tertawa, Aurora menanggapi pertanyaan Dicka. Ia sengaja tarik ulur dengan mempermainkan kalimat kalimat yang keluar dari mulut mungilnya, untuk menyelami cara pandang Dicka terhadapnya.
"Aku bisa memberi semua yang kau butuhkan, aku punya segala materi yang kau inginkan." Dicka menghela nafasnya, ia telah kalah oleh pesona Aurora.
"Tempat tinggal kami perlu renovasi dan membutuhkan donatur setiap bulan." Jawaban itu sudah cukup membuat Dicka mengerti.
"Aku akan merenovasinya untukmu, dan aku juga akan menjadi donatur tetap disana." Sungguh dia tidak menyangka, jika kematrean gadis ini bukan untuk dirinya. Melainkan untuk mereka, yang benar benar membutuhkannya. Seketika itu pula pandangannya terhadap Aurora berubah drastis.
Gadis ini tidak matre, dia hanya melakukan yang terbaik untuk orang orang disekelilingnya. Jika dua bulan yang lalu dia memberi ya dua puluh juta, itu semata mata karena dia tidak ingin dipandang rendah oleh orang yang bisa saja menindasnya.
"Oke deal." Aurora mengulurkan tangannya pada Dicka yang justru terbengong melihatnya.
"Hei tuan seperempat, kenapa kau malah diam?" Sungut Aurora karena uluran tangannya, ganti diacuhkan oleh Dicka.
"Hah, apa hanya seperti ini caramu menerima ungkapan cinta dari seorang pria tampan sepertiku?" Dicka mendengus namun itu hanya berlangsung saja, lalu ia pun tersenyum lebar karena cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Dan kau, kenapa masih memanggilku tuan seperempat saat kau sudah tahu namaku?" Dicka memiting leher pacar barunya.
"Dan aku juga baru tahu ada laki laki yang mengungkapkan cintanya dengan menyodorkan selembar cek kosong pada kekasihnya!" Aurora dia masih saja terbahak. Merasa kisah cintanya sungguh lucu.
Dua minggu kemudian,
Panti asuhan tempat Aurora tinggal benar benar direnovasi oleh Dicka. Lelaki itu menepati janjinya pada Aurora. Hubungan mereka juga lebih dekat dari sebelumnya.
Mereka terlihat lebih sering bersama dalam mengabiskan waktu luangnya, mereka merenda kasih dengan cara berbeda. Seperti hari ini Dicka kembali mengajak pacar tercintanya menikmati malam minggu, disebuah resto yang terletak diatas bukit. Resto yang sangat bagus dihiasi lampu kelap kelip disekelilingnya. Mereka menikmati moment itu sampai Dicka menanyakan sesuatu yang masih membuatnya penasaran.
"Sayang, boleh aku menanyakan satu hal?" Ia menggenggam tangan kekasihnya.
"Hmm?" Aurora hanya menganggukkan kepalanya.
"Kenapa kau memiliki cek dan bisa dengan bebas menggunakan uang, saat kau hanya tinggal dipanti asuhan reot itu?" Sangat hati hati Dicka menanyakannya, dia tidak ingin wanita itu tersinggung.
Aurora mengalihkan pandangannya dari bintang yang sedang dia lihat, kini ia menatap wajah kekasihnya. Gadis itu mengerti, rasa penasaran Dicka yang memang berdasar.
"Dari mana kau mendapatkan uang sebanyak itu? Kau masih sangat muda, bahkan kau bisa kuliah?" Dicka kembali menghujani Aurora dengan pertanyaan pertanyaan yang selama ini dia simpan.
"Aku bekerja." Dengan santai Aurora menjawab pertanyaan Dicka.
"Benarkah?" Dicka meyakinkan dirinya sendiri. Perusahaan mana yang mau menampung dan menggaji tinggi seorang gadis belia dan mungkin tidak berpengalaman seperti kekasihnya ini.
"Tuan seperempat, apa kau sebegitu tidak percayanya memiliki kekasih jenius dan bisa menghasilkan banyak uang sendiri, sepertiku?"
"Ituu,, " Dicka tidak bisa menjawab pertanyaan kekasihnya.
"Ku beri tahu kau sebuah rahasia, aku sangat ahli dibidang keuangan. Kau bisa menghubungi perusahaanku, jika perusahaanmu membutuhkan jasa apapun yang berkaitan dengan pembukuan keuangan." Aurora mengedipkan matanya.
"Dan satu lagi, aku tidak hanya numpang makan dan tidur dipanti itu. Aku adalah pemilik panti yang pernah kau kuntit." Sontak wajah Dicka berubah merah padam.
Dia menahan malu, kenapa dirinya tiba tiba menjadi sangat kecil dihadapan gadis bernama Aurora. Gadis yang menyimpan sejuta pesona dan rahasia seperti namanya. Dia bersinar sangat terang, tanpa memperdulikan keberadaannya yang terpencil. Sikap itulah yang sangat menarik perhatian orang lain untuk mendatanginya, memilikinya dan memeluk kehangatannya.
Aurora dia akan selalu indah dengan caranya.
Je aimer Aurora, kamu adalah wanita terhebatku. Cahayamu akan selalu memberi warna pada dunia.
The end.