Saat jalan bersama Yena melewati hutan untuk pulang sekolah. Aku mengajaknya melewati jalan pintas yang belum pernah dia lewati. Di tengah perjalananan dia ragu melewati pohon besar.
Aku bilang, "Ini siang. Buat apa takut."
Dia jawab, "Ada orang di sana. Serem."
Aku tentu tidak percaya, "Tidak ada. Halusinasi kamu aja mungkin. Cepat kita pergi. Biar cepat sampai."
Aku memaksanya dan akhirnya dia mau. Hingga sesampainya kami di rumah masing-masing tidak terjadi apa-apa.
Keesokan harinya di sekolah. Dia terlihat aneh. Dia yang pemalu. Terlihat periang. Menebar senyuman ke pelajar yang dia temui.
"Hei, kamu sakit ya? Kok beda."
"Beda apanya. Ini aku." Jawabnya percaya diri.
Saat pulang, dia yang paling dulu ke luar kelas dan tiba-tiba ditabrak siswa kelas lain.
"Maaf. Aku tidak sengaja."
Temanku terlihat kebingungan.
"Kok aku ada di sini."
Temanku tidak menyahut permintaan maaf siswa itu. Jadi aku yang menjawabnya.
"Temanku yang salah. Tidak apa-apa. Dia memang agak sakit hari ini."
"Sekali lagi maaf. Aku buru-buru." Siswa itu kemudian pergi.
Aku bantu temanku berdiri.
"Seharusnyakan aku baru bangun tidur di kasur." Keluhnya.
Ini temanku benar-benar gak waras pikirku.
"Hai." Sapa siswa lain padanya.
Dia bukan balas senyumannya malah tertunduk malu. Aneh.
Pada malam harinya, aku belajar dengan Yena. Tiba-tiba ada suara berisik di luar rumahku.
"Apa itu?" tanyanya kaget.
"Kalau bukan kucing, tikus, atau cecak. Bisa juga anjing." jawabku santai.
"Emang halaman rumahmu kebun binatang." Sindirnya sambil tetap melihat di balik jendela.
"Itu anak tetanggamu?" tanyanya langsung buatku kaget. Aku langsung berdiri melihatnya. Tapi tidak ada apa-apa.
"Becandamu gak lucu. Tetanggaku gak punya anak tau?" Jawabku.
"Iya, aku becanda." ucapnya, tapi bisa ku lihat wajahnya yang cemas.
Besok paginya karena libur. Aku dan temanku lari pagi bersama. Dia kembali aneh. Saat lewat depan TK. Dia malah mainin permainan di sana, dari ayunan hingga perosotan.
Agak aneh menurutku karena kami sudah SMA. Aku agak malu dibuatnya karena banyak laki-laki yang lihat kami.
"Ayo kita lanjutin jalannya." Ucapku.
Dia gak menghiraukanku. Aku ajak dia paksa. Dia malah menangis.
"Masa kecilmu kurang bahagia ya." Marahku.
Tetap menangis.
"Diam." bentakku.
Aku kaya ibu marahi anaknya. Aku benar benar tidak habis pikir. Aku juga ikut gila.
"Berhenti ya nangisnya. Nanti aku berikan permen." Ucapku seakan menganggap dia anak kecil. Padahal dia seusiaku.
Anehnya lagi dia diam.
"Benar. Beli in aku permen." ujarnya.
Pada malam berikutnya aku bermimpi sangat menyeramkan hingga aku terbangun dan gemetar. Kulihat jam masih pukul 3. Aku paksakan untuk tidur dengan membayangkan sesuatu yang kusuka. Saat aku terbangun dan mencoba mengingat mimpi buruk malam tadi aku malah tidak ingat apa-apa.
Masih pagi, Yena teriak-teriak di luar. Saat ku lihat lewat jendela lantai dua tidak ada. Aku bergegas siap-siap keluar rumah. Sendiri di rumah ini membuatku takut.
Aku bersepeda mau ngajak temanku bareng ke sekolah. Tapi dia tidak ada di rumah kata orang tuanya mau jemput aku. Aku cari alasan agar orang tuanya tidak khawatir, "Ini dia baru SMS saya, udah ada di sekolah katanya."
Aku kembali mengelilingi rumahku, tapi tidak ku temukan dia. Aku hampir terlambat ke sekolah dan dalam rumahku mulai muncul suara aneh sampai membuatku merinding. Aku cepat-cepat ke sekolah.
Sampai di sekolah, aku lihat dia lagi bicara dengan Jaya, siswa yang ku suka, tapi aku malu mengajaknya langsung berkenalan. Saat Jaya pergi, aku segera dekati Yena.
"Kenalin aku donk sama Jaya." Pintaku melupakan semua salahnya.
"Langsung aja kenalan ama dia."
"Aku malu, nanti aku kasih permen loh kalau kamu mau bantu aku."
"Emang aku anak kecil." Jawabnya bikin aku bengong. Kemarin dia sangat suka permen kenapa sekarang tidak.
Setelah kubujuk, Yena akhirnya mau bantu aku buat kenal lebih dekat dengan Jaya, siswa kelas sebelah.
Malam harinya kami bertiga janjian belajar bersama di rumahku. Kebetulan aku tinggal sendiri karena ayahku pergi jenguk nenek yang sakit dan aku lagi berhadapan dengan UN Jadi gak bisa ikut menjenguk.
Jam 8 malam, yang hadir duluan Jaya. Karena Yena belum datang, kami duduk di teras rumah. Tidak beberapa lama Yena datang. Kali ini aku mulai bingung, ini Yena yg mana. Karakternya berbeda-beda. Yena bukannya singgah ke rumahku, dia malah melewati rumahku. Aku panggil dia tidak menyahut.
Aku lalu berlari cepat menghampiri Yena yang mulai menjauh. Setelah di hampiri, Yena malah pingsan.
"Jaya, tolong angkat Yena ke dalam rumah." Ucapku panik.
Di dalam rumah Yena tiba-tiba bangun.
"Ziah, kau bukannya belajar malah lihatin aku." Sapanya langsung ke aku.
"Kamu gak sadar, tadi kamu pingsan." Tanyaku.
"Aku ambilin minum. Dapurmu di mana?" Dia bicara mengalihkan topik. Herannya lagi dia temanku yg dulu sering main di sini malah gak tau dapurku.
"Terus belok kiri." Ucapku tidak mau memperpanjang masalah.
Cuma aku yang belajar dengan Jaya. Sedangkan Yena sibuk nonton TV. Malam mulai larut.
"Yena, kamu gak ikut belajar." ucapku.
"Sampai kapan kau mau pake Jaya. Entar booking lagi. Udah larut malam nih." balasnya. Lagi lagi mengalihkan pembicaraan.
Aku jawab aja karna kesal, "Biar aja. Entar Jaya nginap di kamarku kok."
"Astaga Ziah, kau gak waras." balasnya.
"Kamu yang gak waras Yena." balasku.
"Aku pulang ya." Ucap Jaya. Kemudian bergegas pulang.
Bersamaan suara anjing, menggonggong keras.
Suara gonggongan anjing bersahutan. Aku tidak menyangka Jaya takut sama anjing, terlihat dia ragu melangkahkan kakinya.
Aku mengambil beberapa batu dekat pot.
"Ini ambil. Kalau ada anjing lempar aja. Anjingnya pasti lari." Ucapku sambil ngasih batu ketangannya.
"Kalau gak lari?"
"Ya, kamu yg lari."
Dia terdiam.
"Aku becanda. Pasti mereka lari kok."
Dia kemudian pergi hingga tidak terlihat lagi.
Suasana semakin dingin dan anjing tidak berhenti menggonggong. Aku malah jadi takut.
Tiba-tiba.
"Apa jaya sudah pergi." Sebuah suara ku dengar di telinga kiri.
Awalnya ku takut. Tapi ini pasti Yena.
Setelah ku menghadap ke kiri.
"Yena, kamu nginap di rumahku kan!"
Gak ada orang di sampingku. Saat bersamaan aku merinding. Aku banting pintu. Ku lari menuju kamar. Lompat ke kasur dan sembunyi di dalam selimut.
"Ah!" aku terkejut bukan main hingga ku berdiri.
"Siapa?" tanyaku ketika tahu ada orang di dalam selimutku.
Sosok itu menarik selimutnya seolah ingin menampakannya wajahnya. Aku benar-benar gemetar memperhatikan dari pojok dinding.
Tapi ternyata itu cuma Yena.
"Kau ternyata. Kenapa gak bilang-bilang sih."
Yena cuma diam.
Aku senang ada yg menemaniku tidur malam ini.
"Aku kunci pintu depan dulu ya." Aku menunggu jawaban Yena. Tapi dia tetap diam. Aku kemudian pergi ke depan. Lalu kembali lagi.
"Ayo kita tidur, besok kita sekolah."
Dia lagi lagi diam.
Ah sudahlah pikirku saat itu. Aku bawa tidur saja.
Esok paginya saat ku bangung. Yena sudah tidak ada di sampingku. Aku cari kesekeliling rumah tidak ku temukan. Aku pikir dia duluan ke sekolah.
Di sekolah, di dalam kelas. Bangku di sampingku tempat Yena duduk kosong. Apa dia bolos pikirku.
Di sekolah tanpa teman akrab, aku kaya hantu saja. Melihat Jaya sendiri gak ditempeli temannya ini kesempatan pikirku.
"Jaya, kamu lihat Yena?"
"Tidak."
"Ku curiga dia bolos."
"Mungkin di rumahnya?"
"Aku belum periksa. Tapi kalau dia gak ada di rumahnya kamu mau bantu aku carinya."
Dia tiba-tiba menghadap arah berlawan dariku.
"Apa tadi kau bicarakan. Aku gak dengar?" ucapnya.
"Masa kamu gak dengar. Kita cuma berdua di sini."
"Oh. Iya baiklah." ucapnya, sepertinya ngasal.
"Aku minta nomormu ya. Kalau Yena gak ada di rumah. Aku hubungi kamu. Kita cari bersama-sama."
"Oh" jawabnya seakan baru tahu.
Yes akhirnya aku dapat nomornya.
Sampai di rumah. Bukannya ke rumah Yena aku malah ketiduran.
Brakkk.
Aku jatuh di kasur. Aku kaget. Aku mimpi seakan jatuh ke dalam jurang yang dalam. Bahkan aku keringatan.
Duk duk duk.
Suara ketekukan pintu mengejutkanku.
"Siapa?" teriakku dari kamar. Tidak ada sahutan mungkin suaraku tidak terdengar. Ku beranikan diri menuju ruang tamu. Aku mengintip dari balik jendela.
Itu orang tua Yena. Aku baru ingat tentang Yena yang menghilang. Pasti orang tuanya menyadari.
Aku membuka pintu berusaha menyembunyikan kecemasanku.
"Yena, dia tidak pulang dari sekolah. Kamu tahu dia di mana?" tanya ibu Yena.
"Dia mungkin lagi kerja kelompok. Biar saya jemput tante."
"Kami sangat berharap denganmu. Tolong ya." Balas ayah Yena."
"Iya, om." Ucapku sambil tersenyum maksa.
Setelah orang tua Yena pulang. Segeraku telpon Jaya. Tidak menunggu lama Jaya datang. Dengan menggunakan sepeda motornya. Kami mulai mencari. Di atas motor kami bicara.
"Kita cari ke mana?" Tanya Jaya.
"Kamu ingat malam tadi, Yena mau pergi ke arah mana?
"Ke arah aku datang tadi. Gak ada Yena ku lihat."
"Di sana ada kuburan. Mungkin Yena ada di area kuburan"
Jaya melajukan motornya menuju kuburan. Sambil tertawa.
"Haha. Buat apa Yena ke sana?"
"Ih kamu gak tau. Akhir-akhir ini dia horor banget."
Meskipun Jaya tidak percaya, dia tetap turuti perkataanku. Sesampainya di muka gerbang kuburan. Kami turun dari motor. Sangat sunyi bahkan suara angin hingga hewan tidak terdengar. Kami masuk ke area kuburan. Cuma kami berdua yang ada di sana. Kuburan demi kuburan kami lewati. Beberapa pepohonan besar kami jumpai. Yena tidak terlihat.
Langit mulai gelap. Siang itu mulai seperti malam.
"Ok, Yena gak ada di sini. Mari kita pulang. Ini tugas polisi bukan kita." Ucapku putus asa, takut campur kesal.
Aku melangkah kembali menuju pintu ke luar karena area kuburan ini di kelilingi pagar dan cuma ada satu pintu.
Karena bergegas aku hampir beberapa kali mau jatuh. Saatku tahu tidak ada Jaya di sampingku. Aku menoleh ke belakang.
Jaya cuma berdiri diam tak bergerak.
Melihat Jaya diam terpaku di tengah kuburan bikin aku takut. Inginku tinggalkan, nanti aku bakalan merasa bersalah jika nasib Jaya sama dengan Yena.
Perlahan ku dekati dia, "Hai Jaya!"
Tidak menyahut. Aku semakin mendekati.
"Kamu tidak apa kan Jay."
Tidak di jawab juga. Aku beranikan diri meski tangan ini gemetar. Aku coba sentuh pundak kiri Jaya.
"Eh kamu Ziah." Ucap Jaya.
Aku lega, "Huh, ku kira kamu bakalan aneh sama seperti Yena juga."
"Ngomong-ngomong soal Yena. Bukannya di bawah pohon besar itu dia?"
Aku terkejut. Segera ku arahkan pandangan ke arah yang ditunjuk Jaya.
"Sejak kapan dia ada di sana!" Ucapku melihat Yena jongkok di bawah pohon tua yang besar, terlihat kedua tangannya sedang melakukan sesuatu sambil menghadap ke pohon.
"Yena, kamu ngapain?" tanyaku dari belakang.
Yena tidak menghiraukan dan tetap meneruskan aktivitas anehnya.
Saat berada tepat di sampingnya, aku benar-benar tercengang melihat Yena memakan makanan yang diletakan di sana.
"Yena! itu sesajen bukan untukmu."
Aku menarik Yena agar dia berdiri. Tapi tubuhnya terlalu berat, dia sepertinya melawan.
"Ayah ibumu cari'in kamu, cepat pulang." Ucapku kesal.
"Jay, bantuin." Perintahku.
Tapi Jaya juga kesulitan membuat Yena berdiri.
"Mana tenaga laki-lakimu." Ucapku marah melihat Jaya juga tidak bisa membuat Yena berdiri.
"Aku tidak bisa kasar sama wanita." Balasnya.
"Ini demi kebaikannya."
Jaya terlihat bersungguh-sungguh, dia memegang kedua bahu Yena dan membuatnya berdiri. Yena menatap tajam Jaya. Segera kutarik Yena menjauhi pohon itu dan keluar dari area kuburan ini.
Tubuh Yena terasa berat. Nih anak banyak dosanya kali.
Sampai di luar area kuburan. Aku kembali cemas.
"Aku antar Yena ke rumahmu. Aku gak tahu rumahnya. Setidaknya dia aman di sana." Ucapan Jaya yang membuatku lemas.
Sebenarnya aku takut di tinggal sendiri di sini. Cuaca juga mendung dan sudah sore. Tapi karena melihat Yena yang tatapannya kosong.
"Iya baiklah. Cepat kembali Jay."
Yena sekarang cuma diam. Lebih mudah diatur. Aku bantu Yena naik motor.
"Ziah, tolong tangan Yena bikin memelukku, biar kedua tangannya aku pegang dengan tangan kiriku." Perintah Jaya.
Sebenarnya aku cemburu, saat berboncengan tadi aku tidak memeluk Jaya. Eh malah temanku yang duluan. Tapi, aku benar-benar kasihan melihat Yena jadi seperti itu.
Aku lakukan yang dikatakan Jaya dan memasukan kunci rumahku ke dalam kantong celananya.
"Hati-hati bawa Yenanya ya?" Ucapku. Padahal ingin ngucapin hati-hati Jaya, tapi aku takut kelihatan menyukainya.
Mereka pergi. Aku bahkan tidak percaya bakalan ditinggal sendiri.
Lama Jaya tidak datang. Aku mondar-mandir tidak jelas di luar pagar kuburan. Aku takut, khawatir dan cemas.
Tiba-tiba ada dua pria yang melihatku dari arah kanan. Aku milih jalan kaki ke arah kiri menuju ke rumahku dan relakan gak diantar Jaya. Aku beranikan menoleh ke belakang. Mereka tidak ada. Tubuhku lemas. Aku segera berbalik dan mempercepat langkah kakiku.
"Aduh..." Aku terjatuh setelah menabrak sesuatu. Aku merapikan rambut panjangku dan saatku menoleh ke atas, dua pria itu sudah di depanku.
"Ngapain neng sendirian di sini." Sapanya.
Aku segera berdiri, "Aku mau pulang."
"Biar kami yang antar."
"Aku ada yang jemput?"
"Pacarmu? Mana. Gak ada orang selain kami di sini."
Aku benar-benar ketakutan. Ingin kumenangis rasanya. Jalanku selalu dihalangi mereka. Aku tidak bisa menjauh.
"Ziah, kamu sudah lama menunggu?" Suara tiba-tiba terdengar, yang pasti bukan dari kedua pria itu karena mereka tidak tahu namaku. Tapi tidak mungkin juga Jaya, karna suara motornya tidak ada. Aku melihat sosok ketiga dari belakang kedua pria itu. Tidak begitu jelas.
"Itu kau, Jaya." Tanyaku kepada sosok di belakang dua pria yang tidak dikenal.
"Iya ini aku. Siapa lagi? Hantu!" balasnya.
Aku segera mendekati Jaya. Dua pria itu membiarkanku melewatinya.
"Mana motormu?"
"Entahlah. Tiba-tiba mogok. Jadi aku jemput kamu jalan kaki."
Tanpa pikir panjang, aku pegang tangan kanan Jaya dengan kedua tanganku. Mengajaknya menjauh dari sana dan lekas-lekas menuju rumahku.
Jaya tidak membiarkan suasana diam membosankan lebih lama.
"Temanmu ya?." Tanya Jaya.
"Bukan. Aku tidak kenal. Mungkin mereka warga desa sebelah."
"Mereka? bukannya dia!"
Aku mulai cemas, "Maksudmu?"
"Aku lihat cuma satu orang tadi."
"Dua orang Jay." Jawabku maksa.
"Mungkin aku yang salah lihat." Jaya mengalah.
Aku mempercepat langkahku.
"Motormu kenapa mogok?" Tanyaku mencari topik pembicaraan yang tidak horor.
"Entahlah, padahal bensin saat ke sini aku isi penuh dan aku selalu merawatnya. Tiba-tiba saja ketika aku mau jemput kamu motornya mati sendiri."
Sial malah aku bikin suasana horor lagi.
Akhirnya kami sampai di rumahku. Suasana tenang. Membuatku ragu ada orang di dalam rumah.
''Yena, kamu masukan ke dalam rumahkan?"
"Iya."
Saatku membuka pintu. Aku benar-benar kaget. Seluruh rumahku berantakan.
Suasana agak gelap saat itu.
Aku diam kaku tidak tahu harus apa lagi.Jaya mendekatiku, "Aku akan cari Yena. Kamu bantu aku antar dia ke rumah orang tuanya."
Aku diam kesal. Seakan benci dengan Yena.
"Aku pasti bantu kamu beresin rumahmu. Kita harus selesaikan semuanya dulu." Bujuk Jaya.
Tanpa harus dicari Yena muncul. Dia berjalan seakan tidak punya salah. Melewati kami dan keluar dari rumah.
"Ziah, ayo ikut. Aku tidak tahu rumah Yena di mana?" Ucap Jaya.
"Dia yang punya rumah. Pasti tahu." Ucapku kesal.
"Aku temenin Yena dulu. Pastikan dia sampai ke rumahnya. Nanti aku kembali ke sini" Balasnya kemudian bergegas menyusul Yena.
Aku berdiri lalu membereskan barang-barang yang berantakan. Semakinku menyibukan diri. Aku semakin khawatir dengan mereka.
Aku lalu berlari menyusul mereka segera. Beruntung aku masih sempat. Tapi, Yena dan Jaya malah masuk ke dalam hutan. Bukan menyulusuri jalan ke rumah Yena. Aku panik. Segeraku kejar mereka tapi ku tersandung dan jatuh.
Aku tahan rasa sakit di lututku dan kembali bangun mengejar mereka berdua ke dalam hutan.
"Jaya tunggu!" Teriakku.
Jaya tetap mengikuti Yena. Aku benar-benar khawatir. Aku berlari secepat yang kubisa dan menyentuh bahu Jaya.
"Ziah." sapa Jaya.
"Ini bukan jalan ke rumah Yena. Cepat hentikan dia." perintahku.
Jaya langsung menghalangi Yena. Saat Yena terdiam aku menarik tangan kanannya. Terasa dingin. Aku menjadi takut.
''Jay, pegangi Yena. Aku arahkan ke rumahnya."
Sesampainya di rumah Yena. Kedua orang tuanya sudah menunggu.
Ayah Yena terlihat kesal melihat Jaya.
"Kamu apakan anakku?" Teriak ayah Yena sambil menarik baju Jaya dan memukulnya. Tapi Jaya tidak membalas. Itu membuatku syok.
Belum sempat aku menjelaskan Jaya bicara, "Saya akan bertanggung jawab om."
Tentu aku marah, "Apa-apa'an kamu Jay. Kamu tidak melakukan apapun. Kenapa harus bertanggung jawab."
Aku berikan penjelasan kepada ayah Yena, "Dia cuma menemaniku mencari Yena, tidak lebih dari itu."
"Ziah bohong Om." Bantah Jaya.
Aku menatap Jaya, "Jangan bilang kau suka dengan Yena?"
Jaya berjalan dan berhenti di dekat telinga kananku, lalu bicara pelan, "Yena, butuh seseorang untuk menjaganya."
Aku balas dengan suara pelan juga, "Tapi, kau bisa dapatkan yang lebih baik dari dia."
Brakkk, suara berisik terdengar dari dalam rumah. Yena membuat barang-barang berantakan. Dia di dalam kamarnya dan berteriak, "Jangan masuk! Jangan ganggu aku lagi."
Terlihat ada darah dari balik pintu yang tidak tertutup rapat. Jaya langsung masuk dan menenangkan Yena yang duduk sambil menangis dengan telapak tangan yang berdarah. Sepertinya Yena menggesekan telapak tangannya sendiri ke pintu. Meski Yena aneh tapi Jaya tetap menyukainya dan justru menenangkannya. Membuatku cemburu. Lalu aku memilih pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan sakit.
Itu hari terakhir aku melihat Jaya dan keluarga Yena. Setelah kejadian itu mereka ke luar kota. Aku menghabiskan waktu di rumah hanya dengan berbaring tidur menunggu orang tuaku datang tiga hari lagi.
Terlalu lama aku berbaring di kasur membuatku merasa lapar. Aku bermaksud ingin bangun tapi tubuhku terasa berat. Aku tidak bisa bangun. Ada apa ini. Aku hanya bisa menangis. Aku pasrah. Hingga terdengar suara memanggil namaku berkali-kali lalu diikuti suara dobrakan pintu. Aku cemas napasku mulai sesak.
Pintu kamarku terbuka. Sosok misterius berdiri. Saat dia mendekat terlihat mulai jelas, itu Jaya.
"Jaya, tolong aku. Rasanya berat, aku terus mengantuk dan sulit bangun." Ucapku.
Jaya membangunkanku.
Aku mulai bisa bernafas lega. Mataku yang sangat ngantuk mulai mendingan. Tubuhku terasa tidak nyaman mungkin gara-gara kelamaan tidur.
Awalnya aku senang melihat Jaya. Tapi ku kemudian merasa kesal.
"Kenapa kamu ke sini? Bukannya bersama Yena."
Jaya menjawab, "Hasil visum Yena menunjukan dia tidak mengalami pelecehan seksual. Aku dibebaskan dari tuduhan. Sekarang dia di rawat Rumah Sakit Jiwa Mahakam."
Itu membuatku bahagia.
Sejak hari itu tanpa adanya Yena, Ziah dan Jaya semakin dekat. Kesekolah Ziah sering diantar jemput oleh Jaya. Akhirnya Ziah dan Jaya resmi pacaran. Dan kejadian aneh itupun hanya mereka berdua yang tahu.
~Tamat~
***
Note : Sakit dalam perjuangan itu hanyalah sementara, tapi jika menyerah sakit itu akan terasa selamanya. ☺️✌️
Jangan lupa klik tanda ♥️ yah sebagai tanda dukungan dari kalian. Thanks for reading 🤗