Ngiiiing, ngiiiiing, ngiiiing.
Tidur Aluna terganggu gara-gara suara nyamuk yang berdengung di sekitar telinganya. Hah, sejak kapan kamarnya jadi banyak nyamuk begini?
Cresss, cresss, cresss, Aluna menyempotkan insektisida spray guna membalaskan dendamnya pada si nyamuk nakal.
Hm ... seketika suara bising itu menghilang begitu aroma lavender menguar di seluruh penjuru kamar. Aluna berjalan menuju tempat tidur, ingin melanjutkan istirahatnya namun ... tiba-tiba saja kamarnya yang nyaman itu berubah menjadi suatu tempat yang dipenuhi semak belukar. Aluna melihat ke sekelilingnya dengan perasaan heran ... hari masih pagi, rasa sejuk menerpa hidungnya. 'Kenapa jadi begini?' Gumam Aluna.
"Huuu, huuu, huuu." Aluna samar-samar mendengar seseorang sedang menangis, ia pun mencari sumber suara pilu itu.
Tidak jauh dari tempatnya berdiri, tepatnya di tepian tebing ada seorang gadis mengenakan dress berwarna kuning dengan rambut acak-acakkan dari situlah suara tangis itu berasal.
"Hai, aku Aluna ... kamu kenapa, boleh kenalan?" Sapa Aluna hangat.
Gadis itu menoleh ke arah Aluna, Aluna merasa ngeri melihat wajah gadis itu yang terdapat banyak luka, demikian juga dengan badannya. Yang paling jelas adalah luka gorokan di lehernya, sehingga darah yang berasal situ mengenai dress kuning yang dikenakan sang gadis.
"Aku Angela White, mau kah kau menolongku?"
"Ehm ... aku usahakan. Bagaimana aku bisa menolongmu?"
"Temui orangtuaku, katakan William telah membunuhku."
"Seseorang membunuhmu, kamu sudah ... meninggal?" Angela gemetar.
"Iya, aku pergi berkencan dengan James tapi orangtuaku tidak tahu kalau aku disekap oleh William, saudara tiri James. Aluna, aku mau dimakamkan secara layak," tutur Angela.
"Ba-baiklah, tapi aku tidak tahu bagaimana aku menemui orangtuamu dan menemukan jasadmu, Angela?"
"Apakah kamu bersedia menolongku?"
"Tentu saja."
"Baiklah. Ikuti aku." Tangan Angela yang dingin itu menggenggam jemari Aluna.
***
Tok, tok.
Aluna mengetuk pintu rumah bercat putih itu. Tidak lama keluar seorang wanita cantik paruh baya.
"Mau bertemu siapa?" Tanya wanita itu.
"Bolehkah saya bertemu orang tua Angela White?"
"Iya, saya ibunya. Maaf, anda siapa?"
"Saya Aluna Ong, teman Angela White.
"Aluna Ong? Saya tidak pernah tahu kalau anak saya punya teman bernama Aluna Ong. Eh, silakan masuk, nak. Kita ngobrol di dalam saja."
Aluna tersenyum dan duduk di sofa, "Aku dan Angela baru saja berteman, bu."
"Oh, begitu. Tapi Angela tidak ada di rumah, dia ... dia setahu kami dia menginap bersama pacarnya, James. Tapi ... kemarin saat aku bertemu James di super market, malah James yang menanyakan kabar Angela, katanya sudah beberapa hari mereka tidak berkomunikasi. Aku dan ayahnya sudah melaporkan kejadian itu dan sekarang polisi sedang mencari keberadaan anak kami."
"Ibu, mohon maaf. Memang ini sangat aneh terdengar, tapi saya sungguh mengatakan yang sebenarnya, saya bertemu Angela dengan cara yang ganjil, dia memintaku menemui ibu dan mengatakan kalau ... dia, di-dia telah dibunuh oleh seseorang bernama William."
"A-apa, Angela dibunuh? Jangan bikin lelucon, nak. Kamu tahu ini bukan april mop."
"Ibu maaf, sungguh saya tidak mengada-ada. Bahkan saat ini Angela Ong bersama kita, duduk di situ," tunjuk Aluna pada sebuah sofa kosong.
"Mana?" Tanya ibu Angela heran.
"Maaf, sayangnya Angela tidak bisa menampakkan dirinya kepada orang selain aku. Em, Angela memintaku memberikan ini untuk ibu," Aluna menaruh sebuah kalung emas putih berliontinkan bunga persik dengan ukiran nama 'Angela' di tangan ibu teman barunya itu.
"Ya, Tuhan. Bagaimana kalung ini bisa denganmu?"
"Angela sendiri yang memberikannya padaku, ibu. Katanya agar ibu percaya apa pun yang aku katakan."
"Ba-baiklah, apa lagi yang dikatakan Angela padamu?"
"Dia ingin dimakamkan secara layak, bu dan minta jangan menyalahkan James karena James sungguh tidak ada sangkut pautnya terhadap kejadian itu. Malam setelah berkencan, James mengantarkan Angela ke sini tapi karena mendapat kabar ibunya terkena serangan jantung, James jadi buru-buru pergi, tidak sempat berpamitan. Saat Angela hendak masuk pagar, tiba-tiba seseorang menyergapnya dan membawanya pergi, seseorang itu adalah William, saudara tiri James."
"Astaga, benarkah yang kau katakan ini, nak?"
***
Dalam waktu singkat orang tua Angela White dan pihak kepolisian melakukan pencarian berdasarkan informasi dari Aluna. Benar saja, mereka menemukan sosok Angela yang mengenakan dress kuning, sudah menjadi jasad yang membusuk. Pelaku pembunuhan juga dengan mudah ditangkap, berkat bisikan Angela White melalui Aluna Ong.
Raga Angela White sudah dibersihkan dan dipakaikan gaun baru berwarna putih, bersiap di makamkan.
"Aluna, terima kasih atas bantuanmu," ujar Angela yang hanya bisa didengar oleh Aluna.
"Sudah seharusnya aku tidak menahan apabila bisa membantumu. Angela, kini tubuhmu sudah ditemukan dan sebentar lagi kamu benar-benar pergi dari dunia ini namun ada 1 hal yang kuminta ... ."
"Katakan saja."
"Bersediakah kamu mengampuni lelaki yang telah memperkosa dan membunuhmu?" Tanya Aluna.
"Pertanyaanmu terdengar bodoh Aluna, meskipun lelaki itu dihukum mati aku tidak mengampuni, bahkan aku akan membuatnya tersiksa," balas Angela marah.
"Aku mengerti Angela, tapi semua sudah terjadi. Kamu buat dia tersiksa sampai mati pun tidak akan membuatmu hidup kembali. Malah, langkahmu menuju terang jadi terhalang."
"Menuju terang, apa itu?"
"Dimensi lain di mana kamu merasakan damai suka cita tanpa beban," ucap Aluna sambil tersenyum tulus.
"Apa ada tempat seperti itu, Aluna?"
"Ada, asalkan kamu mau mengampuni siapa pun yang telah bersalah padamu."
"Hanya itu?"
"Iya."
"Baiklah. Aku mau hidupku bahagia di dimensiku yang baru, aku mau mengampuni dan melupakan kesalahan orang lain terhadapku, seperti aku juga mau kesalahanku diampuni dan dilupakan oleh siapa pun," ikrar Angela White.
"Bagus Angela. Nah, kini kamu punya sedikit waktu untuk berpamitan dengan ayah dan ibumu."
"A-apa aku bisa menemui mereka, ma-maksudku keberadaanku bisa terlihat nyata?"
"Tentu. Cepatlah waktumu tidak banyak. Begitu kamu mendengar suara terompet, berarti kamu harus mengarahkan langkahmu pada lingkaran cahaya," kata Aluna.
Haru dan menyesakkan, saat akhirnya roh Angela bisa terlihat, berbicara dan berpelukan secara nyata dengan orangtuanya di ruangan khusus sebelum jenasah Angela di makamkan.
"Maafkan Angela, ibu ... ayah. Maafkan aku harus pergi dengan cara seperti ini, aku sangat mengasihi kalian," ungkap Angela.
Tooett, tooeett, tooooeeettt. Tiga kali suara terompet itu berbunyi dan hanya dapat didengar oleh Angela saja. Angela dengan wajah tersenyum manis melambaikan tangan pada orangtuanya, kemudia ia melangkah menuju lingkaran terang, yang membawanya pada dimensi yang indah.
"Sampai bertemu lagi, sayang," pekik ayah Angela White sambil merangkul istrinya.
***
Ngiiiing. Suara nyamuk usil kembali berdengung dan crreeesss! Aluna mengemprotkan insektisida. Membuat suasana kamar kembali hening berganti aroma lavender.
"Aneh, kejadian barusan ... sungguh tidak dapat dipercaya," gumam Aluna yang bersiap naik ke tempat tidur dan melanjutkan istirahat malamnya.
"Aluna, terima kasih untuk semuanya. Aku bahagia di sini," kata Angela yang hadir di mimpi Aluna. Terlihat Angela tertawa dan menari-nari di padang bunga dengan gaun putihnya.