"Eh, Siapa cowok yang menyapu di Masjid itu?"
"Marbot baru."
"Rajin banget. Sayangnya tompelan."
"Kenapa emang?"
"Coba nggak tompelan, aku jadikan calon mantu."
Terdengar oleh Ridwan yang sedang menyapu lantai di dalam masjid, dua orang ibu-ibu yang berada di luar masjid tengah membicarakan dirinya.
Ridwan hanya diam saja dan terus melanjutkan menyapunya.
Tidak lama datang di halaman masjid seorang gadis berhijab dengan sepeda yang memiliki keranjang di depan, disandarkan di sebuah pohon. Ridwan yang berada di dalam masjid memperhatikannya.
"Siapa dia?" Ridwan bertanya dalam hati. Sambil terus melanjutkan bersih-bersih masjid.
Setelah menyandarkan sepedanya, Hasna membawa bungkusan di dalam kresek kecil masuk ke dalam masjid, menemui marbot yang sedang menyapu itu.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam," jawab Ridwan
"Maaf. Saya diminta Abah mengantarkan ini untuk sarapan." Hasna memberikan bungkusan kepada Ridwan.
"Terima kasih." Ridwan menerima bungkusan itu. Kemudian pergi ke kamarnya. Di samping masjid ada bilik kecil untuk tempat tidur Ridwan. Didalamnya ada tempat tidur, lemari kayu, meja dan kursi. Ridwan juga menyediakan cermin di kamarnya. Sesekali memeriksa wajahnya di cermin.
Sementara Hasna setelah memberikan bungkusan tadi kepada Marbot, Hasna masuk ke tempat sholat perempuan. Hasna membersihkan tempat itu lalu membersihkan jendela dengan kemoceng. Setelah selesai bersih-bersih, Hasna menata lipatan beberapa mukena yang ada di lemari kecil di pojokan tempat sholat perempuan. Karena Marbot laki-laki tidak ditugaskan membersihkan tempat sholat perempuan. Setelahnya, Hasna keluar dan menaiki sepedanya untuk berkeliling jualan kue.
Ridwan berada di toko pertigaan jalan yang tidak jauh dari masjid. Ia membeli peralatan untuk mandi. Ketika ia keluar dari toko, dilihatnya Hasna sedang melayani beberapa orang yang membeli kuenya.
"Rajin sekali gadis itu. Siapa dia? Tanya Ridwan dalam hati.
Setelah Hasna mengayuh sepedanya dan pergi, Ridwan berjalan kembali ke masjid. Ia meneruskan belajar buku-buku agama yang dipinjami oleh Pak Kyai Hasan. Ia juga mulai menghafal ayat-ayat Al-Quran.
Setelah selesai sholat isya, Kyai Hasan mendekati Ridwan yang duduk di barisan belakang.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam Yai," Ridwan berdiri mencium tangan Kyai Hasan.
Kemudian mereka duduk.
"Bagaimana, apa kamu betah jadi marbot di sini?" Tanya Kyai Hasan bertanya kepada Ridwan yang sudah hampir seminggu jadi marbot masjid.
Pada awalnya bagi Ridwan sebagai marbot itu terasa sangat berat. Bahkan di hari pertama setelah bekerja seharian membersihkan masjid, badannya terasa remuk seperti orang habis dipukuli. Karena ketika dirumah, ia tidak pernah sekalipun memegang sapu atau kemoceng. Karena semua keperluannya sudah dipenuhi oleh pembantu di rumahnya. Baru kali ini ia merasakan hidup normal, layaknya orang biasa, tanpa menggunakan fasilitas mewah miliknya.
"Alhamdulillah saya betah, Yai." Jawab Ridwan.
"Sudah sampai mana hafalanmu, Nak?" Kyai Hasan mengecek hafalan Ridwan. Selain hafalan, Ridwan belajar banyak tentang ilmu agama dari Kyai Hasan.
"Sangat cepat hafalanmu, nak."
Ridwan hanya menunduk. Dulu sewaktu kecil Ridwan pernah belajar mengaji, setelah orang tuanya pindah keluar negeri, ia pun ikut pindah, membuat ia tak meneruskan mengajinya. Meski begitu, Ridwan anak yang cerdas, ingatannya sangat tajam, dasar-dasar ilmu mengaji yang dulu iya terima, masih ia ingat, itu memudahkannya menghafal sekarang.
"Oh ya, tempat sholat perempuan, bukan tugasmu yang membersihkan. Ada Hasna anakku yang mempunyai tugas membersihkan," Kyai Hasan mengingatkan lagi.
"Iya, Yai." Jawab Ridwan.
Setelah memberi beberapa wejangan kepada Ridwan, Kyai Hasan kembali ke rumahnya yang tidak jauh dari masjid.
"Sudah malam, kamu segera istirahat, supaya waktu subuh tidak bangun kesiangan! Aku juga mau pulang." Kyai Hasan berdiri sambil menepuk bahu Ridwan,
"Iya, Yai."
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam, Yai." Kyai Hasan keluar dari masjid.
Ridwan menyamar jadi marbot masjid tompelan, tompelnya tompelan palsu yang dia beli. Supaya orang tidak mengenalinya. Sesungguhnya dia adalah pengusaha muda tampan, sukses yang memiliki perusahaan besar. Karena ia bosan hidup dengan kemewahan yang dia miliki, ia menyamar jadi marbot masjid di sebuah desa. Selama jadi marbot, Perusahaannya ia serahkan kepada asistennya untuk mengurusnya.
Setelah empat bulan menjadi marbot, Ridwan kembali ke rumahnya. Tentu saja Ridwan sudah tidak menggunakan tompel palsunya. Ia kembali dengan Ridwan yang muda dan tampan. Ditambah lagi memiliki ilmu agama yang matang.
"Assalamualaikum, Ma, Pa," salam Ridwan kepada Mama dan Papa yang sedang duduk di ruang makan.
"Waalaikumsalam, sayang," jawab Mama dan Papa bareng.
Ridwan mencium bergantian kedua orang tuanya.
Kedua orang tuanya sudah sangat rindu dan menunggu kedatangannya. Karena selama empat bulan tidak pernah ketemu anaknya. "Bagaimana keadaanmu, Nak?" Tentu saja hal yang paling pertama yang ditanyakan orang tua adalah keadaan anaknya.
"Ridwan baik, Ma, Pa. Sehat walafiat tak kekurangan suatu apapun, berkat doa dari Mama dan Papa. Mama dan Papa juga sehat, kan?"
Ridwan bisa mengetahui keadaan Mama dan Papa setiap saat, karena cctv yang dipasang di rumahnya juga ia sambungnya ke hpnya. Begitupun dengan perusahaannya yang ia serahkan kepada asistennya. Selain itu, Ia dan asistennya selalu komunikasi setiap hari. Asistennya yang setia juga sering mengunjunginya ke masjid.
"Mama dan Papa satu yang kurang sehat, Wan," kata Mama dengan mimik serius.
Ridwan bingung mendengar penuturan Mama. Ia lihat Mama dan Papa baik dan sehat saja, tapi kok berkata satu yang kurang sehat.
"Apa Ma, Pa?" Tanya Ridwan penasaran.
"Mama pingin punya mantu dan cucu, kapan akan kamu wujudkan?"
"Ridwan masih usaha, Ma," bukan tidak ada wanita yang tidak suka dengan Ridwan. Wanita yang mengejarnya banyak. Dari kalangan artis, konglomerat, bahkan ada yang rela akan memberikan keperawanannya demi mendapatkan cinta Ridwan. Tapi Ridwan tidak menanggapi satu pun di antara para wanita itu.
Ridwan ingin wanita yang menjadi pendamping hidupnya adalah wanita yang tidak memandang dirinya dari kekayaan harta atau jabatan yang ia punya. Ia ingin wanita mencintainya tulus dari hati.
"Atau Mama jodohkan dengan anak teman Mama, ia gadis cantik, rajin, mandiri, sholehah."
"Nanti saja, Ma. Ridwan masih capek. Mau istirahat sekarang," Ridwan bangkit dari kursinya menuju ke kamar.
"Siapa gadis yang Mama maksud?" Tanya Papa setelah Ridwan berlalu masuk kamar.
"Anak teman kita, Pa. Yang punya masjid di desa A. Yang dulu pernah kita kunjungi setelah kita pulang dari luar negeri,"
"Anaknya Hasan kah, Ma?"
"Nah, itu Papa ingat." Tadi Mama nggak menyebut namanya, karena Mama lupa nama temannya itu.
"Ayo, Pa! Sewaktu-waktu kita datang silaturahmi ke sana, sekalian menjodohkan anak kita," Mama menyampaikan idenya.
Hasan adalah teman Mama dan Papa jaman SMA dulu.
Hari Minggu, di masjid ada acara santunan anak yatim. Ridwan bersama asistennya datang ke sana. Ridwan tidak lagi jadi marbot, tapi ia jadi donatur bagi anak-anak yatim. Tanpa sepengetahuannya, Mama dan Papa juga datang. Karena Mama dan Papa adalah pendonor tetap sejak beberapa tahun yang lalu.
Setelah acara santunan selesai, kesempatan itu selain untuk silaturahmi juga dijadikan untuk menjodohkan Ridwan dengan Hasna, tanpa ada penolakan dari Ridwan maupun Hasna.