Namaku Teguh Harimurti (nama samaran), seorang karyawan perusahaan swasta. Umurku 21 Tahun (umur juga bukan sebenarnya hehe). Perkenankan aku menceritakan kembali kisah nyata yang pernah kualami beberapa tahun silam. Tentu saja dengan sedikit tambahan bumbu penyedap agar lebih menarik dan enak dibaca. Semoga pembaca dapat puas menikmati sajian cerita singkat ini.
Selamat menikmati..
--
Perusahaanku bergerak dibidang retail dan sering melakukan pemasaran hingga ke luarkota. Pada suatu ketika, kami memiliki agenda untuk melakukan kegiatan di kota J.
Dari kota kami yakni kota P, menuju kota J membutuhkan waktu sekitar 3jam dengan kecepatan mobil rata-rata 60km/jam. Maka daripada itu, kami memilih berangkat malam hari agar esok hari bisa lebih fresh untuk melakukan aktivitas di kota J.
Jam 20.00 malam kami berangkat menuju kota J. Tim kami, yaitu Aku, Dany, Hendi, Adie, Siwi, dan juga Lia menggunakan mobil inventaris perusahaan untuk mencapai kota J.
"Kita lebih baik menginap dirumahku. Kebetulan rumah itu cukup luas dan hanya ditinggali oleh orangtuaku. Masih ada 4 kamar kosong yang tersisa. Dengan begitu kita bisa sedikit menghemat biaya penginapan dan bisa kita alihkan untuk makanan yang lebih mewah besok, hehe." Si gembul Adie memang rajanya makan.
"Ah kamu, Die. Makan terus yang diingat. Tapi boleh juga sih. Dengan tidur dirumah orangtuamu, kita akan lebih nyaman dan leluasa untuk beristirahat," sambutku dengan antusias.
--
"Die, gelap sekali kampungmu. Mana sepi lagi. Bikin merinding aja," ucap Siwi saat mobil yang dikemudikan Dany menyusuri jalan berbatu selebar 3 meter.
Kanan dan kiri jalan dipenuhi sawah yang membentang luas. Sesekali ada sekelompok rumah warga, namun seperti desa mati karena begitu lengang.
"Ini di desa, Neng. Bukan dikota. Masih mending desaku daripada desa sebelah yang terisolir pegunungan sehingga medan tempuh kearah sana menjadi cukup sulit," terang Adie.
"Gimana kalau tiba-tiba muncul makhluk halus menghalangi mobil kita?" keluh Lia ikut takut.
"Ga ada yang begituan disini, tenang saja. Kalau beruntung, mungkin kita hanya akan melihat...POCONG!"
HWAAA!!
Duet suara ketakutan Siwi dan Lia memecah keheningan malam. Kami para pria hanya bisa terpingkal melihat kebiasaan kaum hawa yang cenderung takut pada tempat gelap dan sepi.
Jam 23.10 kami tiba dirumah orangtua Adie. Sambil beramah-tamah dan menikmati hidangan kopi plus ketan buatan Ibunya Adie yang begitu hangat dan nikmat, kami membagi kamar yang ada. Bentuk rumah orangtua Adie adalah memanjang kebelakang dengan komposisi kamar berdereret sejajar di sisi kanan bagian rumah yang langsung berdampingan dengan ladang tebu dibagian luarnya.
Kamar orangtua Adie ada dipojok paling belakang bagian rumah. Adie menempati kamar disebelah kamar orangtuanya yang merupakan kamarnya sendiri sejak kecil. Siwi dan Lia menggunakan satu kamar yang berada dibagian paling ujung depan rumah. Tersisa dua kamar kosong diantara kamar Adie dan kamar Siwi. Akhirnya Aku, Hendi, dan juga Dany menempati satu kamar disebelah kamar Siwi.
"Teguh. Kami takut tidur dikamar itu," ungkap Siwi dan Lia kompak.
Aku memang tergolong paling sabar dan mengayomi. Oleh karena itulah para anggota tim terbiasa curhat, berkeluh kesah, ataupun meminta bantuan padaku seolah aku adalah kakak mereka semua. Padahal, nyata-nyata Hendi-lah makhluk peradaban tertua diantara kami.
"Yaelah, anak Mama. Kalian kan sudah dewasa, hhmm.."
"Lagian ya, kamar para cowok ada disebelah kamar kalian. Jika ada apa-apa, teriak saja maka kami akan mendengar!" ujarku menenangkan.
--
Jam 00.00, rasa kantuk sudah tak bisa kutahan. Orangtua Adie sudah masuk kekamar mereka setengah jam yang lalu. Begitu juga dengan Siwi dan Lia yang langsung tertidur sekitar 15 menit setelah menghabiskan jatah ketan mereka.
Adie, Hendi, dan juga Dany kulihat masih asyik bermain Play Station di ruang keluarga tanpa mengenal waktu. Akupun beringsut ke kamar untuk merebahkan tubuh yang seharian ini lelah bekerja.
"Fiuhh, gerah sekali udaranya," batinku sambil beranjak membuka jendela kamar untuk mencari asupan udara segar lebih banyak.
Dari balik teralis jendela dapat kurasakan dinginnya udara malam mulai mengalir memasuki kamar. Dedaunan tebu nampak bergoyang ritmik dibawah sinaran temaram bulan.
Aku beranjak ke peraduan. Ranjang besi tua terdengar berdecit saat tubuhku bergerak diatasnya. Hanya butuh 5 menit, akupun terlelap.
Entah berapa jam aku tertidur. Namun tidurku terusik oleh suara decit ranjang. Ranjang yang kutempati terasa bergoyang, semakin lama goyangan itu semakin kuat terasa.
Dengan malas aku duduk diatas ranjang. Kulirik jam dinding menunjukkan jam 01.11 dini hari.
Namun anehnya, goyangan ranjang masih terus berlangsung meski aku telah bangun dan terduduk. Aku sempat berpikir bahwa yang terjadi adalah gempa. Tapi saat kuamati lebih teliti, tak ada benda kamar lainnya yang bergerak kecuali ranjang yang kutempati.
Kulihat dari sela pintu yang terbuka, ketiga temanku masih asyik bermain Play Station. Jika bukan gempa, kemungkinan merekalah yang menjahiliku. Tapi nyatanya mereka tak beranjak sedikitpun dari ruang keluarga, sedangkan goyangan ranjang masih terus saja terjadi.
"Ini ada apa sebenarnya?" batinku.
Tak mau berpusing-pusing memikirkan keadaan aneh tersebut, aku memilih untuk kembali tidur tanpa mempedulikan goyangan ranjang. Aku sangat lelah dan mengantuk, bodo amat lah dengan mobil goyang, eh ranjang goyang.
Belum lama setelah aku tidur kembali, aku terjaga setelah menghirup bau wangi bunga yang sangat menyengat diikuti goyangan ranjang yang jauh lebih kuat daripada tadi.
Aku sangat jengkel dan ingin marah. Aku sangat yakin ini pasti ulah Hendi Cs yang memang terbiasa jahil.
Aku cepat duduk dan bersiap turun untuk menghardik Hendi atau siapapun temanku yang jahil itu.
Entah kenapa, bau wangi yang tadi menyengat seperti menuntunkan untuk mengikuti dan melihat sumber dari aroma wangi tersebut.
Perlahan pinggangku bergerak. Aku merubah posisi duduk diikuti gerakan kepala hingga akhirnya menghadap tepat pada jendela yang tadi kubuka.
Astaghfirullah..lidahku tercekat. Dibalik teralis tengah berdiri seorang wanita berambut panjang acak-acakan. Pakaiannya putih kumal mendekati abu-abu dengan beberapa sobekan dibeberapa bagian. Dia dengan tajam menatapku. Yaa Allah.. Astaghfirullah, dari matanya yang melotot lebar itu mengalir darah membasahi pipinya yang kering, putih, dan pucat. Dia hanya memandang kearahku dengan tajam tanpa tersenyum, namun dari sela bibirnya yang sesekali terbuka bisa kulihat jajaran gigi yang berwarna coklat kehitaman dan surrr darah mengalir keluar dari bibir itu.
Ingin berteriak namun suaraku seperti hilang. Aku hanya mampu mengeluarkan suara rintihan tertahan dan sangat lirih. Tubuhku seperti terkunci diatas tempat tidur tanpa mampu digerakkan sedikitpun.
Beberapa saat aku hanya bisa diam memandang kengerian yang terpampang didepan mata. Ranjang dan jendela hanya berjarak tak lebih dari 2 meter.
Hingga setelah 1-2 menit menampakkan diri, tubuhnya memudar seperti berubah transparan kemudian menghilang begitu saja.
Dengan mengumpulkan keberanian yang tersisa, kudekati jendela itu untuk memastikan bahwa dia bukan manusia yang sengaja menggodaku. Yang terlihat didepan mata hanya rerimbunan tanaman tebu senyap tanpa ada tanda-tanda gemerisik daun terdorong tubuh manusia ataupun bekas semak diluar jendela yang terinjak.
BRUKK
Setelahnya, akupun pingsan tanpa bisa dicegah.
--
"Maafkan Bapak yang terlambat memberitahu. Selama ini kami juga menyimpan cerita ini kuat-kuat agar Adie tidak tahu. Namun karena sekarang Adie sudah dewasa, ada baiknya Bapak menceritakan semua," ucap Pak Marwan, ayah dari Adie keesokan harinya.
"Dulu saat Adie masih bayi, pernah terjadi pembunuhan terhadap seorang wanita yang bekerja di kebun tebu, disamping rumah ini. Apa motif pembunuhannya, Bapak tidak tahu. Seiring berjalannya waktu, kejadian itu lambat laun dilupakan oleh masyarakat."
"Namun hingga saat ini, sesekali datang bau wangi dan kemunculan wanita dengan ciri-ciri persis seperti yang diceritakan Nak Teguh. Tapi anehnya, itu hanya terjadi di jendela kamar yang tadi malam ditempati Nak Teguh saja. Tak ada kejadian apapun dijendela kamar lainnya."
"Tapi..." Pak Marwan menghentikan kalimatnya.
"Tapi apa, Pak?" kejarku penasaran.
"Setiap tamu kami yang pernah mengalami itu, ia akan diikuti oleh wanita tersebut kemanapun dia pergi. Meski keluar pulau sekalipun. Hal itu terus terjadi ditempat mereka hingga saat ini," pungkas Pak Marwan.
"TIDAKKK!!"
_-_-_
S.E.L.E.S.A.I