Selamat sore.
Ini suratku yang pertama. Setelah itu akan menyusul surat surat berikutnya. Kuharap sebelum menginjak ke surat yang kedua bacalah yang pertama ini sampai tamat dan sampai betul-betul mengerti.
Sebab apabila sekali ini tidak kau mengerti untuk selanjutnya kau lebih takkan mengerti lagi. Dan, seandainya kau sedang menganggap remeh tentang isinya berarti kau telah berani menghadapi tantangan maut. ingat sekali lagi:maut!
Aku tidak sedang menakut-nakutimu. aku hanya menasehati agar kau mengerti. Sesuatu yang kau mengerti dari sini akan membuatmu selamat,baik dunia maupun akhirat.
Inilah dasar dari isinya.
Supaya tak berkepanjangan, baik akan kutulis pokok pembicaraannya.
Kau tau Bukit Kerbau, bukan? Di tempat inilah aku sedang duduk sambil menulis kertas selembar ini. Di sini tak ada alas meja. Oleh karena itu, kau harap maklum dengan tulisan ku yang tidak rata tersebut.
Bagiku yang terpenting adalah isinya dan dapat di baca.Aku sengaja memilih tempat ini sebab di tempat ini pula pertama kali kita bertemu. Betapa tempat ini bagiku memberi kesan yang mendalam walau sebelumnya tidak demikian.
Aku sangat terkesan apabila duduk di sini, sebab setidak-tidaknya kau pernah hadir disini dan sempat pula mengetuk pintu hatiku.
Pintuku selalu terbuka untuk siapa saja.
Namun, kaukuanggap tamu yang lain dari pada yang lain.
kau tau bagaimana indahnya bulan purnama di atas Bukit Kerbau? Aku telah menyaksikannya dengan sengaja sebanyak lima belas kali.
Dan,sebentar lagi bulan purnama akan menunjukkan wajahnya pada ku untuk ke-enam belas kalinya. Akan tetapi, kau baru satu kali hadir dihadapanku.
Seandainya kau bulan, aku tak akan menganggapmu seindah dia. Kau lebih istimewa dari bulan purnama sekalipun. Betapa kehadiran mu yang sekali itu menggetarkan seluruh sendi-sendi tulang dalam tubuhku. Sementara mengingat wajahmu aku telah lupa dengan sinar bulan yang kelima belas kali itu.
Dalam surat yang pertama ini aku sengaja menyebut namamu dengan "kau".
Sebab, aku masih merasa takut untuk mengatakannya secara langsung, ataukah mungkin aku masih ragu-ragu? Entahlah. Kau takkan mengetahui isi hatiku yang sebenarnya.
Disini sepi tidak ada kau, tetapi sebelum ada kau, tempat ini memang sudah sepi. Dan, sejak kau pergi aku merasakan betapa kian sepi daerah ini.
Dahulu, nyanyian Gagak di rimbun bambu itu merupakan hiburanku satu-satunya, dalam kesepian. Namun sekarang nyanyian binatang itu dan suara Bambu yang terbentur oleh hembusan angin tak lagi menarik bagiku.
Mereka kuanggap benda mati, sepertinya tiada mereka di tempat itu. Bukan karena apa-apa, yang jelas karena aku memang sudah tidak meranjau Gagak lagi sejak kepergianmu itu.
Waktu itu kau pernah berkata. "Gagak ini adalah lambang persahabatan kita. Apabila salah satunya mati, berarti putus hubungan kita! "
Sampai sekarang perkataan mu itu masih terngiang-ngiang di telingaku. Dan, aku takkan dapat melupakannya walau dalam keadaan tidur sekalipun. Sebab, ia selalu akan singgah dalam mimpi mimpiku.
Ketahuilah bahwa dua ekor Burung Gagak itu, yang kau anggap sebagai lambang persahabatan kita, sekarang yang betina sedang jatuh sakit.
Aku khawatir sebentar lagi dia akan mati. Seandainya Gagak itu mati, bukankan ini berarti putusnya hubungan kita? Oleh karena itu aku cepat cepat menulis surat kepadamu. Aku sangsi dengan sakitnya si Bule Gagak betina itu, lalu kau akan jatuh sakit pula, ataukah memang engkau sengaja memberi penyakit kepada si Bule agar hubungan kita putus?
Aku percaya, kau takkan setega itu untuk memutuskan persahabatan kita dengan begitu saja.
Nah,kukira kau sudah mengerti dengan maksud ku. Tak lain aku khawatir dengan sakitnya si Bule itu. Dan, permintaanku sebelum bulan purnama ke-enam belas kalinya ini, balaslah suratku agar aku tak pelu lagi bersunyi-sunyi seperti ini.
Selamat sore sahabat
....Samsuri....
Aku menutup surat itu. Tanganku masih gemetar. Yang jelas surat itu memang sengaja di tujukan kepada Tini, adik bungsuku.
Yang membuatku gemetar ialah Tini telah meninggal dunia tiga minggu yang lalu, karena kecelakaan lalu-lintas. Dan,sekarang si pengirim surat itu belum tau kalau Tini sudah tiada.
Yang membuatku bingung siapakah Samsuri itu sebenarnya? Apakah dia pacar atau sahabat Tini? Namun mengapa adanya di Bukit Kerbau? Dan, di manakah letak Bukit Kerbau itu?
Dengan tangan yang masih gemetar kusimpan lagi surat itu kedalam laci meja belajar Tini. Surat itu nampaknya tertanggal jauh sebelum Tini meninggal. Tentu Tini sudah lama menyimpan surat tersebut. Kini,aku tau apa yang dimaksud dengan Gagak itu.
Disitu dia menuliskan bahwa seekor Gagak telah jatuh sakit. Dan, dituliskan pula bahwa seandainya Tini menyepelekan surat itu, Tini akan mendapat tantangan maut. Ya mungkin inilah inti dari surat itu.
Mungkin Tini menganggap sepele peringatannya itu hingga akhirnya ia mendapat kecelakaan. Itulah mungkin yang di maksud dengan maut oleh si penulis surat. Namun, sekali lagi siapakah samsuri itu?
Aku membuka-buka kembali buku Tini. Siapa tau aku menemukan identitas dan alamat samsuri yang terselip di buku-bukunya itu. Namun, hingga buku hariannya aku buka, aku tidak juga menjumpai identitas samsuri.
Tini tidak membuat catatan kejadian baik yang berhubungan dengan surat itu maupun penulisnya.
Dalam buku hariannya yang terakhir, ia hanya menulis bahwa ia merasa lelah sekali setelah berlatih keras bola voli untuk persiapan pertandingan antarsekolah.
Ya, seandainya ada identitas atau alamat samsuri tentu aku akan membalasnya dan memberi tahu bahwa Tini sudah almarhum. Namun, alamatnya itu hanya di Bukit Kerbau saja, sedangkan aku sama sekali tidak tahu dimana letak Bukit Kerbau itu. Namanya saja baru aku dengar kali ini.
Sore itu, Pak Pos datang mengantarkan surat. Ternyata, surat dari Bukit Kerbau lagi. Surat itu juga ditujukan kepada Tini.
Dengan diam-diam kubaca isinya di dalam kamar Tini.
....Selamat malam, sahabat...
Hari ini bulan purnama telah menunjukkan wajahnya yang ke-enam belas kali. Lihat, betapa elok tampaknya. Namun, sayang kau tak ada di sampingku. Seandainya ada, ingin sekali aku mengajakmu bercakap-cakap seperti dahulu membicarakan soal keindahan bulan.
Dan, kini aku merasa sedih sebab kau tak membalas suratku.
Sekarang, aku tahu ternyata persahabatan kita memang hanya sampai di sini. Ketahuilah, Sahabat, gagak yang kita jadikan lambang persahabatan itu, kini yang betina telah mati.
Tak apalah. Mungkin ini memang sudah takdir.
Biarlah aku bersunyi-sunyi kembali seperti dahulu di Bukit Kerbau ini.
Selamat berpisah, Sahabat. Selamat malam dan "Selamat tidur"
.....salamku.....
......Samsuri.....
surat itu berakhir sampai disitu. Dan, sekali lagi tanganku bergetar setelah membacanya. Kata-kata terakhir yang berbunyi "selamat tidur" dan diberi tanda petik itu seolah-olah mengandung misteri yang dalam.
Ya, Tini saat ini memang tidur di pusaranya dengan tenang. Namun, sekali lagi siapakah Samsuri itu???..