Krisan Anyelir
Namaku Anyelir, hidupku bahagia, memiliki suami bernama Krisan, biasa dipanggil Kris. Suamiku sangat menyayangiku, itu yang aku rasakan. Meskipun kami hidup sederhana, dia selalu memanjakanku, dia tahu aku tidak bisa memasak dan tidak pandai membersihkan rumah. Namun, dia tidak pernah menuntutku, setiap hari kami hanya membeli makanan di warung. Kami tidak sanggup membayar asisten rumah tangga, suamiku membebaskanku untuk mengerjakan pekerjaan rumah atau tidak. Terkadang suamiku lah yang akan membersihkan rumah saat pulang kerja tanpa mengeluh.
Bagaimana tidak bahagia hidupku? Aku bebas melakukan apapun, suamiku memberikan hak berhias padaku, skincare ku lengkap. Aku bebas menonton drama korea seharian tanpa memikirkan rumah bersih atau tidak. Toh, suamiku yang akan membersihkannya setiap pulang kerja, bahkan sesekali dia yang memijat kakiku sebelum tidur.
“Assalamualaikum,” ucap Kris memberi salam.
“Walaikumsalam,” jawabku.
“Kamu sudah makan, Dek?” tanya Kris.
“Belum,” jawabku.
“Ini, aku bawa sate. Kamu makan ya, aku sudah makan di kantor.”
Dia selalu memperhatikanku. Namun, suatu hari, aku melihat sesuatu yang berbeda dari suamiku, dia mulai pulang larut, aku mencium wangi parfum di jaketnya. Pikiranku kacau, apakah suamiku berselingkuh? Apakah dia sudah muak hidup denganku? Dia lah yang berjanji akan selalu mencintaiku, dia yang menarikku keluar dari kegelapan, saat aku mencoba bunuh diri karena Ayahku di tangkap polisi karena kasus korupsi dan Ibuku meninggal karena terkena serangan jantung. Ya, aku adalah anak seorang yang bisa dibilang berkecukupan, orang tuaku memanjakanku hingga aku tidak pernah mengalami hidup susah, hingga akhirnya aku bertemu dengan Kris yang menolongku saat aku mencoba bunuh diri dengan melompat dari jembatan.
Dari sana kami mulai berkomunikasi. Dia selalu menelponku memastikan keadaanku. Dia selalu mengunjungiku ketika aku merasa terpuruk, membuatku tertawa menjauhkan pikiranku pada nasibku. Hingga akhirnya pada tahun kedua hubungan kami, dia meminangku. Aku ingat hari itu. Dia mengajakku untuk pergi makan bersama. Tetapi pakaiannya sangat rapi. Tidak seperti biasanya hanya memakai kaos, dia memakai kemeja garis - garis dan rambutnya pun di sisir sangat rapi.
Ketika kami menikmati waktu bersama dia mengajakku untuk berjalan ke taman di dekat tempat tinggalku. Sesampainya di sana tiba - tiba dia memegang kedua tanganku dan berkata sambil mengelus tanganku "Dek, ini sudah tahun kedua kita bersama. Semenjak kita bertemu, aku merasa semakin mencintaimu dan ku ingin untuk terus hidup bersama denganmu. Apakah kau mau menikah denganku?"
Mendengar lamarannya itu aku merasa terharu hingga menitikkan air mata.Tak lama setelahnya, pernikahan kamipun dilangsungkan secara sederhana, hanya mengundang keluarga dan kerabat dekat. Dan sekarang pernikahan kami sudah berjalan selama lima tahun. Apakah mungkin dia selingkuh dariku karena aku belum bisa memberinya anak?
Rasa curiga semakin mengikat pikiran ini, rasa curiga yang semakin lama menjadi sebuah tekanan batinku. Berkali-kali hati ini menepis bahwa suamiku bukanlah orang yang mudah berkhianat, ia orang yang setia, harusnya aku memperkuat rasa percaya padanya. Namun, seiring berjalannya hari, rasa curiga mengikis rasa percaya. Aku melihat jam dinding di ruang tamu menunjukan pukul 23.00 malam. Sudah selarut ini ia belum pulang, nomor ditelpon pun tidak aktif. Aku menunggunya hingga ketiduran di sofa. Sampai pada akhirnya aku merasa tubuhku diangkat, saat ku buka mataku Mas Kris sudah membopongku.
"Eh, terbangun? Maaf ya," ucapnya sambil tersenyum.
Tapi entah kenapa senyuman itu terasa menyakitkan dihatiku. "Turunkan aku."
"Bentar lagi nyampe kamar, dah tidur aja."
"Turunkan aku!" Kataku tegas, ia menurunkanku perlahan.
"Kenapa baru pulang? Kemana saja?" tanyaku, mungkin saja sudah menjurus menuduhnya.
"Pulang kerja lho Dek, iya tadi terlambat karena ngantar seorang ibu dan anaknya yang nggak berani pulang karena takut begal, aku mengawal sampai depan gang rumahnya."
"Ibu dan anak?" Pikiranku semakin kacau. "Apa kamu punya istri selain aku Mas?"
"Dek, sudah malam. Kamu pasti capek ayo istirahat."
"Jawab pertanyaanku!" Bentakku memecah keheningan malam.
"Kamu ini kenapa sih? Kok malah curiga? Udahlah aku capek!" Krisan sedikit meninggikan suaranya, kemudian ia meletakkan tas kerjanya dan pergi ke kamar.
Aku yang ditinggalkan berdiri mematung serasa di hantam batu, dipaku dipalu. Sakit hatiku ia mengucapkan kata "capek". Benarkah ia sudah capek dengan pernikahan ini?
Aku kembali keruang tamu berniat untuk tidur, namun hati dan pikiran yang lebam membuat air mataku mengalir menangis tertahan. Kepalaku pusing, sesak pernapasanku, hingga akhirnya aku tidak sadar apa-apa lagi.
Aku terbangun keesok paginya, kulihat suamiku sudah tidak ada di rumah, namun ada sarapan di atas meja makan, hanya sebungkus nasi uduk dan segelas teh manis. Dia beli, biasanya dia akan membuatkan sarapan untukku dengan tangannya sendiri. Tetapi, kali ini dia membelinya. Aku hanya bisa tersenyum smirk. Hari ini sama seperti kemarin, dia pulang larut, aku menunggunya pulang. Saat dia tiba, belum sempat mengucapkan salam secara sempurna aku sudah memotong salamnya. “Kenapa pulang larut? Apa kamu sudah bosan hidup denganku?”
“Kamu kenapa sih Dek? Aku bekerja!”
Terlihat kelelahan di wajahnya, namun aku tidak peduli itu semua! Aku mulai meledak saat aku mengendus wangi parfum di tubuh suamiku. “Kamu bohong! Kamu pasti selingkuh! Kamu pulang laru, pasti karena menemui selingkuhanmu!” hardikku.
“Kamu jangan asal menuduh!” bentaknya.
“Sudah sangat jelas, tubuhmu wangi parfum perempuan! Kamu pasti sudah bosan denganku karena aku tidak seperti wanita lain yang bisa masak dan membersihkan rumah!”
“Aku tidak pernah keberatan akan hal itu! Salahmu sendiri yang tidak mau belajar memasak!”
Aku tersendak mendengar perkataannya. “Ya, itu salahku karena tidak becus menjadi seorang istri! Tapi, jangan pernah kamu menggunakan kesalahan orang lain untuk menutupi kesalahan mu sendiri!”
Krisan menggusar rambutnya. “Jadi, apa mau Anyelir?” ucapnya dengan suara lelah bercampur amarah.
Anyelir, dia menyebut namaku. Selama ini dia hanya akan memanggilku dengan sebutan Dek. Namun, kini ia memanggilku Anyelir. “Yang ku mau, kamu bicara jujur padaku!”
“Aku harus jujur apa?”
“Kau selingkuh!”
“Aku tidak selingkuh!”
“Bohong!” Aku melihat tas kerjanya, aku mengambilnya. Dia mencoba menghentikan aksiku, semakin ia gugup, semakin aku tidak memberikan tasnya.
“Apa yang kau lakukan?” tanyanya.
“Mencari bukti perselingkuhanmu!” Aku mengeluarkan isi tasnya dan aku terkejut ada kalung berbentuk hati. Aku mengangkat kalung tersebut. “Ini apa? Pasti untuk selingkuhanmu ‘kan?”
Krisan mengusap kasar wajahnya, terlihat jelas ia kecewa. “Bukalah kalung berbentuk hati itu!” titahnya.
Dengan tangan bergetar aku membuka kalung hati tersebut, sedetik kemudian aku menutup mulutku dan menatap suamiku dengan mata berkaca-kaca. Ya, sekali berkedip akan mengalirkan cairan bening dari netra hitamku. “Kenapa seperti ini?”
“Jadi, kamu lebih menginginkan aku selingkuh?”
Aku menggeleng keras kepalaku, menatap kembali pada kalung hati tersebut yang di dalamnya ada nama Krisan Anyelir. Aku berdiri dan memeluk Krisan-ku, tanpa bertanya pun aku tahu alasannya dia pulang larut, pasti karena mencari tambahan untuk kalung ini, kenapa bisa aku berasumsi seperti itu? Ya, karena ATM gajinya ada padaku, Krisan hanya mendapat jatah harian dariku.
“Maafkan aku, membuatmu khawatir. Aku hanya ingin membuat kejutan untuk hari ulang tahunmu dua hari lagi, tapi rasanya nanti tidak bisa menjadi kejutan lagi karena kamu sudah tahu kadonya,” ucap Krisan sambil tersenyum.
“Maafkan aku juga telah menuduhmu yang bukan-bukan. Habis kamu wangi parfum perempuan!” protes ku.
“Memang kamu tidak tahu ini parfum apa?” tanyanya.
“Tentu tahu, itu parfum perempuan, persis sama seperti punyaku!”
“Itu tahu!” Krisan mengambil sesuatu di tasnya dan mengeluarkan botol parfum miliknya. “Maaf, parfumku habis jadi, aku isi ini dengan parfum mu, aku mencari tambahan dengan menjadi ojek online sepulang kerja, nggak enak ‘kan jika penumpang mencium bau tak sedap!” ucapnya tersenyum malu-malu.
Aku membulatkan mataku, tak kusangka harum yang melekat pada dirinya adalah parfumku sendiri. Ah, betapa bodohnya diriku. “Seharusnya kamu bilang padaku, jadi aku tidak berpikir macam-macam! Jadilah seperti namamu yang berarti kejujuran.”
Krisan tersenyum. “Jadilah dirimu sendiri, dan tetap menjadi Anyelir yang penuh cinta,” balasnya.
Kami tertawa bersama. “Aku akan berusaha menjadi istri yang terbaik untukmu,” ucapku sungguh-sungguh.
“Oh, tidak! Jadilah istri yang baik dan bukan yang terbaik!” ucap Krisan.
“Kenapa?” tanyaku bingung.
“Karena jika terbaik, maka akan ada yang baik lainnya dan aku hanya ingin memiliki istri satu saja!”
Kami tertawa bersama, aku setuju dengan yang di katakan Krisan. Terbaik ada, jika ada kandidat yang baik lainnya dan aku bukanlah kandidat, melainkan satu-satunya yang ada di dalam hati Krisan.
End