Aku dengan kakakku Mas Imam beda usia lima tahun. Ketika aku masuk Tk, Mas Imam sudah duduk di bangku Sekolah Dasar kelas empat. Teman-teman Mas Imam sering datang ke rumah untuk belajar kelompok atau bermain. Akupun sering ikut belajar dan bermain dengan mereka.
Ketika mereka belajar, Mas Imam atau temannya sering memberiku kertas dan pensil, lalu memberiku contoh pola garis atau gambar tertentu, seperti segitiga atau lingkaran, yang bisa aku menirunya, maksudnya supaya aku memiliki kesibukan sendiri dan tidak mengganggu mereka belajar.
Mas Budi teman kakakku dan juga tetangga kami, setelah selesai belajar ia melihat aku yang masih sibuk mengikuti pola yang mereka berikan, menurutku sulit sehingga aku mencoba membuatnya terus untuk bisa.
Karena suasana sepi, tanpa diketahui mereka, diam-diam Bunda mengintip dari pintu dapur yang tembus ke tempat belajar, untuk melihat apa gerangan yang dikerjakan anak-anaknya. Bunda tersenyum melihat Denok yang masih serius dengan pensil dan kertasnya sehingga tidak membuat kegaduhan atau merengek minta peralatan sekolah milik kakaknya.
"Mam, tumben banget Denok nggak gangguin kita," kata Budi kepada Imam.
Keduanya menoleh ke tempat Denok yang tidak jauh dari tempat mereka belajar.
Imam tersenyum melihat Denok yang masih serius.
Kemudian Imam dan Budi mendekati Denok. Mengintip apa yang sedang Denok bikin.
"Lagi bikin apa, Dek?" Tanya Imam membuyarkan keseriusan Denok. Denok mengangkat kepalanya, melihat ke kakaknya, kemudian menunjukkan hasil karyanya.
Imam dan Budi mengamati karya Denok, mereka berdua tersenyum melihat goresan Denok tak berpola tak sesuai dengan contoh yang mereka berikan. Kemudian mereka mengajak Denok bermain.
Ketika Imam dan Budi berbicara, Denokpun ikut mendengarkan dan kadang ikut menjawab.
"Coba Denok ngomong R!" Pinta Budi.
"Ellll… elll…" kata Denok yang masih cedal belum bisa mengucapkan R.
"Hahaha… lucu banget kamu, Denok." Budi tertawa.
Tanpa terasa sudah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Denok pun ikut puasa eh.. masih belajar puasa setengah hari. Saatnya memasuki malam takbiran menyambut hari raya idul fitri. Sejak habis Isya mereka di Masjid, pukul sembilan Denok pulang bersama Ayah. Mas Imam ikut takbir keliling sampai tengah malam baru pulang.
Menjelang subuh, Denok belum bangun. Padahal sudah ramai suara takbir dari masjid yang sudah perdengarkan lagi.
"Mam! Imam! Ayo ke Masjid!" Panggilan Mas Budi dari depan rumah membangunkan tidur Denok.
Pintu kamar Denok tidak tertutup rapat, jadi Denok bisa melihat keluar kamarnya.
Denok membuka matanya mendengar suara Mas Budi di depan rumah beberapa kali memanggil Mas Imam.
Pandangan Denok langsung lurus ke samping lemari yang ada di ruang tengah.
"Siapa itu? Teman baru Mas Imam kah?" Tanya Denok dalam hati. Denok tak berkedip melihat sosok anak laki-laki seusia kakaknya berdiri di samping lemari. Dia bukan Mas Imam juga bukan Mas Budi. Juga bukan teman Mas Imam yang sudah ia kenal.
Sosok anak laki-laki tampan, putih bersih, berpenampilan rapi dengan sarung, baju koko warna putih dan kopyah hitam, tampak rambutnya agak panjang. Dengan mata yang teduh terus menerus menatap Denok.
Denok mengedipkan matanya.
Anak laki-laki itu tetap di sana dengan posisi dan ekspresi yang sama.
"Tidak hilang. Tetap berdiri di sana dan tetap memandangku!" Batin Denok.
Denok mengedip-ngedipkan matanya lagi.
"Tidak hilang. Tetap berdiri di sana dan tetap memandangku!" Batin Denok.
Denok menarik selimut, menutupi sampai ke wajahnya dengan selimut, lalu membukanya lagi, dan melihat lagi ke arah itu.
"Lho! Tetap masih ada! Tetap berdiri di sana dan tetap memandangku!"
Denok mengucek-ngucek kedua matanya.
Anak laki-laki tampan itu tetap ada di sana dan tetap memandangku dengan tatapan mata yang teduh.
"Tetap ada!" Batin Denok.
Denok membelalakkan matanya lebar-lebar untuk melihat ke sana. Anak laki-laki tampan itu tetap ada di sana dan tetap memandangku dengan tatapan mata yang teduh.
"Tetap ada!" Batin Denok.
Antara percaya dan tidak percaya. Semua aksi sudah Denok lakukan. Berkedip, membelalak, bahkan menutup wajahnya dengan selimut. Dia tetap ada di sana dan tetap memandangnya dengan matanya yang teduh.
Kata orang, kalau dia itu makhluk gaib, kalau kita berkedip, katanya kita nggak bisa melihatnya lagi. Makhluk itu akan hilang dari pandangan kita.
Sementara dari luar rumah, Mas Budi masih memanggil-manggil Mas Imam.
Ayah yang bersama Bunda di dapur menjawab dan membukakan pintu untuk Mas Budi.
"Budi, ayo masuk! Imam masih mandi, tunggu sebentar, ya!"
"Iya, Om."
Denok pun menyingkap selimutnya dan bangkit dari tidurnya. Penasaran dan ingin kenalan dengan anak laki-laki tampan berbaju koko bermata teduh yang terus menatapnya itu. Denok keluar kamar mendatangi ke tempat anak laki-laki itu berdiri.
"Kok nggak ada di sini, kemana dia?" Tanya Denok dalam hati.
Denok melihat Bunda merapikan baju yang dikenakan Mas Imam. Mas Imam mengenakan celana panjang, nggak mau memakai sarung, ribet katanya. Denok celingak-celinguk di kamar Mas Imam.
"Nyari apa, Dek?" Tanya Mas Imam.
"Nyariin temannya Mas Imam," jawab Denok.
"Noh, di depan," jawab Mas Imam dan Bunda bareng.
Denok bergegas ke depan. Cuma ada Mas Budi. Denok celingak-celinguk.
"Nyari apa, Nok?" Tanya Mas Budi.
"Nyariin temannya Mas Imam,"
Budi bingung. "Ngapain nyariin aku? Ini, aku di sini, kok masih dicariin, sih?"
"Ada teman satunya, Mas Budi tahu kemana dia?"
"Aku datang sendiri, Nok,"
Setelah siap, Mas Imam pamit pergi ke Masjid bersama Mas Budi. Yang juga mengenakan celana panjang. Denok ikut melihat Mas Imam berangkat sampai di depan pintu ruang tamu. Kemudian Denok, Ayah dan Bunda masuk lagi ke dalam.
Bunda dibantu Ayah meneruskan kesibukannya di dapur. Denok mendekat.
"Bun, Yah, siapa tadi anak laki-laki yang berdiri di samping lemari itu?" Tanya Denok yang masih penasaran sambil menunjuk ke lemari ruang tengah.
"Maksudmu Mas Imam sama Mas Budi?" Tanya Bunda.
"Ada satu lagi. Rambutnya agak panjang, pakai sarung. Siapa itu, Bun?"
"Pakai sarung? Nggak ada yang pakai sarung, Adek," Bunda menjelaskan.
"Ada, Bunda. Ayah lihat nggak anak laki-laki yang pakai sarung tadi? Rapi lho pakai sarungnya, Yah. Nggak kayak Mas Imam," Denok ganti bertanya pada Ayah.
Bunda dan Ayah saling pandang.
"Adek kan baru bangun tidur, Adek mimpi kali," jawab Ayah.
Terdengar suara adzan subuh dari Masjid. Denok diam.
"Berarti Bunda sama Ayah nggak lihat anak laki-laki tampan itu. Mereka kan lagi sibuk di dapur." Kata Denok dalam hati.
Kemudian Denok keluar dari dapur. Ia berpikir untuk mencari anak laki-laki bermata teduh itu sambil menyusuri setiap ruangan di rumahnya.
"Adek, ayo mandi!" Panggil Bunda.
"Iya, Bun." Denok semangat segera mandi. Ia berniat akan mencari lagi anak laki-laki bermata teduh itu nanti di jalan ketika berangkat ke Masjid atau pas di Masjid.
"Mudah-mudahan ketemu!" Batin Denok.
Pas di jalan maupun di Masjid, mata Denok terus mencari, tapi belum menemukannya.
Ada yang sama memakai baju koko berwarna putih tapi nggak memakai sarung, wajahnya pun nggak sama.
"Aku harus cari kemana? Kapan bisa ketemu lagi? Aku harus bisa menemukannya! Kamu boleh berganti baju. Tapi aku tidak lupa dengan wajah dan tatapan mata teduhmu! Nggak ketemu hari ini, mungkin bisa ketemu besok, besok, atau besoknya lagi!"
Sampai akhirnya dikumandangkan pengumuman sholat idul fitri akan segera di mulai.
Selesai