"Apakah ada kalimat terakhirmu?" Tanya seorang wanita yang begitu cantik dengan pedangnya yang mengarah kepada seseorang lelaki.
"Kau hebat Putri Ily... Aku yang telah merendahkanmu ini patut untuk di tebas" jawab lelaki tersebut dengan pasrah dan senyuman lalu menyerahkan lehernya yang siap untuk dipotong.
"Hehh!! Kalau begitu, selamat tinggal" Ucap wanita yang bernama Ily tersebut dengan mengarahkan pedangnya ke atas dan langsung mengarahkan pedang ke leher lelaki tersebut lalu memenggalnya.
"Semua orang yang merendahkanku, bersiaplah untuk direndahkan" Kata Ily dengan perasaan bangga.
-
Sampainya Ily di daerah Dia tinggal dan tempat yang pertama Dia masuki adalah Istana matahari kerajaan yang di dalamnya terdapat seorang Raja kerajaan Aidenor sekaligus Ayah kandungnya, Raja Leodor Delius Aidenor.
"Yang mulia putri Kailynar Mesya Aidenor memasuki ruangan"
Setelah ucapan itu, Ily pun memasuki ruangan dengan ekspresi yang tenang.
"Selamat atas kemenanganmu Putri Kailynar" ucap Raja yang duduk di singgasananya.
"Terimakasih Yang mulia baginda raja. Tapi tanpa permintaan Anda, Saya tidak akan mendapatkan kemenangan ini" ucap Ily sambil berlutut dengan satu kaki.
"Hoho Kamu bisa saja. Jadi, sebagai hadiah dari kemenangan yang Kau raih, Apa yang Kau inginkan?" Ucap Raja dengan perasaan sedikit senang karena dipuji.
"Sebagai hadiah kemenangan, Saya menginginkan Anda untuk tidak ikut campur dalam masalah Saya dan menyelesaikan masalah itu dengan kekuasaan Anda" ucap Ily dengan tersenyum miring tanpa melihat Raja.
"Memangnya Putri yang namanya sedang menggejolak bisa membuat masalah apa? Itu permintaan yang mudah" ucap Raja dengan ekspresi meremehkan.
"Jika itu mudah, Saya ingin Anda menandatangani surat ini sebagai jaminan" ucap Ily tersenyum dengan menepuk tangannya tiga kali.
Kemudian seseorang membawa lembaran itu dan memberikannya kepada Raja. Raja pun langsung tandatangan tanpa rasa curiga.
"Terimakasih Yang mulia" ucap Ily tersenyum lagi. Kemudian Ily dan Raja membicarakan tentang Pesta Perayaan kemenangan Ily yang akan diadakan tiga hari mendatang.
-
Di tengah malam yang sunyi, di sebuah ruangan yang merupakan kamar Ily, terdapat Ily yang sedang duduk memandangi jendela kamarnya. Ily yang sedang merenung memikirkan semua kejadian yang terjadi di hidupnya tiba-tiba berdiri dan tersenyum.
"Hahaha!! Sebentar lagi Aku akan membalas ucapan-ucapan semua sampah itu dengan sesuai!"
-
Paginya, saat Ily sedang duduk dengan Raja sambil berbincang menunggu sarapan selesai disajikan, Ratu Monny Selen Aidenor yang merupakan Ibu tiri Ily dan Anaknya yaitu Putra mahkota Caesar Darius Aidenor sekaligus adek tiri Ily memasuki ruang makan.
"Selamat atas kemenanganmu, Ily" ucap Ratu.
"Terimakasih Ratu, tapi sepertinya panggilan 'Ily' terlalu akrab untuk Kita yang sering bertengkar" ucap Ily memandang Ratu dengan senyum.
"Haha, kita sering bertengkar membuktikan Kita dekat, Kau juga tak perlu sungkan untuk memanggilku Ibu" ucap Ratu.
"Aduduh, bagaimana bisa Aku memanggilmu Ibu, padahal Ratu sendiri yang membuat sebagian besar kesatriaku kabur. Untungnya Aku bisa menghadapi musuh dengan otakku yang cerdas dan kesetiaan seperempat kesatriaku" ucap Ily dengan menempelkan tangan ke wajahnya dan memasang raut terluka.
"Apa itu benar, Monny?" Tanya Raja.
"Ti-tid--" ucap Ratu.
"Iya itu benar, Raja. Aku mempunyai buktinya" Ily memotong ucapan Ratu dengan tangannya yang ditepuk tiga kali. Kemudian seorang pelayan yang disiapkan Ily menyerahkan bukti tersebut.
"Sebagai hukumanmu, Kamu akan di kurung di Istana Ratu selama dua minggu dan tidak boleh mendatangi pesta perayaan Putri" ucap Raja dengan raut murka.
Melihat raut tersebut, Ratu pun langsung mengundurkan diri dari ruang makan tanpa sepatah kata pun, Sedangkan Putra mahkota hanya bisa berdiam sejak tadi dengan ekspresi marah yang tak terlihat begitu jelas.
"Aku tahu maksudmu, Caesar. Aku akan membalasmu jauh lebih parah dari ibumu" kata batin Ily tersenyum miring dengan memandang Putra mahkota.
-
"Ck, sialan!! Padahal sebelum Dia berangkat dari peperangan, Dia terlihat putus asa menghadapi maut. Tapi sekarang Dia sangat bersemangat?" Gerutu Putra mahkota yaitu Caesar di kamarnya.
"Apa yang harus kulakukan?? Meracuninya seperti sebelumnya? Konyol! Aku akan di hukum mati!" Gelisah Caesar yang kemudian membanting cermin kacanya.
"Bagaimana? Bagaimana...? Ah-!" Bingung Caesar yang kemudian lega karena memikirkan satu ide.
-
Di malamnya, Caesar yang berjalan masuk mengendap-endap dan membuka pintu kamar Ily dengan sangat perlahan. Lalu Caesar tersenyum miring saat melihat tubuh wanita yaitu Ily. Caesar manarik pedangnya ke atas lalu berkata "selamat tinggal"
Jlebb---
Suara pedang yang menusuk ke tubuh Caesar sebelum Dia menusuk duluan. Caesar melihat ke belakang dengan suara perempuan yang kemudian berkata "hai"
"Selamat tinggal, Adek kesayanganku" ucap Ily yang kemudian menghunuskan pedangnya dari tubuh Caesar.
Caesar pun terjatuh dan menyadarkan bahwa Dia telah ditipu, samar-samar pun mulai membenamnya dalam kegelapan.
"Hehh, ternyata gada kata-kata terakhir ya" ucap Ily melihat Caesar yang sudah kehilangan nyawa.
"Pu-putri! Terimakasih!! Jika anda telat sedikit saja, saya pasti akan mati di tempat!" Ucap Pelayan yang bangun dari tempat tidur Ily.
"Kok Kamu yang berterimakasih? Seharusnya Aku dong karena Kamu mau diajak kerja sama, Terimakasih ya" ucap Ily yang kemudian mengelus kepala seorang pelayan tersebut.
"Hehe, Apapun permintaan Tuan putri, pasti akan Saya jalani!" Ucap pelayan itu dengan perasaan senang.
-
Paginya, seperti rencana Ily Caesar sudah ditemukan tewas akibat bunuh diri dengan surat palsu yang dibuat Ily. Banyak desas desus yang menyangkut-pautkan Ily dengan kematian Caesar. Sedangkan Raja yang berusaha keras mencari alasan asli Caesar meninggal tak menemukannya karena Ily membersihkan jejak itu dengan sangat detail.
Pesta hari penyambutan Ily pun tiba. seperti yang Ily duga, saat Dia memasuki ruang pesta semua orang berbisik tentangnya. Semua memandang Ily dengan rasa meremehkan.
"Hehh, padahal mereka datang ke sini untuk merayakanku yang hebat ini, tapi mereka malah menatapku dengan tatapan hina" gumam Ily.
Ily pun menuruni anak tangga untuk menyambut para tamu, namun Feronica, tunangan Caesar atau Putri mahkota, anak dari Duke Gerald menghampiri Ily.
"Heii! Berani-beraninya Kau mengadakan pesta sehari setelah kematian adekmu! Di mana turut berduka citamu??" Ucap Feronica dengan wajah kesal.
"Haha, Kau sendiri? Dimana turut berduka citamu dengan datang ke pesta sehari setelah tunanganmu mati" ucap Ily dengan tersenyum miring, Lalu bangsawan lain pun membisikkan Feronica.
"Ishh! Berani beraninya Ka-"--Plakk ucap Feronica yang kemudian terjatuh tersungkur karena ditampar Ily.
"'Kau?' Aku ini Putri, dan Kau hanya anak Duke. Aku juga Mantan kakak iparmu, kau ini sama sekali tidak ada sopan santun" ucap Ily lalu mengibas pelan tangannya. Tak lama, seorang kesatria bertatapan dengan Ily lalu Kesatria itu mengangguk.
"Hahh, Aku ingin ini cepat kelar. Sepertinya mulai dari sini juga boleh" ucap Ily kemudian merobek gaunnya menjadi sepasang baju dan celana, lalu Ily pun mengambil pedang yang ia sembunyikan, Semua orang yang berada di sana hanya bisa tertegun melihat itu.
Ily pun mengangkat pedangnya lalu berkata "Wahai mantan putri mahkota yang rakus, sampai jumpa di neraka" lalu Feronica yang tak sempat melihat ke atas jatuh tersungkur dengan kepala yang pisah dengan badan.
Semua orang di sana langsung lari menuju pintu keluar namun sayangnya pintu terkunci sesuai kemauan Ily.
"1, 2, 3, 100. Oh sepertinya banyak sekali yang menghinaku? Fufufu Apakah Aku akan mendapatkan buruan yang sangat banyak?" Ucap Ily lalu langsung memenggal semua bangsawan di tempat tersebut, pelayan dan kesatria di sana hanya bisa berdiam karena sudah bekerja sama dengan Ily.
-
Raja yang mengetahui informasi langsung datang ke tempat pesta dan mendobrak pintu ruang pesta. Saat pintu terbuka, Raja melihat mayat-mayat yang berserakan, Dia hanya bisa tertegun sambil melihat seseorang yang merupakan anaknya berdiri di tengah ruangan.
"Fufufu, cepat juga datangnya" ucap Ily yang memandang Raja.
"Kailynar! Perbuatan gila apa ini? Kau mau Ayahmu ini di hukum mati, hahh??" Ucap Raja memandang Ily dengan rasa kesal.
"'Ayah?' Haha, seorang Ayah yang tidak mendatangi pesta putrinya? Seorang Ayah yang menjerumuskan putrinya ke medan perang? Seorang Ayah yang mengabaikan anaknya karena berkelamin perempuan? Apakah patut disebut ayah?" Ucap Ily.
"Kau tau sendirikan bahwa Aku tidak mendatangi pestamu agar Aku yang sebagai Raja tidak jelek di mata Bangsaw-" Ucap Raja.
"Berisik" potong lly.
"Sekarang, Ayahku tersayang, silahkan Kau memilih, bereskan sampah ini lalu turunkan jabatanmu kepadaku atau tidak membereskan ini dan turun jabatan sesuai surat yang kau tandatangani" ucap Ily tersenyum.
"Ternyata surat itu!! La-lagi pula ini bukan pilihan, Aku tak mau memilih!" Ucap Raja yang kemudian gugup lalu menyuruh kesatria yang di bawah perintahnya menyerang Ily namun semua Kesatria itu langsung tewas.
"Ohoho, mau main main? Tapi sayang, sampah segini bukan apa-apa. Oke kembali ke topik. Tidak mau memilih? Boleh! Kalau begitu keputusanmu sudah kuterima" ucap Ily mendekati Raja yang berdiri tanpa seorang kesatria.
"Ka-kalau begitu masalah selesai" ucap Raja yang mundur perlahan.
"Ya, Masalah selesai! Dengan Aku yang membunuhmu dan terpaksa menaiki posisi Raja sebagai pewaris satu-satunya!" Ucap Ily sambil mengangkat pedangnya.
"A-apa?" Ucap Raja yang kaget, lalu terjatuh dan tak lama Ily memenggal leher Raja.
-
"Kau terlihat sangat keren, Sayangku" ucap seorang Pria yang menuruni tangga ruangan tersebut.
"Haha terimakasih Sayang, tanpamu Aku tak bisa membalas dendamku" ucap Ily mengelus pipi Pria tersebut.
"Sebagai hadiah perjuanganmu dari tempat peperangan sampai sekarang, bagaimana kalau Kita bulan madu ke seluruh dunia setelah Kau dinobatkan menjadi Permaisuriku" ucap Pria tersebut.
"Apapun untuk Pahlawanku, Kaisarku dan Sayangku, Aku akan menerimanya" ucap Ily.
ᴛᴀᴍᴀᴛ
terimakasih sudah membaca, jika ada yang bingung dengan endingnya boleh ditanyakan.