Badan kurus, tinggi tapi bungkuk. Warna kulit sawo busuk plus 'tatto' bekas cacar yang gak hilang-hilang sejak usiaku 10 tahun.Ditambah lagi bentuk wajah memanjang dengan hidung besar yang dihiasi bintil berbulu di tengah-tengahnya. Mata sipit yang ujungnya menurun ke bawah dan rambut tegak seperti sapu ijuk menjadi pelengkap 'kesempurnaan' sosok diriku. Sempurna untuk dijadikan bahan pembullian. Tapi, memangnya siapa yang berani membully seorang Genta Saputra?
Jawabannya, semua berani kok. Cuma gak tega aja. Atau gak sudi lebih tepatnya. Pernah ada satu kejadian sewaktu aku pulang sekolah. Seperti biasa aku lewat 'jalan tikus' yang berupa lorong kecil agar lebih cepat sampai di rumah. Bedanya, hari itu ada beberapa anak SD berkumpul di depan lorong dengan maksud mengerjai orang-orang yang lewat. Tidak peduli anak yang lebih kecil atau sebaya dengan mereka, bahkan orang dewasa pun juga kena imbas keisengan mereka. Dasar anak-anak nakal.
Preman kampung sekelas bang Jali aja sampai menjerit-jerit sambil memaki kena dijahili mereka. Wajar sih, sampai teriak begitu. Sudahlah jatuh karena dijegal pakai tali, kepalanya disiram air comberan, dan tangannya kena jepit pula dengan perangkap tikus. Yah, bagaimanapun sialnya dia tetap tidak ada yang peduli. Preman ini.
Ternyata yang wanita pun tidak luput dari kejahilan anak-anak nakal itu. Si mbok jamu sampai terjungkal karena tidak melihat jerat tali yang dipakai anak-anak itu untuk menjegal orang-orang yang lewat. Alhasil, botol-botol jamu jatuh berserakan dan sebagian besar pecah berantakan. Kain batik yang dipakai si mbok sebagai bawahan robek besar hingga pahanya tersingkap. Lututnya berdarah. Dan si mbok jamu hanya bisa menangis ditertawai anak-anak itu.
Lain halnya dengan diriku. Begitu aku melewati lorong itu, tidak ada satupun kejadian aneh yang menimpaku. Aku bisa berjalan santai tanpa ada gangguan sedikitpun dari anak-anak nakal tersebut. Padahal aku sudah was-was bakal dikerjai lebih parah dari yang sudah-sudah. Ternyata aku dibiarkan lolos begitu saja oleh anak-anak SD bermental preman itu. Hanya saja aku bisa mendengar bisik-bisik mereka yang menyertai perjalananku.
"Itu tadi orang bukan, sih?"
"Kayaknya sih, orang. Tapi kok miris banget ya? Jadi gak tega mau ngerjain."
"Kalo yang begitu mending dibiarin lewat aja, daripada kita kena sial."
Begitulah aku menjalani hidupku dengan aman dan tentram. Sosokku yang menyedihkan ini justru membawa nasib baik untuk diriku. Yah, sekalipun aku tetap mendapatkan perlakuan kasar dari orang-orang sekitar meski hanya lewat kata-kata. Aku tak peduli. Seperti saat ini.
"Awas, ada troll lewat!"
"Segera merapat ke dinding! Kena bayangannya pun bisa sial, loh."
"Ah, sial. Bau banget, sih!"
"Siapa yang piket hari ini? Tolong jejak si Troll dihapus dong, biar sialnya gak nyebar!"
Bodo amatlah dengan ejekan mereka. Yang penting hidupku aman baik di rumah ataupun di sekolah. Tidak ada yang berani menyentuhku. Entah karena jijik atau takut ketularan sialku. Terserah. Sekali lagi, yang penting hidupku aman.
Seharusnya begitu, ya kan?! Aku si Troll yang pintar, selalu dapat jatah duduk di hadapan guru. Dengan begitu tidak ada yang berani mengusikku sepanjang jam pelajaran. Dan aku pun bisa belajar dengan tenang. Dan karena sosokku yang sedemikian rupa, tidak ada yang mau duduk di bangku yang sama denganku saat makan di kantin. Aku pun sering mendapat lauk ekstra dari petugas kantin karena kasihan melihat tampangku.
Di rumah pun aku selalu dibanggakan oleh kedua orangtuaku karena selalu prestasiku di sekolah. Meski keadaanku sebegini menyedihkan, mereka tetap sayang padaku karena aku anak semata wayang. Segala keperluanku terutama untuk sekolah selalu dipenuhi dengan segera oleh ayahku yang hanya seorang pedagang asongan. Meski aku tahu beliau harus bersusah-payah karena hal itu. Bukankah seharusnya aku bahagia?
Tidak. Aku belum bisa bahagia. Bukan karena keluargaku miskin atau karena keadaanku yang menyedihkan. Tapi ada hal yang membuat jantungku kerap berdebar. Takut. Aku selalu merasa ketakutan. Seolah setiap saat akan ada yang menangkapku atau menghajarku atau bahkan membunuhku?
Itu karena pekerjaan sampingan yang kulakukan tanpa sepengetahuan siapapun termasuk kedua orangtuaku. Pekerjaan sampingan yang memberikan kehidupan yang berbeda dengan yang kujalani saat ini. Pekerjaan yang membuatku merasa lebih baik sekaligus buruk disaat yang bersamaan.
"Nak, makan dulu. Nanti lagi belajarnya!" seru ibuku dari dapur.
"Iya Bu, sebentar!" sahutku menyudahi pekerjaan sampingan yang sedang kukerjakan.
"Wah, makan enak nih." Aku menunjukkan raut antusias saat melihat makanan yang disajikan ibuku di atas meja makan.
Ada ikan mujair yang disambal dengan toping pete, sayur bayam yang direbus bersama tauge dan yang selalu harus ada, kerupuk. Ayah baru bergabung setelah mematikan televisi. Kami makan dengan lahap sambil sesekali bercerita.
"Ada berita apa tadi, Yah?" tanyaku berbasa-basi.
"Biasa, korupsi. Tapi aneh loh akhir-akhir ini," jawab ayah menggantung.
"Aneh gimana, Yah?!" tanyaku tak sabar.
Ayah menambahkan sambal ke piringnya sebelum menjawabku, "uangnya gak pernah ketemu."
"Hah, maksudnya?" tanyaku dengan mulut penuh.
"Halah, paling juga abis buat anak bininya foya-foya!" sahut ibu ikut nimbrung.
"Pihak KPK memang nemuin bukti bahwa pejabat itu korupsi. Tapi, waktu dicek rekeningnya pada kosong semua. Padahal jumlahnya milyaran loh," jawab ayah terputus lagi karena mau minum.
"Gak mungkin sebanyak itu bisa dibelanjakan dalam sekejap pasti langsung ketahuan. Kalo menurut Ayah sih, kayak habis dibobol gitu rekeningnya."
"Erhm... erhm...!" Aku sampai tersedak mendengar ucapan ayah barusan.
"Sudah, sudah. Selesaikan dulu makannya, nanti baru cerita lagi!" tegur ibu mengakhiri perbincangan kami.
Dalam hati aku tertawa, tentu saja uang itu tidak akan pernah ditemukan. Karena sudah lebih dulu kucuri. Inilah pekerjaan sampinganku. Mencuri online. Hehehe. Bahkan untuk hacker jenius sepertiku pun ini merupakan pekerjaan yang sulit. Aku harus sangat berhati-hati dan teliti agar tidak ketahuan. Tidak boleh ada celah sekecil apapun. Uang yang kucuri pun tidak bisa langsung kugunakan. Karena jumlahnya sangat banyak harus 'dicuci' dulu di bank luar negeri.
Rencananya uang-uang itu akan kukumpulkan terlebih dahulu untuk modalku nanti hidup di luar negeri. Kalau tidak ada hambatan akan kugunakan sebagian untuk operasi plastik setelah aku tamat SMA. Dan itu tidak akan lama lagi. Jika ada yang bertanya, kenapa tidak membobol bank saja kan lebih cepat dan banyak dapat uangnya? Jawabannya, karena terlalu mudah tapi juga lebih beresiko. Mencuri dari orang jahat itu jauh lebih menantang sekaligus mendebarkan. Sekali ketahuan tamat riwayatku.
Enam tahun berlalu sejak pencurian terakhir.
Taksi membawaku dari bandara sampai ke ke depan gang sempit tempat tinggalku dulu. Ada bendera kuning yang bertengger di salah satu tembok. Tanda adanya kemalangan di sini. Beberapa pelayat berjalan mendahuluiku. Lirih terdengar suara mereka berbisik-bisik.
"Eh, itu bukannya anak bu Siti ya?"
"Iya kayaknya. Sekarang jadi ganteng banget ya, beda jauh dari yang dulu?!"
"Mungkin karena kerja di luar negeri gajinya banyak jadi bisa oplas kali."
"Hus! Mau ngelayat kok malah ngegosip, nanti orangnya denger lho."
Aku hanya tersenyum samar menanggapi obrolan yang tidak pernah kudengar lagi sejak tinggal di Manhattan. Pekerjaanku sebagai pengusaha properti untuk mengcover kegiatanku sebagai pembuat darkweb terbesar kedua di dunia membuatku tidak bisa leluasa berinteraksi langsung dengan orang lain.
Makanya aku merasa tetap kesepian sekalipun memiliki 9 orang pelayan di rumahku dan tidak kurang dari 20 orang pengawal yang selalu bersiaga menjaga nyawa dan hartaku setiap saat. Karena itu, aku berniat membawa ibu untuk tinggal bersamaku selepas acara tahlilan nanti.
Tidak banyak orang yang melayat ke rumahku karena ayah bukan orang terkenal dan tidak terlalu aktif juga di masyarakat. Belum jam sembilan malam, rumahku sudah sepi. Tinggal aku berdua dengan ibu. Kurasa ini waktu yang tepat untuk mengutarakan maksudku pada ibu. Kudekati ibu yang sedang duduk di tepi pembaringan.
"Bu, boleh aku bicara?" salahku seraya bersimpuh di depan ibu.
"Ngomong aja, Nak. Ibu juga kangen ngobrol sama kamu," jawab ibu mengelus puncak kepalaku yang bersandar di pangkuannya.
"Ibu mau ya temenin aku tinggal di Manhattan. Jujur aku kesepian tinggal sendiri di sana."
"Loh, bukannya kamu punya banyak pembantu?"
"Tapi kan mereka bukan keluarga, Bu."
"Ya kalo gitu cari istri lah, bangun keluarga sendiri. Malah ngajak ibu," gurau ibu menampilkan senyum yang telah lama kurindukan.
"Justru itu, bantu aku memilih calon istri." Kali ini aku mendongak menatap wajah renta ibuku.
"Memangnya kamu gak malu bawa ibumu yang miskin ini ke luar negeri?"
"Hmm, memangnya ayah pernah punya simpanan janda kaya, Bu?" selorohku membalas candaan ibu.
"Hus, jangan ngomong sembarangan!"
"Lagian ibu ngomongnya ... kayak aku punya ibu yang lain aja," sungutku pura-pura merajuk.
"Lagipula ibu juga sekarang udah tinggal sendiri. Jadi, tolong jangan ada alasan lagi untuk nolak permintaanku ya, Bu?!" lanjutku sengaja memaksa.
"Ya sudah, kalau kamu bersikeras. Ibu nurut aja."
Akhirnya jawaban yang kunanti-nanti selama dua tahun terwujud juga. Maaf Bu, aku terpaksa menempuh cara ini supaya ibu mau ikut denganku. Tadinya, aku ingin mengajak ayah juga. Tapi, beliau terlalu banyak tahu tentang sisi gelapku. Kalau saja ayah tetap diam seperti biasanya mungkin aku tidak perlu menyuruh orang untuk melenyapkan ayah. Seharusnya kalaupun ayah tidak setuju dengan cara hidupku, setidaknya ijinkan saja ibu untuk tinggal bersamaku. Jadi, aku tidak perlu berbuat sejauh ini kan, ayah?!
Sekarang tinggal menunggu pagi untuk mewujudkan impian kecilku. Membawa ibu ke Manhattan dan menjadikannya mucikari berkedok 'Ibu Mertua'.
#sembunyi #hacker #kehidupankedua #transformasi #duasisi