Suara ketukan terdengar nyaring di pintu depan. Walaupun ragu, aku bangkit dan bergegas menghampiri bermaksud untuk membukakan pintu bagi tamu.
Saat pintu sudah terbuka, mataku mengernyit menatap kearah depan. Di depanku, tampak berdiri seorang gadis dengan pakaian kumal serta rambut yang berantakan. Aku bertanya dalam hati. Apakah dia orang gila? Namun, aku tak sampai hati mengucapkan kepadanya.
Setelah berdehem, aku pun mencoba membuka suara. "Ekhem. Maaf, mbak ini ada perlu apa ya datang kemari malam-malam?" tanyaku kepadanya.
Dia tak menjawab. Hanya tatapan lemah tak berdaya dengan penuh arti. "Tolong aku, mas!" pintanya mengiba dengan suara lirih nyaris tak terdengar.
Aku tersentak. Suaranya begitu dingin dan datar. Mungkinkah dia ...? Ah, dia manusia!
Tadinya aku berpikir bahwa dia mungkin hantu atau manusia jadi-jadian. Tapi, setelah melihat kakinya menapak dilantai rumahku, aku pun menepis semua prasangka buruk yang sempat menghampiri.
"Minta tolong apa ya, mbak?" aku bertanya dengan ramah dan penuh kesopanan.
Dia mendongak menatap dalam kearah mataku dengan lurus tanpa hambatan. Manik mata itu tersimpan ketakutan serta penuh penyesalan.
"Aku ... Bolehkah aku menginap disini sementara waktu?" tanya gadis itu sedikit ragu.
Sejujurnya aku ragu. Tapi, melihat kondisinya yang berantakan seperti itu, aku pun tak tega. Ku anggukan kepala pertanda memperbolehkannya. Tanganku terulur ke depan untuk mempersilahkan dia masuk. Terlihat jelas, ada senyum manis di bibirnya kala aku menyuruhnya masuk tadi.
Senyuman itu sangat manis. Aku yakin, jika dia sedikit berdandan, pasti wajahnya terlihat cantik.
"Siapa namamu?" tanyaku membuka percakapan setelah lama kami terdiam.
Dia menunduk sambil memainkan jari jemarinya yang dibuat saling bertaut. Dengan suara sedikit bergetar, dia pun menjawab. Namaku ... Tasya!"
"Nama yang cantik, secantik orangnya!" pujiku tulus. Jujur, aku suka melihat gadis yang pemalu seperti itu. "Namaku, Dani!" ucapku memperkenalkan diri.
"Terima kasih, mas Dani!" ucapnya tersenyum.
Lagi. Aku takjub dan terpana melihat senyumnya. Senyum yang manis itu mampu menyihir mataku seketika, seolah ingin melakukan apapun terhadapnya. Ya tuhan!
"Oh iya. Kamu pasti belum makan? Kebetulan, aku sudah masak sup iga. Mari, temani aku makan!" Ku ajak dia dengan alasan bahwa aku belum makan. Padahal, aku baru saja selesai makan. Aku takut menyinggung perasaannya jika langsung memberikannya makanan.
Dia langsung mengangguk senang dan berterima kasih lagi padaku. Aku pun langsung menghidangkan makanan di meja untuk kami berdua makan.
Walaupun terlihat sungkan, dia tetap makan dengan lahap, menikmati masakan yang aku buat tadi. Dia terus mengucapkan kata terima kasih sambil tersenyum puas. Ah, sial. Dia sangat manis jika tersenyum.
Ku usahakan untuk setenang mungkin, walau hatiku bergejolak saat ini. Kembali ku lontarkan pertanyaan demi pertanyaan supaya tak membuat keheningan diantara kami, seperti dimana ia tinggal atau alasan dia seperti ini. Rasanya, itu sangat sepi jika tak ada obrolan apapun diantara kami. Padahal, aku terbiasa tinggal sendiri tanpa ada yang menemani.
Tak banyak yang dia ucapkan. Pertanyaan ku kebanyakan hanya dibalas dengan senyuman manisnya, dan aku pun tak masalah jika itu mengganggu privacynya.
Cukup lama kami mengobrol, rasa kantuk pun datang menyerang. Aku menyuruh Tasya untuk tidur di kamarku dan aku sendiri tidur di sofa ruang tamu.
Hawa dingin membuat tubuhku menggigil. Memang, saat ini cuaca sangat dingin karena sedang turun hujan. Petir menggelegar, seperti menyambar-nyambar. Gemuruh angin membuat pepohonan bergoyang tak karuan.
Kriet ... kreeeettt
Suara bambu saling bergesekan satu sama lain, membuat suasana semakin riuh. Tetesan demi tetesan hujan yang jatuh di genteng seperti batu kerikil yang sengaja dilempar. Aku tak bisa tidur.
Ku ayunkan kaki menuju kamar mandi, karena hawa dingin membuatku ingin selalu buang air kecil. Setelah menuntaskan hajat, ekor mataku sekilas menangkap sebuah bayangan.
Sontak wajahku berpaling guna memperjelas pandanganku. Mataku membelalak sempurna kala melihat apa yang tertangkap pandanganku.
Tasya sedang berdiri di dapur rumahku dengan sesuatu ditangannya. Walaupun membelakangi, aku masih bisa melihat tetesan darah yang berjatuhan ke lantai keramik dapur, yang berasal dari benda yang dipegang Tasya.
Saat dia berbalik, mataku semakin melebar. Demi Tuhan, ini sangat mengerikan dan membuatku bergidik. Ditangannya, seekor kucing yang sudah habis terkoyak bagian dadanya, dengan darah terus mengalir jatuh ke lantai.
Bibir Tasya penuh darah dari kucing tersebut. Terlihat, giginya runcing dan tajam, matanya merah menyala, serta lidahnya cukup panjang. Dia terus menjilati darah kucing tersebut tanpa memperhatikanku.
Astaga. Aku tersentak sampai mundur kebelakang. Kakiku mendadak lemas tak bertenaga. "Ya Tuhan. Aku membawa masuk siluman ke rumahku. Tolong aku!" jeritku dalam hati.
Lidahku terasa kelu. Suaraku tercekat di tenggorokan tak bisa keluar sama sekali. Walau aku berusaha, namun tetap tak bisa berteriak sedikit saja.
Ku coba melangkahkan kaki yang terasa berat itu. Sepertinya, kakiku tertancap di lantai bagaikan paku yang diketuk palu. Sulit untuk bergerak walau hanya satu sentimeter saja.
"Tolong!" Jeritku lagi, namun tetap tak keluar suaraku ini.
Astaga.
Dengan susah payah, akhirnya kakiku bisa melangkah sedikit demi sedikit. Kata orang, jika kita gigih berusaha, maka hasilnya tak kan mengecewakan.
Ku langkahkan kembali kakiku sedikit demi sedikit untuk menjauh dari tempat itu, dimana ada monster mengerikan seperti gadis di hadapanku ini.
Ku raih gagang pintu setelah sampai di ruang tamu. Aku akan diam-diam pergi sebum ia menyadarinya. Namun sial, saat aku sudah di luar, aku dikejutkan dengan kehadiran sosok yang sedang ku hindari tadi.
Tasya berdiri di depan pintu dengan seringai menakutkan. Mata yang menyala itu menatapku tajam, dengan bibir tersungging mengejek. Lebih tepatnya, ia menyeringai menampakan gigi taringnya yang masih penuh darah.
"Mau kemana?" suaranya yang serak dan datar membuatku tambah bergidik takut. Aku yakin, makhluk ini pasti mengincar nyawaku hanya dengan melihat tatapan laparnya.
Sedikit demi sedikit aku pun mundur. Namun, dia juga terus maju mengikuti langkah kakiku yang perlahan bergerak mundur.
"Jangan mendekat! Jangan mendekat!" ku terus peringatkan dia supaya tak mendekat dengan tangan terulur ke depan.
Tapi, dia seolah mengabaikan peringatan ku dan terus mendekat sambil tertawa cekikikan. "Hihihihiiiiiiii!"
"Tidak! Aaaaaaaaaaaakkkkhhhhh,"