Bagiku cinta tidak perlu dimiliki oleh pasangan dua insan diluar pernikahan, bagiku cinta yang tulus itu ketika sudah menjabat tangan penghulu disaksikan oleh kedua belah pihak dan mereka mengatakan sah. Bagiku cinta yang tulus itu yaitu cinta orang tua pada anaknya, bukan cinta pada laki-laki yang awalnya tidak saling mengenal hanya karena sebuah perhatian langsung berspekulasi bahwa itu cinta.
Cinta memang ada setiap insan, kita lahir pun karena cinta, kita tumbuh dan berkembang karena cinta. Cinta membuat orang hidup rukun, cinta membuat hati kita damai tapi cinta juga membuat kita porak poranda, kacau, berantakan dan bahkan seakan mau menyerah hanya karena cinta.
Karena cinta kita diistimewakan, karena cinta kita di sengsarakan, karena cinta kita mengerti arti cinta, tapi karena cinta juga orang takut untuk jatuh cinta.
Begitu yang dirasakan oleh seorang gadis lugu yang bernama Salsa. Dia adalah gadis yang awalnya tidak mengenal cinta dan hidupnya menurut kebanyakan teman-temannya itu enjoy dengan ke jomblonya.
Saat Salsa mengenal Ali yang merupakan senior disalah satu fakultas yang satu universitas dengannya. Berawal dari tidak saling mengenal satu sama lain, karena saat itu Ali memiliki pacar yang satu asrama dengan Salsa.
Salsa mengenalnya dengan sudut pandang sebagai kakak, dia begitu baik padanya bahkan untuk makan siang atau makan malam sering meneleponnya hanya untuk memastikan, bahkan Salsa pindah asrama pun Ali sering meneleponnya walau hanya sekedar tanyakan kabar. Salsa begitu senang, namun hal itu tidak diceritakan pada siapapun karena menurutnya itu hal biasa dilakukan oleh seorang kakak pada adiknya.
Saat Salsa pulang dari kampus, dibawah terik sinar matahari yang begitu panas Salsa dengan sekumpulan tenaga membuka gerbang asramanya dan saat itu bertepatan dengan ponselnya berdering
"Assalamualaikum kak" sebagai awal ucapan Salsa.
"Wa'alaikumussalam, dek suka mangga gak?" tanyanya Ali to the point.
Dengan senang hati Salsa menjawab, "Iya kak"
"Siap-siap aku jemput, tapi kamu yang bayar" Ucap Ali dengan sedikit tertawa ditelepon itu.
"Gak jadi suka kak, assalamualaikum" Ucap Salsa lalu mematikan SBI telepon.
Bulan berganti tahun mereka semakin dekat, Ali sering curhat pada Salsa dan Salsa yang tidak mengenal cinta sebelumnya maka responnya hanya mengiyakan apa yang dia dengar.
Nyaman, mungkin satu kata yang pernah ada dalam hubungan kakak beradik. Salsa dijemput untuk beli makanan, disepanjang perjalanan Salsa selalu ditanya dengan hal-hal yang menurutnya kurang dimengerti.
"Dek, sebenarnya ada yang aku tanyakan tapi itu nanti" Ucapnya pada Salsa.
"Ohh iya" Respon Salsa begitu tidak penasaran dengan ucapan itu.
Banyak hal yang Salsa lalui bersama Ali membuat Salsa berpikir kalau sudah menemukan sosok kakak yang seperti ia inginkan selama ini. Perhatiannya membuat Salsa senang dan lagi-lagi Salsa beranggapan itu sebatas perhatian seorang kakak pada adiknya.
Pertemanan Salsa dan Ali makin akrab sehingga kadang menimbulkan rasa cemburu pada kekasih Ali, namun semua itu tidak disadari oleh Salsa.
Waktu terus berputar dan Salsa fokus dengan kuliahnya begitupun dengan Ali, sehingga Ali lanjut pendidikan disalah satu universitas terbaik di Indonesia. Mereka pun lost contact, beberapa tahunan.
Minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, dimana keduanya sama-sama melanjutkan studi di universitas yang berbeda. Hari-hari Salsa begitu indah tanpa menyadari masalah tahun lalu yang membuat salah satu perempuan ditengah malamnya menangis karenanya yaitu pacar Ali cemburu pada Salsa, sampai pacarnya cemburu dan berspekulasi kalau mantannya Ali masih berkomunikasi dengan Salsa.
***
Saat Salsa seorang diri dikamar berteman bosan karena tidak memiliki kegiatan apa pun, maka ia memutuskan membuka Instagram dan saat itu ada sebuah postingan yang sangat mirip dengan Ali, maka Salsa iseng untuk DM hanya untuk memastikan rasa penasarannya.
"Assalamualaikum, kak Ali sombong" DM Salsa
Seketika balasan DM nya dibalas oleh Ali, "Wa'alaikumussalam, siapa yang sombong? sudah menikah dek?" tanyanya
Salsa membaca itu langsung ketawa sambil membalas DM Ali, "Kakak dulu baru aku, gak baik mendahului, pamali kata orang tua" Balas Salsa dengan emoticon ketawa.
Ali pun membalas begitu cepat seakan menunggu jawaban dari pesannya.
"Carikan aku istri, tapi sahabatmu. Aku tidak mau yang lain" Balasnya.
"Teman-teman aku sudah punya pacar, gimana ceritanya aku carikan" Balas Salsa mulai berpikir dimana ia mencarikan sosok istri yang cocok dengan Ali itu.
Ali segera membalasnya dengan sebuah gambar modul dengan tulisan nama Salsa, "Aku lagi kuliah dek, lihat ini"
Saat itu Salsa senang, perasaan yang selama ini seakan hilang kembali muncul, tapi ia tidak mengerti yang ia tahu hanya bahagia setiap DM-an dengan Ali sampai ia mencoba untuk mengingatkan yang pernah lalui bersama dulu.
Salsa adalah orang yang malas pusing langsung mengatakan kalau sudah lupa semuanya tapi tidak sengaja Salsa mengatakan hal yang pernah Ali lakukan padanya.
"Ternyata kamu masih ingat dek, Alhamdulillah" Balasnya membuat Salsa seketika mengerutkan kening. Bagi Salsa pesan itu hanya biasa tidak mengundang rasa bahagia atau lebih dari itu, namun bagu Ali itu lebih dari kata biasa karena ia merespon pesannya dengan emoticon senyum.
DM itu yang menemani Salsa hari ini. Ali kembali DM Salsa setelah tiga hari kemudian dan Salsa pun meresponnya dengan baik. Hari-hari mereka lalui dengan canda meskipun itu lewat DM dan pada akhirnya Ali minta nomer WhatsApp Salsa. Salsa pun memberikan kontaknya dan DM mereka berakhir begitu saja.
Mereka menjalani hari-hari mereka sampai Salsa meminta tolong pada Ali dikarenakan tugas kampusnya yang menurutnya sulit untuk ia selesaikan sendiri.
"Kak bisa minta tolong gak?" tanya Salsa karena baru kali ini minta tolong pada Ali itu selama lost contact bertahun-tahun lamanya.
"Apa dek? aku lakukan sebisa mungkin karena bagiku tidak ada yang tidak buatmu" balasnya membuat Salsa berhenti sejenak untuk mengetik dan mencoba mencerna kalimat itu.
Salsa bingung mau balas bagiamana, ia takut balasan pesannya tidak nyambung, takut jika mengecewakan hati Ali dan takut bahasa itu membuatnya akan jatuh cinta pada sosok yang sudah menganggapnya sebagai kakak.
"Apa sih kak Ali ngomong seperti ini" Batinnya dan ia tidak balas pesan itu dengan cepat.
Gadis lugu yang tidak mengenal cinta akan tahu kalimat seperti itu, karena bagaimanapun tidak ada seorang laki-laki akan berkorban lebih kalau tidak ada tujuannya.
Lagi-lagi Salsa takut untuk membalas pesan itu, ia takut nanti jawabannya salah, namun jujur dalam hatinya senang dengan bahasa itu.
"Terima kasih kak" Balas Salsa. Ia hanya mampu berkata terima kasih pada Ali itu.
Menjelang tiga hari kemudian, tiba-tiba Ali chat lagi, "Dek, lagi ngapain?" tanyanya
"Biasa kak, lagi kerja tugas kampus nih" Balas Salsa dan Ali hanya baca tanpa balas, mungkin tidak mau menganggu Salsa.
Berhari-hari tidak memberi kabar satu sama lain dan Salsa pun tidak masalah hal itu, karena ia tau orang kuliah sibuk dengan tugas.
Saat malam yang sunyi kebetulan Salsa bosan dikamar tanpa ada kegiatan sama sekali.
"Kak Ali chat aku" Batin Salsa senang dan membalas pesannya. Sementara membalas pesan ia kembali mengirim sebuah gambar dirinya dengan caption
"Lihat diriku dek saat ini" pesan Ali dengan caption senyum.
Salsa yang merasa lucu dengan foto itu langsung membalasnya, "Kakak sudah kurus, dietnya berhasil" Balas Salsa dengan emoticon tepuk tangan.
"Iya dong" Balasnya.
Disela-sela chatting dia kembali mengirim foto dengan caption "Dek, tidak kasihan padaku?" tanyanya.
Tanpa berpikir panjang Salsa membalas,."Menikah lah kak, kakak sudah tua" dengan emoticon ketawa.
Entah kenapa balasnya lagi-lagi membuat Salsa tidak mengerti, "Aku sengaja kirimkan fotoku agar kasihan padaku" Balasnya dan Salsa langsung tidak membalasnya karena ia bingung bahasa seperti itu membuatnya bingung.
*****
Sudah satu bulan mereka sering komunikasi, hari ini dimana Ali pernah bilang kepada Salsa kalau dirinya masuk laboratorium. Salsa mencoba untuk menelepon Ali dengan tujuan hanya untuk tes Ali apakah benar seperti yang dia ucapkan kalau dirinya penting.
Salsa mulai mendengar kalau teleponnya tersambung, ia tinggal menunggu apakah teleponnya dijawab oleh Ali atau tidak dan ternyata benar Ali mengangkat teleponnya sambil sedikit berlari menuju keluar terdengar jelas bunyi sepatu Ali yang lari.
"Sebentar ya dek, lagi dalam laboratorium jangan dimatiin teleponnya" Ucapnya terdengar jelas yang membuat Salsa terus bertanya-tanya dalam hati.
"Apa benar Ali mencintaiku" suara hati Salsa itu membuatnya takut untuk berharap, berharap yang mungkin saja bisa patah kapan saja, secara Ali kuliah diluar negeri banyak wanita yang lebih baik darinya. Sedangkan dirinya hanya anak kecil yang kurang ilmu dan suka mengganggunya sedang sibuk.
"Ada apa dek?" tanya Ali lagi karena Salsa hanya diam.
Salsa kebingungan karena awalnya hanya iseng saja, "Hhmmm, lupa" Ucap Salsa.
Seketika Ali ketawa terdengar jelas suaranya ditelinga Salsa, lalu ia berkata "Kenapa menelfon dek?, Dek sebenarnya aku tidak memiliki kriteria tertentu untuk memilih istri" Ucapnya to the point yang membuat Salsa seketika diam dengan seribu bahasa.
"Kak, aku jalan dulu ya, soalnya aku diluar" pamit Salsa.
"Iya" jawaban singkat Ali.
Komunikasi terakhir hanya membahas kriteria istri, mereka kembali di aktivitas masing-masing seperti biasa tanpa ada saling mengabari dan kembali ngabarin lewat telepon untuk kedua kalinya.
"Dek, kamu dimana?, Kenapa sunyi?, Dikamar pacarmu ya?" tanyanya diseberang telepon sembari ketawa
Aku yang mendengar itu langsung istighfar, "Astaghfirullah kak, aku lagi di gazebo kampus dan disini saya sendiri jadi wajar kalau tidak ada suara"
Ali terdengar jelas kalau ia meresponnya dengan tawa yang membuatku kesal saat itu. Entah kenapa, Salsa sangat tidak suka dituduh seperti itu.
"Dek, mana pacarmu?" tanyanya lagi.
Salsa disitu mendengus kesal dibuatnya dan dia terdengar seakan menang, "Kakak Ali terhormat, aku itu tidak pacaran. Astaghfirullah ya Allah"
Diseberang telepon itu Ali tertawa terbahak-bahak seakan Salsa lagi stand up komedi.
"Kak Ali sudah dulu ya, aku mau pulang sudah sore" pamit Salsa lalu mematikan sambungan telepon.
Sepanjang perjalanan Salsa mencerna pertanyaan Ali, ia seakan menuduhnya kalau dirinya pacaran saat ini.
"Apa maksud dari ucapan itu, tapi bodoh amat itu hanya sebatas pertanyaan tidak lebih" Batin Salsa.
Hari berganti begitu cepat, Ali kembali menelpon dengan kabar bahwa dirinya akan segera menikah, hati Salsa tidak baik-baik saja, ia bingung dengan dirinya seperti ada perasaan tidak suka mendengar berita itu dan tidak rela jika Ali dimiliki oleh orang lain.
"Ya Allah, maafkan hambaku jika jatuh cinta pada makhluk selain suamiku kelak, hamba tidak tau apakah ini cinta atau hanya hawa nafsu belaka" Batin Salsa.
Jujur hati Salsa tidak baik-baik saja hari ini, namun untuk protes kepada siapa ia menyampaikan keberatannya itu. Mau berbagi cerita, kepada siapa yang bijak memberikan solusi pada masalahnya, ia tidak tau karena semua itu hanya Ali yang mampu memberikan nasehat yang membuatnya masuk akal.
"Maafkan aku ya Allah, aku porak poranda karena makhluk mu" Batinnya tanpa terasa air mata Salsa jatuh dan menyekanya dengan cepat lalu menarik napas, "Aku baik-baik saja, ayo Salsa tuhan sudah menyediakan orang yang terbaik untukmu" sambungnya dengan sedikit lirih untuk menguatkan dirinya.
Hari-hari Salsa kali ini begitu menyedihkan hanya saja karena adanya sahabat kampusnya yang selalu ada untuknya membuatnya lupa dengan masalah yang ia alami saat ini.
"Sal, gimana hidup bahagia?" Tanya teman kampusnya.
Salsa terlebih dahulu senyum sebelum menjawab, bohong jika dirinya saat ini mengatakan kalau ia baik-baik saja, tapi pertanyaan dari temannya harus ia jawab.
"Menurut aku, cukup urus apa yang perlu diurus dan jangan gila/repot dengan urusan orang lain dan senyum" Ucap Salsa dengan senyuman lebarnya.
"Kamu santai saja seperti gak ada masalah gitu" Ujar temannya lagi.
Lagi-lagi Salsa senyum mendengar itu, bagaimana bisa dikatakan tidak punya masalah sementara sekarang ia sedang menghadapi masalah yang menurutnya susah ia tebak.
"Semua orang punya masalah, tidak mungkin tidak ada masalahnya tapi orang punya cara tersendiri untuk mengahadapi masalah itu, ada yang berusaha menyembunyikan masalahnya sehingga terlihat santai dan ada juga yang menampakkan masalahnya seakan dia orang yang paling banyak masalah di dunia ini. Padahal masalahnya biasa saja tapi karena terus mengeluh yang awalnya masalah sepele setelah ia ceritakan ke orang lain menjadi seakan besar" tutur Salsa.
Temannya mengangguk paham, "berarti tergantung cara orang tersebut bagaimana menyikapi masalah itu ya?" Tanyanya lagi.
"Yap, benar sekali. Kuliah hari ini terakhir tadi kan?" Tanya Salsa.
"Iya, mau pulang?" Tanyanya balik.
"Iya, kemana lagi. Duluan ya, assalamualaikum" pamit Salsa. Setelah temannya jawab ia langsung pergi.
Perjalanan pulang Salsa penasaran dengan lamaran Ali hari ini, ia mengirim pesan hanya sekedar menanyakan hasilnya.
"Assalamualaikum kak, gimana proses lamaran hari ini kak?" Tanya Salsa lewat pesan.
5 menit kemudian Ali membalas pesan Salsa, "Batal dek, batal lamaran aku tidak diterima" balasnya.
Kalimat itu merubah bongkahan es yang padat sengaja Salsa bangun dalam dirinya kembali meleleh setelah mendengar bahasa itu.
"Ya Allah, apa aku salah jika berharap" Batin Salsa lalu membalas pesan Ali.
"Kenapa batal kak?" Tanya Salsa lagi lewat pesan itu.
"Terlalu banyak syarat yang diberikan" balas Ali.
Pesan Ali itu Salsa tidak membalasnya lagi. Hanya karena syarat, syarat bisa saja dipenuhi dan lamaran akan segera diterima. Apalah daya jika kita seperti langit dan bumi saling melihat tapi tidak mampu saling menggapai.
Menempatkan diri bagaikan bumi dan langit merupakan suatu hal yang menyakitkan. Sangat jauh, berbeda posisi dan cara dan cara untuk melihatnya pun berbeda, dimana saat kita menunduk melihat bumi maka langit terabaikan, sedangkan jika mendongak keatas melihat langit maka saat itu kamu berpijak pada bumi namun perhatianmu pada langit, maka saat itu kamu sedang melupakan bumi dan fokus melihat langit.
Maka dari sini kita bisa mengerti dan memahami bahwa sesungguhnya manusia hanya mampu memilih satu jika lebih maka salah satunya akan merasa terabaikan, apalagi jika sudah berurusan dengan perasaan atas nama cinta.
Jiwa yang berharap mesti pada tempatnya, hati yang berkelana tentu harus tau tempat dimana ia kembali, cinta yang tulus tentu akan tau kepada siapa yang menerimanya dengan ikhlas, tapi takdir tidak akan salah alamat kepada siapa untuknya berada.
Takdir itulah yang ia pegang sekarang oleh Salsa, tidak ada yang lain selain diserahkan kepada takdir Allah.
Salsa mencoba merespon semua perkataan Ali seperti biasa, ia menyampingkan semua perasaan yang ia miliki selama ini. Karena ia tahu mencintai yang sesungguhnya tidak harus memiliki, memang sakit sebab hadirnya rasa cinta maka disitu ada harapan pula untuk bersama.
Salsa kembali disibukkan dengan kuliah tidak lagi mengirim pesan kepada Ali hanya untuk menanyakan kabar, Salsa lebih memilih untuk fokus kuliah sampai Salsa mengunggah sebuah video dalam bentuk status di WhatsAppnya, dimana dalam status itu isinya teman-teman Salsa meskipun yang lebih monoton adalah satu teman cowok kampusnya.
Salsa upload setelah pulang dari kampus. Dengan jeda waktu yang sangat singkat setelah melihat video itu, Ali langsung buat status di WhatsAppnya yang membuat Salsa tersinggung dengan hal itu.
Dengan kalimat menohok seakan Salsa tidak mampu menjaga diri dari laki-laki yang bukan mahramnya.
"Kenapa kak menyinggung ku lewat status?, Begitu sulitkah langsung komen jika memang tidak suka, apakah berpikir aku keberatan jika kakak komen" gumam Salsa.
Salsa kembali membaca status Ali, "PAKAIAN TERTUTUP TAPI TINGKAH LAKU TIDAK DIJAGA"
Sesak rasanya jika status itu diulang baca tapi Salsa mengulangnya dengan harapan status itu bukan untuk dirinya. Namun, anehnya semakin diulang, Salsa makin yakin kalau status itu tujuannya adalah dirinya.
"Aku kira kak Ali, kakak terbaik jika aku salah menegur ku dengan baik, nyatanya aku salah besar..Andaikan dia kakak yang baik tidak akan mungkin melakukan hal ini padaku" Membatin dengan perasaan sedih.
"Aku tahu, aku sadar bukanlah manusia yang sempurna, masih butuh bimbingan jika salah tapi kenapa saat aku melakukan kesalahan bukan ditegur malah dibuatkan status. Aku bodoh tidak berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak, aku baru sadar bahwa menurut kita baik belum tentu orang lain. Aku sadar pikiran saya sempit kepada orang-orang yang berpengalaman tentang cinta" Salsa melamun dekat jendela kamarnya sambil melihat pemandangan luar sore hari.
Salsa terlihat ceria didepan teman-teman kampusnya tapi murung saat sendirian. Ia terus merenung karena status Ali itu, ia merasa terganggu dengan hadirnya status itu. Dalam mode melamunmya ia disadarkan oleh nada dering ponselnya.
"Assalamualaikum kak, mau balik indo.. hati-hati ya kak, gak perlu kak, gak perlu kak" tolak Salsa ditelepon itu.
Dimana Ali menelepon Salsa memberitahukan kalau dirinya akan balik Indonesia dalam waktu dekat dan ia akan membelikan oleh-oleh untuk Salsa, meskipun Salsa menolak tapi Ali terus memaksa.
"Kak Ali kalau beli gamis itu mahal aku gak mau" Jujur Salsa dalam telepon itu.
Terdengar suara tawa diseberang telepon, seakan mengejek Salsa, "Salsa hong, aku punya banyak karyawan dan aku mampu gaji mereka, masa aku belikan kamu gamis tidak mampu. Aku mampu belikan kamu lebih dari satu, jadi aku mau kamu sebutkan size gamismu warna kesukaanmu, dan berapa banyak" Ucap Ali panjang lebar.
"Kak Ali gak usah repot-repot, kue atau gula-gula cukup kok" jawab Salsa tidak ingin merepotkan Ali itu.
"Salsa hong, gak bisa seperti itu" Ali terus bertahan dengan keinginannya.
Salsa mulai berpikir, entah kenapa ia tidak mau ukuran gamisnya ditau sembarang orang. Salsa pun tiba-tiba muncul ide,
"Kak, kerudung saja kalau begitu" Ucap Salsa
"Ok, gitu dong dek, assalamualaikum" Ucap Ali mengakhiri teleponnya malam ini.
Beberapa hari kemudian, terdengar kabar kalau yang balik Indonesia bukan dirinya melainkan calon istrinya, itu tandanya dia akan menikah.
Sesaat mendapat berita lewat pesan singkat dari Ali. Salsa mencoba untuk menerima berita itu dengan lapang dada tapi munafik jika tidak merasakan sakit yang mendalam.
"Aku sadar, kalau aku tak pantas untuk mu tapi setidaknya jangan membuat aku nyaman seakan kau membutuhkan ku dalam hidupmu" Batin Salsa dengan menggenggam ponselnya itu erat.
Dalam genggamannya ponselnya kembali berdering.
bersambung....