Alfiyah dan Santri Kalong
Disebuah kobong panggung berukuran 2,5x2 meter,beratapkan rumbia jerami dengan lantai bambu yang digeprek kasar dan berdinding bilik. Jauh dari kata layak untuk seorang Daffa yang notabene anak pejabat dari kota.
Matahari senja tampak sebulat dan seputih piring kertas yang dilekatkan ke langit. Udara panas muncul dari atas langit dan bawah tanah yang retak-retak, membuat anak manusia seperti Daffa memilih untuk qailulah.
“ Fa...Daffa...”
Seseorang berteriak dari kamar seberang yang terhalang septum. Suara melengking yang khas aku dengar untuk membangunkan anak manusia di kobong yang dihuni dua orang saja.
Kawan sekamar Daffa sendiri sudah enggan membangunkan anak pemalas seperti dia. Ya, Daffa si anak orang kaya yang bodoh, pemalas dan sedikit sombong. Selama hampir enam tahun belajar di pondok pesantren ini tak secuilpun ilmu yang berhasil melekat di volume otaknya.
Daffa hanya menjalani hari-hari di pesantren dengan seabreg rutinitas untuk menggugurkan kewajibannya menuntut ilmu disini. Ia merasa dibuang oleh keluarga besarnya, tanpa memahami maksud orang tuanya memasukkannya di pesantren.
Pintu bambu sebuah kobong dibuka. Kali ini si pemilik suara melengking tetangga kamar benar-benar menyambanginya, akhirnya ia menerobos kobong. Dilihatnya Daffa masih meringkuk diatas tikar pandan sambil sesekali ia menutupkan sarung ke kepalanya.
Meski pemuda itu mengingatkan akan bahaya takzir mengintainya karena sudah empat hari mangkir dari ustadz Kholil.
“ Ustadz Kholil itu baik, nggak ada santri yang ditakzirnya hanya karena bolos, buktinya aku sering absen hafalan!” jawab si pemalas menyeringai.
Ustadz Kholil adalah guru yang paling humble dan sedikit membebaskan para santri saat mengkaji kitab yang ia bawakan.Bagi Ustadz Kholil, santrinya hadir dan mendengarkan penjelasan kitab Alfiyah saja sudah mencapaian yang luar biasa.
Ya, aku adalah kitab tingkat tinggi maha Karya Syaih Ibnu Malik yang penuh dengan nadzam. Kitab yang dibenci Daffa dan santri lain yang tak berhasil menghafalku. Aku merupakan kitab sintaksis dan morfologi keilmuan tata bahasa Arab yang berisi 1002 nadzam, kitab kuning yang dikenal induknya nahwu sorof.
Aku hanya menjadi penghuni pojok kelas saat pembelajaran berlangsung, pasalnya si Pemalas Daffa hanya membiarkanku terbuka dengan ditindih pena tanpa ia menggoreskannya dengan sebuah makna yang didiktekan Ustadz Kholil.
Tak jarang ia tertidur di atas ku dengan iler yang mengalir di sudut bibirnya. Tapi, aku masih beruntung.
Aku kadang diperlakukan baik oleh teman Daffa yang bernama Azzam. Azzam, seorang santri kalong yang miskin namun memiliki kemauan tinggi ditengah kemampuan ekonomi yang terbatas.
Azzam selalu menorehkan tinta pena dengan tulisan arab rapi ditubuhku. Ia yang mampu menghafal nadzamku meski hanya beberapa menit melihatku.
Ah, aku mendadak rindu dengan Azzam yang sudah seminggu tidak menghadiri kelas nahwu. Aku rindu belaian tangannya, aku rindu suara merdunya melafalkan syair-syairku.
“ Daffa...ayo bangun” tiba-tiba pemuda itu menyeret Daffa.
Dengan terseok-seok Daffa berusaha bangkit, meraih ku diantara kitab kuning yang besepak-sepak di atas meja usang. Meski terpaksa akhirnya Daffa menuju kelas pembelajaran Khulasoh Alfiyah oleh UstadzKholil.
Lantunan syair bergema oleh ratusan santri memadati ruangan.Bait-bait nadzamku di hafalkan oleh penghuni ruangan.
Ada suara merdu yang aku rindukan, terdengar syahdu menggema di kalbu. Suara khas pemuda hitam manis dengan bibir sedikit tebal. Ya, tak salah lagi dia adalah Azzam.
“ Hey, kemana saja kau seminggu ini tak kelihatan?” tanya Daffa, “ lihat kitabku kosong selama seminggu!” Daffa mendengus.
“ Ayahku meninggal, dan aku harus menggantikan beliau mencari nafkah”.
“ Nih..” Daffa menyodorkan aku pada Azzam, sedang ia asyik tidur di bangku sepanjang 90 cm yang berbagi dengan Azzam untuk memberikan makna dengan tulisan arab miring.
Andai aku seorang istri, mungkin saat ini pipiku merona karena sentuhan tangannya yang lembut memperlakukan aku dengan mulia.
Aku sangat merindukan Azzam yang telah membersamaiku hampir enam tahun. Kebersamaan yang sangat romantis meski kami harus LDR namun selalu berakhir dengan pertemuan indah.
وَ مُسْنَدٍ لِلإِسْمِ تَمْيِيْزٌ حَصَلْ# بِالجَرِّ وَالتَّنْوِيْنِ وَالنِّدَى وَ أَلْ
Derajat luhur di sisi Allah SWT., itu dapat diperoleh melalui:
JAR (harus tunduk dan tawadlu), TANWIN (niat yang benar mencari ridha Allah SWT.), NIDA (berdzikir), AL (berfikir),Musnad ilaih (beramal nyata).
(Khulashoh Alfiyah Ibn Malik: hal 2)
Selamat Hari Santri Nasional
22 Oktober 2020