Ketika aku berumur lima tahun, aku di titipkan di sebuah asrama. Pondok. Aku adalah anak yang bandel dan super aktif mendekati nakal dalam versi susah di bilangin. Aku penyendiri.
Tidak ada yang tahu ketrampilanku berbicara dengan makhluk ghaib kalau itu. Mereka hanya tahu aku suka menghilang dengan tiba-tiba.
Kesukaanku adalah naik ke lantai atas ketika sedang sedih atau galau karena aku tidak punya teman sebaya di sana. Lagipula layaknya anak kecil, aku rindu pada kedua orang tuaku dan ingin sekali dimanja. Namun, karena aku jauh dari mereka aku hanya suka berkeluh kesah dengan teman beda udara. Beda dimensi atau dunia.
Meraka itu pocong dan mba kunti di lantai atas. Kalau Pocong itu sukanya berdiri di ujung tangga atas. Kalau mba kunti cuma duduk di depan sebuah kamar. Katanya dulu ada cerita g enak di sana. Wis lah g usah bahas.
Mereka suka mendengar apa yang aku bicarakan bahkan mengajakku naik ke atas genteng melihat pemandangan sekitar. Bayangin anak kecil 5 tahun di atas genteng lantai 2. Itu bukan hanya sekali tetapi sampai berkali-kali hingga akhirnya sang ibu asrama geleng kepala. Aku dipindah ke asrama khusus anak kecil. Sedih dong pisah ma mas pocong yang sering menemaniku. Suka aku pukul pakai sandal kalau aku dia g mau jawab pertanyaanku (Pikir gimana suara poci kalau bicara?) Dianya g marah kalau aku pukul cuma gerak kepala aja. He... he... he...
Akhirnya aku pergi ke salah satu asrama di daerah Te kota Magelang. Asrama anak kecil. Di sana banyak sekali cerita mistis.
Percaya atau tidak waktu itu aku tinggal di sana karena alasan tidak bayar uang pondok selama berbulan-bulan aku tidak diberi kamar oleh pengurus. Aku tinggal di sebuah gudang. Sebelah gudang itu adalah musholla dan sebelahnya lagi ada kamar-kamar dan ada tangga naik ke atas di lantai atas dulu pernah ada kamarku. Sebelum aku di buang dari sana.
Di depan gudang, tanah kosong. Tempat jemur baju atau seperti lapangan kali ya.... Lalu, di sebelah tanah itu ada bangunan milik dalem dan sebagai batas antara asrama putri dan putra. Dapur umum di belakang bangunan itu. Sedangkan kamar mandi ada di deretan bangunan kamar berhadapan dengan dapur pada masa itu.
Aku tidur dengan beralaskan kardus. Hanya aku di sana tidak ada santri lain . Alasan dari pemilik asrama ketika mengeluarkan aku adalah karena orangtuaku g bayar uang asrama selama berbulan-bulan. Kanan kiriku adalah tumpukan buku kitab dan tumpukan baju bekas santri yang tidak terpakai.
Kalau malam, aku tidur berselimut kan bekas kain jarit entah itu milik siapa. Dingin memang, tapi aku sudah terbiasa. Kalau malam, aku melihat banyak yang g mereka lihat. Biasa dan hanya tersenyum saja.
Pernah suatu ketika aku sakit panas. Di saat itu pengurus pria melarangku tidur di luar. Katanya sedang pembersihan asrama dari barang g bagus ( ghaib) itu penangkapan aku anak usia 5 menjelang 6 tahun. Aku ketuk semua pintu kamar minta tidur di dalam satu malam saja. Namun, aku di usir. Lalu aku minta tidur di kamar pengurus. Pengurus bilang tidur saja di kamar. Aku g tahu harus tidur di mana. Cuma bisa menangis dalam diam.
Lalu aku duduk di dalam mushola ( Mushola itu terbagi dua ada musholla dan kamar pengurus di dalamnya) melihat kunti sedang terbang di atas pohon. Ada juga yang lain cuma itu yang jelas. (Kadang ada rasa takut juga)
Aku yang takut dan posisi sakit tidur di bawah meja panjang buat mengaji. Tubuh mengigil dan rasa dingin merayap. Apalagi tidak ada alas saat itu langsung dengan lantai. Satu hal yang masih buat nyeri di hati.
Ketika semua orang tidak ada yang memandangmu percayalah Alloh ada di sisi. Menolongmu.
Jin dimusholla itu semuanya melingkari tempat tidurku. Mereka layaknya manusia berbicara.
"Kasihan sekali kamu nduk," kata mereka. Aku yang ketakutan dikerubuti oleh mereka hanya bisa pasrah. Memejamkan mata tapi mengintip sedikit. Mereka menyelimutiku dan mengusap kepalaku. Ya Alloh aku dirawat oleh mereka.
Lalu nikmat mana yang akan kamu dustakan?
Paginya atau sebelum fajar aku dibangunkan oleh mba pengurus yang marah2 karena aku mengompol di Musholla. Aku diam saja. Mba pengurus yang membersihkannya. Aku hanya bisa mengatakan Terima kasih pada para jin yang menolongku karena besoknya aku sehat lagi.
Aku juga suka main di rumah sebelah. Letaknya di sebelah asrama jika kesana aku lewat kebun sayur milik asrama. Di sana ada sepasang suami istri keturunan bule. Dengan satu anak pria bujang. Rumah mereka di penuhi pohon bunga baik di halaman maupun di teras.
Si ibunya baik banget. Selalu menerima kedatanganku. Oh ya mereka juga punya mobil kodok kala itu yang katanya sering mogok.
Aku kesana diberi makan dan minum diajak bicara. Selama di asrama aku senang sekali main. Aku g bisa cerita detail apa yang kulakukan di sana. Intinya seperti itu.
Semua temanku mengatakan tidak ada rumah di sana hanya ada rumah kosong. Aku yang mengkhayal atau apa aku nggak tahu cuma aku yakin jika aku selalu main ke sana.
Hingga suatu hari, Tanteku datang untuk menjemput. Dia bermimpi jika aku sakit. Memang iya dan sudah sembuh berkat para jin baik.
Aku berpamitan ketika aku lewat rumah yang aku anggap ada ternyata rumah itu rumah kosong seperti yang temanku katakan. Lalu siapa yang aku ajak bicara?
Sebenarnya banyak cerita ghaib sampai sekarang hanya saja aku cerita yang baik-baik saja. Aku g suka yang diseram-seramkan karena bagiku mereka g seram banget g seperti yang di film. Kecuali yang punya aura jahat besar.
Mereka baik kalau kita sopan dan beradap. Jadi yang mereka lihat itu hatimu bukan ibadahmu atau kekuatanmu.
Mau cerita lebih banyak lagi... kapan2 kalau senggang ya... satu lagi aku g lagi menjelekkan asrama tetapi itu yang aku dapatkan di sana. Jadi kalau ada yang g terima, maaf aja. Ini kejadian di antara tahun sembilan puluhan... Jadi suasana dan tempat mungkin sudah berubah tapi sampai sekarang aku belum bisa memaafkan pemilik asrama kenapa tega membiarkan aku tidur di gudang karena g bayar uang. Setega itukah? Padahal kalian itu tahu agama.