"Tiwi melahirkan ... "
Bagai disambar petir di siang bolong, ketiga gadis yang tengah belajar bersama itupun langsung terpaku. Hingga tak berselang lama tangisan mulai muncul.
Ini untuk teman kami Tiwi, Pratiwi Jingga yang harus mengikhlaskan semuanya...
=================@@@@@@==============
Ckrek!
Klik!
Falsh!
Jepret!
"Aduh Vin, aku capek!"
"Katanya suka foto, baru aja sepuluh jepretan udah capek!" Cebik Vina lalu melihat ke arah kamera DSLR miliknya, melihat hasil yang sudah ia tangkap dengan objeknya yaitu temannya.
"Aku sukanya selfi gaya bebas, yang tadi itu aku kayak patung tau gak?! Suruh gaya beginih, begonoh! Capek!" Keluh Gita lalu mengipasi dirinya dengan tangan.
"Segitu sukanya kamu sama motret Vin," ucap Zigy sambil menyedot es yang ia beli.
"Namanya aja cita-cita, wajib ditekuni, apalagi ini juga hobi aku!" Ucap Vina lalu duduk di samping Zigy.
"Bahas masalah cita-cita, kira-kira kalian mau jadi apa?" Tanya Gita penasaran. Dan kini keempat gadis yang sempat sibuk pada kegiatan masing-masing menaruh atensi pada Gita.
"Aku mau jadi penulis!!" Ucap Zigy semangat.
"Aku mau jadi eligible bachelor dan bisa travelling di seluruh dunia!!" Jawab Wendy yang tadi sibuk main ponsel.
"Aku udah jelas kan... aku mau jadi fotografer," jawab Vina santai.
"Kamu apa Ti?" Tanya Gita pada Tiwi, Tiwi adalah sosok paling pendiam dan pemalu, perlu ada pancingan agar gadis itu bisa aktif seperti yang lainnya.
"Uhmm... Mau jadi model," jawab Tiwi malu-malu. keempat gadis tadi sedikit terkejut, pasalnya mereka tak menyangka orang sepenutup Tiwi yang tidak cocok dengan keramaian dan memiliki tingkat malu yang akut malah bercita-cita ingin menjadi model yang notabene menjadi pusat perhatian.
"Aaawwwvvv kereeenn Tiwi! Gue ntar jadi fotografer lo!" Ucap Vina semangat sambil merangkul pundak Tiwi.
"Apapun itu, tetap semangat teman-teman!"
==================@@@@@===============
Di Sekolah
Kelas XI IPA 1
"Weeenndd!!! Oiii aku ajarin ini elaaahhh, susah tauk!" Pinta Gita sambil menyerahkan buku tulis Kimianya.
Wendy Dilera, adalah gadis yang paling pintar pertama di antara Gita, Zigy, Vina dan Tiwi. Juga gadis peringkat satu di kelas, sudah tidak diragukan lagi kepintaran seorang Wendy, sedangkan yang kedua adalah Tiwi, jika dibandingkan sebenarnya, Tiwi dan Wendy itu setara dalam hal kecerdasan, namun perilaku mereka berbeda.
Wendy yang blak-blakan suka bertanya dan Tiwi yang pendiam. Tentus saja itu sangat berpengaruh dalam hal nilai, karena keaktifan murid juga perlu.
Wendy dan Tiwi adalah sahabat sejak kecil, ia kemudian bertemu dengan Gita yang pindah rumah didaerah pemukiman mereka. Lalu ada Vina yang ikut dengan neneknya, dan Zigy yang saat SMA kebetulan sekolah di kota karena rumahnya berada di desa mengharuskannya ikut dengan bude nya.
Wendy dengan sabar mengajari, namun pada dasarnya dia gemas dan malas mengulangi hal yang menurutnya sepele. Membuat ia kadang termakan emosi.
"Ituuuu tinggal di kali Gitaaa!! Kan tadi udah aku jelasin,"
"Hehehe, ya maap lupa!" Kekeh Gita. Wendy memutar bola mata malas.
"Tiwi! Ajarin nih si Gita, aku takut cepet tua kalo emosi gak sabar," keluh Wendy, Gita dan Tiwi tertawa.
Mereka pun tertawa bersama akhirnya, menyadari tingkah konyol mereka.
=================@@@@@================
Wendy tengah membaca buku di teras rumah, beberapa saat hingga ia menyadari kehadiran sosok dihalaman rumahnya yang luas, berjalan dengan tegas dan gagah.
Raka,
Mahasiswa jurusan kelautan yang baru berkuliah. Wendy sempat mengerutkan kening dengan kehadiran lelaki itu, yang Wendy ingat... Raka adalah cowok yang Tiwi suka sejak SMP, tapi entah sekarang perasaan itu masih ada atau tidak.
"Hai Wend!" Sapa Raka dengan senyum yang Wendy tebak dapat meluluhkan para gadis diluar sana, Wendy, dia akui tadi sempat terpana, tapi ia kembali biasa saja, cukup heran melihat Raka bertingkah seperti itu. Pasalnya, Raka jarang tersenyum, dia sering menampakkan wajah judes dan datar, membuat orang-orang sedikit takut padanya.
Itu juga yang membuat Wendy heran pada Tiwi dulu kenapa bisa menyukai laki-laki bertampang datar jarang senyum itu, yang bahkan bagi Wendy itu memuakkan.
"Hai juga kak, ada apa ya?" Tanya Wendy penasaran.
Raka menatap Wendy dalam yang makin membuat Wendy bingung, Wendy sempat terkunci oleh tatapan itu sesaat hingga akhirnya ia sadar lagi. Raka tersenyum lagi, kali ini dengan senyum lembut.
Membuat Wendy bergidik merinding pasalnya, ada apa dengan laki-laki itu? Kenapa tiba-tiba bertingkah aneh didepannya, apa Wendy punya masalah dengannya?
"Eum kak?"
"Aku mau kasih ini ke kamu," ucap Raka memberikan paper bag kecil, Wendy menoleh dan menatap paper bag itu hingga akhirnya mengambilnya.
"Ini apa ya kak?" Tanya Wendy belum melihat isinya.
"Maksud ku kok tiba-tiba kakak—"
Raka tersenyum.
"Buka kalau kamu mau buka, yang penting jangan didepan aku, aku cuma mau kasih itu ke kamu,"
HAAA??? APA? KENAPA DAH INI?!
INI KENAPA SIIIHHH??!!! ULANG TAHUN AKU UDAH DUA BULAN YANG LALU WOEEE!!!
"Errrr... iya iya, makasihh," Wendy tersenyum canggung, ia juga bingung harus bagaimana bersikap.
"Sama-sama, aku pulang dulu,"
LAAAHHH GITU DOANG, EMANG GAJELAS TU COWOK SATU, BODO AMAT LAAAHH
Wendy kembali tersenyum dan melambai, mengucapkan terimakasih sekali lagi pada Raka.
=================@@@@@================
"Untuk merayakan keberhasilan kita karena berhasil terpilih sebagai perwakilan pertukaran pelajar di Jepang, aku mau adain syukuran sama temen-temen sekelas!!!" Ucap Dika tersenyum bahagia.
"Ayo Wend, kamu wajib ikut karena kita berdua yang berhasil lolos seleksi," ucap Dika semangat.
"Uh... baiklah-baiklah...." ucap Wendy menurut.
"Weeendddyyy selamaaattt kamu berhasil kamu keren Wen!!!" ucap Gita menggebu.
"Ayooo kita berlima foto dulu sebelum kita gak ketemu Wendy lagi," ajak Vina.
"Ayo Zigy! Tiwi!" Ajak Gita. Dan mereka berdua pun saling bersua foto.
=================@@@@@================
Pesta yang sangat menyenangkan hingga berakhir sangat malam, iya kalian tidak salah dengar, ternyata maksud syukuran bagi Dika adalah berpesta ria. Tentu sekelas sangat senang dan bahagia, hingga tak terasa mereka menghabiskan waktu hingga malam.
Kini kelima gadis yang tak lain adalah Wendy, Tiwi, Gita, Vina dan Zigy, tengah berjalan di pinggir trotoar sambil bercerita-cerita tentang pesta tadi.
Hingga sebuah insiden terjadi pada mereka berlima.
"Hallo manis," sapa laki-laki berumur sekitar tiga puluhan, dengan seringai mengerikan, ada tiga, dan mereka berpakaian ala preman. Menghadang kelima gadis itu.
"Sini ikut Om, ayok, nanti om belikan barang bagus,"
Wendy mengintrupsi agar tenang, namun sepertinya Gita tak kuasa menahan jeritan hingga ia berlari kebelakang sambil menjerit, membuat Zigy, Vina ikut memekik takut dan lari kebelakang.
"AAAAA TOLONG!!!" Jeritan Gita
"AAAAAAAAA!!!"
Kedua preman tadi mengejar Gita, Zigy dan Vina.
Sementara yang satunya, terlihat lebih muda sedikit, mencekal tangan Tiwi.
"Mau ikut lari? Mending diam aja, ikut aku, sini!!!"
"Lepasss!!!!" Jerit Tiwi
"Mana ponsel kamu!" Todong laki-laki itu.
"Lepasin temen aku!!!" Wendy berusaha melepas cekalan laki-laki itu pada lengan Tiwi, Tiwi sudah menangis karena takut dan kesakitan.
"Aargh!!" Laki-laki tadi mengerang lalu mendorong Wendy hingga terjungkal.
"Awwhhh..." rintih Wendy, karena tak sengaja ia menabrak tiang listrik.
Wendy menangis, ia pun mencari batu untuk dipukulkan, tidak ditemukan batu ia hanya menemukan krikil, persetan dengan semua itu Wendy langsung melempar semua krikil yang ia dapat walau itu tak mempan,
Wendy mencoba mengarahkan pada wajah pemuda itu bermaksud untuk mengenakan pada mata.
Namun tak disangka, Tiwi menggigit tangan laki-laki tadi hingga mengerang kesakitan, dan laki-laki tadi melepas cekalannya, setelah terlepas Tiwi segera berlari menjauh berniat mencari bantuan. Wendy yang terkejut, membuang kerikilnya dan hendak ikut lari jika saja pemuda tadi tidak menarik rambutnya.
"Aaaakhhh!" Jerit Wendy kesakitan. Wendy kembali menangis,
"Sssakiit... " isaknya.
"Kurang ajar yaa kalian, mau lari kemana kamu! gak akan aku lepaskan!" Laki-laki itu kemudian menyekap Wendy membuat Wendy tak bisa menjerit.
Jika kalian menanyakan dimana orang-orang yang bisa saja menolong mereka, maka jawabannya tidak ada. Logika saja, para preman tadi tentu tidak berani menodong secara terbuka jika tempat itu ramai, pasti mereka mencari tempat sepi, dan kebetulan jalanan yang kelima gadis lewati tadi sedang sepi, terlebih jalan itu rawan dengan preman dan begal.
Sekalipun ada orang, mereka tidak berani menolong, lebih baik menyelamatkan diri dulu kan.
"Kurang ajar!!! Berani kamu sentuh dia!!!" Seseorang datang dan langsung memukul laki-laki tadi dengan helm.
Duagh! Duagh!!!
Seseorang itu memukul preman tadi sekuat tenaga mengenakan helmnya beberapa kali, hingga sang preman terjatuh, tanpa aba-aba orang tadi segera menarik Wendy agar segera naik ke motor sportnya, Wendy menyadari bahwa itu adalah Raka segera saja ia bergerak cepat, Raka meninggalkan helmnya yang tadi ia lempar ke preman, segera ia menancap gas untuk pergi menjauh.
...
Perjalanan pulang, Raka mencari jalan lain agar tidak di jalan raya, mengingat ia meninggalkan helmnya, Wendy menangis diboncengannya, Raka bisa merasakan tangan gadis itu yang gemetar, tangan gadis itu menggenggam kecil ujung jaket yang dipakainya, dengan pelan Raka menarik tangan itu agar melingkar diperutnya.
Tak ada penolakan, Raka mengelus tangan itu berusaha menenangkan.
"Wend, kita ke minimarket bentar ya?" Tanya Raka, Raka melihat kaca spion dan mendapati Wendy masih menangis sambil tertunduk. Raka menghela nafas, ia pun memarkirkan motornya dihalaman minimarket,
"Kita mampir dulu yaaa," pinta Raka, Wendy mengangguk sambil masih sesenggukan. Raka melirik sekitar beberapa orang menatap dirinya dan Wendy, agak kikuk dan canggung, dirinya dan Wendy terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar dengan si cewek yang menangis.
Raka menghembuskan nafas, ia segera masuk saja ke minimarket meninggalkan Wendy.
Setelah beberapa menit, Raka keluar sambil membawa sedikit belanjaan di kantung plastik, ia mendapati Wendy yang tengah melamun, air matanya sesekali masih terjatuh, gadis itu sudah sedikit tenang. Wendy mengusap pipinya.
"Ini minum dulu," ucap Raka menyodorkan botol air mineral yang dibelinya tadi. Ia pun membuka hansaplast yang dibelinya juga, menatap lengan atas dekat siku Wendy yang lecet. Tanpa izin, Raka menutup luka itu.
Bisa Raka lihat Wendy yang masih terguncang bathinnya. Entah insting saja, Raka menarik Wendy dalam dekapan hangatnya, tapi entahlah perbuatannya itu salah atau benar, tapi justru membuat Wendy kembali menangis, untung saja suaranya teredam, karena Raka mengarahkan wajah Wendy agar tenggelam didada bidangnya.
"Wend, jangan nangis,"
"Hiks hiks... aku ... mau ... hiks... p-pulang... " ucap Wendy sesenggukan, Raka mengangguk sambil mengelus rambut acak-acakan gadis itu.
================@@@@@=================
Sejak kejadian itu hubungan Wendy dan Raka terjalin sangat baik dalam artian dulu mereka tidak dekat, bahkan jarang bertegur sapa ketika bertemu, namun kali ini mereka seolah teman lama yang sudah mengenal sejak kecil. Faktanya memang begitu, tapi perbedaan umur tentu membuat lingkungan bermain mereka berbeda.
Raka benar-benar baik, bahkan tak jarang didapati Raka yang menjemput Wendy ke sekolahnya walau berkali-kali Wendy menolak untuk diantar pulang, karena dia sudah bersama teman-temannya. Tentu hal itu tak luput dari pantauan Tiwi, yang notabene menyukai Raka saat SMP. Tiwi awalnya menahan diri untuk tidak kepo, namun ia tak bisa menahan lagi ketika ia berkunjung ke rumah Wendy untuk belajar bersama didapatinya Wendy dan Raka yang belajar bersama di ruang tamu dengan Raka sebagai guru yang mengajarinya.
Tentu Tiwi tak bisa menahan lagi. Hingga akhirnya ia bertanya pada Wendy. Kebetulan Raka sudah pamit pulang karena ia ada urusan.
"Wend... " dengan suara kecil dan lembutnya Tiwi memanggil, Wendy yang asyik mengerjakan soal latihan sembari mendengar lagu lewat earphone sedikit tak mendengar hingga ia diguncang bahunya oleh Tiwi.
"Ween.. "
"Hah iya?!" Wendy segera melepas earphone nya dan menaruh atensi pada Tiwi.
"Maaf maaf, gak kedengeran," ucap Wendy sambil nyengir. Tiwi mengangguk, lalu...
"K-kamu p-pacaran ya ... sama ... kak... Raka?"
Satu pertanyaan keluar dari mulut Tiwi, sebenarnya biasa tapi yang menjadi pertanyaan itu membuat Wendy kaget bukan main.
"Hah?" Wendy seolah menjadi lemot memahami.
"Aku?! Pacaran sama kak Raka?" Ulang Wendy seolah tak menyangka. Tiwi menunduk dan mengangguk pelan.
"Hahah!!! Mana ada Tiwi, ya ampun, gak kok, nggak, gila aja, kita beda empat tahun, kak Raka udah kuliah lagi, ngada-ngada deh,"
"Emang kenapa kalo beda empat tahun, apa masalahnya? Bukannya ayah sama ibu kamu beda enam tahun yaa?" Ucap Tiwi. Wendy terpaku.
"Errr... ya iya sih, gak ada masalah, tapi buat saat ini, yakali Tiw kak Raka udah kuliah, aku aja baru kelas sebelas, ugh itu menurut aku agak aneh aja, aku masih bocah Ti, masih bocah! Belum mikir sejauh ituuu," tegas Wendy, Tiwi menghela nafas.
"Kamu suka sama kak Raka?"
Wendy rasanya ingin tenggelam saja dilautan, tak ingin membahas hal ini, pertanyaan Tiwi seolah mengintrogasinya.
"Ngga," jawab Wendy pelan, satu sisi ia merasa senang jika ada Raka, ada perasaan hangat, senang dan terlindungi jika bersama pemuda itu, pemuda yang ketika ia pikirkan bisa membuat senyum tipis terbit di bibirnya. Dilain sisi, Wendy merasa masih kecil dan belum pantas memikirkan hal semacam itu.
"Kenapa tanya aku, kamu sendiri? Masih suka nggak?" Tanya Wendy mengalihkan dan mencoba tak peduli dengan pertanyaan Tiwi barusan, ia kembali mengerjakan soal lagi.
Hening sejenak...
"Iya, aku masih suka, malah makin suka, aku pengen jadi pacar kak Raka,"
ASTAGANAGAAAAA WENDY LANGSUNG MERUTUK
Ia merutuki kedekatannya dengan Raka akhir-akhir ini, itu artinya... Wendy bodoh, pasti Tiwi memperhatikannya dengan Raka akhir-akhir ini. Wendy jadi merasa bersalah, ia tak ingin membuat temannya bersedih, mungkin ia harus berhenti main dengan Raka lagi.
"Baguslah, hebat kamu bisa suka sama orang selama itu, itu artinya kamu cinta sama dia," ucap Wendy mengarang kalimatnya, ia berusaha santai walau didadanya entah mengapa merasakan gemuruh yang sedikit sakit dan aneh.
Wendy mencoba masa bodoh dengan semua itu.
Ia mulai menjauhi Raka, ia berusaha fokus mempersiapkan fisik, mental dan ilmu untuk persiapan ia dikirim ke Jepang dengan Dika.
Tak terasa juga, ia sudah melupakan perihal Raka. Ia menjalani harinya selayaknya dulu ia belum kenal dekat Raka. Dan Wendy bersyukur tak terjadi apa-apa.
Hingga suatu hari...
Empty : Hi?
Empty : Ini nomornya Wendy bukan?
Wendy menatap layar ponselnya yang menampilkan pesan seorang yang tak dikenal, hingga ia memilih membalas pesan itu.
Wendy D : Iya,
Wendy D : Ini siapa?
Cukup lama balasan yang datang, Wendy memilih mandi sore saja dulu. Setelah selesai mandi dan berpakaian, Wendy mengambil buku latihan soalnya, lalu membuka ponsel lagi, ia merebahkan diri dikasur sambil memeluk buku, tangan satunya ia gunakan bermain ponsel. Wendy menahan nafas sejenak kala ada lima balasan pesan dari orang yang tak dikenal.
Empty : Aku Raka, simpan nomor ku ya ☺
Empty : Wend, kamu inget aku pernah ngasih kamu sesuatu?
Empty : Kalau udah kamu buka, bilang aku
Empty : Aku bakal nunggu jawaban kamu,
Empty : Makasih.
Wendy memutar otak, Raka pernah memberikan sesuatu padanya... ugh Wendy agak lupa hingga.
"Oohhh, paperbag!!! Astaga! Kusimpan dimana itu?! " Wendy segera beranjak dari tidurannya dan mencari di rak bukunya. Paper bag itu terselip diantara buku bacaan novelnya, Wendy segera meraih dan melihat dalamnya.
Baru kali ini Wendy merasakan degub jantung yang menggila, ditatapnya kotak beludru kecil itu, ada surat, Wendy pun membukanya terlebih dulu, ia duduk di kursi belajarnya.
Dear Wendy Dilera...
Dari Raka Bumi
Pengecut? Iya, saya akui saya pengecut tidak berani berbicara langsung, bisa saja saya bicara langsung, tapi saya mencoba memahami gadis kecil seperti mu, saya takut kamu salah mengartikan perasaan saya.
Maaf, saya tidak bisa untuk tidak menahan perasaan yang membuncah ini, hahah, perasaan apa sih, saya ragu kamu memahaminya karena bagiku kamu Wendy kecil yang masih polos.
Intinya saya ada rasa kepadamu yang tidak bisa saya tahan lagi, lewat tulisan ini saya menyalurkan apa yang saya rasa. Untuk kamu gadis keciil yang sudah mencuri hati saya,
Saya harap kamu menyimpan surat ini hingga kamu dewasa, dan bisa memahami arti perasaan yang sudah saya rasakan pada kamu.
Saya akan menunggumu, semoga tidak ada yang berubah dan saya berharap perasaan saya terhadap kamu semakin bertambah...
Ada hadiah kecil, mungkin itu cocok untuk kamu, pakai setelah kamu bisa mengerti arti semua ini, saya tidak sabar melihat benda itu melingkar manis di jarimu.
Dari Raka yang dengan lancang selalu memikirkan mu...
...
Wendy kembali menutup dan melipat kertas itu seperti sedia kala. Ia memejamkan mata,
Astaga! Tidak mungkin Wendy tidak paham dengan arti surat dari Raka itu, sudah banyak bacaan kisah remaja dengan pencintaannya, hingga pada kisah romantis orang dewasa sekalipun Wendy sudah membaca semuanya.
Wendy pun membuka kotak beludru yang sudah Wendy tebak isinya.
Astaga!!! Bahkan cincin itu melebihi bayangan ekspetasinya, itu...
indah...
Wendy tak habis fikir.
Ponselnya bergetar menandakan ada pesan masuk.
Kak Raka B : Aku bakal nunggu kamu,
Kak Raka B : Aku harus pergi untuk beberapa waktu, maaf aku benar-benar pengecut tidak pernah berani bicara langsung padamu
Kak Raka B : Maaf Wendy saya sudah lancang menaruh rasa padamu, maaf dan semoga kamu selalu sehat.
Wendy D : Terimakasih kak...
Wendy D : Saya menghargai perasaan kakak,
Wendy D : Tapi...
Kak Raka B : Tapi?
Wendy D : Biar ini mengalir aja ya kak 😇😇
Wendy D : Kita menurut pada rencana-Nya
Wendy D : Fokus untuk masa depan 😇☺🙏
Kak Raka B : Maaf saya lancang lagi
Kak Raka B : Tapi saya mau bilang
Kak Raka B : I love U
Degh degh degh!!!!
Wendy tak menjawab, memilih menutup ponselnya saja. Dan sejak itu, Wendy tak pernah bertemu dengan Raka lagi, bahkan pesan terakhir Raka masih sama. Tiga kata itu masih membekas di hati Wendy.
==================@@@@@==============
"YEAAAAYYY!!!"
sorak gembira terdengar di mulut kelima gadis yang tengah bermain air dibibir pantai.
"Besok Wendy sudah akan ke Jepang, kita puaskan untuk hari ini dengan main air!!!" Gita langsung mencipratkan air pada teman-temannya, dan dibalas balik oleh Vina, Zigy, dan Wendy, Tiwi masihlah gadis kalem, pendiam dan pemalu, sehingga dia hanya mengulum senyum melihat tingkah teman-temannya.
"Kyaaaa Wendy!!"
"Hahahah!!! Kena kamu kenaaaa!!!"
"Serang Gitaaaa!!!" Seru Vina, Gita berlari dan berlindung pada Tiwi.
Seketika mereka terhenti karna tak mungkin mereka menyerang Tiwi juga yang notabene diam saja tidak menyerang.
"Wleeeee takut kan kaliaaann! Hahah!"
"Ck! Mainnya ngumpet kamu pengecut ah!" Ucap Zigy, tak digubris Gita, Gita malah menjulurkan lidah mengejek.
"Tiwi pelindung kuuu... " ucap Gita girang.
Ciprat! Ciprat!
Tak disangka, Wendy juga menyerang Tiwi.
"Yahahaha, Tiwi juga kenaaaaa!!" Ucap Wendy girang, Vina dan Zigy pun mengikuti.
"Kyaaa!!! Kalian yaaa!"
Mereka berlima pun kejar-kejaran.
Di hari Minggu ini, semua melampiaskan penat mereka, terlebih menghabiskan waktu mereka dengan salah satu teman mereka, Wendy, yang untuk beberapa bulan akan meninggalkan tanah kelahirannya besok Senin.
Mereka berlima pun duduk menikmati semilir angin pantai yang kencang dan menyejukkan, menatap debur ombak yang terus menarik dan menggulung berulang kali.
"Indah yaa... " puji Gita
"Yah, begitulah... " jawab Vina
"Kami akan merindukan mu Wendy," ucap Zigy kemudian.
"Yah, aku juga, aku akan merindukan kalian, terimakasih untuk selama ini,"
"Terimakasih jugaaa untuk selama ini,"
"Kita tidak tau apa yang akan terjadi pada hari esok,"
"Seperti apa yah kira-kira kita nanti?" Tanya Vina
"Semoga cita-cita kita tersampai," ucap Zigy
"Semoga... "
"Aku akan menunggu moment ini lagi jika Wendy sudah pulang," ucap Gita girang
"Aku jugaa!" balas Wendy tak kalah girang.
Mereka berlima pun saling merangkul pundak. Dengan Tiwi di tengah, samping kanan ada Wendy, samping kiri Tiwi ada Gita, disamping Gita ada Vina, dan disamping Wendy ada Zigy.
"Entah kita akan berakhir seperti apa kelak, tapi aku berani menjamin, ini adalah moment paling indah yang akan selalu kuingat dengan kalian nanti," ucap Vina tulus dan diangguki oleh keempat gadis yang mendengar penuturannya.
"Ayooo kita berfoto!" Ajak Vina,
"Ayooo!!"
Dan mereka berpose dengan formasi seperti mereka saling merangkul tadi.
=================@@@@@===============
Wendy memasukan kopernya didalam bagasi mobil ayahnya, memasukan kebutuhan yang akan dibawanya ke Negeri Tirai Bambu.
"Udah siap semua nak?" Tanya Mahen ayah Wendy.
"Udah Yah," jawab Wendy,
"Ayah mau masuk dulu ambil sesuatu," ucap Mahen kemudian masuk.
Wendy bersender dipintu mobil menunggu ayahnya.
"Wendy?"
Wendy menoleh ketika mendengar panggilan seseorang yang sudah lama tak ia dengar suaranya lagi, suara pemuda itu... Wendy menoleh dan sedikit gugup.
"Kamu bakal pergi lama ya," ucap pemuda itu kecewa, Wendy hanya mengangguk.
"Iya kak, minta do'a nya yah, semoga lancar," ucap Wendy sambil tersenyum lalu tertawa kecil. Pemuda itu memandang Wendy lembut, lalu mengusap pucuk kepala Wendy.
"Pasti! Semoga disana lancar," ucap Raka tulus menatap mata Wendy lama.
Deg deg deg
"Kalau gitu aku pergi dulu," ucap Raka, diangguki oleh Wendy, saat hendak menaiki motor sportnya pemuda itu berbalik lagi, dan mengahampiri Wendy, Wendy kembali dibuat deg deg an saat jarak pemuda itu dengan dirinya tidak ada satu meter.
"Wendy... " Raka memanggil Wendy dengan suara berat, bahkan ia menyamakan wajahnya dengan wajah Wendy dengan menunduk karena perbedaan tinggi mereka.
Cup!
Raka segera menarik diri.
"Aku bakal rindu sama kamu, dan... nunggu kamu... " ucap Raka pelan sambil tersenyum menawan. Ia kembali mengacak rambut Wendy.
"Aku pergi, jaga kesehatan... "
Wendy masih mematung, belum dapat mencerna apa yang terjadi.
"Sampai jumpa!" Raka melambai lalu menjalankan motornya. Wendy melambai namun masih setengah sadar, hingga tangannya yang melambai perlahan menyentuh pipinya.
ITUUUUUUU TADI APAAA??!!! KAK RAKA AMBIL CIUMAN PERTAMA KU BUKAN, IYA BUKAN SIH??!!! AAARGH PAGI-PAGI UDAH DIBIKIN LING LUNG!!!
"Wend?"
"Wendy?!"
Panggilan ayahnya menyentak Wendy untuk kembali berpijak pada bumi lagi.
"I... iya Yah?"
"Ayo berangkat! Pagi-pagi udah melamun aja, itu Tiwi diajak sekalian ikut mobil, kamu ke sekolah dulu kan?"
"Hah?!"
WHAT THE—
Buru-buru Wendy berdo'a semoga Tiwi tak melihat dirinya dan Raka tadi. Wendy menoleh kikuk pada Tiwi yang berdiri beberapa meter darinya, hendak berjalan menuju gapura depan untuk kemudian naik angkot menuju sekolah seperti biasanya ia dengan Wendy, hanya saja kali ini Wendy harus diantar pakai mobil karena membawa barang banyak.
"Tiwiiii ayoooo ikut aku juga!!!" Wendy segera mencairkan suasana. Tiwi mengangguuk dan ikut masuk dalam mobil, Tiwi dan Wendy duduk dibelakang bersampingan, sambil sesekali bercerita-cerita.
"Wend," Tiwi membenarkan anakan rambut Wendy yang menutupi pipinya, Tiwi menyampirkan ke belakang telinga Wendy.
"Oke sip, rapi!" Ucap Tiwi sambil tersenyum, Wendy menahan nafas kala Tiwi tadi menyentuh rambutnya, lebih tepatnya ikut mengelus pipi Wendy yang tadi dikecup oleh...
Dan setelahnya Wendy melihat tatapan berbeda dari Tiwi, tatapan yang selalu Tiwi layangkan ketika ia membenci seseorang.
...
"Wend... kita bakal kangen banget sama kamu," sedih Gita, Wendy tersenyum.
"Aku juga kok, tenang aja, gak bertahun-tahun juga aku perginya, yang penting nanti kita lulus bareng!!!" Ucap Wendy menyemangati.
"Iyap!!! Ini bukan perpisahan!!! Pokoknya kita harus bisa lulus bareng, kuliah dan gapai cita-cita kita!!!" Ujar Vina menggebu. Wendy tertawa kecil.
"Sooo pastiiiiii"
"Baru ingat, nanti kita belajarnya gimana dong kalo gak ada Wendy?!" Keluh Zigy, Wendy tertawa lagi.
"Tenaaangg, kan masih ada Tiwi, iya kan Tiw, ayolah! Semangat!!! Kalian juga bisa kok tanpa aku!!!" Wendy kembali memberi semangat sambil merangkul Tiwi, Tiwi hanya tersenyum tipis.
"Oke deehhh, hati-hati ya Wend, semoga lancar,"
"Makasihhh.... "
Dan kelima gadis itu saling berpelukan.
=================@@@@@================
"Jadi disana gimana?" Tanya Gita di ponsel, Gita, Vina dan Zigy tengah melakukan video call dengan Wendy.
"Yaa gituuulah, ada seneng ada nggaknya juga," jawab Wendy.
"Eh, itu kalian lagi apa kok ramai?" Tanya Wendy
"Ini kita lagi ada acara keakraban dengan remaja kampung kitaaa! acara yang tiga bulan sekali ituuu, " ucap Gita senang.
"Kasihan deh Wendy gak bisa ikut, asyik Wend, ini kan malam minggu, kita lagi bakar-bakar jagung dan api unggun, tema kita itu kemah dialam liar, hahahah," canda Zigy sambil menunjukkan jagungnya yang sebagian sudah gosong, iya gosong kalian tidak salah baca.
"Ih curaaanggg, aku baru inget kalo bulan ini ada acara keakraban!"
"Kaciaaann Wendy kurang beruntung!!"
"Yaudah ya Wend, maaf ganggu, kamu istirahat saja sana, kapan-kapan kita rencanakan yang seperti ini,"
"Okeee!"
Telfon pun berhenti.
"Aku baru ingat jika bulan ini ada acara keakraban," ucap Gita.
"Iya, kita malah fokus pada kepergian Wendy, padahal minggu kemaren Wendy berangkat, dikit lagi sampe hari H acara ini yaa" jawab Zigy.
"Hahah, aku jadi kasihan deh, besok deh kita buat acara ginian yuk?! Sama temen kelas?" Usul Gita.
"Setuju! Masukan dalam rencana!" Sahut Vina.
"Tiwiiiii aku minta menteganyaaa, aku gak mau jagungku gosong kayak Zigy," ejek Vina. Zigy hanya mendengus dan lainnya pun tertawa.
Acara yang sangat menyenangkan, mereka membakar jagung, sate, marsmellow, minum air jahe, kopi, coklat dan masih banyak lagi.
"Jadi disini ada yang mau request lagu tidak?!" Tanya kak Rian selaku ketua Karang Taruna. Acara pun diisi dengan hiburan-hiburan karena ini benar-benar untuk mengakrabkan diri, demi memperkuat tali persaudaraan juga.
Mereka melihat pertunjukan kecil, sambil minum, minuman hangat karena udara disini dingin.
"Tiwi! Aku nitip coklat panas juga dong!" Pinta Vina yang mendapati Tiwi akan beranjak ke stand minuman. Tiwi mengangguk, ia pun menuju ke stand minuman.
"Gue kopi satu ya!" Pinta Dion pada Gilang, Gilang mengangguk,
"Laaangg!!! Si Raka minta kopi juga!!!" Teriak Dion.
"Oke!"
Tiwi melirik kegiatan Gilang, kakak tingkatnya juga seprantara Raka, pemuda yang disukainya.
"Huh, lupa, gimana bawanya," gumam Gilang. Tiwi dengan senyum menawarkan.
"Mau dibawakan sekalian? Ini kak, kebetulan punya cewek ada nampannya juga," tawar Tiwi.
"Ahh, sip dehhh!!"
"Laang, bantuin pasang proyektor! Habis ini mau nobar soalnya!" Pinta Rian.
"Eh, Tiw, bawain yaa, tolong, kasih ke Dion atau nggak Raka, makasih banget, gue mau bantuin pasang proyektor dulu,"
"Oh, iya kak iya!" Ucap Tiwi semangat, setelah Gilang pergi dan dirasa tidak ada orang lain lagi disekitarnya, Tiwi mengeluarkan sesuatu dalam kantong kemejanya. Sesuatu yang kelak akan membawa bencana besar.
Tiwi segera menyampurkan serbuk itu kedalam minuman yang nanti akan diminum oleh seseorang.
"Maaf, aku sangat ingin memiliki mu kak... kamu gak boleh sama yang lain," lirih Tiwi.
Ia pun membawa nampan itu ke segerombolan cowok yang tengah membenarkan api unggun, dan menggelar karpet.
"Kak, ini tadi yang pesan kopi," ucap Tiwi pelan hampir mencicit, Dion segera sadar.
"Oh, iya Tiw, makasih ya!" Dion hendak mengambil gelasnya, buru-buru Tiwi mendahului.
"Ini buat kakak!" Ucap Tiwi cepat sambil menyodorkan gelas lain, Dion sedikit kaget, namun ia pun menerima.
"Makasih," ucap Dion sekali lagi dan diangguki oleh Tiwi.
"Ini kak... Raka... " ucap Tiwi berakhir pelan, Raka menoleh,
"Oh, kopinya udah, taruh bangku situ aja Tiw," pinta Raka, Tiwi menurut saja. Ia pun undur pamit, lalu menghampiri teman-temannya.
"Ini coklat panas Gita sama Vina," ucap Tiwi agak riang.
"Yeaaayyy, Tiwi juga seneng yaaa, asyik yaa!" Ucap Gita sumringah, Tiwi hanya mengangguk.
"Eh, aku kebelakang dulu ya, mau ke mobil ambil tas aku sama jaket," ucap Tiwi, dan diangguki oleh Zigy dan Vina.
"Jangan lama-lama Tiw, habis ini filmnya mulai loh!" Ucap Gita mengingatkan. Tiwi hanya mengangguk.
Tiwi berjalan kebelakang dengan membawa minumannya juga, ia pun mengeluarkan sesuatu yang ia simpan dikantongnya tadi. Lalu menuangkannya kedalam minumannya sendiri, dan meminumnya perlahan.
....
Disisi lain.
"Kak Raka, gue mau ambil slayer sama ponsel di mobil, ponsel gue ketinggalan ternyata gue cariin baru ingat!" Ucap Pras adik Raka yang seumuran dengan Wendy.
"Ck! Gimana sih, gue titip ambil jaket juga deh, nih kunci mobilnya!" Ucap Raka berdecak sambil melempar kunci mobil, dan langsung ditangkap dengan mulus oleh Pras.
"Oke makasih kak!
... makasih juga kopinya hahahah!!!" Ucap Pras lalu berlari menjauh. Raka mengerutkan kening, lalu melihat gelas dikursi sudah kosong.
"Adek gak ada akhlak!!!" Umpat Raka sambil menggeleng.
...
Tiwi merasakan hawa tubuhnya panas, ada gelenyar aneh dalam dirinya yang tak bisa Tiwi tahan lama-lama. Tiwi berpikir apa ini efek obatnya, Tiwi juga tidak paham, Tiwi pun perlahan berjalan ke arah mobil, berharap menemukan sesuatu yang bisa mendinginkannya. Saat ia sampai di area parkir ada seseorang yang entah sedang apa, namun bisa didengar ia merutuk dan mengumpat berkali-kali.
"Bang*at gue kenapa?! Gerah sial!!!" umpat seseorang, Tiwi dengan sekuat tenaga menahan ia mengintip dibalik bagasi mobil dan didapatinya cowok yang dikenalnya, Prasetya, adik dari Raka, sudah membuka kaosnya dan mengipasi diri sembari mengumpat-umpat.
Tiwi mengernyit, dilain sisi ia menahan mati-matian sesuatu dalam dirinya yang ingin sekali dilampiaskan.
"Pras... kamu ah–kenapa?" Pras segera menoleh saat ia mendapati suara yang familiar ditelinganya.
Hingga dengan gerakan cepat dan insting saja, Pras sudah menarik Tiwi ke dalam mobil dan menguncinya, menyisakan jendela yang sedikit terbuka guna akses udara.
Tak tau apa yang terjadi hingga film yang sedang ditayangkan berakhir padahal durasi film itu dua jam lebih, dan Tiwi tak kunjung kembali bergabung dengan teman-temannya untuk menontonnya.
=================@@@@@================
Hari berganti hari, tak terasa sudah tiga bulan berlalu.
Awalnya ketiga remaja itu biasa saja dengan sikap Tiwi yang memang pendiam, namun mereka jadi aneh karena Tiwi seolah menjadi orang bisu sekarang, berbeda dengan Tiwi yang dulu, Zigy yang kebetulan menggantikan posisi Wendy sebagai teman sebangku Tiwi, pun berniat menghibur, Zigy kira, Tiwi jadi pendiam karena tidak adanya Wendy yang notabene teman paling dekat Tiwi, seorang yang mampu membuat Tiwi setidaknya tidak terlalu pendiam.
"Kita juga kesepian kok Ti, tenang aja, kurang beberapa bulan lagi Wendy pulang, kamu jangan sedih dan jadi pendiem dong," pinta Zigy memohon sambil menampilkan puppyeyes nya berniat mengibur, namun respon Tiwi benar-benar membuat Zigy tercengang, Tiwi seolah tak mendengar Zigy bahkan mengenal, pandangan Tiwi kosong.
Tidak ada pancaran cahaya, setidaknya yang menandakan bahwa aura gadis itu hidup...
Zigy hanya bisa mengatupkan mulut.
Ia juga tak mengerti.
Weeennnd buruan pulaaanggg, bathin Zigy tak tahan melihat sikap Tiwi yang ia kira menjadi pendiam karena absennya Wendy. Dugaan yang salah besar.
==================@@@@@===============
"WHAAATT??! TIWI KELUAR DARI SEKOLAH?!"
"KENAPA?!!! KENAPA??!"
Gita seolah tak menyangka, ia mengguncang bahu Vrisella teman ceweknya dikelas.
"Harusnya aku yang tanya kamu! Kamu kan gengnya dia!" Ucap Vrisella judes. Zigy, Vina dan Gita saling tatap. Mereka sama bisunya, benar-benar tak tau perihal apa yang terjadi.
"Sebenarnya ada apa?" Heran Vina.
"Aku juga gak tau, tapi emang asli sih! Si Tiwi beda banget kali ini," ujar Zigy.
"Masalahnya kenapa Tiwi keluar dari sekolah?! KENAPAA?!" Ucap Gita masih tak menyangka.
"Kita juga gak tau Git, gimana kalo nanti kita kerumahnya?" usul Vina.
"Ide bagus!"
...
"Assalamualaikum... " salam Gita sambil mengetok pintu bercat coklat tua itu. Lalu bergantian Vina, belum juga dibuka, saat Zigy hendak mengetok, pintu sudah terbuka, menampilkan sosok perempuan yang menginjak usia empat puluh tahun lebih, tengah menatap sambil menyipitkan mata, seolah berusaha memfokuskan objek.
"Eh, bibi Dita, kita mau ketemu Tiwi bik! Tiwi ada?"
Tampak perempuan yang dipanggil bibi Dita tadi mengernyit.
Hening cukup lama, hingga...
"Tiwi pindah ke desa, kerumah neneknya, kenapa ya?" Tanya Dita, Zigy, Gita dan Vina menatap satu sama lain dengan lekat.
"Ehm... kenapa ya Bik? Kok tiba-tiba...–"
"Tiwi harus pindah! Kalian gak perlu tau alasannya, udah pulang aja!" jawab Dita langsung menutup pintu.
Tentu saja hal ini membuat Zigy, Vina dan Gita kaget. Bibi Dita yang mereka kenal adalah orang yang ramah, kenapa mendadak judes?
Ada apa sebenarnya hingga orang-orang jadi berubah begini. Apa yang terjadi?!
....
PLAK!!!
Satu tamparan mendarat mulus di pipi Prasetya dari papanya, Pras hanya bisa menangis dan menangis, ibunya ikut menangis melihat putra bungsunya dipukuli sejak tadi.
"Gaada etika kamu!!! Gak ada harga diri!!! Kamu masih sekolah sudah berani berbuat yang belum sewajarnya dilakukan!!!"
"Ampun Paaa, Pras benar-benar gatau, Pras cuma merasa aneh ditubuh Pras waktu itu... "
BUGH!!!
"Alasan!!! Pergi kamu dari rumah!!!"
"PAPA JANGANN!!! JANGAN USIR PRAS JANGAN!!!" Isak Kaila sambil memeluk putra bungsunya.
"Bela aja terus anak kamu itu!" bentak Dandi ayah Pras.
"Mamaaaa... Pras gatau Maa, Pras waktu itu aneh Maa, maafin Pras, Pras juga sebenarnya gamau lakuin tapi tubuh Pras panas dingin, Maaa ampun Maaa..."
Raka hanya menatap datar diruang tamu, ia sengaja tak ikut bergabung, takut-takut kelepasan.
Hingga kemudian ada telfon masuk diruang tamu, Raka yang didekat situ langsung mengambil telepon itu.
"Maaa! Ada telfon katanya penting!" Ucap Raka sambil menghampiri.
Dandi masih berkacak pinggang dan sesekali memijit pangkal hidungnya.
Tak habis pikir, dengan apa yang telah putra bungsunya lakukan.
Kaila menerima telfon itu sambil masih menangis dan sesenggukan.
"I-iya kenapa?"
Seolah mendapat kabar mengerikan, Kaila menjatuhkan telepon itu.
Bruk...
"Kenapa Ma?" Tanya Raka memegang pundak ibunya yang hampir terjatuh, Pras masih meringkuk sambil memeluk lutut, tangisan cowok itu masih terdengar.
"Anaknya ... udah ...
hamil e-empat bulan... "
JDHEERRRR
Bak disambar petir, Raka terkejut, Mamanya kembali menangis, Dandi menghempaskan tubuh di sofa keluarga.
"Ya Tuhaaann Engkau hukum apa keluarga hambaa... " lirih Dandi.
"Maa, Pras takut... "
=================@@@@@================
"Gak bisa!!! Raka gak mau!!! Kenapa jadi Raka yang kena, Pras yang lakuin!!!" Marah Raka, wajahnya sudah memerah benar-benar murka. Kaila kembali menangis.
"Pras masih kecil... dia masih sekolah... " isak Kaila.
"TAPI KENAPA RAKA??!!! RAKA GAK MAU!!! RAKA GAK SUDI!!!"
"Raka... ini keputusan tepat!!!" Ucap Papanya datar.
"Jangan harap!!!"
Bagaimana bisa Raka terjebak dalam posisi ini, ia harus menggantikan posisi adiknya sebagai ayah dari anak yang dikandung Tiwi yang artinya ia harus menikahi Tiwi. Ya, Tiwi hamil, hamil anak Pras. Raka juga tak habis pikir, kenapa bisa hal itu terjadi.
Raka tidak akan pernah mau dan sudi, dia sudah berjanji pada seseorang, dia sudah berjanji untuk menunggu,
Tapi apalah daya, takdir memang semengejutkan ini. Raka tak bisa merelakan cintanya, tidak bisa!!! Ia... tidak sanggup... apa jadinya nanti jika sosok itu kembali dan mendapati dirinya sudah memiliki yang lain...
Beberapa detik kemudian, seorang paruh baya berlari tergopoh-gopoh menuju ruang keluarga, wajahnya menampakkan raut ketakutan.
"Nyonya, Tuan!!! Gawat, Den Prasetya mau bunuh diri!"
=================@@@@@================
"Sah!"
Kini...
Raka sudah resmi menjadi suami dari Pratiwi Jingga, pernikahan privat dan tak ada satu orang lain pun yang tau kecuali pihak keluarga yang bersangkutan. Tentu saja, diusia Tiwi yang bahkan belum genap tujuh belas, namun perutnya sudah membuncit. Tak mau ada yang tau insiden ini, walau kelak tak ada yang bisa disembunyikan lagi.
Dan tentu... Tiwi bahagia, ia bahagia, siapa yang tidak bahagia bisa memiliki seseorang yang kita cinta setengah mati. Sementara Raka, hatinya hancur, ia benar-benar terluka, ia sedih, tak ada yang bisa menolong nya.
Ia harus merelakan cintanya walau itu tidak ada dalam kamus hidupnya...
Cintanya masih sama dan semakin besar, dan hal itu membuat lukanya semakin perih, Raka tak kuasa
Beribu maaf Wen... beribu maaaf... maafkan sayaaa.....
==================@@@@@===============
Waktu berlalu, ujian akhir semester, dan kenaikan pun bermulai, kini diteras rumah Gita yang cukup luas, tampak tiga gadis yang tengah belajar bersama, siapa lagi kalau bukan Gita, Vina, dan Zigy. Hari-hari mereka lalui hanya dengan belajar dan bercerita-cerita, mereka kini hanya tersisa tiga, tak ada Wendy, tak ada juga Tiwi, masing-masing sudah tak memiliki kabar.
Wendy terkadang berkirim pesan, namun itu pun jarang dan jika saling berbalas pesan butuh waktu yang lama untuk mendapat balasan.
"Vin, ini gimana caranya?" Tanya Gita tampak frustasi. Vina menoleh sebentar, dahinya langsung mengernyit melihat soal yang ditunjukkan oleh Gita.
"Aku tadi juga nyari ini, gak ketemu," keluh Vina, Zigy menghela nafas,
"Wendy pergi, Tiwi juga pergi, padahal dulu kita selalu jagain mereka, kalo gak Wendy, masih ada Tiwi, huufftt, Tiwi, kenapa kamu pindah... " lirih Zigy merasa kehilangan. Vina dan Gita saling menatap, mereka menghela nafas.
"Semoga Tiwi baik-baik aja, juga Wendy,"
"Iya,"
"Oh ya! Kalian ingat pesan Wendy kan, kalau kita harus semangat, ujian ini kita harus raih nilai yang bagus!" Ucap Gita mengingatkan.
"Iya!!! Ayo kita buktikan ke Wendy, kalau kita bisa mandiri dalam belajar sekarang!" Tambah Vina menggebu, dan diangguki semangat oleh Zigy dan Gita.
Mereka pun belajar, mencari latihan dan tutorial di internet. Hingga datanglah sosok paruh baya yang berjalan sedikit cepat ke arah mereka.
"Gitaa, Vinaa, Zigyy, udah dengar kabar beluuum?" Tanya sosok paruh baya itu yang bernama Bik Arum tetangga yang tinggal dekat rumah Tiwi.
Gita berdiri untuk menghampiri, diikuti Zigy dan Vina.
"Kabar apa ya Bik? Bibik kok sampe segitunya?" Tanya Gita heran.
"Tiwi melahirkan... "
Bak disambar petir disiang bolong, ketiga gadia itu syok dan terpaku,
"Bibik bohong!" Sela Gita cepat,
"Nggak! Bibi gak bohong! Tadi bibi lihat mobil parkir dihalaman rumah Tiwi, trus Tiwi keluar sambil gendong bayi, bibi tanya itu anak siapa sama bik Dita, katanya anak Tiwi,"
JDERRR
Gita langsung menangis.
"Gak mungkin... " Gumam Zigy yang hampir ambruk, untuk ia langsung bercekalan pada tiang rumah Gita.
"Makasih ya Bi, kabarnya," ucap Vina dengan menenangkan Gita.
"Yaudah, bibi mau pergi dulu, beli hadiah buat Tiwi sama anaknya. Setelah kepergian bibi itu, barulah Gita ambruk duduk dilantai.
"Gak mungkin.. ini gak mungkin... Tiwi..." isak Gita, Vina juga ikut menangis.
"Vin, ini bohong?" Tanya Gita sesenggukan memeluk lututnya.
"Makanya Tiwi keluar sekolah... jadi ini?" Lirih Zigy.
"Git...." Vina berujar lirih.
"Kita kerumah Tiwi... "
Sangat tak menyangka, jelas! Tiwi yang pendiam, Tiwi yang tak banyak tingkah, Tiwi yang kalem, Tiwi yang tak disangka akan...
==================@@@@@===============
Bruk!!
Wendy menjatuhkan kopernya, menatap empat sosok yang dirindukannya selama ia pergi pertukaran pelajar. Pandangan tak menyangka juga terpaku. Wendy menutup mulut, hingga akhirnya ia mengepalkan tangan.
Gita segera menoleh kala mendengar suara benda jatuh, alangkah tak menyangkanya ia mendapati sosok Wendy yang berdiri dihalaman rumah Tiwi. Zigy, Vina dan juga Tiwi pun ikut menatap, mereka sama-sama terkejutnya, menaruh atensi penuh pada sosok yang kurang lebih sepuluh bulan pergi.
Dengan langkah pelan tapi pasti, tangannya masih mengepal, Wendy berjalan menuju teman-temannya hingga ia berhenti dihadapan Tiwi, kedua lutut Wendy langsung ambruk ke lantai seolah tak kuasa berdiri lagi, Wendy menatap Tiwi, lalu pandangannya turun ke arah bayi perempuan kecil yang masih tidur. Air matanya Wendy sudah mengumpul di matanya, dengan satu kedipan pun air mata itu akan lolos.
"Who is she?" Tanya Wendy bergetar lalu menggigit bibir bawahnya.
"Rindi,"
Wendy menangis, menangis pelan, sorot matanya seolah menyesal, sedih, amarah campur aduk. Wendy merasa gagal menjadi teman. Ia gagal...
....
Kini Wendy tengah duduk sambil memangku bayi kecil itu, disamping kanannya ada Tiwi dan Gita, samping kiri ada Zigy dan Vina.
"Kamu... gak mau lulus bareng kami Tiw?" Lirih Wendy sambil menatap kosong wajah bayi mungil itu yang polos. Gita mengusap pipinya saat dirasa air matanya jatuh, ia menangis tanpa suara.
"Vina... gak punya model buat di foto dong," ucap Wendy sambil tersenyum miris. Ia menatap Tiwi dalam.
"Maaf,"
=================@@@@@================
Belum sembuh dari luka sakit hatinya tak bisa menjaga temannya, kini Wendy kembali terluka dan terguncang kala mengetahui kabar bahwa Raka adalah ayah dari anak Tiwi, Wendy kembali menangis.
Kini dihadapannya Raka yang tengah duduk sambil menatapnya sedih, ikut terluka, pemuda itu juga menangis, sekali dua kali dapat didapati air mata yang meluncur dipipinya namun segera oleh pemuda itu ditepis.
"Maafkan saya Wend, saya ingkar,"
"Gaada yang perlu dimaafkan kak, tolong, kakak gak salah!" Tepis Wendy, Raka menunduk.
"Lebih baik kita lupain inj semua, maafkan saya kak, lebih baik kakak berhenti untuk semua rasa ini," lirih Wendy, ia menyentuh lehernya, kedua tangannya seolah mencoba melepas sesuatu,
Tik!
Wendy melepas sebuah kalung dengan bandul cincin berlian putih. Wendy meraih tangan Raka.
"Aku kembalikan ini," ucap Wendy lalu meletakkan kalung itu ditelapak tangan Raka.
"Ada yang lebih berhak buat pakai ini," sambung Wendy.
"Saya paham kak, saya paham apa yang kakak rasakan, saya mengerti dan saya menghargai, terimakasih... "
Raka terkejut kala menyadari kalung itu berbandul cincin yang ia beri untuk Wendy.
"Kamuuu... apa-apaan Wendy!!!? Kamu mau memutus semua ini?! Kamu mau memutus perasaan saya terhadap kamu?!" Marah Raka kala mendapati cincin pemberiannya dikembalikan.
"Kita selesaikan ini semua kak, lupakan semuanya, berhenti menaruh rasa pada saya, kakak sudah ada yang lain, setidaknya mulailah untuk fokus pada Tiwi, Tiwi sudah menyukai kakak sejak aku dan dia SMP, tolong mengerti kak,"
"AAARGGHH!!! SEMUA ORANG MENYURUHKU UNTUK FOKUS PADA TIWI SEOLAH KEBAHAGIAAN DIA SAJA YANG PENTING, AKU SUDAH BERKORBAN MENGGANTI POSISI ADIKKU SEBAGAI AYAH DARI ANAKNYA, AKU DIPAKSA MENIKAH PADA ORANG YANG SAMA SEKALI TIDAK KUCINTAI!!! DAN SEKARANG KAMU INGIN MEMUTUS IKATAN ITU?? APA AKU TIDAK BERHAK BAHAGIA??!!!" Marah Raka membentak Wendy, Wendy tersentak lalu menangis merasa bersalah.
"Aku sudah berkorban banyak demi kebahagiaan Tiwi! Apa aku tidak boleh bahagia juga??!!!"
"Mm-maaff... " isak Wendy sambil memeluk kalung yang berada digenggamannya. Seolah kembali pada kesadarannya, Raka terkejut dan menyesal telah membentak Wendy.
"Maaf Wendy... " Lirih Raka lalu memeluk Wendy erat, Wendy terisak didekapan Raka, seolah kembali terulang, Raka yang memeluk Wendy saat gadis itu menangis. Dulu, Raka juga memeluk Wendy saat Wendy kena preman, menenangkan gadis itu dengan dekapan hangatnya.
"Maafkan aku... " lirih Raka.
"Hanya itu yang aku punya sebagai bukti bahwa perasaan saya terhubung padamu, jangan paksa saya lagi, jangan paksa saya untuk berhenti mencintaimu bahkan melupakan semua ini, saya lelah dipaksa... biarkan ini mengalir, jangan ada paksaan, sebagai mana perasaan ini hadir tanpa paksaan maka jangan buat ini pergi karena paksaan Wen, saya mohon, izinkan saya untuk tetap mencintai kamu karena hanya itu satu-satunya kebahagiaan yang saya punya... " pinta Raka sambil memejamkan mata erat tak kuasa.
Wendy menangis sesenggukan.
"Jangan paksa saya untuk berhenti... "
================@@@@@=================
"Seandainya boleh, apakah saya boleh tau perasaan kamu terlepas dari semua kondisi ini?" Tanya Raka pelan, Wendy menoleh.
Hening cukup lama.
Wendy mengangguk pelan.
"Boleh... "
"Jadi apa?"
"Perasaan saya terhadap kakak...
ada... saya ada perasaan pada kakak,"
"Ada–"
"Jangan tanya perasaan seperti apa, intinya ada! Saya ada rasa untuk kakak...
ada... "
==================@@@@@===============
"KYAAAAAAAAAAAAAA!!!!"
"AAAAAAAAAAHAAAAAAAAAAA"
"HIKS, HIKS,"
Berbagai sorakan terdengar, jeritan bahagia, tangis haru, dilapangan seluruh siswa kelas dua belas dengan mengenakan pakaian adat diberbagai daerah Indonesia, semua melempar kertas keatas, dan saling memeluk satu sama lain.
LULUS
Satu kata itu mampu membuat seluruh sekolah gempar, bahagia terharu, seperti halnya keempat gadis yang menangis sambil berpelukan, menyalurkan rasa bahagia mereka. Setelah perjuangan mereka dalam menuntut ilmu dan berbagai ujian, akhirnya mereka sampai dititik ini. Kebahagian yang tak terkira bagi seluruh remaja kelas dua belas yang ingin mewujudkan kejenjang berikutnya, meraih cita-cita.
"Akuuu masih gak nyangka hikss hiksss," ucap Vina
"Samaa, aku gak sabar kasih kabar orang kampung," sahut Zigy
"AAAKUUU SENENG BANGEEETT INTINYA!!!" Jerit Gita tak tertahankan.
Mereka pun melerai pelukan mereka dan saling memeluk satu-satu, saling memberikan selamat.
"OMG!!! Aku baru sadar kamu asli Kalimantan ya Wend?" Tanya Gita tak menyangka baru sadar dengan baju adat yang Wendy kenakan, baju adat Kalimantan Barat. Wendy tersenyum lebar dan mengangguk.
"Uhhh, sebagian besar disini asli jawa yaa,"
"Tadi aku beberapa lihat ada yang pake baju adat Bali sama Padang, ramai banget, bagus yaaa,"
"Sepertiii biasaaa ayooo foto bareeeengg, buat kenang-kenangan kita terakhir di SMA ini," ucap Vina sumringah yang sudah siap dengan DSLR nya. Semua pun mengangguk,
Membentuk formasi seperti biasa, Wendy dan Gita saling menatap, dulu ditengah-tengah mereka ada Tiwi yang selalu tersenyum kalem dan manis, kini...
Gita dan Wendy saling merangkul.
"Oke Dik, ambil foto kita berempat sebanyak-banyaknya!!!" Pinta Vina pada Dika yang mendengus karena ia dipanggil bukannya diajak foto malah diminta untuk memotret.
"Oke, okee... " Ucap Dika sambil mendengus.
Klik!
Flash!
Jepret!!!
Klik Jepret!!!
Setelah sesi foto selesai mereka saling memeluk lagi.
Perjalanan kita masih panjang, masih sangatlah panjang, bahkan ini belum permulaan, kehidupan yang sebenarnya akan dimulai sekarang,
Wendy menatap Gita, Vina dan Zigy yang saling tertawa,
Kita tidak tau hari esok,
Kita tidak tau apa yang terjadi nanti
Kemarin adalah kenangan
Hari ini kejutan
Esok adalah misteri
Tidak tau apa rencana Tuhan selanjutnya, kami berharap kami bisa melanjutkan cerita kami.
Untuk Pratiwi Jingga teman kami... Akan kami ceritakan padamu kisah yang tidak kamu alami, kami dengan senang hati membaginya bersama mu, kebahagiaan, kesedihan, semuanya akan kami bagi dengan mu, termasuk kenangan ini, kenangan yang tidak biaa kamu lalui tapi bisa kamu dengar dan bayangi.
Biarlah yang lalu tetap berlalu,
Biarkan jadi kenangan yang tersimpan secara baik.
Dari kami yang kecewa
Sedih
Dan tersakiti...
Untuk Pratiwi Jingga andai kamu bisa mengalami
Melewati kenangan ini bersama kami...
Wendy menatap cincin dijari manisnya, biarlah semua mengalir, tidak semua cinta harus memiliki, akan ada cinta lain yang datang tuk mengobati, sementara biarlah perasaan ini ada dan singgah dulu, menunggu waktunya untuk siap pergi dan memulai dari awal lagi
Terimakasih juga untukmu yang sudah hadir dalam hidup ini...
================@@@@@=================
"Ayoooo dong baris yang rapi susah banget dah kalian ini harusnya udah gede itu gampang diatur!"
"Ayo gaes ayooo, kang fotonya udah marah-marah nihhh,"
"Git! Aku gak mau jadi fotografer kamu habis ini, aku berhenti kerja!!! Enak aja dibilang kang foto,"
"Hahahahah maap lah maaappiinnn, jangan gitu dong ntar yang foto in aku siapa nanti, kamu terbaik pokoknya!!! Dah ah, ayo bu Dokteeerr, duh ini satu juga lama banget, lagi ngobrol sama siapa sih?"
"Bawel banget sih model satu ini!" Keluh seorang perempuan sambil membenarkan kacamatanya.
"Lagi ngobrol sama temen ya ampun!!! Jangan mikir macam-macam! Oh iya, sumpah, aku gak nyangka kalo kamu pake kacamata bisa jadi tambah muda jadi keliatan imut gitu!"
"Wend! Jangan gituuu ntar tuh kepala jadi gedeee,"
"Paansi! Makasih btw emang dari dulu aku imut... "
"Tuh kaaannn,"
"Duh kalian ini jadi foto gak, aku sama Rindi udah nunggu lama nih,"
"Eh iya iyaaa, siap Bun!"
Dan kelima perempuan itu berfoto selayaknya formasi dulu, dengan gadis berumur enam tahun ditengah-tengah mereka, bersama sosok perempuan yang sudah lama tak mereka temui bertahun-tahun.
Semua masih sama, yang berbeda hanya jabatan dan profesi mereka. Mereka meraih apa yang ingin diraih, ada pula yang berbeda jalur tidak sesuai dengan apa yang mereka impikan dulu.
Ingat, tidak ada yang tau apa yang akan terjadi nanti...
Kita hanya bisa berencana. Selebihnya Tuhan yang menentukan.
Terimakasih...
=================@@@@@================
"Tante tante, tante kok gak punya dedek bayi semua sih, kan Rindi pengen punya temen main,"
Keempat gadis yang mendengarnya pun tergelak lalu saling menatap.
"Suatu saat nanti ya Rindiii... sementara teman Rindi kita-kita duluuuuuu!!!"
==================@@@@@===============
OKE SEKIAN
MAKASIH UDAH SEMPATIN BACA CERITA SAYAAA
JANGAN LUPA LIKE DAN COMENT YAAAHHH
MAMPIR PROFIL KU JUGA DONG DAN DUKUNG KARYA KU YANG LAINNYA
AKU MASIH BARU SOALNYA
LOVE YOU BUAT KALIAN YANG UDAH MAU LIKE 😁😁😁😆😆😆💓💓💓💓💓💓💓💖💖💖