Sampai hari ini aku masih tidak mengerti, apa kurangnya aku sebagai suami Liliana. Kami membina rumah tangga dari nol, kumanjakan dia dengan cinta, kasih sayang dan uangku, dari hartaku masih sedikit hingga tidak terhitung lagi berkat keuletan Liliana mengelola semua. Ah, aku benar-benar beruntung istri yang cantik dan pintar seperti Liliana.
Tidak pernah aku permasalahkan istriku yang tidak bisa memasak dan mencuci, dulu ketika aku belum punya cukup uang untuk membayar pembantu, aku sendiri yang mengurus semuanya yang penting dia piawai memenuhi kebutuhanku yang lain dan bisa mengurus Lavenia, putri kami.
Tugas dan tuntutan pekerjaanku sekarang membuatku sering keluar kota bahkan ke luar negeri hampir tiap minggu dalam 2 tahun terakhir ini, hal itu berpengaruh sangat signifikan dengan penghasilanku. Semakin banyak uang yang bisa kuberikan untuk keluargaku, maka mereka semakin bahagia, kufikir begitu.
Tapi kenyataannya ... 3 bulan lalu terbangun dan tidak menemukan Liliana di sisiku. Kemana, dia malam-malam begini?
'Samar-samar aku mendengar suaranya berbincang sambil tertawa, kenapa harus bisik-bisik gitu, sih?' Kan aku jadi tidak tahu dia ngomong apa dan sama siapa sampai seseru itu. Seru? Bukan, itu bukan seru tapi lebih ke ... mesra. Hah, tidak aku tidak boleh berprasangka buruk, meski kemudian aku diam-diam menyelidiki.
***
Hinga pada suatu ketika ... .
"Langit, kita perlu bicara," kata Liliana padaku.
"Iya sayang ... kamu mau apa, ganti mobil, beli perhiasan atau liburan?"
"Hm, tidak. Aku mau jujur Lang, rumah tangga kita tidak bisa diteruskan, aku tidak mencintaimu lagi."
Aku tidak langsung menanggapi kata-kata Liliana, tapi mencerna, berharap aku salah dengar atau Liliana hanya bercanda lalu segera melarat kata-katanya.
"Kenapa?" Tanyaku dengan bodohnya.
"Aku sudah katakan, aku sudah tidak mencintaimu lagi."
"Kamu bercanda, kan?"
"Apa perlunya aku bercanda untuk hal seserius ini?"
"Liliana, katakan apa yang harus aku perbaiki agar kita tetap bersama, apa uang yang kuberi kurang banyak, apa aku kurang perhatian, apa performaku di tempat tidur tidak memuaskan?" Tanyaku kesal.
"Cara cinta datang dan pergi sama misteriusnya, Lang. Tidak bisa kau pertanyakan kenapa saatku bilang rasa itu tidak ada lagi di tempatnya."
"Tapi setidaknya kamu tahu bagaimana cinta itu bertahan dan tidak berkurang."
"Sayangnya, aku tidak mau, Lang. Maaf."
"Is there another man?" Tanyaku berusaha tidak meyakini hasil pengamatanku 2 bulan ini.
Liliana hanya tersenyum tipis.
"Dengar Liliana, kita menikah dulu pun berproses begitu juga dengan bercerai, aku tidak mau itu jadi mudah untuk kita. Mari kita bicarakan baik-baik dan memperbaiki semua dari awal. Ingat, kita punya Lavenia.
"Haha, terserah saja aku tidak peduli. Aku lelah untuk berpura-pura semua baik-baik saja. Sekarang, tidak kamu tahan pun, aku tetap pergi."
"Liliana!" Hardikku.
Liliana masuk ke dalam kamar tidur kami, aku harap dia berubah fikiran, aku janji akan memaafkan dan akan melupakan percakapan kami malam ini. Namun dugaanku keliru, tidak lama Liliana keluar kamar dengan menggeret koper besar, dibelakangnya 2 orang asisten rumah tangga kami membawakan 2 kardus.
"Mau ke mana, Liliana?"
"Semuanya sudah berakhir, Lang. Aku titip Lavenia, selamat tinggal."
Hah, semudah itu dia pergi dan semua berakhir begitu saja. Benarkah begitu saja? Kenapa aku tidak peka membaca perubahan sikap Liliana? Barang-barang yang dibawanya tadi itu ... tidak mungkin disiapkan hanya dalam waktu 10 menit saja, bukan? Apalagi tampaknya sudah ada yang menjemput Liliana di depan.
"Lilianaaaa!" Teriakanku diabaikan, di benar-benar pergi.
"Papaaaa," aku terkesiap mendengar Lavenia yang keluar dari kamarnya, rupanya anakku itu terkejut mendengar teriakanku tadi.
"Mama ke mana?" Tanya anakku yang baru berusia 6 tahun itu.
"Kita susul mama, yuk," ajakku.
Malam itu hujan sangat lebat, aku berusaha mengejar mobil yang membawa Lilianaku pergi.
"Papa hati-hati, aku takut sekali," Lavenia mengingatkanku. Aku tidak menyahut karena jarak pandang sangat pendek, aku perlu konsentrasi tinggi mengejar mobil itu.
"Apa mama pergi dengan om Fahlevi lagi?" Celoteh Lavenia.
"Om Fahlevi, yang teman papa itu?" Tanyaku.
"Iya, kan kalau papa gak ada dirumah, om Fahlevi yang nemanin aku dan mama jalan-jalan, katanya papa yang suruh."
"Hm, jadi kalau papa tugas om Fahlevi juga sering ke rumah?"
"He-eh, pa. Nanti kalau papa besoknya pulang, baru om Fahlevi pulang dari rumah kita."
"Eh, pulang maksudnya gimana, nak?"
"Yah, papa gimana sih ... kan katanya papa sendiri yang minta om Fahlevi gantiin papa, nemanin aku dan mama di rumah," tutur anakku polos.
"Om tidurnya dimana?" Tanyaku sambil menahan emosi.
"Ya di kamarnya papa dan mama dong, pa."
'Sialan!' Rutukku dalam hati, ternyata Liana bermain api dengan sahabatku sendiri. Aku memacu mobilku lebih kencang, tidak peduli teriakan Lavenia ataupun cuaca yang semakin buruk. Tujuanku cuma cepat mengejar 2 pengkhianat itu.
"Papa, stoooooppp!" Pekik Lavenia saat aku semakin liar memacu mobilku. Aku tidak mau berhenti sebab aku sudah hampir berhasil mendahului mobil yang membawa Liliana.
Brakkkk! Hah, sialnya mobil itu tiba-tiba berhenti mendadak dan aku tidak dapat menghindar.
***
Sebuah pengkhianatan telah mengalih predikatku sebagai Langit yang dikenal sabar dan pengertian menjadi pembunuh berdarah dingin, serta mendapat tambahan label sebagai terdakwa kasus menghilangkan nyawa orang lain.
Huufff.
Aku sengaja menolak pengacara yang dapat meringankan masa hukumanku, aku juga tidak mau menerima tawaran 'damai' ataupun tawaran penyelesaian secara kekeluargaan dari pihak keluarga korban yaitu Fahlevi, Liliana dan Lavenia yang tewas hampir bersamaan di malam itu.
Biarlah, aku bahkan sempat berharap ikut jadi korban tabrakan maut itu malah ingin di hukum mati saja.
Percuma juga aku hidup ... Fahlevi sahabatku, Liliana istriku dan Lavenia buah hatiku, sudah tidak ada lagi. Cinta, harapan dan semangat hidupku pergi, tidak ada lagi yang tersisa ... sesal pun tidak.