Kamu berdiri di atas panggung di sebuah taman yang sudah mulai sepi.
Matamu menatap puluhan bangku kosong bahkan lebih.
Ketika iringan musik terdengar, kamu melantunkan lagu di luar tempo juga not.
Terkadang suaramu terselip karena nada terlalu tinggi atau bahkan tak tuntas karena kehabisan nafas. Kamu tetap bernyanyi.
Seseorang meneriakimu.
"Turun!"
Tapi kamu tak perduli, terus bernyanyi bahkan musik sudah berhenti mengiringi.
"Suara fals aja masih nyanyi!"
Maki seorang pria berkumis lebat, menatapmu dengan tajam.
Kamu tak perdulikan makian itu, malah berkata begitu yakinnya dengan suara di sengau-sengaukan.
"Baiklah, kita akan mempersembahkan satu lagu lagi untuk anda!"
"Turun kau!"
"Musik."
"Apa kau tuli?"
"Mas, musiknya Mas."
Pemain musik menolak mengiringimu, penonton mulai menyorakimu.
Kamu mulai panik, berusaha membenarkan tali kutang yang mulai melorot dari bahumu. Dada palsumu mulai tak karuan bentuknya.
"Woi banci, turun lu!"
Seorang pria meneriakimu, yang lalu melemparmu dengan botol plastik berisi air seni yang nyaris mengenai baju ketat berwarna biru metalic yang kamu pakai.
Pria besar itu berteriak lagi.
"Turun kagak lu!"
"Iya, kita turun Bang"
Kamu turun panggung dengan wajah tertunduk. Menatap pria kurus yang sedang bersidekap menatapmu dengan gelengan kepala menghampirinya, lalu menengadahkan tangan.
"Boss, aku kan berhasil nyanyi satu lagu, Boss?"
Tanganmu yang satunya mengeluarkan busa yang menjadi dada palsumu kemudian melepas sepatu tumit tinggi.
Baru saja kamu hendak membuka kait kutang dengan mengarahkan tanganmu ke punggung. Pria kurus menghentikan aksimu.
"Kamu mau telanjang di sini?!"
"Kagaklah Boss."
"Nih, ambil uangmu?"
Kamu menatap tiga lembar uang berwarna sedikit keunguan.
"Tambahinlah Boss."
Katamu sambil menatap pria kurus yang bermuka masam mengambil uang satu lembar lagi berwarna kecoklatan dari saku kemejanya.
"Terima ini, atau kau tidak dapat apa-apa sama sekali!"
Kamu mengerucutkan bibirmu dan langsung menyambar uang itu.
"Besok aku nyanyi lagi ya Boss."
Kamu tidak menunggu jawaban dari pria kurus itu, langsung berjalan ke bilik ganti.
Baju kaos tipis dengan ketiak sedikit sobek, juga celana warna biru yang sudah luntur, menjadi setelan bajumu malam ini.
berjalan menuju sepeda ontel yang terparkir di halaman belakang. Menaikinya menuju rumah.
Sepanjang jalan kamu bernyanyi riang dengan suara sumbang. Beradu keras dengan sahutan suara katak yang tengah memanggil hujan agar segera datang.
Kamu melihat tukang jualan nasi goreng, lalu memanggilnya.
Selesai membayar, kamu kayuh sepeda itu hingga sampai rumah.
Sepasang anak berusia 4 dan 5 tahun menyambut dengan senyum lebar.
"Bapak!"
"Nak, Bapak bawa nasi goreng, kita makan sama-sama yuk."
Kamu menyuapi sambil mendengarkan yang tak anak-anakmu yang berhenti mengoceh dan bercerita tentang hari ini.
Sesekali kamu menatap benda bulat di dinding, jarumnya sudah tidak bergerak lagi entah berapa lama seperti itu kamu tidak tahu.
Kamu menatap wajahmu di cermin dan menghela nafas panjang, make up tebal seperti topeng masih terlihat jelas. Anak-anakmu sudah terbiasa melihat itu. Kemudian kamu bersihkan make up itu hingga terlihat wajah aslimu.
Berjalan ke ranjang tua di mana anak-anakmu telah tertidur pulas, mencium mereka satu persatu. Satu ttitik air menetes tak terasa di pipi putramu yang berunur 4 tahun.
Putramu mengerjap, menatap matamu yang memerah dan berair, lalu bertanya.
"Bapak, nanis?"
Kamu cepat menggeleng dan menegakkan kepala agar lelehan air mata tak tumpah di wajah putra kesayangan.
"Tidur lah kembali nak."
Kamu menepuk-nepuk pelan pinggul putramu sambil menatap bingkai foto wanita yang sudah buram dari balik kelambu. Lambat laun kamu pun ikut terlelap.
----
Di sore hari di sebuah taman yang cukup ramai. Kamu berdiri sambil melambaikan tanganmu ke arah pengunjung.
Di sebelahmu terdapat sebuah kotak bertuliskan.
"Foto dengan badut 5K."
Beberapa anak menarik tanganmu dan mengajakmu berpose, sedang orang tua mereka memfoto.
Selesai berfoto, kamu sibuk mencari anak-anakmu yang ikut bersamamu tadi.
"Kemana mereka?" tanyamu bergumam.
Terlihat di matamu kedua anakmu tengah bermain di kejauhan. Mereka melihatmu lalu tersenyum sambil melambaikan tangan.
Kamu memanggil mereka dengan isyarat tanganmu, mereka pun berlari sambil tertawa tergelak menghampirimu.
Kamu membuka topeng badutmu. Lalu bertanya pada mereka.
"Apa kalian lapar?"
Mereka mengangguk berbarengan tak lepas senyum di wajah mereka.
"Tunggu Bapak di sini ya, jangan kemana-mana." perintahmu, "tolong jaga, kotak Bapak, jika ada yang jahat, langsung teriak saja."
Kedua anakmu mengangguk dan menjawab dengan sikap hormat.
"Siap Pak!"
Kamu mengelus kepala mereka berdua, lalu berjalan mencari warung makan.
Tak sampai 10 menit, kamu kembali dengan satu bungkus nasi campur dengan tiga gelas air mineral, mengajak kedua anakmu agar ke tepi taman di mana di situ ada tempat sedikit luang dan kalian duduk berhadap-hadapan.
Setelah mencuci tanganmu dengan air mineral, kamu mulai menyuapi kedua anakmu.
Sesekali kamu juga menyuapi dirimu sendiri, sambil mendengarkan ocehan kedua anakmu yang terkadang membuatmu geli bahkan juga tak mengerti.
"Pak, masih lapar," ucap anak perempuanmu dengan suara pelan.
Menatap kertas nasi yang sudah habis isinya, kamu tergugu. Ada sedikit penyesalan, andai tadi membeli nasi sedikit lebih banyak.
"Assalamu'alaikum pak," salam seseorang.
"Wa'alaikum salam," putrimu yang menjawab.
"Ah, ini Dek, ada kelebihan makanan," ujar orang itu sambil memberikan dua buah kotak berukuran sedang.
Orang itu menahan bahumu yang hendak berdiri sambil mengucap terima kasih.
"Sama-sama Pak, permisi."
Orang itu pun pergi kembali pada kelompoknya.
"Pak, ada ayam, telur dan sayur," ujar putrimu dengan senyum terurai.
"Bapak suapin lagi ya, yang satunya simpan buat nanti malam."
Kembali kamu menyuapi dan merekapun membuka mulut lebar-lebar.
Ketika di rumah, putramu bertanya padamu.
"Pak, Ibu kok lama pulangnya?"
Entah apa yang kamu rasakan kala mendengar pertanyaan itu, yang jelas matamu berkaca-kaca.
"Nanti juga pulang Nak."
"Dek, Kakak punya cerita, mau dengar tidak?"
Tiba-tiba putrimu mengalihkan pertanyaan putramu.
"Mau!" teriak putramu dengan wajah tersenyum lebar.
Kamu menatap kedua anakmu, lalu melihat kalender yang sudah terlewat tahunnya hingga dua kali.
Teringat pagi itu istrimu pamit menjenguk keluarganya di desa. Padahal kamu tahu, istrimu hanya beralasan saja.
Dan benar, sudah dua tahun lewat, istrimu tak pernah pulang ke rumah.
Dan kamupun mulai menangis.
T a m a t.