Simsalabim...
Abrakadabra...
Atau kata-kata semacamnya itu sudah awam dalam dunia sulap atau sihir.
Sulap maupun sihir sungguh menakjubkan. Sebuah keajaiban yang menciptakan suatu imajinasi yang awalnya mustahil dan tak mungkin ada menjadi terwujud dan nyata. Aksi pesulapnya juga sungguh menghibur dan menghipnotis mata.
Bahkan sudah banyak film dan serial yang mengangkat cerita tentang sulap dan sihir. Dan semua ceritanya sangat menakjubkan.
Tapi... Walau sehebat apapun sang pesulap menunjukkan kepiawaian dan kehebatannya pada para penonton, aku... tetap tak akan suka. Karena bagiku yang namanya sulap atau sihir itu sama halnya dengan sebuah PENIPUAN!
Karena hal itu yang membuat hidupku jadi menderita. Aku harus kehilangan ayah karena sudah ditipu habis-habisan sampai terlilit hutang oleh 'teman-temannya yang entah dari mana'. Usut punya usut, ternyata mereka adalah pesulap yang suka melakukan penipuan dengan menggunakan trik sulap mereka.
Karena depresi, ayah jadi berpikiran sempit dan memilih bunuh diri. Parahnya lagi, ibu pergi meninggalkanku entah kemana karena tak sanggup hidup miskin dan menitipkanku pada nenek. Tapi sayang, tak lama nenek juga meninggalkanku untuk selama-lamanya. Tinggallah aku sendirian, tak punya siapa-siapa lagi.
Putus sekolah dan kerja banting tulang untuk menghidupi diri sendiri. Sungguh... sejak saat itu, aku membenci semua hal yang berhubungan dengan sulap.
***
"Halo, gadis perengut." sapa seseorang ramah, menghadang langkahku. Kutatap dia dengan sinis dan tak suka.
Orang ini tetangga yang belum lama ini pindah ke tempat tinggalku. Dia tampan dan ramah. Banyak gadis-gadis disini yang menyukainya, termasuk aku juga pastinya. Tapi sayang, aku tak suka pekerjaannya.
Dia adalah seorang pesulap terkenal yang sudah melakukan pertunjukan kemana-mana. Saat mengetahui pekerjaannya, aku jadi membencinya dan selalu menghindar dan memasang wajah sinis setiap bertemu dengannya. Tapi, dia masih saja tetap ramah padaku.
"Mau berangkat kerja? Kamu rajin banget, ya." ucapnya tersenyum.
"Minggir! Menghalangi jalan aja." ucapku kasar sambil menabrak lengannya dan melanjutkan langkahku lagi. Dia terlihat bingung menatapku, tapi aku tak peduli.
"Nak Alvian nggak papa? Maklumi aja sifatnya Mawar, ya. Orangnya memang seperti itu." ucap seorang ibu geleng-geleng kepala.
"Ahahaha... iya, nggak papa. Lagian saya juga yang salah sudah mengganggunya. Wajar kalau dia marah."
"Kakak nggak salah kok. Mawar itu aja yang kelakuannya nggak sopan. Padahal Kak Al kan cuma menyapanya." decak seorang gadis dengan sebal.
"Kak Al, Kak Al, main sulap dong." pinta seorang bocah tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Baiklah..." ucap Alvian menuruti keinginan bocah itu.
Siangnya, disebuah kafe, kepala pelayan menyuruh Mawar mengantarkan pesanan ke meja yang ada diluar kafe mereka. Setelah selesai mengantarkan pesanan, entah kenapa ada sesuatu yang menarik perhatian Mawar diseberang sana.
"Ada yang melakukan pertunjukan rupanya. Pertunjukan apa, ya?" batin Mawar penasaran melihat sorak sorai dan tepuk tangan para kerumunan disana.
Entah kenapa kerumunana itu agak bergeser, membuat celah dan menampilkan sosok Alvian disana.
"Ck! Ternyata dia. Ngapain sih bikin pertunjukan dijalanan begini? Kurang kerjaan aja." batin Mawar kesal dan semakin kesal lagi karena Alvian menyadari keberadaannya dan tersenyum kearahnya.
Mawar membuang muka dan hendak masuk kedalam kafe lagi, tapi tiba-tiba...
"Saya membutuhkan seseorang untuk melakukan sulap kali ini. Apakah Anda yang disana bisa membantu saya?" tanya Alvian sedikit nyaring.
"Maaf, pesulap Al memanggilmu." ucap salah satu pelanggan kafe pada Mawar.
Mawar menghentikan langkahnya, dilihatnya disana Alvian melambaikan tangan padanya. Mawar menatap tajam kearahnya dan berniat ingin masuk kafe lagi dengan bersikap tak peduli. Tapi karena sikapnya itu malah membuat orang-orang disana jadi heran, tak sabaran dan mulai berbisik-bisik mencibirnya.
"Pergilah, Mawar. Siapa tahu ini bisa jadi promosi yang bagus buat kafe kita juga nantinya." kepala pelayan kafe malah ikut-ikutan juga.
Mau tak mau Mawar terpaksa menurut, walaupun dalam hatinya mengumpat-umpat kesal. Dan selama pertunjukan, Mawar selalu menatap Alvian dengan wajah datar.
"Mentang-mentang namaku Mawar, dia jadi memberiku buket mawar?" batin Mawar kesal setelah pertunjukan selesai dan sudah kembali kedalam kafe. Tak sengaja Mawar melihat dua buah kartu terselip di buket itu dan menariknya keluar.
"Kartu angka satu dan kartu as bentuk hati dalam buket mawar... Apa dia ingin menyatakan cinta padaku? Konyol, kayaknya nggak mungkin deh." batin Mawar mendengus kesal dengan pemikirannya yang tak masuk akal.
"Mawar, apa kita bisa bicara sebentar?" tiba-tiba seorang pria paruh baya menghampiri Mawar.
"Haduh, bapak ini lagi..." batin Mawar kesal.
Bapak-bapak ini sering sekali datang menggangguku. Dia selalu membujuk dan memaksaku untuk mau menjadi kekasihnya. Tentu saja aku tak mau, aku tak ingin dicap tak baik karena jadi perusak rumah tangga orang. Kenapa orang ini begitu nekat? Mentang-mentang aku miskin dan sebatang kara, dia jadi menganggapku gampangan dan mau menuruti keinginannya begitu saja?
"Maaf, pak. Aku nggak mau menerima pemberian bapak dan sudah kukatakan berkali-kali aku nggak mau jadi perusak rumah tangga bapak." ucap Mawar sinis.
"Kenapa pemberian dariku selalu kamu tolak? Tapi saat pesulap itu memberimu bunga, kamu terima saja." ucapnya tak terima.
"Dia dan bapak itu berbeda. Dia memberiku bunga karena sudah membantu pertunjukannya." ucap Mawar berdalih.
"Cih, kamu akan menyesal kalau terus-terusan menolakku." ucapnya mengancam sambil pergi meninggalkan Mawar.
Dan benar saja, setelah bapak itu mengatakan ancamannya, aku dipecat dari kafe tanpa alasan yang jelas. Seketika aku jadi pengangguran, aku tak berani keluar rumah karena bapak itu terus-terusan meneror dan mendatangi rumahku. Karenanya aku selalu mengurung diri di rumah.
Apa salahku? Kenapa hidupku harus seperti ini? Hidupku sudah menyedihkan, tak bisakah aku hidup dengan tenang tanpa diganggu orang lain?
"Apa dia baik-baik saja? Sudah beberapa hari ini nggak lihat Mawar keluar." ucap Alvian.
"Sudah lama Mawar nggak keluar rumah gara-gara orang aneh itu mendatangi rumahnya."
"Orang aneh?" tanya Alvian bingung.
Karena mendengar suara berisik didepan rumahnya, Mawar mengintip dari balik gorden jendelanya.
"Dia. Semua gara-gara dia. Kalau saja aku nggak ikut pertunjukannya itu, aku nggak akan jadi begini. Aku benci orang-orang seperti kalian." batin Mawar melihat Alvian yang ada diluar rumahnya dengan penuh kebencian.
"Awas kamu Alvian. Mata dibalas mata, maka sulap harus dibalas dengan sulap juga." tekad Mawar dalam hati.
Semenjak itu, Mawar mempelajari sulap secara kilat di internet. Karena saking inginnya membalas dendam pada Alvian, Mawar secara tak sadar mempelajari sulap yang begitu tak disukainya.
Setiap Alvian melakukan pertunjukan, Mawar pasti akan ada disana untuk merusak pertunjukan sulap Alvian secara diam-diam. Semakin kaget dan kebingungan Alvian, semakin senanglah Mawar melihatnya. Begitu seterusnya sampai...
Saat ini Mawar tertawa kesenangan karena lagi-lagi berhasil mengacaukan pertunjukan sulap Alvian dan membuat para penontonnya bubar.
"Ahahaha... lihat wajahnya. Puas banget aku melihatnya." tawa Mawar kesenangan dari persembunyiannya melihat Alvian yang termenung sedih karena pertunjukannya gagal.
"Ternyata kamu berbakat sulap juga, ya."
Mawar seketika kaget dengan kehadiran Alvian. Tanpa disadarinya, tahu-tahu saja Alvian sudah ada disampingnya. Karena ketahuan, Mawar ingin kabur, tapi Alvian mengahadangnya.
"Aku sebenarnya sudah tahu kok kalau selama ini kamu yang suka mengacaukan pertunjukanku. Aku cuma pura-pura nggak tahu aja. Ternyata kamu berbakat, ya. Mau bikin pertunjukan sulap bareng nggak?" tawar Alvian.
"Nggak!" jawab Mawar ketus.
Tapi, semakin keras Mawar menolak, semakin gigih Alvian membujuknya.
"Sudah kubilang berkali-kali, aku nggak mau. Ngerti nggak sih? Asal kamu tahu aja, aku benci banget sama kamu!" teriak Mawar kesal.
"Nggak. Sebenarnya kamu suka sama aku, tapi yang nggak kamu suka itu pekerjaanku kan?" tebak Alvian. Mawar terdiam kaget mendengarnya.
"Apaan sih? Sudah kubilang aku nggak suka kamu. Dan gara-gara kamu juga aku kena teror bapak-bapak itu tahu." teriak Mawar. Dia jadi melampiaskan kemarahannya. Alvian terdiam beberapa saat.
"Kamu masih belum tahu, ya? Yang membuat bapak itu 'jatuh', aku loh orangnya." ucap Alvian tersenyum.
Lagi-lagi Mawar kaget. Dia jadi teringat berita di televisi yang mengabarkan tentang bapak yang suka mengganggunya itu ditangkap karena melakukan korupsi dan suka main perempuan. Karena itulah Mawar bisa keluar rumah, tapi Mawar tak menyadariny karena selama ini dia hanya terfokus untuk membalas dendam saja pada Alvian.
"Dia yang melakukannya? Bagaimana bisa?" batin Mawar tak percaya.
"Ikut pertunjukan sulap bareng aku, ya? Sayang loh kalau bakat sulapmu itu nggak ada yang menontonnya. Apalagi sampai sekarang kamu masih belum punya pekerjaan lagi kan?" tanya Alvian tersenyum. Tapi bagi Mawar, Alvian terlihat seperti menyeringai.
"Huh, memang benar sih, tapi kalau dia yang ngomong begitu rasanya menyebalkan." batin Mawar kesal.
"Jadi, gimana?" Alvian masih tak menyerah.
***
Suatu tempat, disebuah acara pertunjukan sulap...
"Kita sambut pesulap Al dan pesulap M!" ucap pembawa acara dan disambut sorak sorai meriah para penonton dengan pertunjukan hebat Alvian dan... Mawar.
"Nggak buruk juga kan?" tanya Alvian pada Mawar setelah pertunjukan usai. Mawar hanya terdiam.
"Sulap atau sihir itu sebenarnya menyenangkan kok. Tapi, yang jadi masalah adalah orang yang menggunakan bakat mereka untuk sesuatu yang nggak benar." ucap Alvian. Entah kenapa Mawar merasa agak tertohok mendengarnya karena dulu pernah merusak pertunjukan sulap Alvian. Padahal dia sendiri tahu kalau maksud Alvian bukan menyinggungnya.
"Iya, maaf ya atas sikapku selama ini sama kamu. Gara-gara masa laluku, aku jadi melampiaskannya padamu." ucal Mawar menyesal.
"Nggak papa, aku ngerti kok. Oh iya, ini." ucap Alvian tiba-tiba mengeluarkan buket bunga mawar dari balik badannya dan memberikannya pada Mawar.
"Kamu selalu menyelipkan dua kartu dibuketnya, apa... artinya kamu sedang menembakku?" tanya Mawar.
"Iya, aku sedang menyatakan cinta padamu. Maukah kamu menikah denganku?" ucap Alvian tanpa basa-basi.
"Menikah!?" kaget Mawar.
Dan begitulah... Aku menerima lamarannya. Aku memang jadi terkesan pembohong dan munafik. Tapi benar apa yang dikatakannya, sulap ataupun sihir itu nggak salah, yang salah adalah orang-orang yang sudah salah menggunakan bakatnya untuk melakukan hal yang tak benar.
Lalu setelah menikah, kami berdua tetap melakukan pertunjukan sulap dan ternyata hal itu menyenangkan juga.