Hari semakin gelap. Suara adzan maghrib pun terdengar di seluruh penduduk desa menandakan hari akan berganti malam. Terlihat di sebuah rumah yang cukup terbilang sangat sederhana sepasang kakak beradik sedang mengobrol.
"Kak apakah kita akan melanjutkan pertunjukan besok?" Tanya sang adik.
"Iya dek, lantas jika kita tidak melanjutkan pertunjukan itu kita mau makan apa besoknya." Jawab sang kakak.
"Tapi kan kondisi kakak saat ini sedang tidak sehat, dan badan kakak juga demam apakah kakak yakin?" Tanya sang adik lagi.
"Udah gak usah dipikirin dek kakak baik-baik saja, mungkin kakak hanya kecapean dan hanya butuh istirahat." Ujar sang kakak sambil mengusap rambut adiknya.
"Ya sudah kak adik buatin teh hangat dulu yah buat kakak, sekalian mau beli obat ke warung."
"Iya dek. Kamu hati-hati ya di jalan"
Sang adik pun segera pergi setelah membuatkan teh untuk sang kakak. Jarak rumah sampai ke warung membutuhkan waktu 20 menit, jika di totalin sang adik sampai ke rumah lagi 40 menitan. Setelah sang adik berlalu, tak membutuhkan waktu yang lama tubuh sang kakak semakin demam dan ia semakin lemas. Sang kakak pun memilih segera berbaring sambil menunggu adiknya kembali.
Sesampainya di warung bu Mina.
"Bu ada obat demam? saya ingin pesan 1 strip" tanya sang adik.
"Ada dek, bentar ibu ambilin dulu" jawab ibu itu.
"Berapa harganya bu?" Tanya sang adik lagi.
"10 ribu dek." Jawab ibu
"Ini bu duitnya" sambil menyerahkan duit ke ibu Mina.
"Siapa yang sakit dek? Tanya bu Mina
"Kakak saya bu, tubuhnya demam." Jawab si adik
"Oh... semoga kakak mu cepat sembuh yah dek." Ujar bu Mina.
"Iya bu terima kasih, kalau gitu saya pamit dulu bu."
Disaat pulang setelah membeli obat sang adik merasahkan perasaan yang tidak enak. Sang adikpun segera berlari kecil untuk mempercepat langkahnya. Seketika tepat di penghujung jalan, sang adik bertemu beberapa orang yang sedang ngobrol dan tertawa keras sambil meminum-minuman keras. Suara mereka begitu keras terdengar. Sang adik hanya melihat mereka cuek. Setelah sang adik bertemu dengan sekelompok orang itu, salah satu dari mereka memanggil sang adik.
"Hei bocah kamu mau kemana malam-malam begini masih berkeliaran." Tanya salah satu dari mereka.
Karena ketakutan sang adik menghiraukan pertanyaan mereka dan memilih mempercepat langkahnya. Disaat sang adik berlari kakinya tersandung di akar pohon, sampai membuatnya terjatuh. Seketika kelompak orang itu tertawa keras, dan salah satu dari mereka menghampirinya.
"Kamu kenapa lari, aku tidak akan memakan mu bocah bod*h" ujar orang itu sambil tertawa keras.
Sang adikpun ketakutan dan ia memilih tetap diam dan tak menanggapi ejekan dari mereka. Karena ia menahan rasa sakit di kakinya yang membuatnya terjatuh.
"Kamu kenapa menangis, aku sudah bilang aku tidak minat memakan kamu". Terdengar lagi suara tawa orang itu.
"Aku hanya mau kamu serahkan beberapa barang berharga kamu." Sambil orang itu mendekati sang adik.
Setelah orang menghampiri bocah itu dia menarik kerahnya sampai membuat sang adik menangis ketakutan. Orang itu tetap memaksa dan memeriksa kantong sang adik, di dapatnya sebuah dompet kecil yang berisi duit 50 ribu dan obat tadi yang di belinya. Sang adikpun memberontak.
"Jangan ambil duit itu bang, hanya tinggal itu upah seminggu aku dan kakakku" ujar sang adik sambil memohon dan berlinang air mata.
"Bodoh amat dengan kakakmu. Mana sini duitnya, jika tidak kamu akan merasahkan kemarahanku".
Sang adik tetap kokoh mempertahankan duitnya. Dia tidak kuat lagi menahan badan kekar orang itu. Seketika terdengar suara tamparan yang cukup keras.
"Plaakkk..." Orang itu menampar pipih sang adik sampai membuatnya hampir pingsan. Darah segar pun mengalir dari bibirnya. Akhirnya orang itu mendapatkan duit dan barang yang dikiranya berharga, yang berisi di kantong plastik. Segera ia membukanya ternyata isinya hanya obat saja. Iapun langsung membuang obat itu dan segera kembali ke teman-temannya.
Sang adik hanya melihat orang itu pergi dari hadapannya, segera ia mengambil obat yang di buang itu. Sang adik langsung pergi dari sana dengan tertatih karena ia menahan rasa sakit kakinya dan pipinya sehabis di tampar orang itu.
Sesampainya sang adik di depan rumah dia segera mengetok pintu dan memanggil kakaknya. Beberapa kali sang adik memanggil kakaknya namun tak ada jawaban sekalipun. Sang adik segera mengeluarkan kunci cadangan dan dibukanya pintu rumahnya itu. Alangkah terkejutnya sang adik melihat kakak nya yang berada di kamar, ia mendapati kakaknya terbaring lemas dan dan suhu badannya semakin bertambah.
"Kak bangun kakk..jangan tinggalin adik, adik takut" ujar sang adik dengan air mata bercucuran.
"Dek kamu dah pulang, syukurlah kamu baik-baik saja" ucap lirih sang kakak.
"Kak maafkan adik, adik tidak berguna". Ucap sang adik sambil memeluk kakaknya.
"Dek kamu tak perlu sedih, kakak masih disini bersama kamu, dan wajahmu kenapa?". Tanya sang kakak.
"Ga apa-apa kak, adik hanya terjatuh aja tadi". Jawab si adik.
"Dek badan kakak terasah sakit semua" ujar sang kakak
"Gimana kalaw kita pergi ke rumah sakit aja kak, biar kakak dirawat disana" saran sang adik
"Tidak usah dek, biaya rumah sakit mahal. Kakak di sini saja kakak hanya mau tidur sebentar" jawab sang kakak.
Sebelumn sang kakak tidur ia berpesan kepada sang adik.
"Dek bisakah kamu berjanji sama kakak?" Tanya sang kakak.
"Iya kak". Jawab si adik.
"Jika seandainya kakak sudah tidak ada lagi, kamu harus tetap melanjutkan hidup yang baik yah. Dan percayalah kakak selalu ada bersamamu. Satu hal lagi kamu tetap lanjutkan pertunjukan kita". ujar sang kakak.
"Iya adik berjanji kak". Jawab si adik.
Sang adikpun membiarkan sang kakak untuk beristirahat. Dua insan itu pun tertidur sambil sang adik memeluk kakaknya. Esoknya sang adik bangun dan ia kaget sambil menangis histeris sang kakak yang hanya meminta untuk beristirahat sementara ternyata memilih untuk istirahat selamanya.
Singkat cerita, sang adik tetap melakukan janjinya kepada sang kakak ia memilih tetap melanjutkan hidupnya dengan baik. Meski ia berat menjalani kehidupannya sang adik tetap tegar. Setelah itu sang adik melakukan pertunjunkan sulap yang dimana hanya dia sendiri yang tampil. Dia sedikit gugup dan aksinya hampir gagal. Akan tetapi disaat sebelum sang adik memulai aksinya sang adik merasahkan kehadiran sang kakak. Ia pun seketika senang dan kembali semangat. Alhasil semua pertunjukan sang adik lakukan mendapat tepuk tangan yang meriah dari penonton.
Hari demi hari mereka berdua lewati, meski sang kakak hanya sebatas roh saja dia tetap membantu adiknya melakukan semua pertunjukan sulap itu. Semua aksi yang di lakukan sang adik menjadi sangat spektakuler dan terlihat sangat nyata. Sejak saat itu sang adik menjadi terkenal dan hidup bahagia. Terkadang dia di undang di beberapa stasiun tv untuk melakukan aksinya menghibur para penonton.
Sampai sekarang tak ada yang tahu sosok di balik kesuksesan sang adik. Begitulah kisah sang kakak bersama adiknya.
~Tamat~
***
Note : Maap yah jika alurnya terkesan terburu-buru. Soalnya author udah gak punya ide lagi. 🙏🥺
Jangan lupa klik tanda ♥️ yah sebagai tanda dukungan dari kalian. Thanks for reading 🤗