Hari itu aku mendapat kabar bahwa calon kakak iparku sakit dan menjalani rawat inap di salah satu Rumah Sakit di Solo.
Sekitar jam sembilan pagi aku berangkat dari terminal Kota Pati ambil bus jurusan Solo, melewati pemandangan indah jalan berkelok yang memacu adrenalin karena kelokan sangat tajam dan jalanan yang menanjak.
Kiri kanan banyak pohon jati, itulah kenapa daerah itu dinamakan Jati Pohon. Perjalanan yang cukup panjang.
Sekitar 4 jam aku berada di bus yang sama. Akhirnya sampai juga diterminal. Aku langsung keluar dari terminal dan kutemui kakakku yang sudah berada di sana menunggu kedatanganku.
Sebenarnya kedatanganku kesana bukan hanya untuk menjenguk calon kakak iparku, akan tetapi aku akan mengikuti tes masuk Akademi Perawat di Kota itu. Tes akan dilakukan dua hari lagi.
" Kita ke kosan dulu " kata kakakku. aku ayo saja karena kebetulan aku lelah dan lapar.
Sesampainya di kosan, ada beberapa teman kakakku di sana. Mereka baru pulang dari Rumah Sakit. Kami saling mengenalkan diri karena baru kali ini aku ke kosan kakakku dan bertemu mereka.
Ada kak Neti, kak Susan, kak Yuli. Kak Susan teman satu kamar kakakku.
" Kami nanti tidur di Rumah Sakit Shan, mau ikut apa di sini ? " tanya kak Susan sambil menggigit tempe mendowan yang dia beli dari warung belakang Kos.
" Aku ikut saja, pingin lihat kakak iparku" jawabku, kulihat kak Susan tertawa.
karena jujur saja aku belum pernah ketemu juga dengan calon kakakku itu. Dulu pernah mengantar kakak pulang ke Pati, tapi waktu itu cuma sebentar sehingga tidak bertemu denganku yang lagi ikut Eskul di Sekolah.
" Mandi Shan, kita berangkat habis maghrib saja, Ada teman abang yang jaga di sana" Kakakku sudah selesai mandi rupanya. Aku mengemasi kertas bekas nasi bungkus yang sudah ludes masuk perutku, kemudian membawa handuk dan baju ganti menuju kamar mandi.
Singkat cerita kami sampai di Rumah Sakit. Langsung masuk ke kamar tempatnya berbaring.
" Hai" sapanya " Shania ya " dia mengulurkan tangannya masih dengan berbaring.
" iya kak, Kak Rudi kan ?" Balasku. Dia tertawa dan menganggukkan kepalanya.
" Aku pingin makan Rendang En " kak Rudi menatap kakakku Eno.
" Biar aku sama Shania saja yang cari " kata kak Susan.
Kami keluar dari kamar itu. Aku dan kak Susan berjalan menuju tempat parkir.
" Tunggu sini saja Shan, aku ambil motornya "
kata kak Susan
Aku berdiri di sebelah mobil Inova hitam. Memilih posisi dekat kaca Spion. Aku lihat di ujung sana dua orang sedang mengobrol saling berhadapan, satu orang bersandar di belakang mobil. Aku mengawasi sekeliling sambil menunggu kak Susan.
Ada hawa dingin terasa menyapa di sekitarku yang membuat bulu kudukku metemang tiba-tiba. Semakin lama aku rasakan hawa dingin di tengkukku. Aku lirik kearah kaca Spion, aku melihat sosok hitam dengan rambut panjang, mata lebar dan bibir merah tebal. Aku tidak bisa bergerak seakan terhipnotis olehnya. Semakin lama semakin dingin terasa sesuatu menyentuh belakang leherku, aku masih melihatnya dua tangan dengan jari-jari berupa tulang berwarna putih bergerak semakin dekat seolah akan mencekik leherku. Aku tersentak dan tersadar dari keadaan itu. Langsung menoleh ke belakang dan sosok tadi menghilang.
Takut ? tidak. Aku bukanlah orang yang penakut. Aku masih di sana sampai Kak Susan ada di depanku.
"Ayok" dan kami berangkat
Ditengah perjalanan tiba-tiba motor berhenti begitu saja seperti kunci kotak yang dicabut paksa.
kak Susan kaget, karena dia tau bensinnya full. Kemudian dia check busi, masih baru.
Tiba-tiba dia menanyakan sesuatu diluar dugaanku.
" Shan, apakah kamu pernah dengar orang yang punya tulang kuning " pertanyaan kak Susan tidak ku mengerti sama sekali.
" mana ada tulang kuning, tulang tu warnanya putih kak" bantahku
" Kata bapakku, ada seseorang yang terlahir dengan satu tulangnya berwarna kuning. Dan orang ini mudah sekali dimasuki ruh halus " Aku masih menyimak penjelasan kak Susan yang baru aku dengar. kami masih mengutak-atik motor, tapi tidak bisa juga. Akhirnya motor dituntun
" Maksudnya " tanyaku masih belum mengerti
" Yah gitu deh, tulang kuning itu sebagai jalur kluar masuk makhluk gaib semacam kesurupan gitu" mendengar penjelasan kak Susan, aku ingat lagi kejadian sebelum berangkat.
Sebenarnya ingin sekali aku bertanya, mengapa kak Susan membahas hal ini ? apakah dia tahu sesuatu ? apakah aku... ? ahh aku ngeri memikirkannya.
" Shania, motornya bisa nyala lagi" kak Susan bersemangat menstater motornya lagi. Gembira dan heran begitulah perasaan kami saat itu. Segera kami mencari makanan pesanan kak Rudi sebelum motornya ngadat lagi.
Sampai di Rumah Sakit baik aku maupun kak Susan bungkam tidak ada yang berniat menceritakan kejadian tadi. Aku berfikir mengaitkan kejadian ini namun rasanya otakku tak sampai ke sana.
Kak Neti, Kak Yuli, Kak Pandu, Kak Kris sudah kumpul siap jaga kak Rudi. Kami tidur di ruangan khusus untuk penunggu yang letaknya di belakang kamar Rawat Kak Rudi. Hanya kak Eno yang berjaga di dalam.
" Kak Susan, pingin pipis.. kamar mandi di mana ya" bisik1ku takut membangunkan yang lainnya karena saat itu sudah tengah malam.
" ayok kita cari, aku juga sudah menahan dari tadi."
Kami berjalan melewati koridor yang tampak sepi.
Suara Ambulance membuat suasana semakin mencekam.
Akhirnya tak begitu jauh ada tulisan "TOILET".
Ada 2 pintu yang disekat tembok tidak sampai atap, pembatas toilet pria dan wanita.
Aku masuk duluan ..
" Shan" panggil kak Susan.
" iya sebentar selesai.
Kak Susan langsung menghambur kedalam begitu pintu kamar mandi aku buka. Dia tidak menutup pintu sehingga aktifitasnya terlihat olehku.
" hei kenapa pintunya tidak ditutup kak ? saking kebeletnya ya ?" Candaku.
Setelah selesai merapikan kembali celananya, dia langsung keluar memelukku dan menarik pinggangku dari samping sambil terus berjalan.
Aku sampai kesulitan menyesuaikan langkahku.
" kak... kak Susan kenapa" tanyaku setengah terengah, karena kak Susan cepat sekali jalannya sambil masih memegang erat pinggangku. Dia tidak menjawab bahkan semakin mempererat pegangannya yang baru dilepaskannya setelah sampai ditempat semula..
Suara Ambulance itu terdengar lagi. Aku lihat yang lainnya tertidur pulas seakan tak mendengarnya.
Kak Susan berbaring di sampingku dan memelukku erat. Aduuh kak Susan kenapa sih ? perasaanku mulai tak enak namun karena sudah terlalu mengantuk akhirnya aku terlelap.
Pagi hari nya kami pulang ke Kosan berjalan kaki melewati jalan setapak belakang Rumah Sakit.
Kak Susan menjajari langkahku, kali ini berjalan biasa tidak memelukku seperti semalam.
" kak Susan semalam kenapa sih ? aneh banget, kak Susan lihat apa sebenarnya ?" itulah yang sebenarnya ingin aku tanyakan malam itu.
" Kamu tahu Shan ? kamu tu diikuti " katanya.
aku menghentikan langkah mengerutkan kening kearahnya.
" Semalam tu waktu aku nunggu kamu didepan kamar mandi, aku lihat kepala turun dari atas..sreeett.. dan rambutnya hitam tampak menjuntai keatas. aku nyandar ditembok menahan takut " cerita kak Susan.
" owh makanya kak Susan tidak menutup pintu waktu di kamar mandi dan memelukku terus semalam " kami tertawa. Kemudian aku menceritakan kejadian yang kualami.
Kak Susan membulatkan mata dan bibirnya melongo membentuk huruf O, menatap tajam ke arahku.
" Jadi .. kejadian semalam ? wah benar memang dia mengikuti kamu Shan ? " ucapnya yakin.
" Masak iya ? apa salahku ? apa aku punya urusan dengan mereka ? " tanyaku tak percaya.
" Jangan-jangan kamu memang punya tulang kuning itu di tubuh kamu Shan " kak Susan menghela nafas.
Aku tidak menanggapinya karena aku sendiri juga tudak tahu dengan jelas kejadian malam itu. Yang aku tahu bahwa.... ternyata area parkir Rumah Sakit itu berada di belakang kamar mayat.
Apakah benar yang dikatakan kak Susan ? makhuk gaib itu mengikuti aku ? dan mengapa dia mau mencekik aku ? apa salahku hingga mereka sepertinya tidak suka dengan kehadiranku.
Itulah kejadian 19 tahun yang lalu, namun masih terasa melekat di kepalaku.
Mungkin mereka hanya ingin menyapa aku 😁😁
....
Salam hangat dari San Kris🙏😊😊