Aku punya identitas Tersembunyi yang hebat, sebuah rahasia yang tidak ku ketahui.
Aku hidup seorang diri sejak semua keluarga ku kembali ke sang pencipta 7 tahun yang lalu, pada saat itu aku berumur 10 tahun. Aku yang masih kecil tentu saja tidak bisa hidup seorang diri, oleh karena itu aku di bawa ke panti asuhan.
Dan 2 tahun yang lalu aku keluar dari panti asuhan atas keinginan ku sendiri, yang seharusnya aku baru bisa keluar panti asuhan saat usia 17 tahun. Kini usia ku sudah 17 tahun, dan aku baru mendapatkan kartu tanda penduduk ku kemarin.
Sejak meninggalkan panti asuhan aku bekerja di cafe, sehingga sekarang aku bisa hidup dengan layak. Dari gaji ku berkerja di cafe aku bisa tidur di kontrakan minimalis, satu kamar yang berisi segala hal yang ku perlukan.
Karena aku bekerja di cafe, aku tidak perlu membeli makanan di luar lagi. Bos ku cukup baik dan pengertian dengan keadaan ku ini, jadi dia selalu memberikan beberapa makanan gratis untuk ku makan. Tapi aku sadar diri dan juga tidak ingin orang lain cemburu karena hal ini, jadi aku lebih sering memasak masakan sendiri.
Lalu bagaimana dengan pendidikan ku? Semenjak di tinggal oleh keluarga ku karena kecelakaan, aku berhenti sekolah. Dan saat di panti asuhan aku memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan lagi sampai sekarang ini. Aku tidak suka menyusahkan orang lain.
Kini aku sudah merasa sangat puas dengan hidup ku, tidak ingin meminta apapun pada Tuhan untuk sekarang ini. Dan pada saat seperti ini seringkali pikiran negatif singgah di otak ku, membisikkan sesuatu yang membuat ku ketakutan.
Sesuatu itu seperti, bagaimana jika aku kehilangan seseorang yang berharga untuk ku sekali lagi? Pikiran ini membuat ku menjadi gila.
Ya Tuhan janganlah engkau merenggut kebahagiaan ku lagi, aku sudah bahagia sekarang ini. Dan aku pun tak pernah lupa pada sesama ku untuk memberikan bantuan kepada mereka sesuai dengan kemampuan ku, aku pun juga tak pernah lupa selalu bersyukur untuk segala kenikmatan yang kau berikan padaku.
"Prin, kau sedang apa di sini?"
"Hah?" Lamunan ku buyar seketika saat teman ku di tempat kerja memanggil nama ku.
"Maaf, aku tadi sedang melamun."
"Ck ck ck, waktu istirahat udah habis. Mau kerja lagi, atau pulang ke rumah buat lanjut tidur hah?"
"Hehehe maaflah, aku keasikan sendiri, sampai nggak sadari ngelamun. Aku lebih milih lanjut kerja, lumayan duit nya bisa buat malam mingguan di pasar malam weekend besok hehehe."
"Ya udah bangun, jangan nyengir gak jelek gitu." Temen ku langsung meninggalkan ku pergi setelah berucap seperti itu.
Dasar, malu-malu kucing. Dia itu baik ya, cuma bingung buat mengekspresikan perasaannya. cuma dia temen kerja ku satu-satunya yang mau bicara dengan ku, yang lainnya hanya akan berbicara padaku saat ada hal yang berhubungan dengan pekerjaan. Aku tidak mempermasalahkan hal ini, karena ini justru baik untuk ku yang tidak ingin berurusan dengan banyak orang.
Semakin kecil presentasi untuk mendapatkan masalah bukan??
Tring!
Itu bunyi lonceng di pintu yang berbunyi, yang artinya ada pelanggan yang datang, dan aku harus bersiap di meja kasir.
"Selamat datang di Cafe Coffe tuan, anda ingin memesan apa?"
Sudah 2 tahun aku bekerja di sini, mendapatkan posisi di meja kasir, tentu saja hal ini perkara mudah untuk ku karena aku sudah suhu dalam pekerjaan ini.
"Maaf, ada yang ingin saya tanyakan sebelumnya."
"Tentu, ada yang bisa saya bantu?"
"Apa nona bernama Aprina Putri?" Pelanggan di depan ku ini membuat ku syok, karena ternyata dia bertanya nama ku.
Dengan ekspresi wajah terkejut ku, aku menganggukkan kepala sebagai jawaban. Otak ku langsung jadi susah sinyal untuk bisa merespon keadaan ini, jadi mulut ku tidak bisa menjawabnya langsung.
Orang asing di depan ku ini tersenyum sesudah aku menjawab pertanyaannya, astaga apa yang terjadi ini...
"Bisa saya berbicara dengan bos mu?" Kali ini dia bertanya dengan senyuman ramah, tidak seperti sebelumnya. Apa ini, apa dia punya niat jahat padaku??
Astaga tuan, kau harus tahu aku ini manusia yang hidup sebatang kara yang tak memiliki harta berlimpah, jadi jangan culik aku. Aku ini orang kumuh juga, jadi pasti oragan ku tidak seteril.
"Nona?" Seruanya membuat lamunan ku ambyur, oke kini aku harus mengumpulkan keberanian untuk menghadapi nya.
30 menit kemudian, aku menghitung waktu yang berjalan karena merasa sangat gugup dengan kondisi sekarang. Semuanya terasa begitu cepat terjadi, otak ku tak bisa memproses apa yang terjadi.
Dari pelanggan yang datang ke cafe, tapi dia tak memesan satupun menu, dan justru menanyakan nama ku lalu meminta untuk bertemu dengan boss ku. Oke, lalu orang asing yang tak ku kenal itu bertemu dengan boss ku, lalu 2 laki-laki dewasa itu masuk ke dalam ruangan boss ku tanpa ku tahu mereka berbicara apa.
Lalu...apa yang terjadi setelah itu? Aku di yakinkan oleh boss ku jika orang asing itu baik, dan dia ingin mengajak ku ke suatu tempat. Terlihat seperti boss ku sedang menjual ku bukan, dan aku pun mengikutinya tanpa banyak tanya.
"Dia orang baik Prin, jadi ikut aja nggak perlu takut." Ucap boss ku tadi, yang membuat ku jadi terduduk di dalam mobil sedan mewah yang sedang berjalan dengan kecepatan sedang ke suatu tempat yang sama sekali tidak ku ketahui.
Bagus Prin, kau di bawa ke tempat baru dan dari awal perjalanan justru ngelamun bukan nya mikirin sebuah ide untuk jaga-jaga kalau orang yang sedang menyetir di depan mu ini orang jahat.
Hufth, aku hanya mampu menghela nafas sekarang ini. Kenapa sekarang semuanya berlalu begitu cepat sih? Sekarang tau-tau aku sudah duduk di... ruangan yang besar dan mewah. Tadi kayak nya aku masuk ke istana deh, nggak mungkin rumah.
Dahlah, aku menyerahkan diri ke Tuhan yang maha esa. Karena kalo sesuatu terjadi, jalan kabur satu-satunya yang ku miliki adalah mati.
"Aprina Putri, bukan?" Aku menoleh ke arah sumber suara tersebut, dan mendapati seorang wanita paruh baya yang di balut baju elegannya tersenyum ke arah ku.
Aku hanya mampu menjawab pertanyaannya dengan anggukan kepala, sesaat setelah itu aku merasa tidak sopan karena menjawabnya seperti itu, aku jadi takut jika dia tersinggung. Aku ingin menjawabnya dengan benar, tapi ibu-ibu ini langsung memeluk ku.
Apa ini? Ke-kenapa ini?? Aku di hukum dengan pelukan??
"Putri ku, akhirnya mama bisa memeluk mu lagi. Lihatlah, kau sudah mengalahkan tinggi ku, kau sudah besar sekarang." Wanita di depan ku ini melepaskan pelukannya, dan mengecupi seluruh wajah ku dengan lembutnya sambil berucap kata-kata yang membuat ku syok.
Dag! Dig! Dug! Deg! Duaaarrrr
Kalian tidak tahu aku punya penyakit jantung hah? aku jadi kena serangan jantung ini karena kejadian mendadak ini.
Bodoh kalian semua, aku jadi tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa semua ini terjadi pada ku, aku jadi mati penasaran karena tidak tahu alasannya.
Telepon malaikat maut sekarang, atau nggak kirim surat ke akhirat sini buat kasih penjelasannya. Tuhan tahu aku anak baik, nggak jadi arwah penasaran yang bergentayangan menghantui kalian.
Pada akhirnya, rahasia yang selama ini di sembunyikan dari ku...ku ketahui saat aku mati. Rasanya... pengen demo di depan gedung malaikat maut untuk protes, tapi ya nggak bisa karena aku keburu masuk surga.
Nggak apa-apa nggak jadi anak orang kaya no 1 di dunia, yang penting masuk surga.
Segala hal hebat yang ada di dunia ini tak bisa menandingi surga nya Allah, kawan-kawan ku. Jadi mari hidup dengan bahagia, selalu bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan, dan jangan lupa untuk sedekah biar bisa masuk surga.
•
•
•
Sekian dari saya, maaf bila ada kesalahan ketik, ataupun bahasa yang tidak enak di baca, dan jika ada kata-kata yang saya tulis bikin kalian tersinggung, mohon maaf sebesar-besarnya.