hai gays....
namaku Ahmad Ganesha Alfatar, Alfa biasa ku dipanggil
sekarang aku masih kuliah bidang manajemen bisnis sesuai keinginan papaku. usiaku 23 tahun dan sekarang aku lagi kerjain skripsi.
dari tiga bersaudara, aku yang paling bontot mungkin itulah yang menyebabka aku amat dekat dan manja sama mama. kedua kakakku telah membantu papa dikantor sejak masih kuliah, sedangkan aku hanya fokus kuliah saja.
papa selalu membandingkan aku dengan kakak - kakakku yang penurut, sementara aku selalu dianggap berandalan dan pergaulan nggak jelas.
saat pulang kudapati mereka semua duduk disofa ruang keluarga, semua buang muka kecuali mamaku.
"sayang, sini" mama menepuk sofa agar aku duduk disebelahnya
"dari mana saja baru pulang?" tanya papa ketus seakan menahan amarah
dan sepertinya situasi diruangan ini tidal seperti biasanya
"pa.... cukup, biarkan mama yang bicara"
papa hanya menghembuskan nafas kasar dan membuang muka
"ada apa, ma?" tanyaku
"begini sayang, kamu mau bantu perusahaan papa kan?"
" kalau diperlukan, aku siap bantu mama"
" perusahaan papa bangkrut" ucap mama serius
"abas dan tian sudah lama membantu papa diperusahaan dan mereka berdua sudah mempunyai kekasih" lanjutnya
"mama tak pernah minta apapun darimu, mama mohon kamu mengabulkannya. menikahlah dengan anak dari rekan bisnis papamu, karena hanya itu satu-satunya cara untuk mempertahankan perusahaan"
mama menggenggam tanganke erat. aku tak percaya semua ini. aku tak lebih dari alat tukar untuk menebus perusahaan, sungguh tidak adil bagiku.
"aku akan mengabulkan permintaan mama, sekalipun nyawaku yang harus jadi taruhannya" aku gak akan bisa menolak permintaanku tersayang
"alay..." kak abas mengejekku
"diamlah bas" sentak mama dengan menatapnya sedang kak abas menundukkan kepala
setahuku mama tak pernah berucapkasar pada anak-anaknya, tapi hari ini ku mendengar mama membentak kak abas.
"alfa, setelah menikah nanti kamu harus sabar dan selalu disamping istrimu" ujar mama pelan
"memangnya kenapa, ma?"
"karena calon istrimu tak tahu jalan" papa menyela
"maksud papa dia buta?"
"mungkin seperti itu" kak abas yang bicara
"oh... aku tahu sekarang, kalian sengaja mengorbankan aku untuk menikahi wanita yang tidak normal. sementara kalian berdua yang menikmati hasilnya. tidak!! ini tidak bisa!" ucapku lantang sambil berdiri dan menunjuk kedua kakakku
"alfa" bentak mama padaku
"mama kecewa dengan sikapmu, nak. bukankah tadi kamu sudah menyetujui untuk menuruti mama? percayalah, nak. pasti ada hikmah disetiap masalah, Allah punya cara tersendiri untuk mengatur takdir manusia" lanjutnya
"maafkan alfa, ma" ku duduk bersimpuh didepan mama dan kugenggam kedua tangannya.
setelahnya aku menuju kamar, mengambil benda pipih disaku celana untuk menghubungi seseorang.
"hallo"
"......"
"cari tahu perusahaan yang sekarang bekerja sama dengan perusahaan papaku"
sambungan terputus, kurabahkan badan ini diranjang untuk mengusir lelah. 5 menit kemidian, notif masuk segera kubuka ternyata info yang kuminta telah terpampang di layar pipihku
menghubungkan sambungan telpon lagi, satu kali bunyi terangkat oleh orang diseberang.
"cari tahu pemilik dan keluarganya"
kututup telpon dan memejamkan mata. keesokan pagi saat sarapan bersama, papa menerima telpon
"Alfa, akad nikah akan dilaksanakan seminggu lagi. kamu tenang saja, semua sudah ada yang mengatur."
"kenapa secepat itu? aku belum berkenalan dengan calon istriku" elakku
"nanti setelah sah, bisa dipuaskan kenalannya" kak abas menyahut dengan seringai mengejek
"ma...." rengekku bersikap manja sama mama
"nurut aja ya sayang. mama selalu mendoakan yang terbaik buat kamu"
~
seminggu telah berlalu, hari ini penetapan ahad nikahku.
semua sudah siap saat aku menuruni anak tangga,
ahad dilaksanakan dikediaman Baskoro.
setelah sampai dan dipersilakan masuk ketempat acara akan dimulai, aku duduk didepan penghulu.
aku hanya diberi selembar kertas bertuliskan 'Farida nur Aviva binti Azriel Baskoro' kemudian acara ijab Qobul dimulai dan terdengar kata 'SAH'
"mari tuan, nyonya, silahkan menikmati hidangan yang ada"
sungguh aneh bagiku, kenapa mempelai wanita tidak keluar? dan langsung disuguhkan makanan.
setelah selesai makan dan berbincang sebentar, papa dan mama serta kedua kakakku pamit pulang.
"ma... nggak nunggu mentu mama dulu? mamakan belum kenalan" ujarku
"lain kali saja kamu ajak kerumah" papa yang menjawab
aku ditinggal dirumah orang asing yang kini berstatus sebagai mertuaku
"alfa, kemasi meja makan dan cuci peralatan yang kotor" aku tersentak dari lamunanku dan mematap ibu mertuaku takpercaya atas apa yang baru ku dengar
"tapi saya menantu rumah ini"
"memangnya kalau menantu hanya ongkang kaki! hal apa yang bisa kamu lakukan? masalah perusahaan pun tak paham" ucap baskoro datar
selesai membersihkan peralatan dapur yang kotor, ku tanya kamarku untuk istirahat. pelayan mengantarku sampai depan pintu kamar dan bilang kalau istriku.
aku masuk setelah mengetok pintu, pandanganku tertuju pada gadis yang duduk didepan meja rias.
dia menengok dan mengucap salam, dengan gugup kujawab salamnya.
dia bisa melihat, kenapa dibilang nggak tahu jalan?
"kamu bisa melihat?"
dijawab anggukan dan tersenyum
" kenapa dibilang nggak tahu jalan?"
"duduklah dulu, apa nggak capek berdiri terus?"
"ah, ya..." duduk disofa dan dia juga pindah kesofa didepanku
"tolong ceritakan yang sebenarnya" pintaku
istriku mulai bercerita bahwa dia baru tiba kemarin dikota dan selama ini hidup dilingkungan pesantren luar kota.barulah kupaham maksud dari ucapan kakakku.
sebulan hidup dirumah mertua, lama-lama aku seperti pembantu yang melayani segala keperluan ayah mertuaku.
"restoran kita butuh suplay sayur, telur, ayam, juga ikan segar, pak"
laporan asisten ke ayah, karena penyuplay bahan baku tetap sedangkan semakin banyak berdiri rumah makan dikota.
"penyuplai minta harga dinaikkan"
sang asisten menjelaskan secara terperinci.
"maaf ayah, apa saya bisa bantu?"
"memangnya kamu ngerti apa?"
"saya punya kenalan yang punya bahan baku yang dibutuhkan, langsung dari peternak dan petaninya sendiri"
"benahkah? buktikan, jangan banyak ngomong aja"
"baiklah, saya hubungi teman saya dulu biar besok langsung dikirim"
" besok akan dikirim, kalau cocok bisa langsung kerja sama"
~
"kamu kenal dengan orang-orang AGA?" tanya ayah karena mendapat laporan dari asistennya jika yang menyuplai adalah AGA, padahal AGA mempunyai beberapa rumah makan maupun resort
"temanku bekerja disana, yah"
" apa kamu tidak ingin bekerja seperti temanmu itu?"
"sulit masuk kalau belum berpengalaman, yah. aku juga menunggu panggilan dari temanku kalau ada lowongan disana."
"cihh tidak berguna sekali. mau nunggu sampai ubanan?" ucap ayah meninggalkan aku
istriku yang melihat selalu menguatkanku, bersabar dan berdo'a itulah sarannya.
hampir dua bulan aku menikah, tak sekalipun keluargaku menanyakan kabarku. hingga saat ini aku akan berkunjung kerumah orang tuaku bersama istriku.
aku memesan go car, diperjalanan telponku berdering.
"hallo"
"...."
"aku kesana sekarang"
mobil berputar haluan tidak jadi kerumah orang tuaku.
"kita mau kemana, mas? kenapa seperti jalanan kedesa?"
" kamu benar sayang"
"aku bingung, bisa mas jelasin?"
"nanti kamu tahu kalau sudah sampai"
30 menit kemudian sampai ditujuan. mobil menuju kantor. mobil kusuruh menunggu dengan bayaran dua kali lipat pendapatan tiap harinya.
"bos, ini berkasnya. pengacara masih dalam perjalanan sebentar lagi sampai"
" kita berangkat sekarang. kalau dia telat, suruh nyusul aja." jawabku cepat
"ayo sayang" kugandeng tangan istriku keluar bersama deni asistenku
perjalanan 10 menit sampai pada lokasi persawahan yang ditanami berbagai macam sayur untuk resto dan resort AGGA
"harganya kami naikkan, anda dan putra anda bisa bekerja pada AGGA"
"benarkah? terimakasih tuan. ternyata bos Alfa sangat baik, sekali lagi terima kasih" jawab pak budi
ya, sengketa pembebasan lahan terkendala hanya pada pak budi dan sekarang telah selesai.
saat dimobil
"mas, ternyata kamu bos dari perusahaan AGGA?"
" seperti yang kamu lihat, sayang"
"kenapa mas tidak menolak saat dijadikan alat tukar untuk perusahaan papa mas?"
"mama yang memintaku untuk menikah, aku tak akan bisa menolaknya. katanya ini semua rencana Allah, do'a mama akan selalu menyertaiku"
"kamu sayang banget ya sama mama?
" sangat" jawabku mengingat mama
" kenapa gak jujur saja sama ayah?"
" biarkan waktu yang menjawab, sayang"
mobil sampai didepan rumah orang tuaku.
kuucap salam dua kali, baru kudengar suara jawabnya dari dalam. mama langsung memelukku diiringi isak tangis meluapkan rasa rindu.
"apa kami nggak diajak masuk, ma?" kugoda mamaku
" oh ayo..." kamudian mama menyadari jika dibelakangku ada seorang wanita cantik
"dia...."
"istriku, ma" istriku salim kemudian berpelukan sebentar dengan mama dan masuk rumah
setelah didalam rumah dan duduk disofa ruang keluarga, mama ngobrol dengan iva semantara aku kekamar melihat barang-barangku yang ternyata masih sama saat aku pergi dari rumah ini.
selesai dari kamar, aku ikut gabung sama mama dan istriku.
"al, tiga hari setelah kamu menukah asistenmu datang kemari dan menceritakan semuanya" ujar mama
"lambe ember tuh orang"
"dia nggak salah, mama yang maksa untuk cerita"
"maafkan mama, maafkan papa juga kakakmu Al,"
"nggak perlu minta maaf, ma. aku malah bersyukur mendapat istri yang sholikhah"
suara salam dari luar, dan kami menjawab bersamaan. papa dan kedua kakakku tampak terkejut dan terlihat menahan malu.
"alfa, apa kabar nak?" tanya papa
"alhamdulillah baik, pa. oh ya, kenalin ini istriku. kalian belum bertemu sudah pamit pulang setelah ijab qobul dulu."
"dek, ini papaku, ini kak abas dan itu kak tian" iva hanya mengatupkan tangan didepan dada saat kukenalkan dengan kakakku. sungguh aku sangat beruntung hal yang kukira petaka ternyata membawa bahagia.
"al, tadi kami bertemu mertuamu.ternyata juga nggak tau kalau kamu pemilik AGGA"
"aku tak ingin menunjukkan siapa diriku, pa. biarlah pandangan orang lain terhadapku, aku tak pernah peduli asal aku happy"
"maafin kakak yang ngeremehin kamu, dek" kak abas
"aku juga minta maaf, sebagai kakak tak pernah peka sama adeknya" kak tian
"aku udah maafin kalian kok" akhirnya kemi bertiga saling rangkulan
sungguh kebahagiaan yang tiada tara, keluarga saling menyayangi dan menghargai, istri sholekhah, do'a dan kasih sayang orang tua.
*nikmat mana yang kau dustakan*