Hanya sebagian aja, ya mungkin percaya atau tidak, semua tergantung dari hati mereka, banyak terkadang diantara mereka tidak percaya, bahkan sampai nyaris mengatakan,
"Aku tidak pernah ketemu yang namanya gituan! "
sontak langsung aja aku balas,
"Jangan asal ngomong, apalagi bicara seperti itu, maka bisa dipastikan, sesekali akan ada kesempatan bagimu merasakan keanehan yang bisa dialami oleh siapapun, termasuk kamu, "
dia gak percaya ya udah, terserah, namun beberapa hari kemudian, dengan wajah resah dia mendatangi ku,
"Untuk pertama kali dalam hidupku, aku dikerjain sama gituan, lo tau gue kerja, nyapu itu dijam setengah lima la,pagi itu, hampir beberapa rumah masih ditutup, tapi, saat aku menyapu halaman sekolah, tergelatak sebuah jajanan anak kecil yang masih terbungkus, ya wajar to aku naruh diatas kursi yang ada dihalaman luar, ya disini ini jadi agak merinding akunya, beberapa ruangan masih terkunci dan salah satu dari ruangan itu baru aku buka, eee, gak taunya saat gagang pintu aku buka, jajanan tadi udah ada didepan kaki aku yang baru masuk ke ruangan tersebut, la langsung aja aku keluar mastiin dimana jajanan tadi yang ku taruh diatas meja, ternyata menghilang, ditempat sekolah ini hanya ada aku aja lo Lin, "
jawab ku,
"Makanya lain kali jangan remehkan ucapan mu yang kemarin, "
balas nya,
"ya okey, aku gak akan katakan hal itu lagi,dan gimana lo tau ucapan itu memiliki pengaruh? apa kau pernah ngalamin kejadian aneh? "
aku tersenyum pada satu teman nongkrong ku ini,
"Iya, bahkan lebih, "
gak tau kenapa dia malah pengen aku cerita,
ya aku langsung aja kasih dari beberapa kejadian Aneh Kok BISA tapi nyata terjadi, Hati-hati,
.
.
.
.
.
.
Aku masih sekolah dasar saat itu, ya bedanya lo nyapu karena kerja, akunya nyapu juga karena tugas piket,temen kelas aku nyusul kerumah, minta pergi kesekolah lebih awal, bayangkan aja kesekolah yang saat itu nyapu aja setelah sholat shubuh, huhh, bayangin, kayak mau uji nyali aja, ya emang bener dulu sih kek gitu aturan nya, namanya juga masih didesa, la awal masuk itu sudah ada yang menganjal,bukan perut karena lapar, tapi pintu yang tadinya terkunci dengan mudah tiba-tiba sulit dibuka saat gagang pintu aku yang pegang, giliran teman sekelas ku yang nyoba, Srett, beres langsung terbuka, batinku "Kok BISA, "
hemm, positif aja bawaan hati, disitu aku masih polos, gak peka kek gituan, dua ruangan yang terhubung dengan pintu tengah bisa mempermudah kan aku dengan dia berbagi nyapu, dia ruang depan, aku ruangan Tengah, dan ruangan yang aku pijak memang terletak dengan pintu sambungan dari ruangan ketiga, yang tak pernah dipakai, banyak barang seperti peralatan sekolah tergeletak secara acak, bahkan banyak juga yang hampir gak berani kesana, katanya aneh aja, aku sih denger itu biasa aja, wong namanya gak peka, masih bocah lah saat itu, jadi keinget sampai sekarang, langkah biarpun ANEH Kok BISA,
.
.
.
.
.
.
ya masih dalam mood tenang menyapu, beberapa sudut sudah hampir selesai namun,entah kenapa ni hati kepancing pengen liat apa yang ada dibalik pintu itu, niat banget aku buka, mereka aja gak brani malahan akunya nekat tu buka, la itu-
.
.
.
terlihat biasa aja, cuma gak pernah dibersihkan seratus persen berantakan, namun setelah melihat sisi pojok paling timur, Wah situlah jantung ku, tiba-tiba bergerak cepat, gimana tidak, tadinya muncul suara ketukan pelan beberapa kali lalu disusul gubrakan suara keras terdengar, lalu seolah ada yang ngerasa ngelihat ku, namun toh gak ada orang, dan ternyata aura menyekat dingin mendekat kearah ku,
"Apa-apaan ini! "
langsung aja pintu tadi aku kunci lagi sambil bulu kuduk semua berdiri, nyaris aku terpaku masih menetap lekat pintu itu, tapi saat teman ku mengajak keluar untuk nyiram taneman, tiba-tiba merinding aja tengkuk leher ku dingin, wah gak main akunya lari secara brutal ngos-ngosan sampai kata temen aku,
"kamu itu dikejar apa sampai lari kek gitu? "
jawabku singkat,
"Dikejer waktu, buruan keluar, "
.
.
.
.
.
.
.
keluar, masuklah ke pembagian tugas ambil air ditoilet, nyaris aku lagi yang terkena masalah, dua ember air yang temanku bawa lolos dengan mudah, giliran aku, hemmm,,,uji nyali lagi deh, masuk ke toilet, disana aku harus ngelewatin beberapa rak buku yang nyaris tak dirawat, bahkan lampunya aja satu, warna kuning pula, haduh parah,kesannya kok kek gini, awal masuk udah berasa aneh, masuk ke toilet nya,, la kaki udah keluar ambil posisi menghadap membelakangi toilet ke dua, ternyata,
"Lo kok bisa jadi kek gini, "
tubuh aku tak sanggup lagi digerakkan, dua ember berisi air penuh pun masih tergenggam, dan lebih parahnya tepat dibelakang aku auranya begitu dingin, lebih dingin hingga sedingin es berasa dikedua bahu belakang ku,
"kenapa kedua bahuku dingin banget kek es batu nempel, ada apa ini? gimana sekarang caranya aku bisa keluar dan jalan lagi?minta tolong juga gak bisa, la wong akunya juga gak bisa ngomong sesaat,"
wah berdo'a dengan mengucapkan apapun saat itu akhirnya keadaan melindungi ku bisa meloloskan diri dari beberapa menit seperti mematung ditempat, keluar ku dari sana, melongo tidak percaya hal gila baru saja terjadi padaku,
.
.
.
.
.
.
kata temenku se tongkrongan,
"nasib lo apes, sedangkan temen lo mujur amet, "
jawab balik kata aku,
"Gak tau, semua udah ada yang ngatur, jalanin aja, "
tanyanya balik,
"lalu sekarang udah berkeluarga kek gini, masih sama kah? "
balas ku,
"Masih sama kok, cuma malah lebih ke sosok yang terlihat sih, dua kali ditempat berbeda, "
temen aku lagi-lagi tanya mulu,
"serem gak? dimana emang? "
"Dirumah aku lebih nyeremin dibandingkan dikost aku, "
masih terpaku dan menyematkan berbicara kembali,
"jelas gak, dan usil gak? "
"dirumah aku ngeliat nya seperti aku ngeliat kamu jelas banget, apalagi akunya tau pas setelah maghrib lampu mati pula, huh, pas banget kan suasananya ngedukung mantep nya natap sampai puas, apa itu nyata atau sekedar bayangan, eh gak taunya, beneran cewek duduk di pojokan tau gak yang namanya Genuk, tempat penyimpanan air untuk masak, wah disana natap aku dengan rambut panjang terurai agak keriting, dengan mata merahnya yang mencolok menatap kearah ku, kuku panjang terlihat diletakkan tepat di pahanya namun kakinya nyaris gak ada, cuma jubah putih panjang, dalam kegelapan, waow banget, "
"Lo gila, napa lo gak lari, mala natap sampai puas, "
"kan penasaran, "
"bener-bener teman yang ampuh, ah tau juga ngerjain lo? "
"hemm iya, sering, makanan aku diumpetin, kursi juga ditarik tiba-tiba didepan aku tepatnya jam sebelas malem, dan kadang nemenin duduk juga, "
"wah parah lo, gak takut, "
"Kan gak ngapa-ngapain, setidaknya gak coba ngeganggu aku,biarin aja, to mereka punya kehidupan mereka sendiri, "
"ya emang bener, tapi lo nekat nya kebangetan. "
"gimana lagi, tu juga rumah aku, ya masak aku pergi ninggalin aja tu rumah, enak aja, "
"iya juga sih. "