Bunda membereskan semua keperluan nur
untuk besok. hatinya bercamput aduk karna
anak gadisnya itu sudah mulai beranjak dewasa.
" nur......barang nya nur sudah bunda rapikan nak
" kata bunda meletakan buku serta tas koper nur.
" bun ....." kata nur lirih.
" nur bisa merapikannya sendiri kenapa bunda yang rapikan " kata nur menatap bunda.
" bunda ngak repot jadi bisa bantu nur " kata bunda.
Nur hanya terdiam menatap sang bunda rasanya berat meninggal bundanya seotang diri di rumah
tampa siapa pun untung masih ada tetangga yang
baik. karna ayah nur sudah meninggal 3 tahun yang lalu.
" nur kenapa nak " kata bunda menatap nur dengan lekat .
" nur ngak pa pa bun, cuma rasanya .........
" jangan berpikir macam macam " kata bunda menatap nur lalu merangkul pundak nur dan mengusap bahu nur pelan.
" bunda percaya padamu, kamu anak yang pintar dan cerdas dan tak ada lagi yang perlu bunda ajarkan pada nut . nur sudah bisa mandiri dan
berpikir dewasa bunda percaya nur bisa sukses
" kata bunda masih mengusap bahu sang putri
tunggal nya.
Banyak hal yang bundanya ajarkan padanya mulai memasak, merapikan rumah ,menjahit, membuat kue dengan berbagai macam, bahkan nur bisa
mandiri karna sang bunda.
bunda mendidiknya dengan baik dan mengajarkan semua ilmu yang dia punya untuk membekali nur jadi wanita yang tangguh dan mandiri di akhir jaman yang penuh tantangan ini. dan itu dilakukan
bunda untuk kebaikan nur dimasa depan.
Kini nur sudah menyelesaikan kuliah kedokterannya dan bertugas dikota. harapan nur
bisa membawa sang bunda setelah ia mendapatkan rumah di kota tempat nur bertugas.
" bun, tapi nanti bila nur jemput bunda bunda mau kan ikut nut" kata nur lirih bersadar pada bahu
sang bunda.
" iya doakan bunda sehat slalu bisa lihat nur
sukses dan menikah dan bunda punya cucu" kata bunda tersenyum sambil mengusap kepala nur.
" nur menatap nanar manik mata bunda lalu memeluknya erat.ibu yang banyak memberkan
ilmu dasar dan nasehat itu sangat berarti bagi
nur bahkan sampai hari ini pun dia tak kan bisa berjuang tampa doa dan dorangan sang bunda.
" ilmu ya ilmu yang diajarkan sang bunda dengan hati yang tulus, kasih sayang dan perhatian yang tak bisa ia dapatkan dari orang lain.bunda mengajarkan nya banyak hal dari berjalan sejak
kecil belajar membaca menulis bernyanyi,berdoa,
bahkan memasak juga merapikan semuanya berasal dari sang bunda. nur hanya melanjutkan dan mengembang ilmu sang bunda yang telah diwariskan.pada nur.
" kwalitas unggul seorang anak adalah sang iibu."
karna ibulah pondasi dasar sang anak belajar yang
tak bisa diajarkan oleh guru manapun.
" nabi Muhammad saw pernah berkata" ilmu terbaik yang didapat adalah dari seorang ibu yang hebat. ada masa masa dimana kita mengajarkan
anak dan memberikan bekal terbaik.
Pertama : umur 1-7 tahun kita menjadikan anak seorang raja tapi juga memberikan dasar dasar ilmu yang baik yaitu ilmu dunia dan akherat.
Kedua : umur 7 - 14 tahun yaitu mendorong anak untuk memilih apa yang di mau tapi tetap dengan pengawasan dan ajaran ilmu yang mbuatnya belajar dan bertangung jawab pada pilihan yang
ingin ditujunya. dengan didampingi
Ketiga : 14 - 21 tahun mendorong anak untuk jujur dan lebih bertangungjawab atas semua pilhan dan sikapnya juga mulai mengulur tangan dan memberi
nasehat apakah pilihan nya benar dan salah kita hanya sebagai pengawas dari belakang
Tiga tahap itu sudah bunda lewati hingga bunda bisa melihat nur berdiri diatas kakinya. nur yang mendapat beasiswa dari sejak sma dan S3 nya kelak bisa menjadi dokter yang baik dan bertangung jawab. kini tak ada lagi yang bisa bunda ajarkan
" pergilah nur....ibu slalu mendoakanmu." kata bunda memeluk sang putri tercinta yang kini menjadi seorang dokter dan beasiswa penuh sampai jenjang S3 itu.
" bunda...tapi nur pergen bunda ikut" kata nur dengan mata berkaca kaca.
" nur bekerja melayani masyarakat nak, bukan
jalan jalan atau bersenang senang kan" kata bunda
masih memeluk anak yang kini sudah mejelma
jadi putri yang cantik, pintar, cerdas dan mandiri.
" bunda slalu menunggu nur pulang' , kalo bunda disana bunda takut menganggu pekerjaan nur"
kata bunda.
" tapi.........
" pergilah"......nur kini seorang dokter. dokternya bunda juga.dan kan slalu jadi obat rindu bunda
setiap saat" kata bunda lirih.
" makasih bun , maafin nur tak bisa slalu menjaga bunda" kata nur sedih.
" bunda sudah dijaga Allah dan ayah dari atas sana,
jadi nur juga bisa jaga diri bunda slalu berdoa meminta nur dijaga slalu" kata bunda yang membuat nur terisak dalam pelukan sang bunda.
..............................
Pagi cerah nur sudah diantar menuju bandara
untuk terbang ketempat nur bertugas dimana
awal karier nya dimulai
" bunda doakan nur slalu " kata nur ketika melepaskan pelukan sang bunda
" itu pasti doa bunda disetiap langkahmu" kata
bunda tersenyum.
" pergilah.........' kata bunda melambaikan tangan
ketika nur melangkah namun sesekali meliihat kebelakang untuk melihat sang bunda. tersenyum.
" kau anak hebat nak ,tak ada lagi yang perlu
bunda ajarkan untukmu karna ilmu mu sudah melebihi kemampuan bunda ." guman bunda
pelan lalu beranjak pergi ketika nur tidak terlihat lagi.
Pagi ini nursudah siap dimeja tugasnya untuk bekerja dihari pertama disebuah rumah sakit besar
yang menentukan langkahnya dimasa depan.
Nur mengambil ponselnya dari dalam tas dan menelpon orang pertama yang slalu ia rindukan.
" assalamualaikum bun " kata nur sambil melihat
sang bunda dalmam mode vc.
" walaikumsalam nak, gimana sudah masuk kerja
?" tanya binda dari sebrang.
" alhamdulilah bun ini sudah dimeja tugas" kat nur
tersenyum
" syukurlah nak , slamat bertugas sayang " kata bunda tersenyum .
" ya bun trimakasih , bunda slalu sehat kan" kata nur lagi.
" alhamdulilah ya sudah sekarang nur kerja, bunda mau kepasar dulu" kata bunda tersenyum.
" ya bun assalamualaikum" kata nur
" walaikumsalam " jawab bunda dari sebrang sana
Nur pun tersenyum lalu meletakkan ponselnya diatas meja dengan rasa bahagia.
" pagi dokter nur" sapa seniornya dokter david.
" pagi juga dok" kata nur tersenyum lalu melangkah pergi menuju bangsal.
Dokter david pun tersenyum penuh arti entah apa yang ia pikirkan hanya dia dan tuhan yang tahu.
Tamat.