"My Dear, aku sangat sadar, dan sangat-sangat sadar dengan keegoisanku disini, berbuat kesalahan dan dengan gampangnya minta buat kembali dari awal. Tidak yang bisa dibenarkan dari kelakuan aku itu. Dan, makasih atas kesabaran hatinya, kasih aku kesempatan terakhir." Ucap sang wanita.
"My Lady. Memaafkan adalah sebuah kewajiban, sedangkan kembali adalah pilihan. Ada yang memilih untuk kembali, dan ada yang memilih untuk pergi. Selalu ada kesempatan untuk menjadi lebih baik."
Sang wanita pun tidak bisa menahan lagi genangan air mata di matanya. "Kadang aku tertekan sama beberapa sikap My Dear, yang dengan gampangnya yang bikin aku bergaul sama pria lain. Sangat tidak dibenarkan. Seperti katamu, mereka seperti katamu. Aku janji."
"Ingin ku pegang janjimu, ya, dengan segala resiko tentunya. Aku tak tau lagi seperti apa yang kamu cari? Kadang aku mikir, manusia tidak ada yang sempurna, begitu juga aku dan kamu, dan memang kenyataannya seperti itu..."
"My Dear ...." Ucapnya lirih.
"Apa aku kurang setia? Kamu tahu sendiri, medsosku pun kamu tahu semua sandinya? Kurang sayang? What?! Hahahaha kamu ngerasain sendiri? Atau kurang berkorban? Hujan hujan kusamperin, beli buku les kubeliin, meskipun aku sendiri gak punya uang, aku minjem sama temenku ...."
"Kasih aku kesempatan terakhir, aku janji ...." Tangisnya semakin menjadi.
"Kebutuhanmu untuk meraih cita-cita mu dulu, begitu juga baju scincare dll? Atau kurang sabar? Aku bahkan lupa berapa kali tepatnya kamu bohong? Pernah aku marah besar? Pernah aku gak maafin? Selalu ku maafin. Umurmu sudah 23 tahun? Dan apa yang telah kamu lakukan selama ini? Apa rencanamu kedepannya? Mau seperti itu terus?"
"Pleaseee... Huaaaa ...."
"Apa aku mandang fisik? 4 tahun lalu seperti apa wajahmu Lady? Penuh jerawat? Kamu lihat mukamu sendiri pun sedih, aku diejek temen-temen katanya mukamu yang katanya serem? Aku tidak masalah semua itu, perlahan-lahan aku temenin, sedikit-sedikit juga aku modalin, biar jadi kamu yang sekarang ini."
"Ka-kasih aku kesempatan terkahir pleasee..." Suaranya terdengar parau.
"23 tahun umurmu, apa gak kepingin nikah? Kalo soal kesetiaan dan pengorbanan aku rasa aku tidak kurang. Tapi jujur kalo soal harta aku belum punya, bukan berarti aku tak berusaha.
"Kamu tahu ibuku sakit? Bolak-balik operasi ke Rumah Sakit, tabunganku tabungan adikku dipake buat berobat ibu, jadi bukan aku gak mau serius, tapi bukan sekarang, karena aku tahu, nikah butuh modal. Adikku nggak jadi nikah karena calonnya nggak sabar nunggu, apa kamu mau seperti itu?"
Sang laki-laki pun pergi meninggalkan wanita itu sendirian. Dia menggunakan motor kesayangannya itu. Mantel musangnya berkibar di punggungnya. Wajahnya yang rupawan menjadi dingin akibat amarah ....
Setelah berputar-putar selama beberapa waktu, dia menemukan tempat yang sempurna untuk melepas kesedihannya. Tempat itu adalah sebah danau. Dia pun langsung duduk di tepi danau, terlihat tidak jauh darinya, ada seorang wanita yang sedang melukis, dan terlihat buku di sampingnya.
Tetapi dia tidak peduli, lalu, dia mengeluarkan sebuah buku yang sudah sedikit usang, dari tas kecil yang dibawanya.
Lalu dia berkata dalam hati. 'Sajak adalah tempatku mengekspresikan diri.Membebaskan pikiranku, bersama guratan pena di atas kertas putih.Menari-nari seiring terciptanya sebuah
kalimat-kalimat yang mungkin bisa menjadi sebuah motivasi.Merangkai banyak diksi yang sederhana. Namun ku buat dengan jutaan makna yang tersembunyi ditiap kalimatnya.'
Dia mulai menggerakkan penanya, hitam di atas putih. Ketika pena nya itu bergerak, bibirnya pun ikut menceloteh pelan. Terbuai dengan coretannya sendiri, sehingga dia tidak sadar wanita yang berada di sana telah berdiri tidak jauh di belakangnya.
Sunyi tak lagi menghantui. Hilang diredam jeritan yang terasa dalam. Hujan menusuk raga yang telah lama terpejam.Menyadarkan diri tak ada lagi tempat untuk bersandar.
Beribu harapan telah padam. Kehangatan tak lagi dirasakan. Sendiri pada setiap masa.
Mendorong hati pada keputusasaan.
Meninggalkanku pada setiap waktu.
Menghujani dengan perasaan yang tak menentu.
Membuangku jauh dari kehidupanmu.
Membiarkanku seorang diri seolah tak mempunyai hati.
Duduk diam semakin terkikis.
Menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan.
Bertahan tanpa keberhasilan.
Menggenggam tangan tanpa ada yang harus dipertahankan.
Berjalan dan berlari semakin terperosok dalam ilusi.
Menghabiskan waktu tuk keluar dari kegelapan hati.
Terlukai oleh puluhan duri hanya untuk menyelamatkan diri.
Berusaha sepenuh hati namun tak sedikitpun dihargai.
Tak banyak hal yang kulakukan untuk menggapai tanganmu.
Tak banyak hal yang kulakukan untuk menyenangkan dirimu.
Tak banyak keberhasilan yang cukup membuatmu memandangku.
Tak banyak hal yang bisa membuat diriku patut dibanggakan.
Apakah karena itu aku dibuang?
Apakah karena itu aku ditinggalkan?
Apa karena itu aku dihilangkan?
Apa karena itu aku sendirian?
Seperti ini kah hidupku?
Sesulit itu kah untuk meraih tanganmu?
Sesulit itu kah untuk mendapatkan pengakuan mu?
Sesulit itu kah untuk mengatakan aku adalah sosok yang sangat berharga?
Segalanya terasa sukar dimengerti.
Rumit seperti benang yang kusut.
Hanya perasaanku atau memang demikian.
Dirikulah yang membuat semuanya terasa begitu rumit.
Entah bagaimana aku harus bertindak.
Dunia ini terasa begitu kejam, selalu saja diriku
dibenci.
Namun aku harus bersyukur untuk segalanya yang diberikan-Nya padaku dan menerimanya dengan lapang dada.
Aku, kaca yang sudah retak
Bersama luka yang hanya jejak
Pikiran ku kacau berantakan
Di kala sepi semakin menekan.
Nafas pelan ku hembuskan
Melepas sedikit beban di angan
Tak mampu mengungkapkan kata
Diam membisu tanpa bicara.
Duka lara selalu ku rasa
Pahit hidup semakin terasa
Dalam sepi ku sendiri
Tanpa ada yang menemani.
Kini sudah tak ada lagi
Rasa untuk kembali
Mengubah keadaan hati
Hingga menutup diri.
Berteman sunyi setiap hari
Khawatir kan selalu seperti ini
Tapi diri tak mampu lagi berdiri
Pilu yang selalu menusuk hati.
Perlahan di tikam tanpa henti
Sakit datang ber tubi tubi
Sudah cepat akhiri ini
Hidupku sudah seperti mati.
Tiba-tiba terdengar suara wanita di belakangnya. "Segalanya mungkin begitu gelap, dan suram, hingga kau tidak bisa melihat kesekitarmu. Bukankah itu yang dinamakan kehidupan?
Kita semua hidup tanpa tahu apa yang akan terjadi nanti, esok, dan masa depan.
Seperti layaknya malam yang berganti pagi
Setelah waktu kegelapan berakhir,
segalanya akan mengalir dengan sempurna kembali.
Itulah mengapa jangan terlalu gelisah
dan serta merta seketika menyerah,
kau pasti bisa melewati perjalanan ini,
meski harus terjatuh berulang kali.
Hari akan terus berganti
berputar pada waktu yang sama,
Namun dengan cerita yang berbeda.
Kau harus siap dengan apa pun yang akan terjadi
dikemudian hari
Sinar terang bisa hadir di antara mendung yang menyelimuti
Kegelapan pun akan datang kembali mengusik relung hati
Mengiring ketakutan bersemayam dalam jiwa-jiwa yang lemah, hingga raga mengaku kalah.
Percayalah...
Jawaban dari segalanya bukanlah pasrah,
matamu boleh buta. Tapi tanganmu masih mampu meraba.
Teruslah melangkah. Kerahkan semua tenagamu yang masih tersisa.
Karena hanya keyakinanmulah,
Yang menuntunmu bangkit dari gelapnya dunia."
Dia pun menoleh setelah wanita itu selesai berbicara. Wanita itu tersenyum hangat kepadanya.
Lalu, dia menunjuk matanya dan berkata, "Liahtlah adakah harapan-harapan kecil di pelupuk mata itu, kau biarkan mereka berlari berhamburan di rebut mimpi-mimpi yang disebut masa depan. Ini tentang diary tua" Ucapnya sambil tersenyum.
End.
Terima kasih.