Kisah berawal dari seorang pemuda master bela diri yang sangat di segani dan dihormati. Namun kejadian tragis seolah merubah kehidupannya. Ia mengalami kecelakan hebat, dan membuatnya meninggal. Disaat pemuda itu mulai menghembuskan nafas terakhir dan matanya mulai tertutup, seketika pemuda itu bangun dan berada di tempat yang berbeda. Pemuda itu pun menyadari bahwa ia bertranformasi waktu ke 10 tahun lalu, dan betapa kagetnya ia melihat dirinya sendiri seolah tak percaya. Pemuda itu tersadar ia hanya mempunyai tangan kiri, sedang tangan kanannya tidak ada.
"Arrkkhhhh...lebih baik aku mati saja pada saat itu, kenapa kau membiarkan aku hidup lagi Tuhan" teriak histeris pemuda itu. Ia pun menerima kenyataan dengan keadaan yang cacat seperti ini. Sejak saat itu ia sering dihina dan diolok-olok oleh teman-teman sebayanya.
Suatu hari saat pemuda itu ingin jalan-jalan ke taman untuk menghibur diri, si pemuda diejek dan dipermainkan oleh teman-temannya, dan mereka menghinanya karena hanya memiliki satu tangan. Secara kebetulan, kejadian itu menarik perhatian seorang pria tua yang ternyata adalah seorang guru beladiri dan guru itu bertanya kepadanya, “Apakah kamu mau kalau aku mengajarimu ilmu beladiri supaya kamu menjadi percaya diri?” “Mau, aku sangat mau!” jawab pemuda itu dengan semangat.
Akhirnya, si pemuda cacat itu diajari satu jurus kuncian, dan ia diminta untuk terus mempraktikkannya. Hingga berminggu-minggu lamanya, pemuda itu terus menerus mempraktikkan satu jurus yang itu-itu saja. Pada minggu ke-16, ia merasa sudah cukup pandai. Lalu berkata, “Guru, tolong ajarkan kepadaku jurus yang lainnya.” Gurunya menjawab, “Praktikkan jurus itu lagi, sekarang belajar lebih cepat, dan lebih kuat!” Setelah beberapa minggu, kembali pemuda itu mengatakan, “Guru aku sudah ahli.” Gurunya menjawab, “Kamu harus lebih kuat, lebih cepat lagi, setelah itu kamu akan aku beri lawan tanding!”
Tak lama kemudian, sang Guru bertanya, “Apakah kamu sudah ahli? kalau memang kamu sudah merasa ahli, selanjutnya kamu bisa praktikkan dengan lawan tandingmu.”
Ternyata jurusnya bekerja dengan sempurna, ia bisa mengalahkan lawan tandingnya dengan mudah. Sang Guru merasa puas dengan hasil tersebut, dan berkata, “Baiklah",
sekarang kamu akan ku daftarkan dalam pertandingan beladiri berkelas.”
Namun si pemuda itu berteriak, “Tapi guru, aku kan baru bisa menguasai satu jurus, mengapa guru sudah mendaftarkan aku?” Gurunya menjawab, “Tidak masalah!”
Si pemuda berpikir, “hemm..kalau aku di daftarkan ke suatu pertandingan, mungkin nanti aku akan diajari jurus yang baru, kan pertandingan masih 8 minggu lagi.”
Ternyata tidak, dia tetap diajari satu jurus yang sama, satu jurus kuncian, terus menerus mempraktikkan satu jurus itu.
Dalam latih tanding, ia dapat mengalahkan semua lawan tandingnya. Lalu ia berkata, “Guru, apakah aku tetap harus mengikuti pertandingan hanya berbekal satu jurus ini? Gurunya menjawab, “Sudahlah, ga perlu kuatir, yang penting kamu terus praktikkan dengan lebih cepat dan lebih kuat untuk menyempurnakannya.”
Tibalah hari pertandingan. Dan si pemuda tersebut tetap hanya menggunakan satu jurusnya untuk bertarung dengan lawan. Ketika menghadapi lawan pertama, dengan cepat ia dapat mengunci lawannya sehingga tidak dapat bergerak sama sekali dan menyerah. Di pertandingan kedua dan ketiga, ia dapat menang juga dengan jurus yang sama. Hingga akhirnya ia dapat lolos ke babak semi final, dan dia berkata kepada gurunya, “Guru, cepat ajarkan aku jurus yang baru. Aku sudah menang tiga kali menggunakan satu jurus yang sama, musuh pasti sudah bisa membaca jurusku, tolong ajarkan jurus yang lainnya, guru..” Gurunya menjawab dengan tenang dan tegas, “Sudahlah, kamu tetap pakai jurus itu saja, tapi dengan lebih cepat dan lebih kuat.”
Akhirnya dengan sedikit terpaksa, pemuda itu maju ke babak semifinal dengan tetap menggunakan satu jurus tadi, dan ternyata lawannya dapat dikunci dengan cepat dan menyerah kalah. Iapun berteriak merayakan kemenangannya.
Saat finalpun tiba, kali ini lawannya adalah juara bertahan selama tujuh kali berturut-turut. Secara spontan, ia berkata lagi kepada gurunya, “Guru, kali ini aku benar-benar tidak berkutik, lawanku adalah juara bertahan dengan rekor tujuh kali mempertahankan gelar dan pasti dia sudah mempelajari jurusku.” Si pemuda tampak ketakutan dan mulai tertekan, ia berkata dengan lirih dan memohon, “Tolong guru…ajari aku jurus sakti, tolonglah guru!” Gurunya menjawab, “Tidak! Kamu tetap masuk final hanya dengan satu jurus itu, dengan lebih cepat dan lebih kuat lagi!”
Dengan terpaksa, sekali lagi ia harus bertanding dengan menggunakan satu jurusnya, bahkan untuk melawan sang juara bertahan. Namun ternyata, dalam waktu singkat, juara bertahan dapat dikunci dan menyerah kalah. Si pemuda merayakan kemenangannya dengan kegembiraan yang luar biasa.
Malam hari ketika si pemuda tersebut pulang, ia disambut dengan pesta yang amat meriah bersama warga desa dan teman-temannya. Disaat itulah mereka tidak lagi mengolok-olok dan meremehkan pemuda cacat itu. Dan ketika semua orang sudah pulang, si pemuda menghampiri gurunya. “Guru, aku tidak habis pikir, mengapa aku bisa menjadi juara hanya dengan satu jurus?” Sang guru menjawab, “Ada dua hal mengapa kamu bisa menjadi pemenang. Pertama, teknik kuncianmu itu adalah teknik kuncian yang paling hebat di dunia beladiri, sangat sulit diantisipasi, apalagi kalau kamu dapat melakukannya dengan kekuatan dan kecepatan yang luar biasa. Kedua, teknik kuncian kamu itu sebenarnya bisa diantisipasi oleh lawan, namun untuk dapat melakukannya, lawanmu harus memegang tangan kananmu, sedangkan kamu tidak memiliki tangan kanan! Seketika pemuda itu tersadar oleh ucapan gurunya, ternyata sang guru punya alasan tersendiri sehingga dia tidak mengajarkan jurus lain selain jurus andalannya itu.
Pemuda itu pun menangis dan berterima kasih ke pada gurunya. Kalau saja waktu itu dia tetap memaksa gurunya untuk diajari jurus lain mungkin dia tidak akan pernah sekuat ini. Disaat itulah kehormatan dan martabatnya kembali lagi. Meskipun pemuda itu cacat ia tetap hidup bahagia seolah tak mempermasalahkan tubuhnya.
~Tamat~
***
Note : Kekurangan yang kita miliki, bukan untuk disesali dan dihindari, namun kita bisa menjadikan kekurangan itu menjadi keunggulan yang tidak dimiliki oleh orang lain.
Jangan lupa klik tanda ♥️ yah sebagai tanda dukungan dari kalian. Thanks for reading 🤗