"Hoaaamm" rasa kantuk mulai menghampiriku ketika lelah ini menerjang. Duduk di depan laptop, membuat bahan mentoring zoom untuk resellerku dan juga untuk materi zoom di kelas mengajar online-ku.
Mengurus ke-3 anak sendiri, rumah dan juga pekerjaan online ku. Hampir setiap hari aku tidur di atas jam 12 malam, dan harus bangun pagi jam 4 untuk mempersiapkan keperluan rumah besoknya.
Suami? Ya... aku seorang janda anak 3 sejak 1 tahun lalu, dikarenakan sudah tidak ada kecocokan dengan suami yang tiap hari ribut, ditambah dengan terbongkarnya perselingkuhan suamiku dengan mantan karyawanku di pabrik. Jadi, aku sudah tidak memiliki suami lagi.
Kini, semua beban aku lepas sudah. Aku hanya bekerja secara online, mengurus kelas mengajar bisnis online-ku yang sudah aku rintis selama 4 tahun. Alhamdulillah sudah mempunyai tim yang solid, meski semuanya lewat online. Kenal pun lewat online. Tapi alhamdulillah, semuanya amanah.
Urusan pabrik, sudah aku serahkan kepada adikku, yang notabene memang aku didepak dari perusahaan oleh keluargaku sendiri, akibat ulah ayahku sendiri yang menuduh dan mengkambinghitamkan aku atas kebangkrutan yang dialami.
Ah, yasudahlah... terserah mereka. Yang penting, aku merasa bebas sudah tidak berada dalam kendali ayahku lagi dalam semua urusan. Ya, memang selama ini aku hanya boneka keluarga, yang hanya bisa menurut dan mematuhi perintah ayahku, tanpa hak apapun, termasuk urusan menikah, anak, hingga urusan pribadi pun ikut campur dan dikendalikan sepenuhnya.
Miris? Hahaha... memang itulah kenyataannya meski hampir tidak ada yang percaya.
Ayahku seorang yang egois, diktator, berambisi dan serakah. Apapun dilakukan demi kekayaan pribadi. Meski aku dan keluarga kecilku bisa ikut menikmati uangnya, tapi hanya sekedar itu. Tanpa hak apapun. Bahkan, motor, rumah, mobil yang diberikan, bisa diminta lagi kalau dia butuh. Padahal, suksesnya selama ini hasil kerja kerasku.
Hah... aku malah melamun dan merasa miris dan lucu sendiri dengan hidupku. Kumatikan laptop, aku beranjak menuju tempat istirahatku selama 1 tahun ini di kontrakan kecil. Anak-anak sudah tidur, alhamdulillah mereka sangat patuh dan baik.
***
Tok tok tok "assalamu'alaikum"
Terdengar suara seseorang di depan pintuku. "Wa'alaikum salam, ya bentar" sahutku sambil melangkahkan kakiku dengan malas. Entah siapa yang sore ini bertandang ke rumahku, karena mantan suamiku tidak pernah mengetuk pintu, hanya sekedar mengucap salam sambil langsung masuk ke dalam rumah.
Pasalnya sejak 1 tahun ini aku tidak menerima satu pun tamu, kecuali mantan suamiku yang kadang main untuk silaturahmi dan mengunjungi anak-anaknya. Maklum, sejak aku diusir ayahku dan bercerai dari suamiku, aku sudah tidak pernah bersosialisasi lagi.
"Eh... kamu, bee?" Kaget melandaku dengan kedatangan pria ini. Masih dengan gayanya yang memakai celana pendek, kaos berkerah warna hijau tua, jenggot yang masih terpelihara dengan rapi, wajah persegi dengan garis rahang yang kuat, lengan kekar. Aku sedikit terpana. Akh... pria ini masih sama dengan terakhir kulihat. Hanya... makin cool kurasa. Ya... pria ini adalah orang yang aku suka, saat aku dalam masa proses perceraian dulu. Tapi, hanya bisa aku pendam, karena sangat tidak beradab jika aku memiliki rasa di saat aku masih berstatus istri seseorang meski sudah dalam proses cerai.
"Boleh aku masuk, non?" Tanyanya melihatku yang bingung. Ya jelas aja aku bingung, tau darimana dia rumahku ini, dan kenapa dia datang lagi setelah aku mulai melupakan rasaku padanya setelah 1 tahun tak ada kabar, tak ada interaksi sama sekali.
"Masuk, bee. Silahkan duduk. Bentar ya, aku bikinin kopi dulu. Anggep aja rumah sendiri" aku langsung menuju dapur dan membuatkan kopi kesukaannya, 1 sendok kopi, 1,5 sendok gula. Ya, sesuka itu aku padanya sampai hapal semua kesukaannya.
'Bee'... adalah panggilanku kepadanya, entah kenapa aku bisa memiliki nama panggilan khusus buat dia. Dia pun memanggilku 'non', dimana itu juga panggilan khusus darinya. Tak pernah ada yang manggil aku non, dan tak ada yang memanggil dia bee. Entah bagaimana dan sejak kapan, nama itu menjadi panggilan kami berdua dengan persetujuan diam-diam kami.
"Minum, bee, kopinya" aku meletakkan kopi di atas meja dan duduk di depannya.
"Iya, makasih. Kopimu mana? Ato kayak biasanya, kopinya buat berdua, hmm"
"Terserah kamu-lah, bee. Liat ntar aja. Kamu kok bisa tau aku tinggal disini? Kamu kesini naik apa? Berangkat jam berapa dari rumahmu? Trus kamu disini tinggal dimana?"
"Banyak amat pertanyaannya, non. Langsung diborong aja. Gak tanya kabar aku dulu?"
"Kabar mah ngapain ditanya, udah jelas di depan sehat gini" kelakarku. Meski gugup masih menghinggapi, tapi dengan sikapnya yang seperti dulu, akupun larut ke dalam percakapan kami.
"Aku baik, non. Aku setahun ini alhamdulillah udah bisa beli buldozer dan nyewa tempat buat stockpile, dan bisa jalan bisnis sendiri. Ya... meski masih baru merintis. Maaf, aku benar-benar sibuk karena aku pengen punya persiapan pernikahanku ke depannya, biar ada modal"
'Deg' sakit rasanya mendengar penuturannya. Pucat sudah wajahku aku rasa. Rasa suka yang aku pendam untuknya hanya bisa tetap kusimpan sendiri.
"Aku datang ke sini hari ini, berangkat tadi pagi jam 9, naik travel. Aku nginap di hotel Angkasa, rencana di sini semalam aja, besok balik lagi. Untuk alamat rumahmu, tak penting aku tau darimana, yang penting aku bisa ketemu kamu, non. Aku kangen ama kamu"
Bibirku bergetar mendengarnya. Kangen? Gak salah? Bukannya dia mau nikah? Akh... sudahlah, mungkin dia kangen aku sebagai temannya.
"Alhamdulillah, bee. Aku seneng denger perkembanganmu sekarang. Ngomong-ngomong, selamat yaa buat nikahanmu. Kapan rencananya kamu nikah?" Kucoba normalkan getaran suaraku dan raut wajahku, dengan memasang senyum terpaksa.
"InshaAllah bulan depan, non. Kalau rencananya berhasil. Kamu gak kangen aku, non? Biasanya kamu yang selalu bilang kangen" balasnya sambil memperhatikan perubahan sikap dan raut wajahku.
Masih tetap mempertahankan senyum paksaku, aku mencoba menetralkan gelombang rasa di dada yang semakin sesak.
"Kamu kuat kan non, menghadapi setahun belakangan ini? Tapi aku yakin kamu kuat, aku selalu yakin ama kamu, non. Tapi aku kangen celotehan kamu yang biasanya tiap hari penuh makian saat kamu kesal dengan rutinitas dan masalahmu, aku juga kangen cerita kamu tentang kegiatan kamu sehari-hari."
Aku masih terdiam dengan menundukkan kepala, takut air mata ini keluar.
"Ohya, anak-anak mana, non? Aku cuma pernah ketemu ama Ifa, kalo kakak ama adik belom pernah ketemu. Kangen juga ama Ifa."
"Anak-anak saat ini ada di rumah mantan mertuaku, pagi tadi diambil ama papanya, diajak main. Bentar yah, aku cek group dulu, mau ijin menghilang bentar dari group ama cek jadwal malam ini." Aku melangkah ke depan meja kerjaku yang di samping kursi tamu.
"Ya, masih tetep lanjut online-mu? Alhamdulillah kalo gitu. Aku selalu suka liat kamu kerja, keliatan serius dan fokus."
'Deg' Apalagi ini, ya Allah. Kata-katamu, bee... jangan memberikan aku harapan yang melambung di saat kamu sudah akan menikah.
Aku masih diam dan mulai fokus di depan handphone-ku. Sesekali aku meliriknya. 'Ya Allah, handphone yang ku kasih saat ultahnya dulu masih dipakai. Aku harus gimana ama perasaanku ini'
"Selesai. Sekarang bisa fokus ngobrol ama kamu, bee." Meletakkan handphone ku di atas meja, cangkir kopi kuambil dan langsung aku sruput.
"Hahaha... masih aja, minum dari gelasku. Kamu gak berubah ya,non. Masih non-ku yang sama"
Dia berjalan dan duduk di sampingku, memegang tanganku yang dingin.
"Non... dengerin aku yah" aku menengadahkan kepalaku dan melihat sepasang mata yang jernih dan tegas. Aku terhipnotis dengan pandangannya yang sejuk dan menenangkan hingga akhirnya aku mengangguk pelan.
Bee tersenyum, "Non... aku datang ke sini buat meminang kamu. Kamu mau kan, jadi istriku?"
Aku melongo... terkejut olehnya.
"Bee... jangan gitu, Bee. Kamu udah mau nikah kan bulan depan. Jangan bercanda, Bee. Ini gak lucu buat aku juga calon istri kamu. Aku ikhlas, kamu nikah. Aku doain kamu bahagia."
Masih tersenyum, "Aku gak bercanda, Non. Aku suka ama kamu sejak pertama kita kenal. Hanya saja, waktu itu kamu jadi istri orang. Aku gak mau jadi pihak ketiga di pernikahan kamu. Tapi, nyatanya kamu cerai dengannya."
"Aku selalu mencari kabar kamu, non, meski aku gak menghubungi kamu. Sejak aku tau kamu bercerai, aku berniat menjadikanmu istriku, maka dari itu aku berusaha keras bekerja hingga bisa membuka stockpile sendiri, agar aku bisa menghidupi kamu dan anak-anak kamu dengan layak. Dan aku juga tau, kamu masih sendiri, kan saat ini?"
"Dan yang aku maksud dengan rencana nikah bulan depan, itu nikahanku ama kamu, Non. Kamu mau ya, jadi istriku?"
"Kamu serius, Bee? Tolong jangan mempermainkan perasaanku, Bee. Aku gak pengen sakit lagi, sudah cukup aku memendam rasa ke kamu"
Bee tergelak "Aku bener-bener serius, Non. Aku suka kamu, aku cinta ama kamu. Aku pengen ini jadi pernikahan kita yang kedua dan terakhir. Aku duda, kamu janda. Apa salahnya? Gak ada yang jadi pihak ketiga diantara kita, Non."
"Mau, yaaa jadi istriku?"
Airmata tak terbendung meluncur dari mataku. Aku merangkulnya, memeluknya erat "Ya... aku mau, Bee. Aku mau nikah ama kamu, aku mau jadi istri kamu. Bahagiakan aku, Bee"
"Aku gak bisa janji, Non buat selalu bahagiakan kamu. Pasti akan ada banyak masalah yang akan menghampiri kita. Tapi aku bisa janji, untuk terus berusaha tidak menyakiti hati kamu dan membuatmu tersenyum terus"
***
"Saya terima nikah dan kawinnya Asyila Dewanti binti Sadikin dengan mas kawin 1 set perhiasan dan uang tunai senilai 100 juta dibayar tunai"
Dengan ijab kabul tadi, sah sudah aku menjadi istri dari suamiku sekarang. Bahagia menerjang dada, meski tanpa restu dan wali orangtua ku. Yaa.. aku memilih wali hakim, karena hubungan keluargaku yang sudah lepas dan tak tahu kabar mereka bagaimana.
Aku dan anak-anakku diboyong ke kota tempatnya tinggal dan berbisnis, tinggal di rumah yang dibangun olehnya untukku. Yaa.. rumah yang dulu aku candakan menjadi rumahku saat berkumpul dengannya, kini benar-benar menjadi rumahku.
~TAMAT~
Apalah harapan jika tak ada keinginan
Apalah rasa jika tak ada yang memulai
Rindu tak kunjung berkembang,
Layu dirundung dinding pembatas
Sayang, ingin kurajut dengan kehampaan
Melupakan, ingin kucapai
Luka yang kau toreh masih berkubang
Dalam menganga karena tergores
Kasih, antara sakit dan cinta kau semaikan
Tak bisa bersama karna ego tak berdamai
Nestapa masih membalut relung
Ikhlas yang bisa kukemas
• Written by Non_Nita
Gresik, 12 April 2022