Athea berjalan di jalan yang setiap hari ia lewati bersama Mathew, melihat gembok cinta yang pernah ia pasang bersama Mathew, bahkan kuncinya masih ia simpan.
[Coba baca cerita ini sambil dengerin lagu Anneth-Hari ini, esok atau nanti]
Cinta tumbuh diantara mereka, namun meski begitu, mereka tidak akan bisa bersama, karna keyakinan yang berbeda hingga akhirnya mereka memilih untuk mempertahankan keyakinan mereka masing masing, namun perasaan cinta masih membekas, Athea dan Mathew membiarkan perasaan itu mengalir.
5 tahun lalu, saat mereka berpisah, dan sampai kini Athea masih mencintai Mathew.
~~~~~~~
Bandung, 22 desember 2015. Athea memutuskan untuk pindah ke jakarta dan melanjutkan sekolah nya di jakarta.
Sekarang 20 februari 2020, di hari ulang tahun Athea, ia memutuskan untuk pergi ke bandung seorang diri hanya untuk sekedar bernostalgia
Melewati jembatan yang terpasang banyak gembok cinta. Ia duduk di kursi taman dan tersenyum. "Apakah aku akan bertemu Mathew di sini?" Gumam nya.
Hanya kenangan yang terukir di hati Athea, Menahan pedihnya rindu yang menyiksa.
Athea kembali ke rumah nya yang berada di bandung, menatap foto Mathew yang ia letakan di atas laci.
menunduk dan meneteskan air mata. menatap ke jendela.
"Kamu dimana mat" Athea memeluk foto Mathew dan air mata mengalir deras.
Hingga akhirnya pertemuan mereka hadir. penantian Athea tak sia sia, setiap hari ia datang ke taman tempat ia dan Mathew selalu bermain dulu. Takdir berpihak pada Athea.
"Mathew" Sahutnya saat berada di hadapan Mathew dengan air mata nya.
Mereka tidak bisa menutupi perasaan mereka masing-masing dimana masih ada cinta yang tertinggal di hati mereka.
Hari demi hari berlalu, mereka selalu berdua, sangat dekat dan semakin dekat, Athea datang ke rumah Mathew menceritakan harinya kepada Mathew, tertawa dan tertawa, namun Athea tidak menyadari bahwa ada yang aneh pada Mathew.
~~~~~~~
Mathew pergi ke WC dan berdiri di depan cermin. Hidungnya berdarah. "Apa? darah? Aku mimisan?" Sahut Mathew sambil mengusap hidungnya.
Sementara itu, Athea yang duduk di ruang tamu mengobrol bersama bi ira, Pengasuh Mathew dari kecil hingga sekarang. Ya.. orang tua Mathew ada di inggris, dan Mathew dititipkan dengan bi ira.
Athea melihat sebuah kertas di atas meja ruang tamu. "Kertas apa ini?" Gumam Athea. Athea mengambil kertas itu dan hendak membacanya namun Mathew keburu datang dan merobek kertas itu.
"Lho kok dirobek? kenapa?" Tanya Athea.
"Ga papa, itu bukan kertas penting kok" Jawab Mathew.
Athea curiga. kenapa Mathew bersikap aneh dan kenapa hari ini wajah Mathew sedikit pucat.
Athea berdiri dan meraba wajah Mathew. "Kamu sakit? kok muka kamu pucat sih? kenapa?" Tanya Athea khawatir.
"Nggak kok ini bukan apa-apa mungkin kecapean aja" Jawab Mathew sambil tersenyum.
"Nggak, pasti ini____" perkataan Athea terpotong.
"Udah kamu pulang aja, biar supir aku yang anter" Sahut Mathew sambil mendorong Athea keluar rumah.
Mathew membukakan pintu mobil untuk Athea. Athea masuk ke dalam mobil. Supir lalu mulai menjalankan mobil. "Pak pelan pelan aja ya.. jalannya" Sahut Athea.
"Siap non" Jawab supir.
Mathew berbalik dan berjalan kembali ke dalam rumah nya. Mathew berjalan begitu lemas. Baru berjalan beberapa langkah Mathew lalu jatuh pingsan.
Athea melihat itu dari balik jendela mobil, ia lalu menyuruh supir berhenti dan berlari menghampiri Mathew. "Mathew, Mathew, ka-kamu kenapa? Mat? Mat? Biii bibi, bi Ira..." Sahut Athea teriak.
"Iya non" bi Ira keluar rumah dan tersentak kaget.
"Bi.. ayo kita ke rumah sakit bi" Sahut Athea.
"I-iya non" Jawab bi Ira.
Mereka pun pergi ke rumah sakit.
Saat di rumah sakit...
Mathew masuk ke IGD. "Bi, Mathew kenapa bi? Dia sakit apa?" Tanya Athea sambil menangis.
"Kanker darah non" Jawab bi Ira sambil menundukkan kepalanya.
"Kanker darah? kenapa bibi gak pernah kasih tau aku? Bibi tau kan kita udah gak ketemu bertahun tahun. Kenapa bibi gak pernah kasih tau aku? kenapa bibi biarin Mathew ngelawan penyakit nya sendirian? kenapa bi? kenapa?" Banyak pertanyaan yang Athea lontarkan. Gadis itu menangis terisak-isak.
"Mathew yang nyuruh bibi non, bibi minta maaf, Mathew gak mau non tahu penyakit nya" Sahut bi Ira sambil menangis.
Ruangan hening dan hampa tanpa suara, hanya ada isak tangis yang pecah. Dokter keluar dari IGD.
"Dok gimana keadaan Mathew?" Tanya Athea.
"Baik, dia boleh dijenguk, tapi sekarang di masih lemas jadi biarin dia istirahat" Jawab dokter.
Mathew lalu dipindahkan ke ruang rawat inap.
Bi Ira dan Athea langsung masuk ke ruangan Mathew.
Hari hari berlalu, Mathew masih dirawat dirumah sakit dan Athea setiap hari mendampingi Mathew.
"Aaaa makan dulu donk makananya" Sahut Athea
"Gak mau, aku mau pulang" Sahut Mathew.
"Lhoo kok gitu sih, kamu harus dirawat biar sembuh" Sahut Athea.
"Emang ada orang yang sakit kanker darah sembuh? gak ada kan? percuma, aku mau pulang" Sahut Mathew.
"Ada donk Mat, pasti ada" Sahut Athea.
"Kalaupun ada cuman 000000.01%" Sahut Mathew.
Athea tertawa .
"Lho kenapa kamu ketawa? Tanya Mathew.
"Hmmm udah lama kamu gak ngomong kek gitu, biasanya kamu itu kan sok sok an pintar" jawab Athea.
"Iya in aja"
Mathew dan Athea tertawa bersama.
Waktu yang mereka habiskan sangat banyak, Mathew dan Athea tidak ingin menyia-nyiakan hari hari itu, menghabiskan waktu dari pagi hingga pagi lagi, tertawa, tertawa dan tertawa. Tidak terasa, sudah 3 minggu Mathew dirawat di rumah sakit.
'Clek' Suara pintu terbuka, suster masuk sambil membawakan obat.
"So sweet banget sih mba sama mas nya" sahut suster tersebut.
Mathew dan Athea hanya tersenyum malu. Suster itu juga ikut tersenyum. "Mmm sus, kok di depan rame banget, ada apa emangnya?" Tanya Athea.
"Ada pesta dansa, biasanya setiap awal bulan, rumah sakit ini ngadain pesta biar pasien pasien gak jenuh" Jawab suster itu.
"Kita dansa yuk" Sahut Mathew.
"Shhttt, kamu kan masih lemas" sahut Athea.
"Kan aku pake kursi roda, kita liatin orang dansa aja di taman, boleh kan sus?" Tanya Mathew kepada Suster.
"Boleh kok, tapi jangan banyak gerak, duduk aja di kursi, dan minum obat dulu" Jawab suster.
"Siap" Sahut Mathew kegirangan.
Mathew dan Athea lalu pergi taman. Mereka lihat banyak orang berdansa, bahkan banyak juga orang tua ikut berdansa.
Mathew berdiri. "Lho kamu mau ngapain" Tanya Athea sambil membantu Mathew berdiri dari kursi roda nya.
Mathew menarik tangan Athea dan mengajak nya berdansa. "Lho kamu ngapain dansa? duduk aja, kamu masih lemes" Sahut Athea.
"Gak mau. Aku mau sebelum aku meninggal aku pernah dansa sama kamu, bikin kamu bahagia dan lain-lain" Sahut Mathew.
"Ck -_- Kamu itu selalu bikin aku bahagia, dan kamu gak mungkin meninggal" Sahut Athea.
"Kalau aku meninggal sekarang gimana? Hmm aku bakal bahagia sih karna orang yang terakhir aku liat itu kamu dan aku meninggal di pelukan kamu" Sahut Mathew.
Mathew memeluk Athea erat-erat. Entah kenapa Mathew merasa sangat pusing. Penglihatannya kabur, dan dia mimisan.
Mathew terjatuh di pelukan Athea. "Mat? Mathew? Mat.." Panggil Athea dengan khawatir karena tubuh pria itu terasa berat di pelukannya.
Athea melepaskan pelukan nya dan Mathew terjatuh ke tanah. "Mathew.. Mat.. Tolong.. Tolong.., suster, dokter" teriak Athea. Perhatian semua orang tertuju padanya.
~~~~~~~
Mathew dibawa ke IGD. Bi ira menghubungi orang tua Mathew. 1 jam, 2 jam, 3 jam. Orang tua Mathew sudah datang ke indonesia dan bergegas ke rumah sakit tempat Mathew dirawat. 4 jam, 5 jam, operasi belum selesai, hingga pada akhirnya
_______________________________
Dokter keluar dari ruang Operasi dan menyatakan bahwa Mathew telah meninggal.
Orang tua Mathew yang sudah berada di rumah sakit tak sanggup menahan tangis, Athea tidak percaya bahwa Mathew telah meninggal, ia menerobos masuk ke ruang Operasi, Athea terjatuh di sebelah Mathew. Kunci gembok cinta pun ikut terjatuh dari saku nya, kini ia tidak bisa berbuat apa apa Mathew telah pergi.
"Tante aku minta maaf, kalau aja tadi aku gak dansa sama Mathew mungkin semua ini gak akan kejadian" Sahut Athea.
"Ga papa, tante malah makasih sama kamu karna udah mendampingi Mathew di hari hari terakhirnya. Umur gak ada yang tau nak" Jawab Ibunda Mathew.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Di hari itu, Mathew terbaring di atas peti, Athea datang membawa bunga, semua perhatian tertuju pada Athea. Ia meletakan bunga yang ia bawa di depan foto Mathew. Athea terjatuh di sebelah peti, menundukkan kepala dan menangis terisak.
"Aku harap jiwamu tenang"
Mungkin hari ini, hari esok atau nanti berjuta memori yang terpatri dalam hati ini. Mungkin hari ini, hari esok atau nanti tak lagi saling menyapa meski ku masih harapkanmu.
Terimakasih untuk segalanya