Pembagian rapot akhir semester telah selesai dilaksanakan. Semua siswa dan orang tua mereka segera pergi meninggalkan bangunan sekolah. Namun tidak dengan para siswa di kelas 7-D yang berdiri di koridor kelas menunggu siswa yang lain untuk bergabung.
"eh, Ai. Kamu ikut camping malam ini?" tanya seorang siswi berkerudung hitam di samping Ai yang sibuk dengan ponselnya (belum secanggih jaman sekarang).
"mungkin? Orang tuaku belum tentu memberi izin." jawabnya dengan mata yang masih tak bisa lepas dari layar. Melihat sikap temannya yang phone addict, ia langsung menyambar ponsel Ai hingga membuat Ai shock.
"Aameel!" gerutunya kesal. "serius, Ai. Campingnya malam ini. Aku tak mau tidur di sana sendirian. Yang lain sudah dapat partner mereka. Jadi ikut, ya? Ya, ya, ya, ya?" Amel seketika memberikan jurus spesialnya untuk membujuk Ai, satu kartu voucher pulsa ia tarik dari dalam sakunya dan mengulurkannya pada Ai.
"astaga, Mel. Kau ini masih takut keluar malam padahal ada 20 anak lebih yang ikut?" tanya Ai tak habis pikir dengan sikap temannya yang belum menyerah untuk membawanya pergi ke camping kelas malam ini.
"heh! Mulutmu masih saja pedas padahal aku sudah memberimu voucher ini. Hari ini saja, kok. Besok kita pulang paginya." lelah dengan bujukan Amel akhirnya Ai mengambil voucher di tangan temannya. Hanya satu malam ini, kan?
*************
Malam tiba dan semua tenda sudah stay pada posisinya. Amel dan Ai masih sibuk memindahkan barang mereka terutama tas Amel yang beratnya sudah bisa membuat kedua tangan mereka tak kuat lagi untuk membawanya.
"apa yang ada di dalam tas ini?!" tanya Ai kesal dan Amel hanya tertawa canggung mengingat ini pertama kali baginya pergi camping. Dia pikir akan lebih menyenangkan untuk menbawa bantal dan selimut juga beberapa buku untuk dibaca. Jangan lupa meja lipat yang tergantung di lipatan sikunya. Jaga jaga mereka akan bermain catur? Dia bawa!
"hanya berjaga jaga. Tenang..." setelah sampai di tenda mereka akhirnya Ai bisa mengistirahatkan tangan malangnya dari kekejaman tas Amel. Mereka duduk sejenak di depan tenda untuk melepas lelah.
Tenda mereka lumayan jauh dari tempat api unggun, Ai menyalahkan Amel karena waktu mereka untuk booking tenda terganggu oleh semua tumpukan barang yang dibawa temannya. Setidaknya mereka masih kebagian tenda.
Ai mengeluarkan ponselnya dan menyalakan saluran yang biasa ia dengarkan untuk memutar musik Barat. Amel di sampingnya membuka kantong plastik berisi cemilan dan mengulurkannya pada Ai.
"mau?" tanyanya Ai hanya menepuk tempat di antara mereka, meminta Amel untuk meletakkannya disana. Setidaknya jasa pindah barangnya tak sia sia.
Kebanyakan siswa berkumpul mengelilingi api unggun untuk sekadar berbincang atau bernyanyi. Tapi tidak untuk Ai yang notabenenya tak menyukai keramaian. Lagipula tak banyak siswa di kelasnya yang memiliki hobi sepertinya, mendengarkan lagu Barat. Jadi dia hanya duduk dan bersantai dengan mendengarkan lagu dari aplikasi radio bawaan ponselnya. Amel yang tak tahu harus bagaimana dan mau melakukan apa lagi akhirnya mengikuti Ai.
"kau masih menggunakan radio? Tak ada lagu yang kau unduh di ponselmu?" tanya Amel.
"ponselku tak secanggih ponselmu, Mel. Penyimpanan ponselku terbatas. Itu sebabnya." jawab Ai malas dengan rasa kantuk yang mulai datang pada dirinya.
Semakin lama rasanya ada sesuatu yang tak beres dengan radionya. Lagu lagu yang ia dengarkan semakin di iringi oleh suara gemuruh bising di dalamnya. Apa sinyal radio tak masuk di ruangan terbuka di sini? Rasanya tak ada masalah dengan sinyal radio di sekolah mereka. Dan tempat ini justru berada tak jauh dari sekolah. Gangguan dari stasiun radionya? Mungkin saja.
Ai berpindah dari stasiun satu ke stasiun lain namun hasilnya sama saja hingga suara aneh mulai muncul dari radionya. Terdengar seperti "tut-tut-tuuut-tut", ada yang panjang dan singkat dan mulai mengganggunya.
Suara gemuruh tadi menghilang namun diganti dengan suara sandi morse aneh yang bahkan ia tak mengerti. Amel di sampingnya ikut heran dengan apa yang baru saja didengar oleh mereka berdua sekarang.
"Aku baru tahu kau menyukai sandi morse, Ai." ucap Amel tapi Ai segera menggeleng, ia bahkan tak tahu bagaimana cara membaca sandi morse. Sesuatu tak beres, begitulah pikirnya.
"sepertinya ada sesuatu yang tak beres dengan stasiun radio disana." jelas Ai dan kembali memindahkan stasiunnya tapi hasilnya masih tetap sama. Setiap stasiun mengeluarkan suara aneh itu.
Ai segera bangkit dan berlari menuju kerumunan siswa bersama Amel yang menyusulnya. Dia tahu salah satu teman mereka, Dito, pandai dalam memperbaiki ponsel. Mungkin dia bisa meminta Dito untuk memperbaiki ponselnya?
Ai menepuk bahu Dito dari belakang dan membuatnya berbalik.
"ya? Ponsel kalian masuk ke dalam bak mandi lagi?" tanya Dito dengan nada mengejek. Tak ada waktu untuk menanggapi lelucon Dito dan Ai langsung mengulurkan ponselnya.
"radio ponselku mengeluarkan bunyi aneh di setiap stasiunnya. Kau bisa memperbaikinya?" Dito menautkan kedua alisnya, ia melepas headset yang tengah ia kenakan dan menyetel radio di dalam ponsel miliknya. Terdengar lagu disertai sedikit suara gemuruh dari ponselnya.
"apa maksudmu?" tanya Dito dengan menunjukkan radio ponselnya yang masih normal. Ai berpikir senejak, apa karena mereka terlalu jauh untuk menggapai sinyal di sana?
Akhirnya Ai kembali menyalakan radionya dan terdengarlah suara menyebalkan tadi. Dito pun dapat mendengarnya dengan jelas. Setiap saluran ia putar dan hasilnya sama bahkan Dito pun tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Apa memang benar ponsel Ai masuk ke dalam bak mandi lagi?