Aku Sandrina biasa dipanggil Sandi, Rasanya sangat sulit melepaskan kebahagiaan dan canda tawa bersama ayah di hari-hari lalu. Sudah setahun lamanya canda tawa itu tak lagi terdengar. Kini hanya kenangan manis yang terngiang dalam rumah yang bagiku besar. Kini hanya aku, ibu tiriku, dan saudara tiriku, Melinda.
Kata ayah, ibuku telah pergi setelah aku dilahirkan, namun ia tak pernah menjelaskan apakah ia pergi karena syahid atau ia pergi karena kesakitan cinta. Aku tak tahu sekarang apakah ibuku masih ada di dunia ini, atau dia sudah tersenyum bahagia bersama ayah di langit sana.
Saat itu langit terlihat seperti ombak hitam bergulung-gulung. Ayah menatapku dengan penuh seraya memegangi pundakku dengan kukuh. "Sandinya papa! Papa pergi sebentar ya. Sandi jaga diri baik-baik" Ayah mengeluarkan sepucuk surat kepadaku. Kuterima surat itu dengan penuh heran. Ayah memelukku dengan sangat erat. Tak seperti surat biasanya, amplop yang diberikan agak berat dari biasanya. Ku letakkan amplop surat itu diatas mejaku an bergegas mengikuti ayah keluar.
Didepan kulihat ibu tiriku yang menyongsong ayah menuju mobil yang terparkir dijalanan kecil itu. "Hati-hati ya sayang!" Ucap ibu tiriku sambil memeluk ayah.
"Kau jaga anak-anak ya! Aku tidak tahu berapa lama aku akan pergi untuk proyek besar ini," Ucap ayah dengan penuh harap. Matanya melihat kearahku dan Melinda yang berdiri di samping pintu. Waktu itu aku benar-benar belum menyadari bahwa itu akan menjadi lambaian yang terakhir kalinya padaku. Seperti hendak aku berlari untuk mendapat pelukan dari ayah. Namun rekannya yang menjemput ayah sudah cepat-cepat membawa ayah serta mobil itu dengan laju, menyapu dedaunan kering yang terlantar dijalanan.
Saat ku kembali pada kamarku, ku lirik amplop yang tergeletak di meja kayu buatan ayah. Saat itu juga suara gemuruh dari langit yang hitam berseru serang. Dengan segera terdengar suara hantaman kecil dari atap. Ku lihat ke arah jendela, suasana diluar yang sepi, hanya ada kabut putih yang menyelubungi, hingga ku hanya bisa memandang beberapa meter saja. Sambil duduk dibalik jendela, kubuka perlahan amplop surat itu, Secarik kertas terlipat didalamnya. Ku ambil kertas itu, kurasakan beratnya seperti ada sesuatu didalam kertas itu. Dengan penuh penasaran aku buka lipatan dengan perlahan, sebuah kunci tergeletak dalam kertas itu. "Kunci?" Tanyaku heran. Kemudian kubaca dalam hati coretan tangan seorang ilmuwan arkeolog yang tak begitu rapi. 'Untuk putri kesayangan ayah- Sandi ayah-Nak! Nak dibawah meja itu terdapat pintu menuju ayah, Bukalah pintu itu saat usiamu genap 17 tahun. Kau anak yang pintar. Jika ayah belum kembali, maka itu menjadi milikmu. Jagalah Rahasia ini sandi! Rahasia yang sangat penting untuk negara kita. Hanya boleh dibagikan pada keturunan sedarah. Ayah sangat menyayangimu Sandi,' Begitulah isi singkat dari secarik kertas yang berisi sebuah anak kunci.
"Apa maksud ayah begitu?" Pikiranku sudah tak fokus lagi aku mulai khawatir dengan ayah. Saat itu juga cahaya petir menyambar diikuti suara geledek yang mengagetkan diriku.
°°°
Besoknya ku tunggu telepon dari ayah sambil duduk dimeja makan yang kosong tanpa makanan, hanya segelas air putih saja yang menampakkan dirinya. Lama menunggu akhirnya suara yang aku tunggu-tunggu datang, bunyi dering telepon rumah nyaring mengisi ruangan. Kusambar langsung gagang telepon "Hallo Papa!" Ucapku dengan sangat riang. Namun yang mengecewakan bagilu adalah suara seseorang yang tak kukenal terdengar dari telepon itu, "Hallo, Maaf kami dari kepolisian apakah bisa bicara dengan Nyonya William?" Ucapnya. Tak lama sudah kuserahka telepon itu ke ibu tiriku. "Astaga!" Suara terkejut disertai dengan mimik wajah yang pucat mewarnai wajah ibu tiriku.
Setelah terdengar mereka selesai berbicara, aku langsung bertanya pada ibuku, yang tak kusangka jawabannya sangatlah memukul hidupku dan mengubah segalanya. "Ayahmu kecelakaan, dan sekarang jasadnya sedang dibawa kerumah. Kata polisi ia kecelakaan saat melintasi rel kereta, saat itu kabut dimana-mana. Mobil yang ditumpangi papa kamu langsung berpapasan dengan kereta yang sedang melaju!" Aku hampir tidak percaya! Jalanan rel disana memang sudah tidak ada pembatasnya yang otomatis jalan tertutup jika kereta hendak melintas. Namun memang sudah takdir, gemuruh suara hujan terdengar dimana-mana, kabut menyelimuti pandangan, sehingga supir tak lagi melihat jika kereta hendak melintas saat mereka tepat menyebrang. Aku tak kuasa menahan air mata yang mengalir. Teriakan ku seakan berharap ayah akan kembali, namun itu adalah hal yang mustahil.
°°°
Kini waktu setahunku sudah melintas tanpa ayah. Satu minggu lagi adalah hari dimana aku genap 17 tahun. Sekarang aku sudah masuk sebuah perguruan tinggi di kotaku. Universitas Sains dan Budaya itulah namanya. Melinda sekarang sudah 19 tahun dan dia masih satu angkatanh denganku. Dahulu ayah memasukkan aku lebih awal ke sekolah, sehingga aku juga lebih awal masuk universitas. Kami semua hanya hidup dari uang jamimnan yang ditinggalkan ayah. Tanpa bekerja uang itu pasti akan habis, apalagi mengingat ibu tiri dan Melinda yang selalu menhamburkan uang dengan cuma-cuma.
Selama satu tahun ini kelakuan ibu dan Melinda tidak bisa dibilang baik terhadapku. Selalu saja semua pekerjaan rumah aku yang mengerjakan, sedang mereka enak-enakan belanja dan buat kotor. Bila aku tidak beres dalam memasak maka aku tidak akan di beri makan, padahal hampir setiap hari aku keliru dalam memasak. Yang sekarang menemani aku hanya sebuah anak kunci yang sengaja aku gantungkan di leherku.
°°°
Aku bergegas melajukan sepedaku menuju kampus yang akan aku tuju. Tak lama waktu bagiku sudah sampai di gerbang kampus. Ku parkiran sepedaku diantara banyak mobil mewah bawaan anak-anak berada yang gengsi. Hal yang sangat membuatku kaget ketika tiba-tiba pintu mobil yang ada di sebelahku terbuka dan membenturku hingga keras, membuat aku dan sepedaku terjatuh. Terdengar suara tawa yang begitu jahat mengejekku. "Hei Sandi! Sepedamu itu sangat tidak pantas memasuki halaman sekolah ini!" Ucapnya dengan nada mengejek. Seoang gadis dengan gaun merah menyala masih memandangku. "Mell! Kau ini jahat sekali!" Teriakku kesal sambil membangunkan sepedaku. Kulihat Melinda saudara tiriku yang menaiki mobil mewah bersama pacarnya. Namun kekesalan tidak akan berujung baik itulah yang aku selau ingat dari pesan ayah.
°°°
Siang itu udara benar-benar menyengat kulit. Laju sepedaku seolah tertahan oleh panas yang menghalangi. Kuambil botol minum yang ada di saku tasku yang menelguk beberapa tetes sebelum air yang didalamnya tak tersisa lagi. Aku masih merasa haus dan masih berhenti sejenak di tengah jalur sepeda tanpa berpikir ada pangendara lain. Tiba-tiba saja kakiku goyah dan aku jatuh dari sepeda karena sesuatu yang menabrakku. Kepala kami saling membentur. Tak lama setelah itu terdengar bunyi erangan dan omelan dari seorang laki-laki yang saat itu juga terjatuh dari sepeda. "He! Jangan berhenti di tengah jalan!" Omelnya lebih panjang lagi. Kemudian kami sama-sama menjunjung sepeda kami dan saling memandang satu sama lain dengan wajah kesal. Sepertinya aku pernah lihat orang ini? Seperti tidak asing bagiku.
Lama dan semakin lama kami mengobrol, maksudku terlibat cekcok. Akhirnya kami tahu dan memutuskan bahwa kami memang bisa membaca pikiran satu sama lain. Apakah itu karena kecelakaan tadi?.
"Baiklah sekarang ban punyaku rusak!" Ucapku kesal. Ku lihat ia melirik roda sepedaku yang memeng sudah reot karena benturan tadi. "Huhh! Baiklah! Bagaimana jika kau mampir ke rumahku. Kebetulan itu sudah tidak jauh lagi, hanya perlu masuk di gang pojok jalan itu lalu beberapa meter sampai!" Katanya menawarkan, namun dalam hati aku masih sangsi. "Tidak usah ragu! Aku ini orang baik." Lanjutnya yang mendengar suara hatiku. Namun dengan tololnya aku, aku menggumam bahwa ia tampan dan tak mungkin ia ini orang jahat. Dan kemudian ia nyegir dan mengatakan bahwa memang ia tampan dan baik hati dengan percaya diri. "Tololnya aku!" Kesalku dengan ekspresi menyesal kesal. "Kau memang tolol!" Katanya kemudian. Kemudian kami menuntun sepeda masing-masing menuju rumah anak menyebalkan itu. Sebetulnya jika ia mau ia bisa menaiki sepedanya, namun sepertinya ia tidak enak jika aku harus mendorong sepeda dan dia menaiki sepeda.
Di tengah perjalan ia menegurku dengan langsung menyebut namanya, "Namaku Ethan! " Lalu aku menjawab tegurannya dengan menyebutkan namaku.
Tak terasa perjalanan sangat singkat, kini aku sudah berada dihadapan rumah sederhana namun besar yang terlihat di samping jalanan sepi itu. "Baiklah ayo masuk!" Kami masuk melewati pintu yang kokoh dengan ukiran khasnya. Ethan memanggil ibunya yang tak lama keluar seorang perempuan dengan paras cantik yang tubuhnya langsing dari balik tangga.
Ethan memperkenalkan aku pada ibunya dan menceritakan tentang kejadian yang membuat mereka bertemu. "Ohh kurasa wajah kalian hampir mirip ya?" Ucapnya dengan wajah agak gugup. Dengan cepat kami menghardik ucapan ibu Sarah. "Lupakan saja dulu Mam, aku harus membantu dia membetulkan rodanya yang penyok, kurasa digarasi ada beberapa roda yang tergeletak tak terpakai, mungkin saja ada yang pas,"
°°°
Selang beberapa jam akhirnya Ethan berhasil menyelesaikan pekerjaannya. "Sudah beres!" Ucap Ethan. Aku melihatnya dengan seksama, "Yaa, itu memang sudah beres. Tapi ukuran bannya lebih besar. Tapi itu bukan masalah, terimakasih sudah membantu Ethan."
Setelah membersihkan tangannya Ethan mengajakku melihat-lihat alam yang tersembunyi dibalik kota yang padat. Wow ternyata wajah asri masih terpampang dibalik gedung-gedung kota yang tinggi. Dihadapan kami terbentang pepohonan yang luas membentang, dan ada sebuah sungai kecil yang seolah memotong menjadi dua bagian wilayah. "Itu adalah sungai yang tadi kita lihat di jembatan kota, disana sungai terlihat sudah sangat kumuh, tapi sumbernya berasal dari sungai ini," ucap Ethan menjelaskan. Dalam hati aku sangat jatuh cinta dengan alam itu. Seperti dua wajah berbeda dari satu daratan.
"Hei, ngomong-ngomong tadi aku tak melihat ayahmu?" Tanyaku padanya. Dengan wajah yang datar dan terlihat pucat ia menjawab pertanyaan itu, "Aku belum pernah melihat bagaimana rupa ayahku. Ibuku juga tak pernah mau menjawabnya saat aku bertanya! Tapi pasti akan sangat menyenangkan saat bisa bersama-sama dengan ayah!" Aku merasa menyesal dengan pertanyaanku tadi. Sebaliknya juga ia bertanya padaku. Dan akupun memaparkan kenyataan padanya apa yang terjadi pada keluargaku.
Setelah makan malam selesai, Ethan bersikeras untuk mengantarku pulang. Dengan sepeda kami sudah sampai didepan sebuah rumah besar yang tersembunyi dibalik pepohonan rindang di sebuah gang sepi. "Itu rumahku!"
Aku mengajaknya untuk masuk sebentar, tak lam ibu dan Melinda keluar dan menemui kami berdua. Kami berbincang sebentar, kuperhatikan bagaimana ibu tiriku selalu saja menyanjung saudara tiriku Melinda di depan Ethan. Melinda yang saat itu berpenampilan seksi, kulihat ia dengan sengaja menggoda Ethan walaupun ia sudah memiliki kekasih. "Kurasa aku harus cepat-cepat pulang, ibuku pasti arah menunggu," Kata Ethan cepat-cepat. Ibu dan Melinda berusaha menahannya halus.
Aku dimarahi habis-habisan sehabis Ethan pulang. Dikatakannya aku sebagai wanita malam dan lainnya. Aku hanya bisa diam dengan memendam semua amarahku. Ku banting pintu kamar keras sampai terdengar teriakan kesal dari luar.
Paginya matahari tersenyum ramah, namun tidak dengan ibu dan Melinda. Mereka menyuruhku melakukan semua pekerjaan rumah, Jam sudah menunjuk kepukul setengah delapan pagi. "Sial, padahal jam delapan aku ada kelas!" Tanpa sesuap makanan yang masuk ke perutku aku berlari membelah jalanan supaya cepat-cepat sampai di kampus. Ditengah aku bertemu kembali dengan Ethan. "Naiklah San!" Tanpa pikir panjang aku langsung berpijak pada roda belakang dan berpegangan pada pundak Ethan.
"Akhirnya sampai," Tak kusangka aku dan Ethan ternyata satu kelas. "Jangan heran begitu! Kemarin aku sudah melihatmu, tapi mungkin kau yang belum melihatku!" Ucap Ethan.
Kami melewati hari dengan menyenangkan. "Sepedamu kemana?" Tanya Ethan. "Aku tak tahu, kurasa nenek lampir dan anaknya itu yang menyembunyikannya!" Jawabku kesal. "Maksudmu? Ibutirimu dan Melinda? Kurasa Melinda gadis yang baik, dia juga cantik," canda Ethan. "Kau suka padanya?" Aku tak tahu kenapa aku bersikap sangat kesal. "Tapi. jika disuruh memilih, aku aku akan memilihmu!" Lanjutnya memandangku dengan penuh. Hatiku berdetak kencang saat itu. Waktu terasa terhenti sesaat. Dan berlanjut ketika Melinda datang ke meja kami duduk.
Hari demi hari berlanjut, aku tak tahu kenapa aku merasa sangat bahagia dan tentram ketika berada disekitar Ethan dan Bu Sarah dia ibu Ethan. Mereka sangat baik padaku, disamping kejahatan ibutiri dan Melinda yang semakin meronta. Terlebih saat mereka membeli mobil baru dengan jaminan rumah kami. Aku sangat marah saat itu.
Hari ini ulang tahunku, hujan turun deras diluar sana. Tak ada pesta tak ada ucapan dari ayah. Aku teringat pada surat itu, ku buka lagi lipatan itu 'Untuk putri kesayangan ayah- Sandi ayah-Nak! Nak dibawah meja itu terdapat pintu menuju ayah, Bukalah pintu itu saat usiamu genap 17 tahun. Kau anak yang pintar. Jika ayah belum kembali, maka itu menjadi milikmu. Jagalah Rahasia ini sandi! Rahasia yang sangat penting untuk negara kita. Hanya boleh dibagikan pada keturunan sedarah. Ayah sangat menyayangimu Sandi,'
Dibawah meja itu? Meja yang mana? Aku bertanya-tanya dalam hati memeras otak. Tentu saja meja yang ayah buatkan untukku. Aku membalikkan meja itu mencari-cari lubang kunci di bagian bawah meja, seakan ada sebuah rongga dalam meja itu. Namun tak ada perhatianku teralihkan pada sebuah lantai kayu yang terlihat lebih menonjol dari yang lain. Ku otak-atik lantai itu. Betapa terkejutnya aku saat muncul sebuah lubang kunci di bawahnya.
Selama ini aku tak tahu bahwa ada pintu tersembunyi menuju ruang bawah tanah dimana ayah bekerja dulu. Ku turuni tangga batu dalam sebuah ruangan gelap diatas kamarku itu. Aku berhasil menemukan sakelar dan lampu kemudian menyala. Hanya ada lemari-lemari kosong dan meja yang dulunya tempat ayah bekerja, hanya barang-barang usang dan peralatan ayah saja yang tergeletak dipojok ruang itu. Namun setumpuk kertas semacam dokumen terletak di atas meja yang potongannya sama dengan yang ayah buat dikamar ku. Ternyata itu adalah dokumen penemuan ayah yang bisa ku taksir betapa pentingnya bagi negara ini. Saat itu aku tahu bahwa ayah sudah memiliki firasat bahwa ia tak akan kembali lagi ke rumah ini. Itu sebabnya ia sudah menyingkirkan semua benda dan penemuannya itu, entah itu disembunyikan atau di serahkan pada negara.
Keesokan harinya aku diajak berkunjung ke rumah Ethan. Disana kami makan bersama dan ada sebuah pesta kecil untuk tiga orang. "Kau ulang tahun hari ini?" Tanyaku. "Tidak sebenarnya kemarin aku berulang tahun yang ke 17 tapi kemarin hujan jadi aku tak jadi menjemputmu!" Jawab Ethan. "Kau jangan bercanda! Masakan kita sama umur, kemarin sebenarnya juga ulang tahunku yang ke 17." Kemudian pesta itu diadakan untuk aku dan Ethan, ibu Sarah memang sangat baik.
Aku dan Ethan pergi ke tepi sungai untuk menikmat pemandangan alam disana setelah membantu Bu Sarah membereskan sisa pesta. "Aku!" Ucap Ethan namun ia berhenti melanjutkan kalimatnya. Sangatlah terkejutketika Ethan tiba-tiba menarik wajahku mendekatinya, kemudian ia mencium bibirku yang jelas masih original. Lama sekali ia mencium bibirku. "Maaf" ucapnya setelah ia melepaskan ciumannya itu. "Aku berniat untuk memeberimu hadiah. Karena aku tahu kau tak mendapat hadiah apapun dari ibutirimu an saudarimu." Ia terlihat memerah.
Dua orang sudah berada dalam rumahku, mereka ternyata ingin menyita sertifikat rumah kami. Waktu itu sangat marah pada ibu tiriku dan Melinda. Ku kunci kamarku aku merenung semua kenangan rumah ini bersama ayah.
Aku pergi menemui Ethan aku tak tahu kenapa aku begitu percaya padanya. Ku tuturkan semua permasalahan yang menghantuiku. Ku ajak ia menyelinap ke kamarku saat hari sudah petang. Ku tunjukkan padanya sebuah lorong yang menganga dibalik meja. Kami melakukan penyelidikan dalam ruang itu. Ethan tak sengaja menubruk lemari kecil dan meghamburkan isi yang ada didalamnya. Sebuah foto keluarga tercecer, terlihat sepasang kekasih yang masing-masing membopong bayi yang masih lugu itu.
"Ibu!" Gumam Ethan. "Aku yakin sekali ini ibuku!" Saat itu aku juga merasa yakin rupanya mirip sekali degan Bu Sarah. Tapi disamping Bu Sarah seorang laki-laki terlihat bahagia dengan senyum mengembang di pipinya yang tak lain itu adalah ayahku.
Kami yang heran menunjukkan itu pada ibu Sarah. Ia terlihat terbelalak sebentar namun matanya sudah basah. Air mata mengalir dia memelukku dan Ethan dengan erat. "Ternyata kau ini putriku! Dimana William!" Iya menggoncang tubuhku yang lemas seketika. Ku ceritakan apa yang sudah terjadi. Isak tangisnya pecah aku dan Ethan berpandangan dan menenangkan Bu Sarah.
Saat aku kembali dengan truk kecil milik Bu Sarah bersama Ethan dan Ibu Sarah. Sebuah mobil polisi terlihat sedang menangkap ibutiriku dan Melinda, mereka terlibat dalam pencurian bank.
Saat Bu Sarah melihat ia rumah itu dan melihat pula foto yang kami temukan dalam ruang bawah tanah ia sudah bisa memastikan bahwa kami ini saudara kembar. Aku tak menyangka itu terjadi, padahal dalam hati aku sudah sangat mencintai Ethan, namun aku harus menerima semua kenyataan itu.
"Sandi!" Tegur Ethan uang langsung mencium bibirku untuk yang kedua kalinya di depan ibu Sarah. "Padahal aku berniat mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu, tapi ternyata kita saudara kembar." Ia memelukku erat. "Kalian kan masih bisa saling mencintai sebagai saudara," Sela ibu Sarah menggabungkan diri dalam pelukan itu.
Kini kami hidup tentram dalam rumah ayah yang besar dan penuh kenangan itu. Aku dan Ethan mengembalikan dalam arti yang lebih tepat menyerahkan dokumen penemuan ayah pada pihak negara dan mereka membuat penghargaan besar bagi mendiang ayah kami. Kami mengambil gambar bersama dengan latar gambar ayah yang terpampang di gedung negara itu. Dua orang anak dengan wajah putih dan hidung yang mancung ala Amerika terpampang di samping seorang Ibu Sarah yang juga seorang wanita Asal Amerika. Sedang Ayah William dia adalah warga negara asli yang memiliki darah Jerman.
Kini aku sudah bisa melihat wajah ibuku dan tahu bahwa ibuku masih ada. Ibuku menceritakan tentang masa lalunya bersama ayah. Dari mulai saat ia pertama kali bertemu, menikah, mengandung dan berfoto dengan menggendong bayi kembar yang berbeda jenis. Ia menuturkan betapa bahagianya dia saat itu, namun keluarganya tak merestui hubungan ayah dan ibu, setelah ibu melahirkan ibu dipaksa pergi ke Amerika dengan membawa seorang anak laki-laki yang sangat tampan itu, sedang ayah membawa seorang anak perempuannya. Mereka berusaha untuk saling mencari, namun setelah kembali ke negara ini ibu tidak bisa menemukan jejak ayah, walaupun ayah sangat terkenal. Kaliankan tahu bagaimana seorang peneliti harus benar-benar merahasiakan keberadaannya.