Perjodohan? Bukan! Ini pemaksaan! Ya, Lidya terpaksa menikah. Lebih tepat jika disebut dipaksa. Lidya dipaksa menikah dengan seorang pengusaha ternama di kota ini oleh kedua orang tuanya.
Menikah dengan pengusaha ternama kedengarannya seperti hal yang seru. Bergelimangan harta, mendadak terkenal, dan berbagai hal lain yang diimpikan oleh banyak wanita pada umumnya.
Sayangnya, kisah pernikahan Lidya tidak seindah drama Korea yang sering ditontonnya.
Sedikit rasa takjub terlintas di hati Lidya. Ia memperhatikan detail wajah suaminya. Ternyata pria itu memiliki paras wajah yang lumayan meskipun gurat wajahnya memperlihatkan garis-garis yang tegas.
"Dia terlihat kejam..." Batin Lidya.
Lidya pernah mendengar desas-desus yang tidak sedap tentang sosok pengusaha ternama tersebut. Dia dikabarkan pendiam, dingin, dan kejam.
Lidya sendiri sebenarnya tidak ingin menikah terlalu cepat. Dia ingin menyelesaikan kuliahnya dulu. Dia tidak ingin repot-repot terikat dalam hubungan pernikahan.
Namun apa daya Lidya. Dia tidak bisa membantah perintah kedua orang tuanya. Sejak usaha papanya bangkrut, kondisi ekonomi keluarga Lidya benar-benar sulit.
Proyek papanya mengalami kerugian miliyar rupiah. Tagihan di bank sudah mulai jatuh tempo. Ketiga adik laki-laki Lidya masih duduk di bangku sekolah. Semuanya membutuhkan dana yang tidak sedikit.
Lidya yang masih duduk di semester V harus merelakan kuliahnya terganggu oleh persiapan acara pernikahannya dengan pria berwajah kejam itu.
Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa diam-diam Lidya menyimpan sejumlah uang di sebuah bank swasta. Ia juga getol mengikuti investasi pada bursa saham online di beberapa perusahan start up internasional.
Sejak semester pertama kuliah, Lidya sudah membayangkan bahwa hal ini akan terjadi di keluarganya. Gaya hidup papa dan mamanya yang hedon bisa membuat mereka pailit di kemudian hari.
Benar saja, ketika covid-19 melanda, inflasi terjadi dimana-mana, harga barang dan bahan bakar merangkak naik. Pola hidup konsumtif semakin memperparah keadaan keuangan keluarga. Cobaan hidup dimulai ketika rekan kerja papanya melarikan uang proyek sehingga papa Lidya menghabiskan banyak uang pribadi untuk mengusut tuntas kasus penggelapan uang proyek tersebut.
Sebenarnya Lidya bisa saja menolong kedua orang tuanya. Akan tetapi, Lidya sudah paham betul kebiasaan kedua orang tuanya. Lidya tidak ingin tabungannya terkuras sia-sia demi memenuhi kebutuhan keluarga dan gaya hidup kelas atas mereka. Itu adalah tabungan masa depannya!
Akhirnya, kedua orang tua Lidya menemukan solusi cepat dan tepat. Seorang teman lama mamanya menawarkan bantuan dengan cara menjodohkan anak mereka.
Dan kini Lidya telah menikah!
Lidya menatap dingin ke arah sang pengantin pria, Rio. Kini dirinya yakin, desas-desus yang beredar itu benar adanya. Pemuda berwajah kejam itu sepertinya benar-benar memiliki perangai yang buruk.
Prasangka buruk Lidya diperkuat oleh permintaan kedua orang tua Rio. Mereka berharap setelah menikah dengan Lidya, Rio akan berubah menjadi lebih baik dan lebih bertanggung jawab.
Namun kini Lidya menjadi pesimis setelah melihat langsung sosok Rio dari dekat. Firasatnya mengatakan bahwa dia harus berhati-hati dengan pria asing yang kini telah sah menjadi suaminya itu.
Satu hal yang membuat hati Lidya tenang adalah bahwa dirinya memiliki kemampuan bela diri yang mumpuni. Sejak masih di bangku SMA, Lidya juga secara diam-diam mengikuti klub bela diri. Dia sangat menyukai taekwondo dan silat. Dia mempelajari semuanya secara bertahap.
"Ayo masuk ke rumah!" Rio berkata pada Lidya seolah sedang memberi perintah.
Lidya tersentak. Ia benar-benar sedang melamun. Ia masih duduk manis di dalam alphard hitam milik suaminya. Ia bergegas turun dari mobil ketika sopir pribadi Rio membukakan pintu mobil.
"Dengarkan aku! Aku adalah penguasa di rumah ini. Tidak ada yang boleh membantah perintahku." Ujar Rio ketus.
Lidya hanya menyimak. Dia tidak mengeluarkan sepatah katapun. Ternyata hal itu membuat Rio jengkel.
"Hei bodoh! Kau dengar kata-kataku?!" Bentak Rio.
"Namaku, Lidya! Anda sudah menyebutnya dengan benar tadi. Tolong panggil namaku dengan baik dan benar!" Lidya berkata dengan suara tegas.
Rio terlihat kaget. Dia belum pernah menghadapi wanita yang berani berbicara seperti itu di hadapannya. Rio berjalan mendekat ke arah Lidya yang sedang duduk tenang di sofa.
"Wowww... Sepertinya nyalimu boleh juga! Kemiskinan memang bisa membuat orang jadi nekat." Rio mulai mencemooh.
Lidya mulai meradang mendengar kata-kata cemoohan Rio. Dia menatap Rio dengan tatapan sinis.
"Tuan Rio yang terhormat! Dengarkan aku. Jika anda tidak bisa bersikap baik dan sopan terhadapku, jangan harap aku bersikap sebagai seorang istri yang baik dan patuh!" Ujar Lidya dengan nada mengintimidasi.
"Grrrrrr... Kau berani mengancamku!" Rio mulai menggertakkan giginya.
Lidya menatap Rio dengan tatapan sinis dan tersenyum simpul. Dia menegakkan posisi duduknya. Dia mulai membaca gerakan yang akan dilakukan oleh pria yang sedang berdiri di hadapannya itu.
Rio mengarahkan tangannya ke arah wajah Lidya. Namun dengan cepat Lidya menangkis tangan Rio sambil berdiri. Lidya memutar tangan Ryo dan menjatuhkan tubuh pria itu ke lantai dalam satu gerakan cepat.
Entah bagaimana Lidya melakukannya, yang jelas Rio berhasil tersungkur di lantai. Bibirnya mulai mengucurkan darah segar.
"Aku bisa melakukan lebih dari ini jika anda menginginkannya, Tuan Rio." Desis Lidya.
"Kau... Kau... Beraninya kau melawan suamimu!" Rio mulai meracau sambil meringis.
"Sekarang anda tinggal memilih. Ingin diobati atau ingin diperparah?" Ujar Lidya sambil tersenyum sinis.
Rio menyeka darah di bibirnya. Dia tertegun melihat Lidya yang sedang tersenyum dan menatapnya tajam. Entah mengapa, Rio merasakan sesuatu yang aneh di hatinya. Rio sudah terbiasa melihat wanita yang lemah dan murahan. Namun sepertinya wanita yang ada di depannya ini adalah jenis yang berbeda.
"Dimana kamar pengantin kita?" Tanya Lidya sambil berdiri berkacak pinggang.
"Kau benar-benar ingin ke sana?" Rio balik bertanya.
"Tentu saja. Aku ingin beristirahat." Ujar Lidya datar.
"Belajarlah bersikap lebih sopan, Tuan Rio! Jika anda benar-benar ingin memiliki seorang istri yang patuh." Sambung Lidya masih dengan intonasi suara yang datar.
Rio kembali terhenyak. Dia merasa sangat emosi. Namun tubuhnya terasa sakit semua. Bahkan untuk berdiri tegak saja ia merasa kesusahan.
Lidya memperhatikan Rio yang masih meringis dan sedang berusaha duduk dengan baik. Pria itu sepertinya masih merasa kesakitan di bagian pinggangnya.
Lidya mendekati Rio. Tanpa diduga, Lidya membantu Rio berdiri dan memapah tubuh Rio agar bisa duduk di sofa.
Rio merasakan sentuhan yang lembut dan hangat dari Lidya. Ini benar-benar berbeda. Dia belum pernah mendapatkan sentuhan seperti itu dari siapapun. Hidupnya terlalu keras, bahkan mamanya juga tidak pernah bersikap lembut padanya. Semua orang di dunia ini menganggap dirinya buruk dan tidak berguna. Hal itulah yang membuat dirinya menjadi pria yang kasar.
Hati kecil Rio saat ini membisikkan sesuatu. Sesuatu yang berbeda sedang terjadi di hatinya. Wanita yang imut namun kuat ini kini telah menjadi istrinya. Anehnya, wanita ini juga sangat tenang dan tidak sedikitpun terlihat gentar di hadapannya.
"Wanita ini berbeda!" Bisik hati kecil Rio.
***TAMAT***