20 Juli...
Perkenalkan semuanya nama ku Amalia Putri Agraham, pas sekali saat ini aku seorang siswi SMP yang sudah tamat, dan kini sedang menuju SMA yang nantinya akan menjadi tempatku menimba ilmu kembali.
Rasa takut dan gugup pasti merubungi hatiku sekarang, apalagi sekolah ini berada di kota dan daerah berbeda dari rumahku dulu.
Tapi mama bilang aku gak boleh takut karena untuk sekarang aku harus bisa berani guna masa depan.
"Clak." Suara pintu yang terbuka membuat ku tersadar dari lamunan, tak terasa kini aku telah sampai didepan gerbang sekolah bernama Sovia.
Sekolah itu sangat mewah dan megah bagi ku, bangunannya saja besar dan bertingkat, apalagi pagarnya, aku gakin tidak akan ada siswa yang sanggup untuk cabut jika melalui gerbang.
"Ayo masuklah." Disaat aku masih sibuk melihat-lihat, mama mendorong pundak ku.
"Aduh mama."
"Udah cepat masuk, nanti telat loh kamu."
"Yasudah deh Amalia masuk dulu."
Aku akhirnya masuk kedalamnya, sama seperti tampilan luar, dalamnya juga tampak luar biasa, kelas ku terletak pada ujung koridor ini.
"Selamat pagi." Aku menyapa dengan senyum di wajah, tapi tidak ada yang menghiraukan.
Jadinya aku langsung masuk dan duduk dikursi kosong dekat jendela dalam kesendirian.
Tapi disaat itu ada tiga orang teman yang tiba-tiba mendekati ku. "Haiii." Mereka menyapa dengan sangat ramah.
"Kok sendiri aja sih ?. Nama mu siapa ?." Tanya salah satu dari mereka.
"Aku ?."
"Iya kamu."
"Oh nama aku Amalia."
"Oke baiklah, Amalia perkenalkan nama ku Khairani, ini Asriani dan ini Saskia, ayo kita berteman."
Aku terkejut hingga membatu ditempat, dalam jangka waktu singkat aku langsung dipertemukan dengan mereka bertiga, padahal aku berfikir akan ada hari dimana kesendirian ini melilit ku, tapi tuhan langsung mengirimkan mereka kepada ku.
Hari-hari yang ku lalui menjadi bahagia karena ada mereka, kami belajar bersama, bermain, bertengkar, dan kena hukum juga bersama. Cerita ini selalu membuat kami tertawa tanpa pernah bosan mendengar nya. Walau kami berbeda kelas ikatan diantara kami tidak pernah putus sama sekali.
Pernah suatu kisah terukir, disaat kami ber 4 tengah pergi keluar gerbang sekolah. Hanya karena hal konyol kami berani keluar gerbang, padahal sudah jam masuk. Kami mati-matian berlari menuju rumah Asriani, guna mengambil nomor ujiannya, lalu sampai di sekolah kami berjuang keras demi menyelamatkan nasib nilai ujian kami.
"Kalian dari mana?." Ups...kami pun ketahuan oleh guru BK.
Sepanjang hari itu guru BK kami mengomel tanpa henti, ujian juga terbengkalai karenanya. Jika diibaratkan dalam konser, pasti guru BK ini sudah menyanyikan lebih dari 12 album.
Tapi karena kami salah mau bagaimana lagi, kami hanya diam, lalu sesekali melirik. Karena efek jera luar biasa dari guru BK, kenakalan kami langsung berhenti sampai disitu, soalnya kami takut untuk melanjutkannya lagi.
.
.
.
Waktu menyenangkan tadi tak terasa telah bergulir dengan cepat, hari ikut berganti, dan tahun jadi bertambah, cerita antara kami berempat juga semangkin banyak saja terkumpul, hingga terasa telah menjadi bukit didalam hati.
Sampai waktu tadi tak terasa sudah berada di garis finis saja.
"Wahhhh! Kalian cantik banget." Ucap Saskia yang tengah duduk, kemudian menoleh kepada kami.
"Benarkah terimakasih." Sambung Amalia kemudian.
"Ini hari terakhir kita, iyakan ?."
"Dek !." Kalimat Asriani mendebarkan jantung kami, air mata yang dari tadi dibendung perlahan tumpah seketika.
"Apa sih !, jangan ngomong gitu dong, hiks,hiks." Amalia
"Iya, aku kan jadi sedih nih, padahal udah cantik aku jadi nangis kan." Khairani
Saskia hanya tersenyum melihat kami.
"Jangan sedih gitu dong, kita kan sahabat, ingat logo kita ?. Satu untuk semua, di mana aja dan kapan aja, aku selalu ada."
"Kalian ingat itu ?." Ketiga teman itu mengangguk.
"Jadi kalau gitu ngapain sedih, walau kita berpencar jauh, sejauhhhhh mungkin, pasti kita akan bertemu lagi, yakinlah. Dunia ini bulat, kita pasti akan jumpai di suatu titik."
"Kamu yakin, hiks. Gimana kalau kita udah berubah nanti, kamu masih kenal ?."
"Tentu saja, walau waktu membuat kita berubah, aku yakin hanya dengan sikap, senyum serta suara kalian, aku akan langsung mengenali kalian."Dia mengacungkan jempol kepada kami.
Sedangkan kami langsung berlari kearahnya dan memeluknya dengan sangat erat, diantara kami memang dia orang paling positif thinking, hingga kami tak segan menangis dipundaknya. Mekup pun tak kami hiraukan.
7 tahun kemudian...
Pekerjaan melelahkan ku akhirnya selesai, ku letakkan kepala ini diatas lipatan tangan seraya memejamkan mata sebentar, saat memejamkan mata aku teringat suatu hal, akan hasil laboratorium seorang anak penderita virus X.
Ketenangan untuk aku beristirahat akhirnya terusik, ku buku laci meja guna mencari hasil laboratorium tersebut, namun saat mencari-cari sebuah foto tanpa sengaja terjatuh dari selipan buku diary ku.
"Foto apa ini ?." Aku membaliknya perlahan.
Tanpa diingat kembali aku langsung ingat akan siapa saja didalam foto tersebut. Wajah polos yang begitu tulus mencintai antara satu sama lain membuat hatiku kembali berdetak.
Ku kembalikan foto tersebut ketempat asalnya lalu menguncinya dengan rapat. Entah karena alasan aku ingin menyimpannya atau aku memang berencana membuang kenangan menyakitkan ini.
Aku menghela nafas didalam ruang praktek yang sunyi. Kenangan yang selalu membuatku ingin kembali lagi terus berputar. Hingga aku memperhatikan sekeliling, ruang praktek anak adalah bukti kerja kerasku, ke naifan yang aku kejar akhirnya membuahkan hasil saat aku meninggalkan segala kenangan manis. Namun, kenaifanku kembali lagi.
"Seandainya, jika kami berjumpa lagi bagaimana ya ?, Apakah bisa ?."
"Dokter Amalia, jam praktek anda telah selesai, anda boleh pulang sekarang."
"Akhirnya~. Terimakasih atas bantuannya hari ini, kalau begitu saya pulang dulu ya."
"Baik dokter."
Aku langsung melajukan simerah dengan kecepatan normal, ku selusuri jalanan kota yang sepi karena penduduknya sudah pada beristirahat. Seperti biasa sebelum pulang aku selalu mampir kesebuah toko eskrim di samping perempatan jalan kota.
Aku masuk kedalam toko itu, memilih eskrim dengan 3 toping favorit ku. Tapi saat aku menuju kursi disamping jendela aku melihat seorang wanita dengan kardigan putih yang sedang menelfon.
Walau saat itu dia sedang membelakangi ku, aku mengenal suaranya, aku mendekat kearahnya, semangkin dekat aku semangkin takut membayangkan bahwa yang ada dibenak ku semuanya salah. Namun saat ku perhatikan bet nama di dadanya aku terpaku, dia adalah sahabatku 7 tahun lalu, salah satu sahabat yang meninggalkan bekas sangat besar.
"***Saskia***."
Wanita tadi menoleh kearah ku, dia kaget karena melihat orang tidak dikenal memanggilnya. Seperti takdir akhirnya dia mengenaliku, dia juga membaca bet nama ku dengan tawa diakhir.
"Senang melihat mu dokter."
Rasa rindu yang begitu aku rasakan kini mencair bagaikan es terkena api membara. Sampai tanpa sadar dua orang lagi menghampiri kami. Dokter Amalia ?, Saskia ?. Ini benar kalian.
Kedua wanita itu sama sekali tidak berubah, satu orang berpakaian bak seorang pengusaha, sedangkan satunya lagi seorang istri pengusaha yang terlihat begitu cantik dengan balutan busana muslimah nya.
Aku senang saat mengetahui mereka sehat dan bahagia dengan kehidupan masing-masing. Ditambah yang lebih membuatku bahagia mereka berhasil menjadi apa ya g mereka inginkan.
Aku menjadi dokter, Saskia menjadi dosen, Asriani menjadi pengusaha, sedangkan Khairani menjadi Hafizah Qur'an yang memiliki pesantren.
Senang rasanya bertemu dalam keadaan begini, aku harap kita bisa terus mempertahankan takdir yang sudah dijalin.
~Tamat~