Langit jingga begitu memesona saat cahayanya terlihat jelas dari sudut jendela kamar. Saat ini sepasang gadis kembar tengah memandangi langit itu. Meski mata mereka melihat satu arah yang sama, tapi pikiran mereka memikirkan hal yang berbeda.
Zea berada disudut kanan jendela. Ia dihantui rasa bersalah yang berkepanjangan, entah sampai kapan rasa itu akan tetap ada. Sebuah kesalahan yang sampai saat ini belum termaafkan oleh Lea--kembarannya.
tiga bulan yang lalu, Zea menumpangi mobil yang dikemudikan oleh Lea. Saat itu ia bercanda kelewatan hingga membuat Lea kehilangan fokus kemudi lalu menabrak sebuah rumah dipinggir jalan. Zea selamat, ia sempat melompat keluar mobil. Namun Lea terjebak di sana dengan luka yang cukup parah. Sampai tiba penduduk yang menolong mereka dan membawa mereka ke RS terdekat.
Lea koma selama lima hari. Sementara Zea sudah kembali sehat, karena luka yang ia terima hanya berasal dari ulahnya mencium aspal saat melompat waktu itu. Ia tak bisa memaafkan dirinya sendiri karena telah mencelakai saudarinya. Sampai saat ini, sampai Lea sudah sembuh, mereka tak pernah kunjung berbicara bahkan hanya sekedar basa-basi. Mungkin mereka hanya akan berbicara mengenai pelajaran sekolah dan sebatas hala-hal penting lain.
Lea menghela nafas pelan, sudah cukup memandangi gumpalan warna jingga yang menyeruak dilangit. Ia melirik malas wajah Zea sekilas lalu bangkit dari tempat duduknya. Namun langkahnya dihentikan oleh sebuah tangan yang menahannya.
"Gu-gue malam ini mau nyanyi di kafe Casablanca, lo temenin gue ya!" Pinta Zea. Wajahnya menunduk, berharap Lea mau seperti dulu --menemaninya saat manggung di kafe-kafe, sebelum datangnya musibah itu.
Tatapannya sendu, akankah hubungan persaudaraan mereka akan seperti ini selamanya? Zea tau dia salah, tapi dia sudah minta maaf atas hal itu berkali-kali, namun tak kunjung dimaafkan oleh Lea.
Dengan paksa Lea menghempaskan tangan Zea. Ia menatapnya tegas, "jangan mentang-mentang gue jomblo, lo pikir malam minggu gue gak ada kegiatan? Sebentar lagi ujian, lo gak inget?gue mau belajar! " Dalam kata lain --Lea menolaknya, lagi.
"Tapi Le, Gue cuma mau memperbaiki hubungan kita. Gue pengen lo jagain gue tiap kali gue keluar malam buat nyanyi. Gue takut sesuatu terjadi dijalan, dan cuman lo yang bisa jagain gue" Ujarnya lirih. "Gue pengen lo maafin gue dan, dan, dan kita sama-sama lagi, gak kayak gini yang meskipun kita tinggal satu atap dan tidur satu kamar tapi kita asing" Ucapnya memburu.
"Asing?" Lea tersenyum kecut. "Lo udah nyelakain gue, dan gue mana mau dekat lagi dengan orang yang udah nyelakain bahkan bisa aja gue mati saat itu" Lea melangkah keluar kamar. Tapi ditengah langkahnya ia kembali berbalik, "cukup pura-pura akrab didepan mama sama papa" Ia menutup pintu cepat disertai dentuman keras.
Air mata Zea hampir tumpah, ia menengadahkan kepalanya menahan rintik gerimis dari matanya turun. Dengan kasar ia mengusap wajahnya lalu menutup jendela. "Hehe, kayaknya lo lebih suka kalau gue menghilang dari dunia. Jahat banget gue udah nyelakain lo" Gumamnya pada burung-burung kecil yang berterbangan.
...
Langit tak lagi jingga, warnanya sudah gelap menandakan sinar matahari sudah tak lagi menjamah semestanya. Zea bersiap memasukkan gitar kedalam tas berbentuk serupa. Ia sudah siap dengan dress merah muda selutut. Rambut pendeknya digerai dengan pita yang serupa warna bajunya di tempelkan di sisi kiri. Ia berjalan keluar kamar, menyalami kedua orangtuanya juga Lea yang sedang membaca buku diruang tamu.
"Gue berangkat Le" Pamitnya.
"Hm" Lea enggan menoleh barang sedetikpun dari bukunya.
Dengan nafas pasrah, Zea melenggang pergi menuju kafe yang hendak ia hibur dengan lagu-lagu yang ia cover. Kafe Casablanca adalah langganannya untuk manggung. Meski hasilnya tak banyak, tapi cukup untuk jajan sehari-hari agar tak terlalu membebani orang tuanya. Ditambah lagi sekarang ia sudah menginjak kelas 12 dan dua bulan lagi akan ujian nasional. Sehingga ia harus memutar otak untuk mendapatkan uang lebih agar meringankan biaya pendaftaran kuliah nanti.
Begitu juga Lea, ia biasanya menjual hasil lukisannya untuk menunjang biaya jajan. Kadang ia juga mendapat pesanan mebuat lukisan kaligrafi atau lukisan poster. Tapi karena kecelakaan itu, Lea jadi jarang melukis. Tangannya sempat merasa ngilu bila lama-lama memegangi kuas atau iPadnya.
Jarak yang ditempuh Zea tak terlalu jauh. Saat sampai kafe ia melihat pengunjung yang lumayan ramai. Rata-rata para kursi di sana diisi oleh kaum remaja yang membawa pasangannya. Ia masuk melalui pintu depan, tanpa sengaja bertemu dengan pemiliknya. "Kak Bima" sapa Zea tersenyum tipis.
Bima adalah kakak kelas dulu. Yang sekarang sudah lulus dan mendirikan kafe ini bersama teman-temannya. Alasan Bima menamai tempat ini dengan nama Casablanca adalah karena ia menyukai parfum bermerk itu. Parfum Casablanca. Sungguh konyol memang, tapi itu kenyataannya.
Bima tersenyum menatap kehadiran Zea, "Lo udah ditungguin" Ucapnya.
"Iya, maaf"
"Ngapain minta maaf, yaudah mau minum dulu? Makan dulu? atau langsung naik" Tawar Bima masih dengan senyumnya.
"Langsung aja deh, kak" Zea langsung permisi menuju panggung sederhana dengan alat musik lengkap di sana, tapi Zea lebih suka memainkan gitar miliknya sendiri.
Zea berdehem sebelum memulai, ia menarik mikrofon mensejajarkan dengan mulutnya. "Halo semuanya, selamat malam" Semua mata pengunjung tertuju padanya. "Gue Zea, malam ini gue akan menghibur kalian seperti malam minggu kemarin, lagu pertama yang bakal gue cover adalah.. Lagu dari Fiersa besari, runtuh" Lalu ia mulai memainkan jemarinya pada senar gitar. Tepukan orang-orang mulai ramai memenuhi seisi Kafe.
Ini adalah lagu favorit Lea. Seharusnya malam ini Lea mau menemaninya, tapi saudarinya itu malah acuh tak acuh. Ia tahu, kesalahannya masih belum dimaafkan. Tapi, tak selamanya ia hidup dalam kubangan penyesalan. Hal apa yang bisa membuatnya dimaafkan oleh Lea? Kata-kata seperti apa yang bisa membuat Lea menerimanya menjadi saudari lagi? Ia tahu Lea terluka atas kecelakaan itu, luka fisik juga hatinya. Tapi Zea juga terluka karena permintaan maafnya tak kunjung diterima.
'Kita hanyalah manusia yang terluka'
'Terbiasa tuk pura-pura tertawa'
'Namun bolehkan sekali saja ku menangis'
'Sebelum kembali membohongi diri'
Sebuah lirik kesukaan Lea ia nyanyikan. Pengunjung yang sedang patah hati dan yang sedang lelah sangat menikmati melodinya. Patah hati bukan hanya tentang cinta saja, patah hati itu bisa macam-macam. Seperti Zea yang sekarang patah hati karena tak dianggap saudari lagi.
...
Gelap suasana di jalan setapak yang Zea lewati. Ia sengaja tak lewat jalan raya, hanya sekedar hendak mampir di kios jamu untuk meminum wedang jahe hangat.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Sangat larut untuk ukuran gadis remaja yang berjalan sendiri di jalanan sepi. Sebenarnya Bima tadi menawarkan diri untuk mengantarnya pulang, tapi karena rasa tak enak, Zea menolaknya. Dengan langkah gontai ia terus menelusuri omblok menunju kios jamu yang jaraknya masih cukup beberapa meter lagi.
Zea mengeratkan pegangan pada tas gitarnya. Angin malam sungguh dingin. Bahkan saking dinginnya hingga menusuk ke tulang dan sendinya. Ngilu rasanya. Seketika itu juga ada perasaan tak enak yang menghantuinya. Jalanan sunyi menjadi faktor utama perasaan tak enaknya. "Huh Le, kalau lo nemenin, gue gak bakal setakut ini" Ujarnya pada diri sendiri. Karena memang hanya dia yang melintas di tempat itu.
Perasaan tak enak dan khawatir terus hadir. Zea benar-benar merasa ada yang mengikutinya. Siapa? Tapi ketika ia menoleh tak ada seorang pun dibelakangnya. Tubuhnya menggigil, bukan takut karena hantu, dedemit atau semacamnya. Yang ia takuti adalah manusia. Takut sesosok manusia sedang membuntuti nya.
PUK..
Zea terpelonjat kaget saat tangan kekar menepuk pundaknya. Sontak ia berbalik. "K-k-kenapa mas?"
Laki-laki sekitar umur pertengahan 30 tahun berdiri menjulang dihadapannya. Ia menyeringai bak predator yang akan memangsa Zea. Zea takut, ia lantas cepat-cepat lari. Namun dress nya ditarik dari belakang oleh orang itu. "Ikut om yuk"
Zea membulatkan matanya, "gak, gak mau! Lepasin!"
Bukannya melepaskan tangannya dari baju Zea, lelaki itu malah menariknya lebih kuat. Sementara Zea terus melawan arus hingga tanpa terpikirkan, Dress warna merah muda itu sobek di bagian punggung.
Zea makin meronta saat tangan laki-laki itu menyentuh punggungnya, "pliss, pliss, mas, lepasin saya!!" Mustahil, tenaga itu sangat kuat, Zea menagis sekencang-kencangnya berharap seseorang mau membantunya. Dan akhirnya keajaiban datang, laki-laki lain datang dari arah belakang. Ia menepuk punggung lelaki itu. "Om tolongin saya om" Pinta Zea kepada orang itu. Orang itu langsung menepis tangan lelaki yang hendak melecehkannya. Ia tertolong.
"Kita bawa ke basecamp aja, gak enak kalo dijalan" Sontak mata Zea melotot horor. Apa? Mereka saling kenal? Zea tanpa ragu berlari, namun lagi-lagi ia tak bisa karena mereka telah mencegahnya melangkah barang se-centi pun.
"Tuhan.. Tolong saya" Lirih Zea dalam hati. Kedua laki-laki itu membawanya ke sebuah rumah kecil tak peduli Zea terus memukuki mereka membabibuta. Hingga Zea lemah tak berdaya kelelahan melawan.
...
Drrttt, Drrttt....
Dering handphone terus memanggil-manggil dari atas nakas, dengan mata masih mengantuk mama menekan tombol hijau disana. Lalu, "APA??" Hingga suara mama mengagetkan papa yang sedang tertidur juga Lea yang masih menatap televisi di ruang tamu.
"Kenapa ma? Kenapa nangis?" Papa menenangkan saat istrinya menangis histeris.
Lea mengetuk pintu kamar orang tuanya sebelum ia memasuki kamar itu.
"Zeaa, Zeaaa" Mama terus memanggil-manggil nama itu. Lea dengan rasa penasarannya memberanikan diri untuk bertanya.
"Zea kenapa ma? Pa? " Rasa tak enak mulai hadir dalam relung hatinya.
"Zea meninggal, gara-gara kamu Lea! yang gak mau nemenin dia ke kafe" Ujar mama dengan linangan air di matanya.
"Udah ma, kita kerumah sakit sekarang" Papa masih menenangkan mama dengan wajah yang dibuat setegar-tegarnya, padahal iris sendu matanya tak bisa berbohong --bahwa ia sesakit itu menerima kenyataan dadakan ini.
Sementara Lea terbengong disudut pintu. Ia memegangi dadanya yang tiba-tiba begitu perih, sangat perih. Seakan belati tajam menusuk hatinya dalam-dalam lalu merobeknya kasar. Ia belum berbaikan dengan Zea, bahkan ia masih menyimpan dendam padanya. Seharusnya ia bahagia kan jika orang itu mati? Tapi kenapa ia merasa bersalah? Kenapa?
...
Lea melihat tubuh kaku Zea diatas ranjang mayat. Bajunya sobek-sobek, dan luka di sekujur tubuhnya. Lea merosot ke bawah dan terduduk dilantai tatkala melihat kondisi saudarinya. Apalagi mama, ia berkali-kali pingsan tak sadarkan diri. Dan papa yang berusaha masih tegar, padahal Lea tahu papanya juga sama-sama sakit, sakit melihat Zea pergi dalam keadaan mengenaskan.
Kata polisi yang menemukan mayat saudarinya, Zea ini diperkosa. Lalu ulu hatinya di tikam benda tumpul. Beruntung para polisi menemukan orang-orang yang memperkosa saudarinya. Sehingga hukuman akan ditetapkan seberat-beratnya.
Lea keluar rumah sakit, ia duduk di sebuah kursi di taman. Tak kuasa menahan sesak akhirnya ia menumpahkan cairan bening yang menumpuk di matanya.
"Andai aja saat itu gue nemenin lo Ze"
"Andai aja saat itu kita udah baikan Ze"
"Andai aja saat itu gue udah memaafkan elo Ze"
"Kenapa gue begitu gengsi untuk memaafkan?"
"Dan apa salahnya gue memaafkan? Apa salahnya dengan memaafkan?"
"Rasanya memaafkan itu sangat sulit Ze"
"Gara-gara gue gak memaafkan elo Ze, gara-gara gue gak mau nemenin elo ke kafe tiap malem, untuk apa gue belajar bela diri kalau bukan buat ngejaga elo?"
"Gue nyesel karena gak bisa memaafkan elo, gue nyesel karena meskipun gue memaafkan, elo udah gak ada"
"Semesta gue benar-benar hancur"
"Harusnya saat ini gue yang meminta maaf"
Pukul dua dini hari, Lea menyadari atas sikapnya yang kekanak-kanakan yang membuat dirinya kehilangan saudarinya selama-lamanya.
Bima menghampiri Lea. Ia mendapat kabar meninggalnya Zea dari papa gadis itu. Ia juga sama merasa bersalahnya karena membiarkan Zea pulang seorang diri. Harusnya ia memaksa Zea agar pulang dengannya. Tapi apa daya? Semesta telah berencana. Ia duduk di samping Lea dan membawa kepala gadis itu di pundaknya. "Kita semua salah. Apa salahnya memaafkan? Dan apa salahnya untuk mengungkapkan perasaan yang selama ini gue simpan untuk Zea lebih awal?" Ucapnya sendu.
Bima beserta bulan dan bintang di langit menjadi saksi kesedihan dan penyesalan Lea. Ia tak bersikap dewasa untuk memaafkan. Ia terlambat untuk memaafkan. Dan sekarang seharusnya ia yang meminta maaf.
...
thanks for reading')