Sebelum berangkat dinas luar, mas Iwan mengajakku konsul ke dokter kandungan langgananku.
"Mas ini aneh, yang bakalan berangkat dinas kan mas kok aku jadi disuruh cek kandungan lagi, sih. Baru juga 3 hari lalu cek," ujarku keberatan.
"Aku hanya ingin memastikan, selama aku dinas kamu dan anak kita lau tidak masalah, jadi aku tenang Mey."
"Ya ampun, mas ... kan lusa juga ibu ke sini, nemani aku sampai si kecil lahiran. Jadi hitungannya cuma 1 malam aja aku sendirian. Gak apa-apa kok, mas."
"Mey, ini pertama kalinya kita punya anak lho, kita gak punya pengalaman apapun. Aku khawatir kalau kamu melahirkan disaat aku belum kembali ke sini."
"Ish mas, HPL masih 2 minggu lagi sementara mas kan dinasnya cuma 1 minggu, jadi aman."
Percuma aku beradu argumen, mas Iwan bersikeras dan aku akhirnya menurut saja.
"Tekanan darah ibu bagus, berat bayi normal 2,9 kg, posisi bayi sudah pas, secara umum bayi ibu dan bapak siap lahir, hanya menunggu waktu yang pas saja. Sesuai HPL-nya 2 minggu lagi, bisa maju atau mundur dari situ."
"Em, soalnya saya mau dinas ke luar kota, pak. Saya takut istri saya melahirkan tapi saya belum balik," mas Iwan mengungkapkan kekhawatirannya.
"Tidak apa-apa, pak. Hasil pemeriksaan aman, kok," pak dokter meyakinkan lagi.
***
"Mey, mas pergi ya ... baik-baik dirumah, sementara ibu datang kemari kamu benar gak apa-apa kan mas tinggal dulu?"
"Gak apa-apa, mas. Tenang aja."
"Tapi, tas perlengkapan bayi dan lain-lain udah kamu siapin, kan?"
"Udah mas-ku sayang, udaaah. Calon bapak satu ini kok bawel sih?" Godaku sambil melingkarkan tanganku di lehernya.
Cup. Mas Iwan melabuhkan kecupan di keningku.
"Mas sayang sama Mey, mas gak mau sesuatu terjadi sama Mey dan anak kita. Maaf, mas wajib ikut kegiatan ini, mas sudah usahakan agarbisa digantikan orang lain tapi tidak bisa, sayang."
Aku tersenyum, aku mengerti kekhawatirannya sama seperti yang kurasakan cuma aku tidak mau tunjukkan, "Mas berangkat aja, yakinlah Tuhan pasti melindungi kita, mas."
Suamiku mengangguk, dan memelukku erat sebelum keluar dari rumah kami.
***
Baru beberapa jam mas Iwan berangkat aku merasa rindu ... eh, bukan rindu tapi lebih dekatnya gelisah entah apa. Aku berusaha mengalihkan rasa tidak jelas itu dengan berjalan-jalan di halaman rumahku, menyiram tanaman sekalian menyapu halaman. Rasa gelisah kini beralih ke rasa panas di punggung bawahku, dan nafasku jadi pendek-pendek hampir mirip seperti maraton dan keringat dingin membasahi tubuhku. 'Aku kenapa ya, Allah?'
Aku kemudian masuk ke rumah dan berbaring sambil membuka aplikasi khusus ibu hamil ... hah, apa mungkin ini gejala akan melahirkan?
Baru saja aku mau menghubungi mas Iwan, tiba-tiba masuk panggilan video darinya.
"Sayang, mas sudah sampai hotel," lapornya.
"Syukurlah sahutku."
"Mey, kenapa mukamu pucat?"
"Gak tau juga, mas."
"Apanya yang sakit, sayang?" Suamiku tampak khawatir.
"Punggung bawah sama betisku, mas."
"Hm, apa gara-gara aku minta jatah semalam ya, trus bikin kamu kecapean?" Nada suara mas Iwan, seperti menyalahkan diri, padahal kegiatan panas itu juga karena sama-sama pengen.
"Gak tahu juga sih, tapi kan dokter bilang gak apa-apa, mas?"
"Hm ... apa ini yang namanya kontraksi palsu ya, Mey."
"Mungkin mas, tapi ini gak begitu sakit kok mas. Masih sakit kalau aku PMS yang bisa sampai lemes banget."
"Hm, maafin mas ya, Mey. Kayaknya benar gara-gara semalam kamu jadi kayak gini. Sekarang kamu istirahat ya, Mey. Mas tutup dulu." Aku merasa sedikit tenang setelah mas Iwanku menelpon, lalu tertidur nyenyak sekali dari jam 13 hingga 17-an dan terbangun karena lapar. Aku pun menyiapkan makan malamku, dan memaksa diriku makan meski tidak ada selera makan.
Tiba-tiba aku kontraksi, kali ini sakitnya lebih kentara dari yang tadi siang. Uuuh, aku meringis sendiri apalagi setelah merasa sakitnya makin jelas dan berulang.
Aku yakin ini bukan kontraksi palsu lagi, tapi benar mau melahirkan. Kemudian aku mengambil tas perlengkapan bayiku dan mencari nomor telepon rumah sakit, aku mau dijemput saja, kalau pun ada apa-apa rasanya pasti lebih tenang jika berada di tempat yang tepat.
Kembali kuhubungi mas Iwan. "Mas rasanya tambah sakit, aku ke rumah sakit saja ya?"
Mas Iwan tidak langsung menjawab, terdengar helaan nafasnya saja beberapa saat, "Ya sudah, tunggu di rumah ya, Mey nanti mas hubungi ambulance."
"Baik, mas."
"Sayang ...?"
"Iya, mas?
"Hm, jaga dirimu dan anak kita baik-baik, ya."
"Pasti, mas," tutupku sambil menahan sakit yang semakin terasa. Aku harus tenang dan tidak boleh membuat suamiku panik.
Tiba-tiba aku merasa bagian bawahku basah, ah ... mungkinkah air ketubanku pecah? Baru saja aku mau mengganti bajuku, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu depan.
Saat aku membuka pintu, langsung terlihat mobil ambulance yang sudah terbuka. Wuiiih, belum juga 5 menit setelah aku telponan dengan mas Iwan, bala bantuannya langsung sampai.
"Maaf, dengan ibu Meylan ya? Tadi pak Iwan menghubungi kami bu," kata seorang perawat bermasker begitu aku membuka pintu.
"Oh iya, sebentar saya ganti baju dulu soalnya ke-"
"Gak usah, bu. Gitu aja, kita harus sampai di rumah sakit secepatnya."
"Ok, saya ambil tas dulu," kataku bergegas masuk mengambil tas lalu keluar lagi mengunci pintu.
"Makin sakit, bu?" Tanya perawat itu.
Aku hanya mengangguk, sakit ... tapi tetap harus dinikmati, sebab kami sudah menanti kehadiran buah hati kami ini cukup lama.
Dalam waktu singkat ambulance sudah tiba dirumah sakit, aku yang didera kontrakasi tidak begitu memperhatikan sekeliling, tapi yang pasti ini bukan rumah sakit atau klinik yang biasa kudatangi. Dengan sigap para perawat mengganti pakaianku dan membawaku ke ruang tindakan.
"Halo ibu, kita cek dalam dulu, ya?" Kata seorang dokter wanita yang namanya tidak terbaca olehku.
Aku mengangguk, lalu menggigit bibirku menahan perih saat jalan lahirku diperiksa.
"Sudah bukaan 7, kasih epidural,"perintah wanita itus yang langsung ditanggapi dengan sigap oleh para perawat, sekalian dipasang juga selang oksigen.
"Ibu tenang ya, minum air puti, banyak-banyak berdoa, sebentar lagi kita akan melihat bayi ibu yang tampan," saran wanita bermasker itu.
"Mas, aku sudah sampai di rumah sakit, ternyata sudah bukaan 7," infoku pada mas Iwan.
"Apa?" Mas Iwan terpekik.
"Doakan kami ya, mas." Mas Iwan tidak menjawab, mungkin dia shock tapi aku langsung menutup panggilan telepon karena aku tiba-tiba merasa sorongan kuat untuk mengejan.
"Datang lagi rasanya bu?" Wanita itu mulai memberi aba-aba padaku, dan aku mendengar bunyi 'krek'. "Maaf ibu, harus episiotomi kalau terobek bisa terjadi pendarahan," jelas dokter padaku.
Aku hanya pasrah sambil menuruti tiap instruksi. "Oek, oek, oek," tangis putra pertama kami menerpa telingaku, begitu dia lahir. Aku bahagia sekali bayiku sesaat diperbolehkan melakukan inisiasi menyusui dini. Perjuangku belum selesai, setelah bayiku lahir ternyata aku masih mengalami kontraksi sebelum mengeluarkan plasenta dari rahimku dan bagian perineumku yang terpotong sedikit itu dijahit.
Kondisiku bisa dikatakan aman, tidak ada pendarahan hanya aku merasa sangat lemah saja. Aku mencoba menelpon mas Iwan dan juga ibu tapi tidak ada yang mengangkat, kutatap jam dinding ... pantas saja hampir tengah malam. Tidak lama kamar rawatku dibuka, seorang perawat membawa bayiku masuk.
"Mohon maaf ibu, ruang rawat bayi sedang penuh jadi bayinya boleh tidur sama ibu malam ini," ucapnya sambil menaruh bayi mungil di sisiku.
Tentu saja aku menyambut gembira, sudah lama aku memimpikan tidur dengan bayiku sendiri. Cepret-cepret aku mengambil foto anakku juga kami berdua lalu kukirimkan pada mas Iwan. 'Kangen papa,' tulisku sebagai keterangannya.
***
Dua malam menginap di rumah sakit mewah itu, aku akhirnya diperbolehkan pulang dengan perasaan senang campur sedikit sedih. Senang sebab semua biaya telah ditanggung perusahaan suamiku tapi juga sesih sebab aku harus pulang sendiri, membawa bayiku beserta barang bawaanku yang lain.
Kucoba menghubungi ponsel ibu tidak aktif demikian juga mas Iwan, pesanku hanya dibaca tapi tidak dibalas, kutelpon juga tidak bisa.
Hah, kemana sih mereka? Untung hari masih pagi dan cuaca belum panas. Meski masih agak lemah, kuputuskan berjalan kaki saja sambil menunggu ada becak, ojek atau taxi lewat.
"Bu Meylan!" Sapa seseorang yang masih tetanggaku.
"Eh, bu Siti."
"Ibu dari mana saja, kok tahu-tahu sudah lahiran saja. Pak Iwan kebingungan nyari bu Meylan, lho?"
"Hah, suamiku sendiri yang menelpon ambulan agar mengantarku ke rumah sakit, tidak mungkin dia tidak tahu kalau aku sedang di rumah sakit," sahutku.
"Ibu melahirkan di rumah sakit mana?" Tanya bu Siti.
"Itu," tunjukku pada rumah sakit yang baru sekitar 100 meter jaraknya denganku sekarang.
"Hah, yang benar saja, bu? Itu kan klinik bersalin yang sudah lama tidak beroperasi."
"Kata siapa? Mereka melayaniku sangat baik dan ramah, rumah sakitnya juga sangat mewah dan bersih," uraiku.
Bu Siti tampak terkejut mendengar penuturanku. "Mari bu, saya antar ibu pulang," tawarnya.
Aku senang saat melihat pintu rumahku terbuka lebar, "Terima kasih, bu Siti. Mari masuk dulu," tawarku.
"Papaaa ... kami pulang," teriakku dari halaman.
"Sayaaang," mas Iwan berlari menyongsong aku dan bayi kami dan langsung membawa kami masuk rumah"Kamu baik-baik saja?" Tanyanya cemas.
"Makanya kalau punya hp tuh mbok diperhatiin mas, jadi tau kapan dihubungi sahutku dengan wajah cemberut.
Wajah mas Iwan yang semula datar mendadak ceria saat aku sodorkan bayi kami untuk digendong olehnya.
"Hai Conan, ini papa ..." sapa mas Iwan pada putra kami.
"Jadi anak kita namanya Conan, mas?"
"Iya, dari bahasa Irlandia, artinya berani dan kuat."
"Perasaan nama Conan tidak ada di list kita, mas."
"Memang, nama itu baru saja terpikir olehku barusan," maaf ya sayang, gara-gara aku, kamu jadi ngalamin hal aneh.
"Hal aneh gimana, mas?"
"Em ... Meylan sayang, sore itu setelah kamu menelpon aku langsung menghubungi pihak rumah sakit. Namun 30 menit kemudian aku mendapat kabar kalau ban ambulance bocor, berikutnya ambulance pengganti terjebak jalan yang macet, mereka juga mengatakan setelah tiba di rumah, rumah kita sepi. Makanya saat kamu bilang sudah sampai rumah sakit dan bukaan 7, mas langsung panik, sebab infonya tidak sinkron makanya mas langsung nyari tiket pulang, takut kamu kenapa-napa."
Aku tercengang mendengar penuturan mas Iwan, bagaimana bisa? "Ambulan itu tiba dalam waktu kurang dari 5 menit, begitu juga saat menuju ke rumah sakit, sebentar saja sudah sampai diklinik mewah itu."
"Klinik mewah mana?"
"Yang di dekat pertigaan Blok A itu lho, mas."
"Hah? Itu kan, bangunan terbengkalai bekas klinik yang sudah lama tidak beroperasi," jelas suamiku.
"Masa, sih?" Wah tiba-tiba aku merinding.
"Hah, pantas saja namamu tidak ada terdaftar di rumah sakit dan klinik bersalin tempatmu biasa konsul, karena kamu malah melahirkan di klinik khusus itu, 'mereka' yang tidak kelihatan itu telah membantumu melahirkan, sayang," ucap mas Iwan suara pelan.