Waktu itu--beberapa tahun lalu.
Subuh-subuh, sekitar jam setengah lima, aku ikut Makku ke tempat kerjanya. Yang ditempuh hanya dengan waktu sepuluh menit menggunakan angkot. Kami berjalan kaki untuk sampai ke gang.
Sebelum sampai di tempat pengeteman angkot, Makku bilang, "Pas belokan yang gelap di depan sana, jangan kaget. Ada sosok item lebar, gemuk, yang bediri kaku. Pokoknya pas deket sana, kamu baca ayat kursi aja. Biar dia gak ganggu kita."
"Yang bener, Mak?!" tanyaku terkejut.
Mendengarnya saja aku sudah merinding, apalagi saat mendekat nanti. Aku sempet berpikir untuk balik kanan. Tapi memaksakan juga, karena jarak tempuh sudah kepalang jauh.
Semakin dekat, benar saja, semakin kelihatan sosok hitam gemuk yang dibilang Makku. Aku hampir menangis. Tapi kutahan karena malu.
Saking takut, tanpa sadar, perut Mak kupencet kekencangan, hingga dia berteriak balik mencubit pinggangku dengan gigi beradu kesal.
Aku takut. Bahkan sangat takut. Tapi juga penasaran.
Bulu kudukku semakin tak bisa terkendali, berdiri menantang perasaan kacauku. Dengan segenap hati kugerakkan kepalaku untuk lebih memperhatikan makhluk sialan yang kini hanya berjarak beberapa langkah saja dari posisi kami berjalan. Deru jantungku semakin sibuk bertabuh. Tapi mataku seperti tak ingin mengalihkan dari memandangnya lebih detail.
Dibantu cahaya bulan di ketinggian langit, sosok itu semakin jelas, jelas dan semakin jelas ... mataku terbelalak lebar hingga membuatku ingin melompat setinggi-tingginya.
Dan ....
KAMPRET!
"GENTONG BAKARAN SAMPAH! Anjimm, gua kena prank Mak gua!"