KUPINANG DENGAN SKRIPSI
Terkadang luka hati itu hampir mirip dengan sampah plastik
Butuh waktu lama untuk terurai
Butuh waktu lama untuk bisa sembuh dan kembali siap untuk menerima sebuah kisah baru
Demikian pula kebekuan pemikiran, Anda tidak akan pernah benar-benar memahami dimana tingkat keruwetan kebekuan pemikiran sebelum bisa menjadi cair dan siap untuk dituangkan dalam ide-ide kreatif
Butuh waktu untuk menggerakkan niat dan pemikiran untuk menyelesaikan sesuatu yang disebut dengan SKRIPSI
Lokasi : Kampus Swasta, Fakultas Psikologi, Kelas Ekstensi
Sepuluh menit lagi, kelas akan dimulai namun beberapa mahasiswa dari angkatan semester atas masih belum memasuki ruangan. Hampir 1/3 kelas sudah dipenuhi dengan mahasiswa dari angkatan semester on going. Sebuah pemandangan tidak umum, jika mengingat ini adalah kelas Filsafat. Akan menjadi sebuah kejadian luar biasa, ketika mahasiswa berani datang terlambat pada kelas ini.
Tap..tap..tap, suara langkah kaki Dosen Filsafat, yang lebih sering disebut Prof. Danu, terdengar semakin mendekat untuk masuk ke ruangan. Sesaat lagi virus horror akan memenuhi ruang kelas ini. Terlihat tiga orang mahasiswa dan dua orang mahasiswi semester atas berjalan bergegas mengiringi langkah Sang profesor. Pada akhirnya keadaan canggung pun dimulai, begitu sekelompok orang-orang itu turut memasuki ruangan.
Filsafat adalah tentang ilmu tingkat tinggi. Filsafat adalah hasil dari perenungan terdalam dari sebuah pemkiran sehat yang dituntut untuk terkadang perlu masuk ke kedalaman ruang pikir yang terdalam dari manusia. Filsafat adalah ilmu yang murni dan menemukan kemurnian dalan pemikiran. Demikianlah Prof. Danu terbiasa memulai kelas dengan lantunan undang-undang yang telah dibuatnya. Seperti biasa pula, seluruh kelas akan dimonopoli olehnya, dan demikianlah kelas akan berjlalan setiap kali Mata Kuliah Filsafat dilangsungkan.
Percayalah, kelas juga akan ditutup dengan bait-bait indah yang menurut Prof Danu merupakan hasil karya perenungan terdalamnya, namun harus disempurnakan oleh seluruh mahasiswa dengan wujud sebuah paper setebal tiga irisan tempe goreng yang biasa dijual di kantin kampus. IYA…..DEMIKIANLAH…………Prof. Danu percaya, paper setebal tiga irisan tempe goreng yang ditulis seorang mahasiswa adalah satu-satunya jalan untuk mengindikasikan bahwa ilmu dari dosen dapat terserap dengan baik oleh para mahasiswanya.
Kelas berakhir dan terlihat aura seluruh kelas seolah baru saja terbebas dari paceklik berkepanjangan. Sedemikan tersiksanya, sehingga setelah kelas diakhiri, sebagian besar isi kelas berhamburan keluar ruangan. Namun terlihat, sekelompok mahasiswa yang memilih bertahan di kursinya. Nampaknya bukan diskusi mengenai keruwetan tugas yang telah diberikan Prof. Danu, karena itu hal yang mustahil bagi mereka.
Sekelompok mahasiswa ini cukup populer di kalangan kampus. Bukan karena prestasinya pastinya, karena rata-rata mereka ini memang seharusnya sudah lulus 2 tahun yang lalu. Hampir mendapat anugerah “mahasiswa abadi” dari warga kampus yang lain. Tentunya di pertemukan di kelas ini karena satu alasan, mengulang. Kabarnya ini semester kedua mereka mengulang kelas Prof. Danu. Sungguh luar biasa!!! Mengulang Mata Kuliah yang sama selama 2 semester. Keadaan yang ajaib.
Inggrid, selain sebagai mahasiswi dia juga merupakan salah satu karyawati sebuah Bank Swasta. Mitha, tercatat sebagai salah satu Supervisor SPG Produk Kecantikan. Hendri dan Lukman, karyawan Freelancer sebuah produk makanan ringan. Satu lagi Iqbal, yang merupakan seorang penyiar radio. Perpaduan yang nano-nano, latar belakang pekerjaan yang sebenarnya perlu dipertanyakan kolerasinya ketika harus mengambil Jurusan Psikologi. Atau bisa jadi, inilah yang menjadikan mereka meraih julukan “mahasiswa abadi”, ketidaksinkronan keilmuwan dengan pekerjaan. Tapi entahlah.
Rupanya bukan sebuah kebetulan, masing-masing dari mereka menyodorkan surat dari pihak kampus dan ajaibnya sama. Kelimanya mendapat peringatan dari pihak kampus untuk segera merampungkan kuliahnya. Deadline diberikan sampai dengan semester depan. Itu artinya 7 bulan lagi, karena semester ini hanya tersisa 1 bulan saja.
Raut wajah lesu dan tak berdaya seolah telah mengalami penganiayaan tingkat tinggi terpasang diwajah kelima sahabat ini. Pastinya terbayang liku-liku keruwetan yang terbayang dibenak mereka ketika harus mondar mandir menemui dosen pembimbing, yang kemungkinan besar bisa sejahat ibu tiri atau segarang gangster. Belum lagi memikirkan revisi yang harus dibalas dengan berlembar-lembar kertas lemburan. Mereka sedang mencoba mencari solusi yang dirsakan paling aman saat ini.
Mengajukan perpanjangan semester? Tentunya akan berat, mengingat ini merupakan peringatan ke-3 yang telah mereka peroleh dari pihak kampus. Pindah Kampus? Mustahil, karena bisa jadi mereka justru harus turun semester untuk menyesuaikan dengan kredit semester yang disyaratkan oleh kampus yang baru. Belum lagi, jika harus pindah jurusan. Rupanya jalan buntu. Satu-satunya jalan adalah, menyelesaikan skripsi semester depan!
Sebuah ide tercetus dari Lukman, untuk menggunakan jasa orang lain membantu menyelesaikan skripsinya. Ide lain muncul dari Mitha, mengusulkan cukup dua orang saja yang mengerjakan, siasnya bisa menjiplak dengan sedikit penambahan, maksudnya agar memangkas panjangnya alur revisi yang bahkan lebih panjang dari Jembatan Suramadu. Namun ide itu ditolak oleh Iqbal, sambil menunjuk kertas peringatan dari kampus dimana disana tertera jika Prof. Danu akan bertindak sebagai dosen pembimbing mereka, tentunya mustahil untuk mengelabuinya.
Keterpaksaaan tingkat tinggi yang dibalut dengan keadaan terdesak, memang akan menyajikan sebuah keadaan ajaib. Inggrid memilih untuk meminta pada Rio, pacaramya untuk mengerjakan. Mitha memutuskan untuk mengerjakan sendiri. Sedangkan Hendri, menggunakan kejahilannya untuk menekan mahasiswa semester bawah untuk mengerjakannya. Lukman, nekat menggunakan jasa seseorang untuk menyelesaikan skripsinya. Tinggal Iqbal yang masih kelimpungan.
Waktu berjalan dengan super cepat, 3 bulan lagi pendaftaran sidang proposal skripsi. Rupanya keempatnya sudah bersiap dengan berbagai cara yang telah ditempuh, lalu Iqbal? Satu kata pun bahkan belum berhasil dilahirkan dari pemikirannya. Skripsi adalah hal sakral untuk diucapkan, rumit untuk dimulai, dan berat untuk diselesaikan . Setidanya, demikianlah bagi Iqbal saat ini.
Kerumitan semakin bertambah, manakala ia kembali membuka ponselnya dan tidak menemukan satupun pesan yang dibalas oleh Dinar, wanita yang sudah 6 tahun ini mendampinginya sebagai kekasih. Saat ini Daniar sudah lulus tentunya, padahal dulu mereka bersama-sama memasuki kampus ini. Bahkan Daniar saat ini sudah berhasil meraih cita-citanya, guru PNS di sebuah sekolah menengah pertama, sekolah favorit pula. Prestasi gemilang yang berbanding balik dengan keadaan Iqbal saat ini.
Sebenarnya Dinar tidak mempermasalahkan keruwetan yang sampai saat ini belum bisa dirampungkan Iqbal, yaitu skripsinya. Namun tuntutan kedua orang tuanyalah yang menjadi sebuah permasalahan bagi hubungan keduanya. Iqbal memang sudah memiliki pekerjaan, namun lagi-lagi karena alasan belum lulus kuliah, orang tua Dinar meminta agar keduanya mempertimbangkan lagi hubungan keduanya.
Mungkin saja memang hanya status sarjana yang diinginkan oleh orang tua Dinar, namun bisa jadi juga hal lain. Penyiar radio, bagi orang tua Dinar masih sebatas hobby, bukan mata pencaharian. Tentunya kedepan dengan gelar sarjana, Iqbal akan lebih mudah meraih peluang pekerjaan yang lebih layak. Pastinya itu yang menjadi pemikiran orang tua Dinar.
Sepulang siaran malam, Iqbal memilih untuk tidur di studio radio dimana dia bekerja. Siapa tau ada kawanan ide yang menyapa dan mampir ke alam pemikirannya, sehingga makhluk yang bernama skripsi ini setidaknya bisa menemui wujud kerangkanya. Semoga saja.
Waktu terus berjalan, Mitha, Inggrid, dan Lukman satu oersatu sudah menjalani seminar proposalnya. Hendri mendapat jadwal minggu depan. Iqbal semakin galau. Seolah ingin menyerah dan menerima DO dari pihak kampus. Bukan tanpa alasan, ditengah keruwetannya menghadapi skripsi, Dinar benar-benar menghilang. Dua bulan yang lalu Dinar masih bisa dihubungi, meskipun meninggalkan sebuah kalimat yang terdengar cukup ngeri bagi Iqbal.
“SELESAIKAN SKRIPSIMU, ATAU KITA UDAHAN SAMPAI DISINI”
“KALAU SKRIPSI AJA MASIH KAMU GANTUNG, APALAGI MASA DEPAN KITA ?????!!!!”
Meninggalkan Dinar? Tentunya hal yang lebih mustahil lagi bagi Iqbal. Dinar adalah bagian hidupnya yang penting, lebih penting pastinya dari skripsi. Namun saat ini, justru skripsi yang bisa menyatukan mereka. Terbesit keinginan untuk mengikuti langkah Lukman, ah tentunya akan sangat mahal. Mengerjakan sendiri?? Beratttt nian cobaan ini. Tapi nampaknya itu satu-satunya jalan keluar.
Memenangkan sebuah perenungan.
Memenangkan sebuah pemikiran yang diselaraskan dengan perasaan.
Maka pada akhirnya , terlahir produk luar biasa yang disebut dengan motivasi diri.
Terkadang kualitas seseorang baru akan nampak, setelah melewati dampak dari beratnya sebuah tekanan dan hasil mengalahkan kemalasan diri sendiri. Saat ini itulah yang sedang dijalani oleh Iqbal. Hari-hari ia lewati dengan laptop, jurnal , dan juga kopi yang bukan lagi dalam kemasan cangkir, melainkan teko. Demikanlah dia menghabiskan sepekan ini.
Kini tiba giliran untuk memvisulisasikan karyanya dalam bentuk draft proposal. Perjuangan yang sebenarnya dimulai disini. Memiliki dosen pembimbing yang idealis, tentunya sudah bisa dibayangkan perjuangan untuk memperoleh acc. Selama dua pekan dilewati Iqbal dengan berjaga manis dan modar mandir di ruangan Prof. Danu. Dua pekan pula, ia harus berjibaku dengan jadwal siaran. Mencoba menyeimbangkan antara pekerjaan dengan tugasnya sebagai mahasiswa.
Demi apa coba?
Tentunya bukan demi gelar sarjana, melainkan demi mendapatkan patahan tulang rusuknya yang kini mulai menjauh. Dinar.
Waktu berjalan dengan kecepatan tinggi, dua minggu lagi merupakan batas akhir pengajuan siding skripsi. Keempat rekan Iqbal, tentunya sudah melenggang dengan riang. Sekalipun harus ditempuh dengan perjuangan luar biasa. Skripsi ini lumayan memberikan perubahan pada persahabatan mereka. Memiliki dosen pembimbing yang sama, bukan berarti menyatukan mereka. Ada sebuah kode etik tak tertulis, dimana mahasiswa yang memiliki dosen pembimbing Prof. Danu dilarang untuk saling bertemu.
Sudah bisa diduga, itu memang mitos. Tapi tentunya ada konsekuensi jika dilanggar. Rupanya hal ini sengaja dilakukan oleh Prof. Danu, demi menjaga kemurnian berfikir para mahasiswanya. Terlebih lagi, bagi Prof Danu, perlu untuk memastikan agar tidak terjadi jika mereka yang selesai menerima bimbingan akan saling meng copy paste. Mantabbb. Pernah ada yang mencoba??
Tentunya……???PERNAH
Berakhir dengan di skors selama 1 semester
Habis mendung terbitlah hujan dan berharap agar hujan segera reda, bukannya justru turun petir maupun badai. Setidanya itulah yang diharapkan Iqbal. Setelah berhasil mendaftarkan karya skripsinya pada detik-detik akhir, maka selanjutnya adalah sidang skripsinya. Iqbal berharap, bisa mendapat dukungan dari Dinar sebelum mengahadapi sidang ini. Sidang yang merupakan momen luar biasa yang menentukan harga dirinya sebagai mahasiswa. Atau jika tidak, maa gelar “mahasiswa abadi” akan melekat erat padanya.
Namun sia-sia. Beberapa kali mencoba menghubungi Dinar, tetap tidak mendapatkan respon. Mungkin perlu mengunjungi sekolahnya? Ah…tidak tidak. Hal itu akan mengggangu kenyamanan Dinar. Atau perlu mengunjungi ke rumahnya. Apakah ini ide bagus? Bagaimana kalau nanti orang tuanya mempertanyakan kuliahku? Hufttttt…..bukan ide bagus ternyata.
Iqbal bangkit dari tempat tidurnya dan menghubungi nomor telepon adiknya, tentunya doa dari keluarganya adalah hal yang tidak kalah pentingnya. Restu dari ibu dan keluarganya menjadi modal tambahan Iqbal untuk menghadapi meja sidang skripsi. Semoga badai ini segera berlalu, agar ada kesempatan baginya untuk selangkah lebih maju mendekati Dinar, kembali.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Satu bulan semenjak sidang skripsi, menjadi kesempatan bagi Iqbal untuk melakukan revisi dan merampungkannya menjadi sebuah skripsi yang telah disetujui. Iqbal memutuskan untuk mengambil cuti selama masa revisi ini. Sungguh perjuangan yang luar biasa. Iqbal berjuang sendirian, itu yang ia rasakan. Selama proses skripsi ini, Dinar tidak sekalipun merespon pesannya. Telepon juga tidak pernah diangkat. Kesibukan Iqbal menyelesaian skripsi ini bisa disebut pelarian. Sebuah pelarian yang cerdas.
Akhirnya saat yang dinantikanpun tiba. Yudisium dilaksanakan pada akhir pekan, dan pekan berikutnya pelaksanaan wisuda. Kelima bersahabat itupun sudah terparkir rapi di deretan mahasiswa dari fakultas yang lain, yang pastinya adalah adik tingkat mereka. Tak apalah terlambat, asal selamat sampai tujuan. Kelimanya berhasil lulus, dengan nilai yang pas. Ya pas-pasan. Setidaknya nilai itu mampu mengantarkan mereka untuk meluluskan Pendidikan sarjanaya.
Selesai acara yudisium, mereka memutuskan untuk merayakan dengan makan-makan. Iqbal dengan langkah gontai mencoba mengimbangi keceriaan rekan-rekannya. Iapun turut serta dengan menebeng mobil Hendri meluncur menuju tempat makan favorit mereka. Butuh sekitar 20 menit untuk sampai di lokasi yang mereka tuju. Setelah sampai, isi mobil berhamburan keluar, seolah ingin melupakan kegembiraan yudisium hari ini.
Semua berkumpul di meja lesehan dan memesan makanan kesukaan masing-masing. Iqbal terlihat ogah-ogahan, akhirnya memesan idem dengan Lukman. Sembari menunggu sajian datang, Iqbal kembali mencoba menghubungi Dinar. Namun Nihil. Tidak diangkat, akhirnya Iqbal mengirikan pesan pada Dinar.
“Aku udah kelarin skripsiku”
“Bisakah kau lepaskan gantungan hubungan kita menjadi sebuah ikatan pernikahan?”……….
Beberapa saat kemudian makanan datang. Teman-teman Iqbal menunjukkan gelagat mencurigakan, namun belum disadari oleh Iqbal. Wajar saja, karena Iqbal sedari tadi masih melamun dan mengedarkan pandangannya ke luar tempat makan. Rupanya ada yang aneh dengan seseorang yang menyajikan makanan kali ini. Namun Iqbal belum menyadarinya.
“Selamat ya Buat kelulusannya…”
Sebuah kalimat manis meluncur dari bibir manis seeorang yang mengantarkan makanan ke meja Iqbal dan kawan-kawannya. Iqbal menoleh dan melihat ke arah seseorang itu.
“DINAR…….” Iqbal berteriak kegiarangan dan meraih uluran tangan kekasihnya itu dengan perasaan yang membuncah luar biasa. Rupanya acara makan-makan itu merupakan hasil permufakatan Dinar dan kawan-kawan Iqbal. Sebagai hadiah istimewa untuk kelulusan Iqbal.
Badai benar-benar berlalu. Badai skripsi yang memporak-porandakan perjalanan Iqbal untuk melangkah bersama Dinar. Dengan berlalunya badai ini, kini Iqbal bisa melangkah dengan pasti untuk meraih tujuannya yang lain. Tujuan menghalalkan patahan tulang rusuknya, Dinar. Akhirnya Iqbal menyadari, selama ini Dinar sengaja membiarkannya berjuang sendiri ternyata agar Iqbal bisa mempersembahkan skripsi ini sebagai hadiah pernikahannya.
Cerita berakhir bahagia dengan pencapaiannya masing-masing.