Disebuah perkotaan, tinggalah seorang gadis remaja bernama Shine bersama dengan ayahnya yang sudah sakit-sakitan. Hidupnya yang selalu dipenuhi dengan serba kekurangan, membuatnya bertekad untuk menjadi orang yang sukses dikemudian hari. Tekadnya itupun ia wujudkan lewat pencapaian-pencapaian akademinya yang luar biasa. Tidak berhenti disitu, ia bahkan menerima undangan dari salah satu universitas terkemuka di Jerman. Saat ini jam menunjukkan pukul 10 pagi dimana Shine tengah bersiap untuk mulai mengerjakan soal ujian yang ada di hadapannya.
Beberapa jam pun berlalu dan waktu pengerjaan ujian kini telah usai. Semua orang kemudian berbaris untuk mengumpulkan lembar jawaban mereka lalu keluar satu persatu dengan tertib. Setelah keluar dari ruang ujian tersebut, Shine langsung membuka tasnya untuk memeriksa log panggilan yang ada pada ponselnya karena khawatir apabila ayahnya menelponnya saat sedang mengikuti ujian tadi. Akan tetapi, yang ia dapati malah log panggilan dari nomor tak dikenal sebanyak lebih dari sepuluh kali. Melihat hal itu Shine pun memutuskan untuk menghubungi nomor itu kembali.
Siapa sangka, sore itu akan menjadi permulaan dari kehancuran Shine. Seusainya menerima telepon, Shine pun langsung berlari kesana dan kemari untuk mencari kendaraan umum yang dapat membawanya pergi ke tempat yang disebutkan oleh penelpon tadi.
Setibanya di Rumah Sakit..
Tit,, tit.. tit.. suara komputer yang semakin mengecil pertanda detak jantung yang semakin melemah membuat Shine tak dapat menahan deraian air matanya. Dia terus memanggil-manggil ayahnya agar segera sadar..
"Ayah.. ayah.."
"Uhuk, uhuk.. Shine.."
"Ayah.. hiks.. hiks.. apa yang terjadi. Bukankah ayah masih baik-baik saja saat shine berangkat tadi hiks..hiks.."
"Ayah baik-baik saja Shine, jangan menangis".
"hiks..hiks.."
“Shine.." uhuk.. uhuk..
"Jangan.. jangan begini, ayah adalah orang yang paling penting bagi Shine, bagaimana bisa Shine tetap tenang melihat kondisi ayah sekarang?"
"Shine.. ingat apa yang ayah pernah bilang?"
"Hm.. sikap tenang adalah harta tak benda yang mampu membuat seseorang mengatasi kesulitan yang ada pada dirinya sendiri."
"Jadi.." uhuk.. uhuk..
"Tidak yah, tidak untuk sekarang.. Ayah harus janji untuk bertahan, Shine pasti bakal bawa ayah untuk pergi berobat keluar negeri yah.." hiks.. hiks..
"Tentu nak, tentu.. ayah harap kamu dapat terus mempertahankan tekadmu ini nak."
Tit.. tit……..
Suara komputer yang berubah seketika, membuat Shine panik dan berteriak memanggil dokter. Ia mencoba membangunkan ayahnya namun ayah Shine tidak bergerak sedikitpun.
“dokter, suster! dokter, suster! tolong…”
Dokter pun bergegas dan memeriksa kondisi ayah Shine. Akan tetapi, dokter tersebut menggelengkan kepala dan berkata...
“Dik, kami sudah berusaha dengan sebaik mungkin, akan tetapi ayah adik sudah..”
“Apa! ti-tidak, itu tidak mungkin, ayah saya baik-baik saja kan dok?! Dokter tidak serius kan?”
“Yang sabar yah dik, kami turut berduka cita untuk itu, kami permisi".
“Tidak, itu tidak benar. Ayah.. ayah harus bangun, yah.. ayah harus nemanin Shine ke Jerman yah.. ayah! bangun!!" hiks.. hiks..
Setelah hari itu, sikap Shine yang selama ini tegar dan mencoba untuk tetap fokus dan tenang dalam menghadapi setiap keadaan, perlahan mulai berubah hingga 180°. Rasa terpukul dan kesendirian yang menghantuinya ditiap senja menjemput bulan membuatnya merasa takut untuk melangkah keluar. Hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk pergi ke Jerman dan memulai kehidupannya disana. Dengan harapan, ia bisa melupakan kesedihannya itu di tempat yang baru.
Germany 2011
Setibanya di Jerman, Shine hanya bisa melihat sekelilingnya sambil menghela nafas, mencoba untuk menerima keadaan yang ada. Tiba-tiba saja...
BRUKK.. (seseorang menabrakku)
"Aahkk"
"Maaf, maaf nona. anda tidak apa-apa?"
"Ti-tidak, saya tidak apa-apa"
"Syukurlah kalau begitu. Nona, anda tidak terlihat seperti penduduk asli sini. apakah anda orang baru?"
"Iya, saya baru tiba hari ini"
"Kalau begitu selamat datang di Jerman, saya harap anda akan betah untuk tinggal disini"
"Tentu, terima kasih"
"Kalau begitu saya undur diri sekarang, ada hal mendesak yang harus saya urus. Sekali lagi maafkan tindakan saya tadi. Permisi"
"Iya.."
(Hm, kenapa aku merasa dia seperti sedang sakit yah. Bibirnya yang pucat dan ujung kelopak mata yang mengkerut membuatku menjadi semakin yakin saja. Huft lupakan, aku harus segera mencari taxi dan menuju ke apartementku sekarang) Ucap Shine dalam hati
Apartement no. 20
Ting tong.. ting tong..
"Siapa?"
"Saya tetangga dari apartement sebelah, saya datang untuk memberi salam kepada tetangga baru"
KRIET... (suara pintu dibuka)
"Ka-kamu!"
"Nona?! bukankan nona orang yang tadi saya temui di airport siang ini?!"
"Hahaha iya benar itu saya"
"Wah, suatu kebetulan kita bisa jadi tetangga sekarang ini"
"Hahaha kamu benar, silahkan masuk. Saya akan menghidangkan teh untuk anda"
"Tidak perlu sungkan, saya hanya datang untuk memberi salam. Oh iya perkenalkan, Morgan."
"Shine"
"Bersinar"
"Maaf?"
"Ah, maksud saya nama anda"
"Oh"
Seiring berjalannya waktu, Shine dan Morgan pun mulai menjadi akrab. Lewat percakapan-percakapan singkat mereka, Shine perlahan-lahan melupakan kesedihannya itu.
Seminggu kemudian..
"Hari ini pun dia tidak datang untuk menyapaku. Sebenarnya, apa yang terjadi padanya yah?. Minggu depan, Kampus akan melaksanakan tour ke pusat rehabilitas narkotika guna mempelajari kasus-kasus para penderita yang ada disana. Semoga saja, saat aku kembali nanti dia sudah ada di rumahnya"
Seminggu Kemudian di Pusat Rehabilitas
"Huft, aku letih sekali, mungkin akan lebih baik jika aku pergi menghirup udara segar di taman itu"
"Shine?!"
"Morgan?!"
"Kenapa kamu bisa ada disini?!"
"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kamu ada disini? Dan dari mana saja kamu sepekan lalu?"
“Maaf, karena tidak memberitahukanmu sejak awal. Ku kira aku akan bisa kembali setelah tiga hari."
"Wait, Morgan.. apa jangan-jangan kamu.. seorang pecandu obat-obatan terlarang?!"
"Hm.."
"Lalu bagaimana dengan kondisimu sekarang? Apa kamu baik-baik saja?!”
(Wanita ini, ketimbang marah karena telah dibohongi, ia justru malah mengkhawatirkan diriku. Jelas sekali ia takut kehilangan). Ucap Morgan dalam hati
“Saya baik-baik saja. Saya bersyukur karena disisa waktu yang singkat ini, saya masih bisa bertemu kamu"
“Apa itu berarti kamu..?!”
"Hahaha, mungkin"
“Bagus, bagus sekali.. pertama ayah saya, dan sekarang kamu. Lalu kapan giiiran saya?”
"Shine!"
"Apa! Apa saya harus senang karena terus ditingalkkan berulang kali oleh orang-orang yang menjadi alasan saya?!"
“Bukan, bukan itu maksudku Shine.."
“Lalu apa? Apa itu berarti aku diciptakan untuk hidup sendirian?!"
"Shine, aku mengerti kenapa sekarang kamu bersikap seperti ini. terkadang pahitnya kenyataan memang membuat kita sulit untuk menerima. Tapi, jika kamu terus berpikiran seperti itu, itu hanya akan menjadi penghambat untuk diri kamu sendiri."
“Wah, mudah sekali kamu mengatakan semua itu, tapi apa kamu tahu bagaimana rasanya semua?”
"Apakah menurutmu kondisiku sekarang tidak cukup menakutkan?"
"Bu-bukan begitu, saya tidak bermaksud untuk menyinggungmu Morgan, maaf.."
"Tidak apa-apa. Lagipula saya sudah tidak sedih ataupun kepikiran akan hal itu lagi. Kamu tahu kenapa?"
"Kenapa?"
"Karena Tuhan masih memberikan saya waktu untuk bertemu dengan orang yang sangat saya sayangi, yaitu sahabatku Shine".
"Darimana kamu dapatkan kekuatan sebesar ini Morgan?"
"Bagiku tidak semua kebahagiaan di dapat dari momen yang indah pula. Terkadang, masa-masa kelam adalah pertanda hari esok yang cerah. Melihat matahari yang tengah terik di atas sana, membuatku ingin mencoba untuk menempatkan diri di posisinya yang walau hanya sendiri, tapi berani untuk terus bersinar sepanjang hari dan memberikan manfaat besar bagi segala makhluk di bumi. Oh iya, bukankah arti namamu juga bersinar? Aku yakin, orang tuamu juga pasti memiliki doa yang sama terhadap kamu, yaitu selalu bersinar".
Shine yang merasa tersentak mendengar perkataan Morgan, mencoba menenangkan pikirannya dengan mengingat senyum kecil terakhir di wajah ayahnya kala itu. Tanpa sadar, air matanya mulai berlinang dan terisak oleh tangis dalam pelukan Morgan. Shine sadar bahwa apa yang dikatakan Morgan memang benar.
"Terima kasih, terima kasih karena selalu ada untukku Morgan. Aku berjanji, bahwa aku akan selalu berusaha untuk tetap kokoh dengan tekad awalku dan tidak akan pernah membuatmu dan ayahku khawatir lagi akan diriku."
“Terima kasih kembali Shine, bukankah sudah seharusnya seorang teman dapat menjadi kompas penunjuk arah bagi temannya yang lain? Apalagi kita inikan sahabat" Ucap Morgan sambil tersenyum
"Iya.."
Beberapa Tahun Kemudian..
Kini Shine telah menjadi seorang dokter psikiatri adiksi yang bekerja di Pusat Rehabilitas tempat Morgan dirawat dulu. Kerinduannya akan teman baiknya itu, membuatnya memilih Pusat Rehabilitas sebagai tempat ia menghabiskan waktu sekaligus bekerja disana. Kecelakaan kecil dan pertemuan singkat di bandara yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya menjadi momen yang sangat berarti baginya dan Morgan.
"Ayah.. Morgan.. jika kalian bisa melihatku dari atas sana, kalian pasti akan tersenyum melihat diriku yang sekarang. Lihat, aku sudah menjadi seorang dokter dengan jubah putih panjang. Dan Morgan, karenamu-lah aku memilih untuk menetap di tempat ini. aku sangat merindukanmu sahabatku... Terima kasih karena telah hadir di dalam hidupku. Kini, aku tidak akan rapuh lagi. Aku akan selalu mengingat kata-katamu itu." Ucap Shine sambil memandangi bintang di atas langit dengan air mata dan senyum kecil di wajahnya.
_THE END_