Namaku Ali Nur Hidayat seorang siswa kelas sepuluh SMK, aku tidak tahu apa hobiku karena aku selalu menjalani sesuatu tanpa pilih-pilih dan tidak terlalu suka dengan hal-hal yang menurutku tidak penting apalagi melakukannya.
Sebenarnya kalau disimpulkan aku hanya seorang pemalas.
Namun semua mulai berubah setelah aku memiliki beberapa teman baru saat aku memasuki kelas sepuluh, saat itulah aku baru menyadari betapa meruginya diriku yang malas ini.
Untungnya aku memiliki beberapa teman baru yang merupakan santri, mereka memberiku motivasi hidup yang membuat hidupku mulai berwarna.
Dibawah cakrawala biru yang terang aku berjalan bersama salah satu teman baikku, kami bersenda-gurau bersama sebelum akhirnya ia kembali membuka topik yang lalu saat kemarin aku bilang bahwa aku tertarik untuk menjadi santri.
"Hei, kau bilang sore ini mau nyantri. Jadi enggak?" tanya Sofyan sembari merangkul bahuku.
"Ah itu yah, nanti aku kesini sama ibuku sekitar jam lima sore." ucapku melepas tangan Sofyan yang masih merangkul tubuhku
"Oke, see you" Ucap Sofyan mengulurkan tangannya yang mengepal kedepanku dengan perangainya yang tidak biasa dan bisa dikatakan sedikit aneh atau bisa juga dikatakan unik.
"Ah kau ini, oke! Jangan lupa sampaikan salamku pada Adit dan Syahfri ya!" ucapku sambil menggaruk kepalanku yang sebenarnya tidak gatal.
Sebenarnya aku merasa risih dengan sifat yang dimiliki Sofyan namun setelah sekian lama aku mulai terbiasa dan akhirnya aku memilih untuk tidak mempermasalahkannya, aku mempertemukan kepalan tanganku dengan kepalan tangan Sofyan sebagai salam perpisahan khas kami sebelum akhirnya aku bergegas pulang kerumah dengan menggunakan sepeda motor.
Setelah hampir satu jam perjalanan akhirnya aku tiba di rumah dengan selamat.
"Assalamu'alaikum" ucapku sambil membuka pintu dan memasuki rumah.
"Wa'alaikum salam" terdengar suara sahutan seseorang.
Terlihat ibuku sedang mengerjakan pekerjaannya yaitu menjahit baju, aku segera saja menghampiri beliau dan menyalaminya.
"Bu, sore ini jadi kan?" tanyaku.
"Oh itu yah, jadi kok. Nanti sore kita ke pondok sama ayah." ucap ibu, ia menghentikan pekerjaannya sejenak sambil menjawabku dengan enyuman lebarnya.
Sebenarnya aku dulu sempat disuruh oleh ayah dan ibu untuk mondok namun karena saat itu aku sama sekali tidak ada niat untuk mondok jadi aku menolaknya, dan sekarang saat aku bilang bahwa aku mau mondok kemarin malam ayah dan ibu sangat antusias dan senang karena akhirnya aku mau mondok atas niatku sendiri.
Karena tidak ingin mengganggu ibu aku segera saja pamit ke kamar, aku menyiapkan beberapa pakaian dengan dua tas untuk ku bawa ke pondok pesantren nanti.
Waktu berlalu dengan cepat, tak terasa waktu telah menunjukkan jam setengah lima sore, aku bersama iibu dan ayahku berangkat ke pondok pesantren.
Aku merasa sedikit gugup saat memikirkan bahwa aku akan nyantri, sekilas terlihat aku tersenyum lebar sambil menghirup nafas dengan pelan. Entah mengapa aku merasa sangat bahagia, aku merasakan adrenalinku naik dengan sangat pesat menandakan diriku sedang sangat bersemangat.
Selain itu aku juga dapat melihat dari kaca spion motor bahwa ujung bibir ayah dan ibuku naik memperlihatkan mereka sedang tersenyum lebar menunjukan kegembiraannya, tidak! aku merasa tidak hanya mereka yang gembira, selain kedua orang tuaku aku juga merasa seperti seluruh alam tersenyum untukku.
Semilir angin terasa sejuk di sore yang teduh ini membuat tubuhku merasa sangat segar dan ringan seolah-olah beban di tubuhku hilang semuanya.
Tak sampai satu jam perjalanan kami akhirnya sampai di pondok pesantren. Biasanya hanya butuh kurang dari setengah jam saja bagiku untuk sampai ke pondok pesantren ini, namun karena ayahku mengendarai motornya dengan agak pelan jadi waktu yang dibutuhkan juga cukup lama.
Terlihat gapura dan bagian atas gerbang dihiasi dengan hiasan indah serta sebuah tulisan atau bisa dikatakan sebagai sebuah lambang bernamakan "Pondok Pesantren An-Nadhir".
Kami akhirnya memasuki Pondok Pesantren tersebut, sebenarnya aku sudah tidak asing dengan suasana disini karena aku sudah terbiasa masuk kesini karena jarak antara Pondok Pesantren ini dengan sekolahku hanya sekitar puluhan meter saja mengingat sekolahku dan pondok pesantren ini merupakan satu yayasan jadi terkadang aku suka bermain kesini karena semua teman dekatku merupakan santri disini.
Akhirnya kami bertemu dengan pak kyai di rumahnya, ayah dan ibu mengobrol dengan beliau sedangkan aku hanya duduk dengan gugup, dari tadi yang aku lakukan hanya duduk sambil menundukkan kepala.
Aku menyadari bahwa ada beberapa santriwati atau santri perempuan memperhatikanku dan itu semakin membuatku gugup dan malu, selain menunduk aku hanya bisa menghela nafas pelan sambil tersenyum canggung.
" Cong (panggilan untuk anak-anak), kamu bener-bener yakin mau jadi santri di sini?" tiba-tiba sang kyai tersebut memberikan pertanyaan padaku.
Aku menghela nafas pelan sekali lagi dan mengangkat wajahku mencoba menatap pak kyai, terlihat pembawaannya yang tenang mengurangi rasa gugupku saat ini. "Nggih pak" jawabku kembali tersenyum canggung.
"Beneran kan? Soalnya kata bapakmu dulu kamu gak mau jadi santri terus tiba-tiba mau jadi santri, apa jangan-jangan kamu suka sama salah satu santri saya? Ya kan Ainun?" tanya pak kyai sambil melibatkan seorang santri wanitanya yang baru saja datang membawakan minuman untuk kami.
"Mboten pak" aku segera saja menolak pertanyaan beliau, namun sungguh kebetulan santri wanita itu juga menjawab dengan kata dan waktu yang sama denganku.
"Tuh kan kompak!" ucap pak kyai.
Sontak suasana pecah, pak kyai dan kedua orang tuaku sama-sama tertawa sedangkan aku lagi-lagi hanya bisa tersenyum canggung dan menundukkan kepala karena malu, aku melirik santri wanita tadi dan ternyata ekspresinya sama denganku saat ini.
Nama santri wanita tadi adalah Ainun, dia adalah seorang siswi kelas delapan SMP yang kebetulan sekolahnya masih satu yayasan dengan sekolahku dan jaraknya pun hanya beberapa puluh meter saja mengingat yayasan tersebut tidak terlalu besar karena baru dibangun beberapa tahun yang lalu.
Setelah beberapa menit terlewati akhirnya kedua orang tuaku menyerahkanku untuk menjadi santri di sini, saat itulah aku akhirnya mendapat status baru yang patut dibanggakan dan juga harus di jaga olehku, yaitu statusku sebagai santri zaman now.
Aku dengan diantar oleh ibu dan ayahku berjalan menuju kamar suci yang akan menjadi tempat tinggal dan belajarku disini, terlihat ketiga temanku yang ternyata sudah menunggu sambil duduk. Mereka adalah Sofyan, Adit, dan Syahfri yang merupakan teman sekamarku yang kebetulan juga merupakan teman dekatku selama ini.
Aku bisa melihat ujung bibir mereka semua naik menampilkan senyuman khas penuh makna mereka yang sudah biasa kulihat, aku sempat merasa canggung sejenak melihat senyum mereka sebelum akhirnya aku mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum" ucapku pelan namun terdengar jelas.
"Wa'alaikum salam!" mereka semua bersorak bahagia menyambutku yang baru saja menjadi santri.
"sstt... ada ibu dan ayahku diluar" ucapku.
"Genggamanmu terlalu kencang"
"Jangan di goyang-goyangkan tanganku" ucapku merasa risih.
Aku merasa bahwa mereka semua terlalu semangat saat berjabat tangan denganku dan itu membuatku merasa sedikit risih.
Setelah berjabat tangan dengan mereka aku menaruh tasku dan keluar untuk bersalaman pamit dengan ibu dan ayahku dengan teman-temanku yang juga ikut denganku.
"Nak, tolong ditemenin ya Alinya" ucap ibuku
"Nggih bu..." semua teman-temanku mengiyakannya.
Setelah berbicara beberapa patah kata dengan teman-temanku akhirnya ibu dan ayah pulang kerumah meninggalkanku disini, di bawah cakrawala jingga yang menjadi pertanda bahwa dimulainya mimpi baru untuk menemukan jati diri sebagai santri.