Hero
Pada zaman dahulu, disebuah benua yang bernama benua Meinu. Disana hiduplah beberapa orang yang berkumpul dalam sebuah suku, yang mereka beri nama suku ANXIN. Suku anxin terkenal karena keahlian mereka yang bisa mengendalikan unsur alam, baik itu cuaca, udara, logam, tanah, tumbuhan dan masih banyak lagi.
Banyak diantara para pemimpin kerajaan meminta mereka untuk membantu menurunkan hujan di musim kemarau panjang. Tentu mereka setuju atas dasar saling menolong, dan para Raja pun membayar mereka dengan setimpal. Mereka begitu mulia dihadapan semua orang, bahkan kedudukan suku anxin hampir sama dengan Perdana menteri.
Hal ini terus berlanjut hingga beberapa ratus tahun, tak ada Raja yang memaksa suku anxin untuk mencari logam ataupun kristal yang terdapat dibawah permukaan bumi. Karena mereka tahu bahwa suku anxin tidak akan setuju untuk hal itu.
Kaum anxin, selain dapat mengendalikan unsur-unsur alam, mereka juga bisa mengetahui masa depan seseorang. Tapi mereka menyembunyikan kekuatan mereka yang satu ini, mereka tidak ingin menjadi seorang peramal yang akan membual dan membuat seseorang serakah atau mati sia-sia karena mengetahui masa depan mereka.
Hingga saat pemerintahan Raja Rhinne, anggota suku anxin ditangkap dan dipaksa untuk mengendalikan logam dan bebatuan mulia yang terdapat dibawah tanah untuk dirinya.
Keserakahan Raja Rhinne membawa malapetaka besar bagi kaum anxin dan penduduk benua Meinu lainnya. Ia tidak peduli dengan rakyat, ia tidak peduli dengan pemerintahan, yang ia pedulikan hanyalah....harta, wanita,dan takhtanya.
Dibawah pemerintahannya seluruh rakyat menderita, bahkan kaum anxin yang dulu diperlukan dengan terhormat oleh semua orang kini terlihat seperti budak. Kehormatan mereka hilang karena kekejaman dan keserakahan penguasa baru mereka.
Rhinne tidak akan membiarkan satupun anggota kaum anxin lolos. Ia akan memaksa mereka untuk bekerja, tak peduli bahkan jika itu anak-anak. Setiap hari, para anggota suku anxin meninggal karena tidak diberi makan dan sakit-sakitan, para anak-anak kekurangan gizi, bahkan tubuh mereka kurus kering, kulit mereka kusam karena mereka diperlakukan seperti hewan peliharaan.
Hingga pada suatu hari, seorang pemuda dengan tubuh kurus mulai memprovokasi masyarakat. Ia adalah anggota suku anxin yang melarikan diri dari pertambangan terkutuk milik Rhinne.
"Kita harus melawannya!! Apakah kalian ingin seumur hidup kalian menderita? Apa kalian tidak ingin bebas dan mendapatkan makanan yang cukup?" ujar pemuda itu dibalik jubah hitam lusuh yang dikenakannya.
Para penduduk memikirkan perkataannya, berdiskusi satu sama lain dan saling meminta pendapat. Tentu mereka ingin kembali seperti sebelumnya, bebas dari aturan pajak yang sangat besar, memiliki lahan untuk ditanami dan memiliki cukup makanan untuk setiap harinya.
Tapi mereka hanya bisa membayangkan hal itu dalam benak mereka, tak ada seorangpun yang berani memberontak melawan Rhinne. Karena mereka tahu bahwa jika mereka melawan Rhinne, maka nyawa mereka lah yang menjadi taruhannya.
"Apa kalian takut untuk mati? Apakah kalian hidup untuk makan? Kemana perginya semangat pejuang yang dulu benua ini miliki? Aku tahu, kalian berfikir bahwa semua yang aku katakan ini omong kosong belaka. Tapi omong kosong ini bisa menjadi kenyataan jika kita bersatu dan bekerja sama untuk menggulingkan takhta si iblis Rhinne!!" pemuda itu berhenti sejenak dan menatap satu persatu wajah penduduk. "Aku akan menunggu jawaban kalian sampai Fajar esok hari didekat sungai Zhixiang."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, pemuda tersebut berbalik dan pergi menjauh dari keramaian.
Bisik-bisik mulai terdengar dikerumunan, banyak penduduk yang setuju dan banyak pula yang tidak.
"Aku setuju dengannya!" seru salah satu dari mereka.
"Tapi bagaimana jika Rhinne tahu? Kita bisa mati! " tandas yang lain.
"Apa kalian tidak ingat apa yang dikatakan oleh anak itu? Kita bukan hidup untuk makan, tapi makan untuk hidup! Tidakkah itu cukup? Rhinne memandang kita seolah kita hanya sampah busuk yang tak berguna! Kita harus melakukan sesuatu untuk mengembalikan kebebasan yang layak kita miliki!" jelas seorang tetua.
"Aku setuju!!"
"Ya!"
"Aku juga!!"
Pada akhirnya mereka memutuskan untuk bersatu untuk melawan Rhinne dan mengembalikan kedamaian yang telah lama hilang dari benua Meinu.
Keesokan harinya saat Fajar menyingsing, semua orang berkumpul didekat sungai Zhixiang. Seperti yang dikatakan pemuda itu sebelumnya, ia berada disana dan tersenyum saat melihat para penduduk.
"Sebelumnya, bisakah kami tahu namamu?" tanya seorang pria tua.
"Namaku Wei ying." jawab pemuda itu sambil tersenyum ramah.
"Jadi...apa rencanamu?" tanya pria tua itu lagi.
Dengan perlahan ia menjelaskan situasi dan kondisi didalam istana dan menjelaskan rencananya pada penduduk. Walaupun banyak penduduk yang sulit memahami rencananya, ia tetap memberikan penjelasan ulang dan terperinci pada mereka.
"Kami bergantung padamu, tuntun kami menuju jalan kebebasan dan jadilah pemimpin kami." ujar seseorang dengan lantang.
"Suatu kehormatan untuk menjadi pemimpin kalian." pemuda itu membungkuk hormat.
Setelahnya, mereka menjalankan rencana pertama. Wei ying mengendalikan air sungai dan membendungnya agar tidak mengalir ke istana, Penduduk desa menyebarkan desas-desus kekeringan, dan ada juga yang berpura-pura gila.
Mereka semua melakukan ini dengan baik, setelah istana terprovokasi mereka langsung melakukan rencana kedua. Yaitu melakukan pemberontakan terhadap istana, para prajurit sedikit kewalahan menghadapi mereka. Namun itu berhasil ditekan, dan keadaan kembali seperti semula.
Selang beberapa hari kemudian, Wei ying menantang Rhinne untuk berperang. Ia jiga memprovokasinya agar terpancing emosi dan dengan mudah menyetujui perang yang diajukannya.
Keesokan harinya, mereka bertemu di Medan perang. Rhinne datang dengan ratusan ribu prajurit, sedangkan Wei ying hanya datang sendiri dengan kudanya. Rhinne memandang rendah pada Wei ying, seolah-olah ajakannya berperang hanyalah bualan belaka.
Dengan satu instruksi, para prajurit mulai menyerang Wei ying. Dengan senyuman tipis dibibirnya, Wei ying merapalkan mantra dan tanah disekitarnya bergetar, langit berubah mendung, dan petir menyambar. Dalam sekejap mata setengah dari prajurit Rhinne tewas.
Rhinne terkejut dan baru menyadari bahwa lawannya berasal dari suku anxin. Dengan rasa takut dan gugup yang menyelimutinya, ia memerintahkan untuk terus menyerang Wei ying. Sementara ia melarikan diri.
Wei ying yang melihat hal itu langsung mengurung Rhinne dengan kristal yang ia kendalikan. Dan menawan sisa prajurit.
"Kau harus membayar apa yang telah kau perbuat Rhinne!!" ujar Wei ying.
Ia lalu membawanya kembali ke ibu kota dan memberikan berita baik mengenai kemenangannya atas Rhinne.
Para penduduk bersorak gembira dan mengangkat Wei ying sebagai pemimpin baru mereka, dan dengan itu pula Rhinne lengser dari jabatannya sebagai penguasa. Wei ying membebaskan seluruh suku anxin yang tersisa, dan memberikan kembali kehormatan mereka yang dulu.
Dengan kepemimpinan baru, benua Meinu kembali tentram damai dan hidup dalam kesejahteraan dibawah kepemimpinan Wei ying sang pahlawan pembebas dari kaum anxin.
Tamat.