" Semangat pagi Shania, adeknya kakak yang paling manis sedunia tiada duanya" suara lembut cowok ganteng sambil menyugar rambut kesamping. Pelukan hangat menyapa Shania pagi itu.
" Kakakku yang ganteng tiada tara mau kemana ? jangan bilang mau cari cewek lagi yaa " Shania membalas pelukan kakaknya.
" Ada deh " jawab Cahya dengan kerlingan menggoda.
" Ahh kakak, sebenarnya Shania herman beneran. Darimana asalnya sifat kakak tu ya ? suka sekali ganti cewek. Shania saja gak pernah pacaran" Shania memukul dengan gemas lengan kakaknya.
" emmh .. darimana ya ? aduuh jangan-jangan waktu ibu menyusui kakak, ibu salah minum pil kali ya Shan " Cahya terkekeh
" apaan nih kak Cahya, pakai salahin ibu juga, kuwalat jadi jambu monyet tahu rasa" Shania mulai kesal dengan kakaknya.
" Hahaa... jambu biji lebih asyik kali Shan, ada bijinya banyak" tawa Cahya semakin lebar
" Udah ya kakak pergi dulu" pamit Cahya sambil mengacak rambut Shania.
" iya kakakku yang ganteng tiada tara. Pulang harus bawa martabak telur spesial, gak boleh lupa ! " jawab Shania mengacungkan telunjuk kearah kakaknya.
" Beres" Cahya mengatupkan jari telunjuk dan ibu jarinya tepat didepan hidung Shania " Oh ya.. Satu lagi Shania Rivanty, kamu masih ingusan gak boleh pacaran dulu ya, kakakmu yang ganteng ini tak rela jika kamu terluka" kata Cahya mencolek dagu adeknya.
Selanjutnya dia melambaikan tangan dan membiarkan Shania memberengut.
Shania bersiap mandi, entah untuk apa ? setidaknya hari ini adalah hari bebas dari ocehan si tengil Semprul teman sekelasnya itu. eh salah namanya Safron bukan Semprul😁
" Shania Rivanty masih ingusan gak boleh pacaran" itulah kalimat Cahya yang selalu terngiang ditelinga Shania.
Sebenarnya berapa batasan umur wanita mulai boleh pacaran ? Shania masih diam ditempat duduknya sambil menatap kertas yang ditemukannya dilaci meja.
Tak sengaja Shania menjatuhkan kertas itu ketika dia menyimpan tasnya disana. Menelaah kata demi kata yang tergores disana yang dia tahu siapa penulisnya.
Ini adalah kertas kesepuluh yang dia temukan setelah beberapa hari yang lalu.
Tanpa sadar Shania menghitung umur kakaknya, 23 tahun. Ya, usia Cahya saat ini. Shania ingat ketika usianya meranjak ke 13 tahun, seorang cewek cantik dengan rambut bergelombang, hidung mancung dan mata lentik memberikan kotak cantik warna Pink.
" Selamat Ulang Tahun ya dek, semoga tambah pintar dan kebahagiaan selalu menyertai langkahmu " untaian kata menghiasi senyum manisnya.
Dia kak Shanas, kata kakaknya gadis itu pacarnya yang ke 5. Usia Shania dan Cahya selisih 7 tahun.
Shania memijit kepalanya yang mendadak pusing mengingat kelakuan kakaknya. Apakah kakaknya setiap ganti tahun ganti juga pacarnya ?. Meskipun Shania tahu betul bagaimana model pacaran kakaknya, tapi hal itu membuatnya merinding juga. Bagaimana kalau nanti suatu saat dia pacaran dan di tinggalkan orang yang dicintainya itu, apakah dia akan terluka seperti kekhawatiran kakaknya?.
Memikirkan hal yang di luar jangkauannya rasanya membuat otaknya buntu. lebih rumit dari rumus phytagoras.
Denyutan di kepala semakin kuat di rasakan hingga dia memilih istirahat di ruang UKS. Toh saat ini jam kosong karena pak Ridwan mendadak ijin untuk mengurus operasi cesar istrinya.
" Ki, ntar aku pinjam buku kamu. Catat tugasnya yang rapi ya " Pesan Shania sebelum meninggalkan kelas. Kiara teman satu bangkunya sudah hafal dengan kelakuan Shania itu.
Setelah minta ijin ke guru piket Shania langsung merebahkan diri. Setidaknya seperempat jam berbaring disana bisa membuat pikirannya lebih tenang.
kloneng kloneng kloneng
Bunyi lonceng menyadarkannya, jam pulang telah tiba. Shania kembali ke kelasnya untuk mengambil tas setelah membereskan peralatan tulis yang ditinggalnya tadi.
Ruangan kelas sudah sepi, semua teman-teman sudah meninggalkan kelas. Shania melangkah ke tempat parkir mengambil sepedanya.
Pagi ini ada anak baru pindahan dari ibu kota, menurut kabar yang beredar ayahnya dipindah tugaskan ke daerah. Pegawai di instansi Pemerintahan tapi entah dimana, masih simpang siur.
Kloneng kloneng kloneng
Lonceng tanda masuk berdentang, anak laki-laki berlarian masuk kelas menuju tempat duduk mereka beberapa masih asyik bercengkrama di luar kelas.
Sesaat kemudian mereka tampak berebut pintu saling dorong bahkan ada yang tersungkur. Heheeh dasar ! Shania tertawa melihat polah teman-temannya. Ternyata memang benar dugaan Shania, mereka bertingkah begitu karena ada wali kelas 10A. Bu Indah masuk kelas bersama seorang anak laki-laki seumuran mereka. Anak baru itu
" Selamat pagi anak-anakku, har ini kalian dapat teman baru .." bu Indah mulai memperkenalkan teman baru setelah kami berdoa pagi. Suit..suit..
suara cewek diujung sana.
" Kenalan doong" sahut yang lainnya. Telunjuk Bu Indah memberikan isyarat kepada anak baru itu untuk mengumumkan identitasnya. dan bla..bla..bla.. panjang lebar anak baru itu cerita mengenai dirinya, alasan mengapa pindah kesekolah ini.
Namanya Bastian Gregori Albarak. Cakep juga, kulitnya putih, rambut ikal, hidungnya tinggi, badannya tegap berisi. Tinggi besarlaah.. jelas saja dari Ibu kota pastinya keren.
Bu Indah menatap kursi kosong di sebelah Shania.
" Shan, Kiara nggak masuk ya ?" tanya beliau
" iya buk. Kiara sakit ijin dokter hari ini " jelas Shania.
Bu Indah menatap anak baru itu " Bastian kamu bisa duduk disebelah Shania dulu, besok pagi setelah bangkunya siap kamu bisa pindah lagi"
Bastian mengangguk tersenyum, kemudian berjalan menghampiri bangku kosong di sebelah Shania. Bu Indah pamit keluar karena saat ini bukan jadwal beliau mengajar di kelas ini.
"Hai" sapa Shania. "Hallo, boleh duduk ya ?" kata Bastian kikuk.
Shania mengangguk. Belum juga Bastian duduk pak Giri sudah masuk kelas. Dan pelajaran Fisika berjalan hingga lonceng istirahat berbunyi.
" kamu mau ke kantin ?" Nada dan Berlian menghampiri Bastian. Bastian melihat ke arah Shania. " Ayok" kata Shania. Mereka berempat menuju kantin. Ternyata disana ada Rasya and the gank.
Melihat Bastian kerumunan mereka langsung bubar menghampiri Bastian.
Shania merasa tidak nyaman, akhirnya membiarkan Bastian bersama cewek-cewek itu. Sungguh Shania tidak tahu ada apa dengan dirinya. Seakan ada yang meronta dalam hatinya melihat pemandangan itu. Rasa ini sungguh tidak biasa.
" Shaniaaa...! kamu kenapa ?" suara semprul mengagetkannya. Membuat Shania tergagap.
" A-aku ? ti-tidak kenapa-napa" dia kembali memasukkan satu sendok bakso kemulutnya.
" cih ! kamu bohong Shan ! dari tadi kamu melihat Gorila" kata Semprul sambil mengarahkan telunjuknya ke Bastian.
Mata Shania membulat. Dasar Semprul memang semprul ya, seenaknya memanggil Bastian begitu.
" Atau ... jangan-jangan.. jangan bilang kalau kamu suka ya sama Gorila itu , awas saja ! " lanjutnya kali ini penuh penekanan tidak suka.
Safron meninggalkan Shania yang masih bingung dengan perasaannya sendiri.
Shania segera menghabiskan Bakso dan menyesap es jeruk yang dipesannya hingga habis tak tersisa. Kemudian langsung kembali ke kelas tanpa menunggu Bastian, Nada dan Berlian.
Shania menelungkupkan wajah di atas meja dengan beralaskan kedua tangannya. Bastian adalah orang asing yang baru di kenalnya beberapa jam yang lalu. Apakah ini tanda-tanda dewi Amor menjemputnya ?.
Shania tidak mau terlarut dengan perasaannya itu. Dia mulai mengeluarkan buku pelajaran selanjutnya setelah lonceng berbunyi tanda istirahat pertama tlah usai.
Ruangan kelas kembali ramai, bangku-bangku telah terisi penuh. Mereka sudah siap menerima pelajaran kembali. Mata pelajaran yang paling disukai Shania, Fisika.
Bastian tersenyum ke arahnya. " Kenapa tadi aku di tinggal Shan " tanya Bastian perlahan takut kedengaran yang lainnya.
" Kamu nggak sendirian kan ? ada banyak cewek bersamamu" jawab Shania menahan sedikit rasa itu.
" Harusnya kamu tadi memanggil aku " lanjut Bastian
" Untuk apa ?" tanya Shania
" yah paling tidak menyelamatkanku dari godaan cewek-cewek tadi " jawab Bastian sambil mulai menyalin soal yang di tulis di papan tulis itu.
Shania tersenyum tipis, "aneh" batinnya.
Dia masih sibuk mengerjakan soal itu. ketika tiba-tiba pak Abil menyebut namanya.
" Shania Rivanty, tulis jawaban no 1" Pak Abil paling tahu bahwa Shania suka dengan mata pelajaran yang di ampunya ini.
Dan tidak butuh waktu lama Shania telah menyelesaikannya. Pak abil tampak puas dengan jawaban yang di tulis Shania.
" Soal kedua ... " Pak Abil menyapukan pandangan kearah murid-muridnya. Dan..
" em, ada anak baru ya ? boleh maju kerjakan no 2 " titah pak Abil. Bastian maju kedepan seperti yang diminta pak Abil. Tak kalah dengan Shania, Bastian dengan cepat menyelesaikan jawabannya. Ada rasa puas terpancar pada raut wajah Pak Abil. Sepertinya sudah ada 2 calon yang akan diajukan seleksi lomba antar Sekolah. Dua soal sudah terjawab, pak Abil masih mencari 1 lagi untuk menyelesaikan soal yang di berikannya. Namun sepertinya mereka masih menunduk entah mengerjakan soal ataukah sekedar corat-coret.
Akhirnya... " Soal terakhir .. Shania atau Bastian nie yang kerjakan ?"
Merasa namanya disebut keduanya saling pandang. Spontan mereka melakukan ... Shania menjulurkan jari telunjuk sedangkan Bastian menjulurkan jari kelingkingnya.
Shania melangkah ke depan Karena Shania yang memenangkannya.
Pak Abil semakin yakin dengan pilihannya.
Usai pelajaran Fisika..
" Shania dan Bastian nanti boleh temui bapak di kantor setelah semua pelajaran hari ini selesai".
" Baik Pak" jawab keduanya kompak.
Mereka pulang setelah mendapat pengarahan dari pak Abil mengenai lomba itu.
" kamu pulang naek apa Shan ?" tanya Bastian sesampainya tempat parkir.
" aku naek itu" Shania menunjuk Winner biru yang tampak dari pintu parkir.
Bastian mengernyitkan keningnya " Rumah kamu dekat dari sini ya ? daerah mana ? "
" iya. Sangat dekat. Rumahku di belakang Hotel Pati " Jelas Shania.
" Jalan Panglima Sudirman kan ?" tanya tanya Bastian. Shania mengiyakan.
" Ayok bonceng aku, kita searah kok, aku di sebelah kantor Pajak " Bastian menstater sepeda motornya.
" oh ya ? berarti kamu putranya KaBag baru itu ? Putra pak Seno ? " Shania membulatkan mata seakan tak percaya.
Bastian tidak langsung menjawab
"Ayok jalan, sepedanya di tinggal saja, besok berangkat bareng aku lagi" Shania menurut saja dan mereka segera pulang.
Sampai di rumah Shania..
" Masuk dulu Bas " Shania segera turun.
Bastian mengikuti Shania. tak lama kemudian seorang lelaki seumuran ayah Bastian muncul dari balik korden. Bastian memcium punggung tangan Ayah Shania. Dan tampak mereka asyik mengobrol. Sepuluh menit kemudian..
" Salam buat pak Seno ya nak, hati-hati " Pesan ayah Shania dan sekali lagi Bastian mencium punggung tangan pak Brata ayah Shania.
" Makasih Bastian" Shania melambaikan tangan, Bastian membalasnya, Shania memandangnya hingga Bastian tak tampak lagi.
Tanpa sadar Shania masuk ke dalam sambil bernyanyi-nyanyi kecil.
" Cie..cie.. ada yang lagj hepy, ehem " Cahya menghadang di depan pintu kamar Shania.
Shania tersenyum malu-malu, tanpa di sadari pipinya menghangat.
" adekku yang manis kek madu lebah pohon karet apakah Dewa Amor mengirim utusannya untukmu ?" goda Cahya terkekeh
" Ayaaahh... kak Cahya nakal" Shania memukul-mukul lengan kakaknya. Cahya semakin senang menggoda adeknya.
Pak Brata hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah putra putrinya.
" Sudah sore, mandi Shan " suara ibu menengahi, Shania berlari ke kamar mandi dengan pipi merona.
Pagi itu...
Cahya dikejutkan suara sepeda motor yang berhenti di depan rumahnya. Dengan handuk masih melingkar sebatas pinggang dia mengintip dar jendela. " hm .. Dewa Amor ganteng" " Pasti Ada sesuatu yang nggak beres ini" Cahya garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
" Eh Shania Rivanty " Cahya kaget setengah mati ketika dia hampir tertabrak Shania yang berlari sambil mengayunkan tas sekolahnya
" Adekmu sekolah dulu kakakku yang ganteng tiada tara" teriak Shania
" iihh " Cahya memukulkan tangannya ke udara, gemas dengan tingkah adeknya. " Shania sekarang berapa umurnya ?" gumamnya sambil menggerakkan jarinya menghitung umur adeknya.
"Wow.. suit seven teen " Cahya berbinar girang, tanpa sadar senyum-senyum sendiri.
Safron mematung di pintu kelas begitu melihat Shania dan Bastian keluar dari pintu parkir. Kebetulan tempat parkir berada di seberang kelas VII sehingga tampak jelas akses disana.
Safron menggeram kesal " Gorila, begitu mudahnya kau runtuhkan semuanya" tangannya mengepal kuat.
tring tring tring
Suara pesan masuk di Ponsel Shania.
Shania Segera membuka HPnya . Tertulis nama Safron di sana..
" kita harus bicara" Shania melirik Safron karena kebetulan shania sudah sampai di depan pintu kelas. Safron menatapnya tajam ,
" Mengapa Shania !!!" pekiknya keras menggema, sehingga semua mata tertuju ke arah mereka.
Bastian yang tidak tahu permasalahan sebenarnya, menyentuh tangan Shania. Shania menggeleng dan menepis tangan Bastian.
Bastian hanya bisa menghela nafas sadar dia bukan siapa-siapa, hanya seseorang yang baru kenal kemaren, mengantar Shania pulang dan kebetulan Antara Ayah Shania dan Ayahnya teman satu kantor. Yang lainnya ? tidak ada kaan ? oh iya satu lagi.. Bastian dan Shania sama-sama ikut dalam lomba Fisika mewakili sekolah mereka.
Bastian menjauh dari meja Shania.
Hari ini dia sudah punya meja sendiri, Kiara juga sudah masuk.
Sekilas wajah Safron melintas, wajah penuh ancaman. Ada rasa Empati menyeruak di hatinya untuk Shania. Netranya menatap sayu, seolah ada desiran halus di hatinya.
" Aku bisa bantu kamu apa Shan ?" gumamnya lirih, tentu saja hanya dirinya yang mendengarnya.
Tak terasa lama sudah terbawa arus dunia alam bawah sadarnya.
Waktu di mana dirinya sebelum pindah ke Pati ..............
"Sebenarnya untuk apa harus pindah ke sana Gi ? apakah kamu ingin lari dari kenyataan ini ? lari dari ku ? dari semua perbuatan kita ?" pertanyaan Rasya sore itu memberondong bagaikan rentetan peluru.
" kenapa ? tak ada yang harus di perjuangkan bukan ? bukankah tak ada cinta antara kita ? begitu kan seharusnya ?"
Bastian melipat kedua tangannya. Mendengar jawaban ketus Bastian, Rasya tidak sanggup untuk berkata sedikitpun apalagi menatap seseorang yg berdiri dihadapannya. Pria yang umurnya jauh lebih muda, selisih usia 3 tahun darinya.
Bastian sadar kesalahan terbesar dalam hidupnya adalah bertindak terlampau jauh, walau sebenarnya dilakukan dalam keadaan tidak sadarkan diri. semua di luar kendalinya.
Andai saja waktu itu Bastian tidak ikut dalam permainan itu, mungkin sekarang dia akan terbebas dari Rasya.
Mereka telah melakukannya bukan dasar Cinta, tapi karna nafsu yang entah siapa yang memulainya. Pengaruh alkohol itu begitu kuat hingga mereka tak sadar dengan perbuatan mereka.
Hingga keesokan paginya mereka kaget ketika mendapati tubuh polos mereka saling berpelukan. Belum lagi kondisi seprei berantakan dan lagi... ditemukan bercak darah di sana.
Rasya menangis menyadari dirinya sudah tidak suci lagi.
Yang Bastian ingat semalam mereka main solitare. Siapa yang kalah harus menghabiskan minuman dalam gelas itu. Bastian minum 2 gelas karena memang kalah 2 kali. Kemudian dia rasakan kepalanya pusing.
Bastian tidak percaya bahwa mereka telah melakukannya. Namun bukti CCTV di penginapan tlah menunjukkan bahwa itu adalah perbuatannya.
Hal ini sempat membuat kondisinya nge drop hingga dilarikan ke Rumah Sakit dan menjalani rawat inap selama 1 minggu.
Pertemuan Keluarga sudah dilakukan. Beberapa kesepakatan tertuang dalam kertas perjanjian dari dua belah pihak. Meskipun tidak ada saksi dari pihak luar namun surat perjanjian ini adalah yang terbaik untuk saat ini dan harus dijalankan.
Karena menyangkut masa depan anak-anak mereka.
kesepakatan
point 1 : Mereka harus dinikahkan Jika dalam waktu 1 bulan Rasya hamil
Dalam masa menunggu 1 bulan mereka tetap melanjutkan study.
Rasya tetap melanjutkan kuliahnya di salah satu perguruan tinggi di Jakarta.
Bastian melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah salah satu SMA Pati. Kebetulan 2 bulan sebelum kejadian itu ada informasi pemindahan pak Seno ke Daerah dan Bastian sudah mendaftarkan sekolah di sana.
Point ke 2 dalam kesepakatan, antara Rasya dan Bastian keduanya dalam pemantauan orang tua masing-masing.
Keduanya memang tidak saling cinta, namun mereka tidak mengharapkan kesalahan terjadi untuk kedua kali.
Point berikutnya jika ternyata Rasya tidak Hamil maka orang tua menyerahkan keputusan pada Bastian-Rasya, apakah mereka akan melanjutkan hubungan dan tetap melanjutkan study sampai selesai kemudian menikah atau mereka berpisah.
Waktu semakin berjalan, Bastian berharap wanita itu tidak hamil. Detik-detik yang mendebarkan, 10 hari lagi batas perjanjian itu.
Berkali-kali membuang nafas kasar, pertemuan dengan Shania sungguh telah membuat hatinya tertambat. Namun mengapa harus saat ini ? saat semua dalam kegalauan.
Bastian hanya bisa pasrah menanti saat itu. Berharap dan berdoa agar semua masalah segera usai.
.......................
" kakaaak aku dalam dilemaa.." teriak Shania sampai dirumah.
" hmm" Cahya melotot menatap Shania
" Shania Rivanty, kalau masuk rumah gak boleh teriak-teriak, kasih salam gak bisa ?" ibunya memperingatkan Shania
" Ibuuuu... Shania bingung, Shania harus bagaimana ? huu..huu..huu" Shania menangis kayak anak kecil kehilangan empusnya. Ibunya mengeratkan pelukannya.
" Kenapa Shania ? anak ibu kenapa ? gak boleh cengeng ah, semua harus diselesaikan dengan tenang " Shania diam merasakan sentuhan lembut ibunya.
" Ayo ganti baju dulu, bersihkan dirimu terus makan ya sayang" bujuk ibunya lembut sambil mengelus pucuk kepala Shania.
Shania menuruti kata ibunya, pergi ke kamar mandi mencuci kaki, tangan dan muka, tak lupa ganti baju.
Dia melihat dirinya dari cermin yang ada di pintu kamar mandi. tiba-tiba dia merasa malu dan tertawa sendiri mengingat tingkah ingusannya tadi.
" Shan, kalau pingin cerita sama kakak, ngomong saja gak usah sungkan gitu. Biasanya juga ngomong kayak asap kereta api " Cahya mengusap rambut adeknya . Shania menatap Cahya dengan bingung mau mulai dari mana ?
" wek" Cahya malah menjulurkan lidah mengejek ke arahnya.
" iihh kakak" dia mencubit kesal lengan Cahya
" aw sakit dek " katanya sambil mengelus lengannya yang memerah " akibat ulang beruang kutub nie" katanya masih terus mengelus bekas cubitan Shania.
" kakak, waktu kak Cahya pacaran sama kak Dea, umur kak Dea berapa tahun kak ?" Cahya mengernyitkan keningnya seperti mengingat sesuatu.
" em, berapa ya ? selisih tiga tahun sih dengan kakak. 13 tahun mungkin ya ? hihihi..." jawab Cahya terkikik.
" Apa ? masak sih kak ? trus kakak ngapain aja dengan umur kak Dea seimut itu ? " Shania mulai penasaran
" Tak ada, paling ngajarin Dea matematika, kalau gak bisa kerjakan tugasnya kakak cium deh , huahahaaa " tawa Cahya terlepas begitu saja mengingat gaya pacaran dengan Dea.
" hm, suitnyaaa" puji Shania gemas." kalau kak Amanda umur berapa ?"
" Sama kayak Dea" Cahya menutup wajahnya malu dan mengintip menatap Shania dari celah jari.
Shania geli melihat tingkah kakaknya.
" Ula..laaa... terus ? ngajarin matematika juga ?" selidik Shania
" Tidak, dia pintar matematika. Amanda hanya butuh teman curhat saja, dia sering ngajak diskusi kakak membahas isyu yang tengah menghangat dilingkungan sekitar " kenang Cahya tersenyum tipis
" waah .. kakak , gak nyangka ya kakakku yang ganteng ternyata pandai nge gosip hahahaa" Shania melempari kakaknya dengan guling kecilnya.
" trus sama kak Fatma ? " Shania beringsut dari posisi duduknya, kini mereka rebahan di kasur Shania.
" umur Fatma sebaya dengan kakak, waktu itu 17 th "
" hm hm " jawab Shania sambil mengangguk , dia paham benar karena saat itu kak Fatma yang mengajari Shania menari Gambyong ketika akan pentas di Kantor Ayah.
" Kenapa putus sama kak Fatma ?"
" Fatma hanya menganggap kakak temannya bukan pacarnya, teman tapi mesra hahaa"Cahya menutup mulutnya, takut ibunya masuk ke kamar Shania dan menyuruh mereka tidur karena sudah malam
" Sama kak Candra ? kayaknya kak Candra pacar kak Cahya yang paling keren deh, bodinya asyik cantik banget. aku senang sama rambutnya yang keriting menggantung."
" iya, dia memang cantik dengan rambut alaminya seperti itu. Dia mayoret yang cerdas. umurnya waktu itu 16 tahun. Tapi sayang omnya telah merusaknya, dan kami putus karena ancaman omnya yang kejam itu" kenang Cahya, tanpa sadar matanya panas mengingat kisahnya itu.
" kak Shanas pacar kakak ke 5 , saat itu kasih buku Diary cantik. dia ramah dan paling dekat dengan Aku. Dia pandai menghiburku. kenapa kakak putus juga dengannya ?"
" hm perjalanan hidup memang begini ya Shan, kadang yang kita inginkan justru berbanding berbalik dengan kenyataan."
" iya" " trus apa yang terjadi?" tanya Shania semakin penasaran.
" Setelah kecelakaan itu Shanas dibawa kluarganya pindah, kata orang tua Shanas, kami harus putus karena terhalang status. Shanas dijodohkan dengan juragan kaya, juragan kain ditempat asal ibunya Shanas." kali ini ada pancaran kesedihan di mata Cahya.
Bagaimanapun antara Shanas dan Cahya sudah pernah ada pembicaraan serius antara keduanya untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Tapi kali ini memang belum takdir mereka. Cahya sepenuhnya percaya pasti rencana Tuhan lebih indah dari rencananya
" kisah yang mengharukan " Shania memainkan rambut diatas telinga Cahya
Cahya menghembuskan nafasnya dengan kasar.
" kalau kak Rania ? " selidik Shania
" Rania ? kami sebatas teman satu team di teater itu, gak ada yang istimewa.
" Kak Bunga ? "
" umurnya masih sebaya dengan kamu, aku hanya guru privatnya " katanya dengan senyuman menggemaskan karena membayangkan sesuatu
" kakak kenapa senyum-senyum gitu ? lagi mikirin anu ya ?" goda Shania.
" Cerita lalu Shan, sudahlah"
Hening, mereka tampak hanyut dengan fikiran masing-masing
" em.. kakak" Shania merubah posisinya tengkurap dan memainkan sarung bantal.
" ya Shan" Cahya yang masih terlentang menoleh kearah Shania.
" Sekarang kak Cahya sama kak Bella apakah serius ? " tanya Shania lagi
" Biar jalan apa adanya dulu Shan, nggak ada tuntunan kami harus apa. Lagian kakak masih menabung agar bisa beli rumah sendiri " kata Cahya jujur.
Cahya memang tekun terbukti di usianya yang ke 23 ini dia sudah punya percetakan sendiri dengan 3 karyawan. Ada counter HP juga yang letaknya strategis dekat alun-alun dan sekarang lagi melirik salah satu ruko di Gedung Juang. Jika deal rencananya akan dia buat kafe di sana. Belum lagi dia bekerja di Pabrik sepatu sebagai kepala bagian Teknik.
" Kamu tadi dilema kenapa dek ? " gantian Cahya menginterogasi adeknya
" Safron kak, dia nyebelin ! " jawab Shania dengan nada kesal. Cahya bangkit dan duduk di sebelah Shania yang masih rebahan di kasurnya.
Shania menceritakan tentang surat yang sering Shania temukan di laci mejanya di sekolah, sampai kejadian tadi pagi saat dia datang bersama Bastian. Menurut Cahya itu hanya luapan emosi sesaat. Saran dari Cahya, Shania harus tutup telinga dengan perkataan Safron, selama tidak ada hal-hal yang mengarah ke pelecehan atau pembulian. Shania mengangguk
" Bagaimana dengan Bastian ?" tanya Cahya. Mendengar nama itu disebut pipi Shania berubah memerah. Nah lhoo...
" Gak tahu kak, Shania hanya .. tidak yakin dengan perasaan Shania sekarang "
" Cie.. cie.. jadi benar adekku yang manis tiada duanya ini lagi dekat sama Dewa Amor ?" katanya tertawa puas diusap-usapnya kepala Shania berkali-kali sampai beberapa rambut keluar dari ikatan karetnya.
" Tapi... Shania gak ingin terluka seperti kekhawatiran kakak " jawabnya polos
" Jalanmu masih panjaaaang Shania, jangan terlalu cepat ambil keputusan. Belajar yang bener, jangan sampai pilihanmu menyudutkan dirimu kelak" Cahya menghela nafas " kakak sayang kamu dek, kakak akan melindungi kamu, menjaga kamu semampu kakak" janji Cahya pada adeknya.
Shania lagi-lagi mengangguk karena memang betapa besar sayang kakaknya yang dia rasakan.
Mungkin ini juga yang menjadikan salah satu alasan Cahya untuk tidak menjalin ikatan serius denga seseorang, dia akan bertahan sampai Shania berhasil kelak.
" Terimakasih kak Cahya sudah menjadi kakak yang baek buat Shania" kini mereka berpelukan .
Rasa yang menggumpal dihatinya, sekarang terurai sudah. Mereka melewatkan waktu cukup lama, tak terasa jam digital yang menempel pada dinding kamar Shania menunjukkan angka 04:00.
Dan mereka terlelap di kamar masing-masing.
........
Pagi ini group Marching Band sekolah ada jadwal mengisi atraksi di Alun-Alun memperingati Hari Jadi Kota Pati.
Upacara dimulai jam 7 pagi, team Marching Band harus sudah berkumpul di Sekolah setengah enam pagi. Karena selalu ada prepare dan gladi bersih sebelum tampil.
Shania sudah mengenakan seragam yang ditentukan, kaos putih, celana putih, sepatu putih, rompi kuning kunyit topi hitam dengan bulu kuning dan gasper kain semacam kemben warna senada rompi dengan tali cord warna hitam sebagai pengikatnya.
Sementara itu Cahya sudah siap dengan mobilnya menunggu Shania dengan sabar.
Sambil sesekali menyesap susu kotak yang diambilnya dari kulkas tadi.
Tidak sampai 5 menit mobil melaju meninggalkan pelataran dengan taman kecil penuh warna-warni bunga.
Cahya menyodorkan roti dan susu kotak untuk sarapan adeknya.
" Hati-hati Shan, jangan lupa nanti kalau pulang telphone kakak ya. kakak ijin sebentar buat jemput kamu"
Cahya mencium kening adeknya, dan keduanya melambaikan tangan.
Shania langsung bergabung dengan team mengeluarkan perlengkapan yang akan dibawa. Setelah semua peralatan keluar mereka mulai mengambil peralatan yang menjadi bagiannya.
Shania mengambil Pianika, ada 6 orang pemegang pianika, 4 orang pegang Belira, 2 terompet besar, 3 terompet kecil, 2 Drum besar, 8 drum kecil dan 15 orang pemegang bendera, 2 orang Mayoret.
Mereka naek truk menuju Alun-Alun, suasana yang menyenangkan.
Shania termasuk siswa yang aktif, dia juga bergabung dalam kepanitiaan OSIS bagian Mading.
Banyak karya Shania terpampang di sana.
Pulangnya Shania di jemput Cahya, karena khusus peserta marchingband dapat dispensasi off mapel setelah atraksi.
Cahya balik lagi ke tempat kerjanya setelah menurunkan Shania di depan rumah.
jam 11:30 lumayan buat istirahat sebelum pembekalan fisika nanti sore.
Bagaimana kabarnya Bastian hari ini ?
sejak kejadian Safron dua hari yang lalu mereka tidak saling tegur sapa.
Shania mengabaikan rasa yang sampai sekarang masih tak menentu saat ingat lesung pipi Bastian.
Demi janjinya dengan Cahya, Shania harus memendamnya. Dia tak ingin gagal dalam study karena cowok.
............
Tring tring tring
Tanda Pesan masuk, dengan mata setengah terpejam dia raih benda pipih dari bawah bantalnya.
pesan dari Bastian
Bastian Gre : [ Nanti berangkat bareng ya Shan ]
My Self : [ okay, aku tunggu ]
Bastian Gre : [ tenkyu ya ]
Shania sedang menunggu jemputan Bastian ketika dengan tiba-tiba hujan turun sangat deras. Shania kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil payung.
Tin..Tiiin suara klakson mobil berbunyi di depan rumah.
Shania berlari keluar bersamaan dengan itu
kaca mobil diturun kan.
Dilihatnya Bastian mengukir lesung pipinya. 'Haduuuhh.. kuatkan hatimu Shania'.
Bastian membukakan pintu untuk Shania dari tempat duduknya karena di luar hujan deras kan ? Shania mengangguk dan tersenyum ke arah Bastian dan di balas.
" tumben bawa mobil?" tanya Shania
" iya , ayah yang nyuruh tadi, biar kamu gak kehujanan katanya" jawab Bastian terkekeh
" owh yaa?" Shania membulatkan mata tak percaya.
Bastian mengangguk dan lagi-lagi mengulas senyum.
Hening tanpa suara, keduanya masih canggung dan sama-sama menahan gemuruh di hati masing-masing.
" Terimakasih Bastian" akhirnya Shania membuka suara ketika mereka sudah sampai di parkiran sekolah.
Shania membuka payung karena untuk sampai ke ruang pembekalan harus melewati lapangan yang tidak ada kanopi semacamnya.
Dilihatnya masih banyak anak-anak kelas sore yang lalu-lalang di luar kelas mereka.
Bastian gabung dengan payung Shania
" eeh " Shania kaget karena tiba-tiba Bastian mengambil pegangan payung dari tangannya.
" hehe maaf lupa ambil payung tadi" katanya
" hmm" jawab Shania tidak baik-baik saja.
Pak Abil sudah ada di kelas menunggu mereka,
dan pembekalanpun segera dimulai.
Hujan telah reda ketika pembekalan selesai. Bastian hendak membukakan pintu untuk Shania ketika tiba-tiba ponsel Bastian berbunyi.
Bastian mengurungkan niat membuka pintu dan menjauh dari mobil itu..
Shania menunggu di dekat kaca spion, Wajah Bastian tampak serius, namun kemudian tertawa..
" yes Negatif " teriaknya spontan, buru-buru menutup mulut dengan telapak tangannya begitu melihat Shania yang menatap ke arahnya.
'Apa yang negatif ? kayak tes orang hamil saja' batin Shania.
Bastian menghampiri Shania dan tiba-tiba tangannya mencubit kedua pipi Shania.
" Bastian !" pekik Shania antara gugup, kaget dan sakit
" eh maaf.. maaf " katanya sambil senyum-senyum, selanjutnya membukakan pintu untuk Shania.
kenapa lagi ini orang ? sebenarnya tadi telphone dari siapa sih ? Shania ingat betul perubahan sikap Bastian berawal dari informasi seseorang yang menjadi lawan bicaranya via telphone tadi. Ya ketika Bastian bilang 'negatif'
'Apakah sebenarnya yang terjadi ? siapakah sebenarnya bastian ? ataukah..?' Shania bergidig ngeri membayangkan sesuatu tentang Bastian.
" Woi, mau berdiri di sini terus ? " Bastian menggoyangkan telapak tangan di depan wajah Shania.
" eeh.. eh i-iya" katanya "eh ti-tidak" Shania tak bisa mengendalikan dirinya hingga kalimat tak teratur meluncur begitu kacau.
Sontak Bastian ngakak dibuatnya.
" Hahaahaa... kamu kenapa Shania ?"
" si-siapa yang negatif ?" malah kalimat itu yang terlontar dari bibirnya.
" eh..oh.. ng.. anu, bu-bukan siapa-siapa." jawab Bastian bingung. Garuk-garuk leher dan kepala yang tidak gatal. Bastian gugup.
Shania langsung pamit masuk ke dalam rumah dan membiarkan Bastian yang masih bengong di sana.
Beberapa saat kemudian Shania keluar membawa satu botol jus dingin. Shania pikir Bastian masih di sana, ternyata sudah pergi.
Cahya baru pulang tepat setelah adzan maghrib berkumandang.
Shania menyambutnya dengan kecupan di pipinya. Cahya membalas dengan kecupan lembut di kening adeknya.
Begitu memang tradisi mereka sejak kecil, itu yang diajarkan ibunya agar ikatan kasih sayang putra-putrinya semakin kuat.
Shania sudah tak sabar menunggu kakaknya di meja makan, ingin bercerita pastinya.
Dan benar saja, usai makan kalimat itu mengalir begitu saja dari bibir Shania.
Cahya tampak menyimak dengan antusias, sesekali mengangguk, sesekali mengernyitkan keningnya tampak memikirkan sesuatu.
" Baiknya bagaimana ya kak ? "
" Tunggu saja dia bercerita sendiri Shan, sampai saat ini kalian masih berteman kan ? belum ada embel-embel pacar ? " Cahya memberikan solusi sekalian menggoda adeknya
" Nggak ada sih kak. tapi kalau tiba-tiba Bastian ngajak pacaran gimana kak? Shania terima ?"
" Saran kakak masih sama, pikirkan dulu sebelum melangkah jangan cepat mengambil keputusan. Kamu tidak tahu bagaimana dia di tempat sebelumnya kan ? " Shania mengangguk.
Sebenarnya Cahya percaya dengan Shania bahwa adeknya bisa mengambil keputusan dengan tepat. Namun dia tidak ingin adeknya jatuh pada orang yang salah, yang akhirnya terluka.
........
Sementara itu di kediaman Seno Pramudya Albarak...
Tampak ada pertemuan keluarga, mereka duduk di satu meja dengan wajah serius.
Ini berhubungan dengan kelanjutan hubungan Bastian-Rasya.
Bahkan ibunya Bastian, Diandra Alesia Albarak sengaja meluangkan waktu datang ke Pati untuk menyelesaikan masalah itu. Selama ini memang ibunya masih tinggal di Jakarta karena ada bisnis catering yang harus di tangani.
" kelanjutannya Bastian ? sebelum kita ketemuan dengan keluarga Sasongko Ayah ingin dengar keinginanmu" Pak Seno menatap lekat wajah
putra tunggalnya itu.
" Bastian tidak mencintainya Yah, jadi tidak ada hubungan lagi. Putus sampai di sini. " jawab Bastian mantap.
" Baiklah itu sudah menjadi keputusanmu. Seandainya Rasya tetap ingin melanjutkannya ? " selidik ibunya.
" Bastian akan talak tiga langsung saat persidangan nanti" terang Bastian.
" Baiklah, karena memang kalian tidak ada hubungan setelah kejadian itu, begitu lebih baik "
" Jadi kapan kita ketemu keluarga pak Sasongko ?" tanya Ayahnya
" Sore ini kita berangkat Yah" pinta Bastian
" Segera berkemas "
Besok siang setibanya keluarga Albarak di Jakarta
semua akan diputuskan. Pertemuan di adakan di Resto dekat Gelora Bung Karno Senayan.
Seperti yang telah disepakati pada pertemuan sebulan yang lalu, akhirnya mereka dinyatakan resmi putus setelah melalui proses sidang i. Pertemuan diakhiri dengan jabat tangan.
" Nak Bastian bisa menganggap kami keluargamu juga. Jika pulang ke Jakarta bolehlah mampir. Pintu rumah terbuka untuk kalian semua " Pesan pak Sasongko sebelum meninggalkan mereka.
Rasya tampak lebih ceria, dia ditemani seorang cowok. Bastian yakin itu pacar Rasya. Syukurlah semua berjalan sesuai kesepatan.
.......
Tiga tahun tlah berlalu, Safron masih sering kirim pesan. Jarak dan waktu seakan tak menyurutkan niat mahasiswa fakultas Sastra Inggris ini untuk bisa bersama Shania.
Padahal jika dia bisa membuka hati untuk yang lain, banyak cewek mau jadi pacarnya. Safron memiliki Wajah ganteng, postur tubuh atletis dengan kulit sawo matang. Sayangnya dia inginkan hanya Shania.
Sedangkan Bastian kembali ke Jakarta, dia kuliah di UnTar fakultas Ekonomi dan Bisnis. Cowok yang satu ini terlalu cuek dengan cewek dan cenderung pasif jika hanya sekedar berhura-hura. Kejadian waktu itu membuatnya selalu waspada, tak ingin hal memalukan terulang kembali.
Shania sendiri mengambil fakultas KesMas di Semarang. Shania tidak ingin pergi jauh dari Ayah dan ibunya. Janji pada kakaknya untuk belajar dengan sungguh-sungguh seakan diwujudkannya. Dia tidak ingin mengecewakan orang yang disayanginya.
Bagaimana dengan Cahya ? tentunya semakin mantap saja bisnisnya. Kafe mania Kopiku yang ada di Gedung Juang semakin digandrungi anak-anak remaja. Selain kesibukannya sebagai seorang teknisi handal, dia juga sering di undang sebagai pembicara dalam acara sebagai motivator generasi muda untuk berkarya.
Seperti malam itu, dia memberikan wawasan dan motivasi di depan mahasiswa Satya Wacana. Antusiasme para mahasiswa membuat Cahya semakin semangat dalam menjawab setiap pertanyaan yang mereka lontarkan. Hingga acara berakhir tampak raut puas di wajah mereka.
Tanpa sengaja pandangan Cahya berhenti pada salah satu peserta di sana.
Meski sudah terlalu lama waktu memisahkan mereka...
Gadis itu menatap dan tersenyum kearahnya seakan menyapa kembali kenangan masa lalunya.
Cahya membalas senyum gadis itu. " Fatmawati Indriasari "gumamnya lirih.
Readers tahu kan siapa dia ? ya gadis itu adalah Fatma , TTM nya dulu😄
Mereka saling mendekat, berbincang sekedarnya.
" Aku yang bertugas mengantar mereka, kebetulan aku mengajar kewirausahaan " jelas Fatma
" Wah keren kamu Fatma, aku yakin mahasiswamu pasti senang punya dosen cantik dan supel kayak kamu" kata Cahya setengah berbisik membuat wajah Fatma merona.
Say hello selesai setelah anak didiknya memberi kode untuk pulang.
Pertemuan kali ini berakhir dengan saling tukar nomor telephone. Masih ada bunga-bunga harapan ditaman hati Cahya.
.........
kriiing kriiiing kriiingg
Dering ponsel panggilan masuk membuat wanita cantik itu segera meraihnya dan menjauh dari tempat duduknya.
" kakaaakk" teriaknya, siapa lagi ? Cahya yang sedang telphone Shania.
" aduh, kenceng banget dek " Cahya menjauhkan benda pipih dari telinganya.
" kakak tumben telphone jam segini ? biasanya ntar sore, kangen ya "
" hehe..jadi pulang Sabtu sore dek ? " tanya Cahya
" Jadi dong kakak ku yang ganteng tiada tara .. hahaa "
" Baiklah adekku yang manis kayak madu"
mereka terkekeh
Begitulah obrolan yang gak begitu penting tapi selalu menyegarkan suasana hati keduanya.
Cahya tersenyum penuh arti sepertinya ada kejutan yang dipersiapkan untuk Shania.
..........
Kembali Safron membuka chat untuk Shania
" Shan, Sabtu besok aku pulang Pati, bisa hangout ? di Cafe kak Cahya saja biar seru, aku undang teman yang lainnya" begitu isi chating nya
" okay " Shania langsung merespon karena kebetulan dia jga akan pulang kan ?
Safron mendesah
" heeehh.. singkat banget jawabnya" gumamnya.
" apakah memang tidak ada sedikitpun nama aku dihatimu Shan ? lalu siapa cowok yang beruntung itu ? " Safron hanya mengetuk-metukkan HP nya dimeja sambil menggigit pencilnya. Dia sedang membuat sketsa sebuah lukisan sambil membayangkan sesuatu. Wajah Shania kah ?
Bastian membaca chating di group SMA, yang dishare Safron sore tadi.
Kenangan bersama Shania kembali terukir manis.
Sekarang apalagi yang harus dia lakukan ? bukankah dulu karena ada Rasya ? menyusun kembali asa yang sempat terputus ?
Bastian tersenyum memandang foto Shania saat bersamanya yang masih tersimpan apik di folder Galery HPnya.
Saat itu usai penentuan kandidat lomba Fisika. Nilai mereka diatas peserta sekolah yang lain, akhirnya mereka dikirim untuk perwakilan Cowok dan Cewek dari daerah ke Provinsi.
Namun keduanya belum lolos sebagai kandidat Provinsi.
Meskipun begitu ada kebanggan tersendiri karena masih termasuk 5 besar.
Bastian merebahkan diri dikasurnya, sengaja membiarkan kisah itu tergambar satu persatu pada langit kamarnya.
Bastian mengambil HandPhone dan menekan beberapa angka, entah siapa yang dihubunginya.
.........
Bagaimana dengan anggota grup yang lainnya?
Kiara jga membaca chating yang dikirim Safron.
Dia berharap bisa melihat lagi Cowok itu.
Rendra jga baru membuka Chating grup, wakil ketua OSIS yang diam-diam menaruh simpatinya untuk Shania tersenyum membayangkan gadis itu. " Apakah masih ada kesempatan untukku ? " gumamnya
Padahal sekarang mereka berada di Kota yang sama, tapi karena tidak ada chatingan di grup yang membahas keberadaan mereka, seakan semua berlalu begitu saja.
Yang suka banget sama Bastian pastinya mereka akan datang.
Sepertinya pertemuan Sabtu nanti bakalan seru.
Akan ada banyak kejutan buat Shania.
.......
Tring tring tring
chating masuk diHandPhone Shania.
Bastian Gre : Aku sudah di depan rumahmu
Deg ! serasa jantung Shania berhenti berdetak.
My Self : Serius ?
Bastian Gre : lebih dari serius ✌😊
Shania berlari ke luar dari kamar dan mendapati ada beberapa orang di ruang tamu. Belum jelas siapa saja yang di sana, hanya saja ada suara Ayah dan ... suara wanita, tapi siapa ?
" Nah ini putri saya Shania, Shania" Ayah memberi isyarat agar Shania mendekat dan bersalaman dengan mereka. Sekilas dia menantap cowok tinggi putih yang sejak tadi memperhatikannya.
" Om, Tante " Shania mencium punggung tangan tamu itu. Mereka adalah orang tua Bastian, yang baru kali ini dia temui.
" iya sayang, cantiknya Shania" Ibu Bastian mencium pipi Shania seperti putrinya sendiri. Ternyata aslinya lebih cantik batinnya. Karena yang ibunya tahu wajah Shania di foto yang ditunjukkan Bastian.
Belum tuntas rasa penasaran Shania, Pak Seno menyampaikan maksud kedatangan mereka. Intinya menyampaikan keinginan Bastian untuk meminang Shania.
Kaget dan gugup begitulah yang dirasakan Shania saat ini.
" Kami sebagai orang tua menyerahkan keputusan sepenuhnya pada Shania" ibu Shania menyentuh lembut pundak Shania. Shania menatap ibunya.
seolah bertanya.. " mengapa mendadak begini ?"
" Sa-saya be-belum bi-bisa jawab se-sekarang " jawab Shania gugup.
" Apakah ada yang lain Shania ?" tanya Bastian.
Ada semburat kecewa terpancar diwajah tampannya.
" Bukan begitu Bastian, hanya saja terlalu mendadak " Bastian menangkap keraguan di mata Shania
" Apakah ada yang membuatmu ragu sayang ?" tanya ibu Bastian.
Shania terdiam menunduk, apa kabar hatinya saat ini ? tentunya perdebatan terjadi di sana. satu sisi dia senang dengan pinangan ini, satu sisi dia takut terluka jika suatu saat Bastian berpaling karena ada ..
" Jangan dipendam sendiri Shan, ungkapkan keraguanmu itu, selagi ada orang tuaku disini " Bastian meyakinkan hati Shania.
" Aku hanya khawatir kalau..." Shania menghela nafas.
" kalau apa sayang ?" ibu Bastian mengelus rambut Shania dengan tatapan penuh pengharapan.
Berkali-kali wanita itu menci kening dan menepuk pundak Shania.
Akhirnya Shania bicara tentang apa yang pernah didengarnya waktu itu, yang keluar dari mulut Bastian saat itu.." Negatif "
Ternyata kata itu penyebab keraguannya.
Shania pernah berfikir Bastian punya pacar di Jakarta sana dan mereka lakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan orang yang sudah menikah.
Dan mungkin sudah dilakukan Bastian dengan lebih dari satu orang. Shania tidak ingin tersakiti karena percaya begitu saja dengan wajah tampan dan sikap sopan Bastian.
" karena itu ya ? " Bastian memahami alasan Shania, begitu juga yang hadir.
Bastian dan kedua orang tuanya mulai menceritakan kejadian itu. Memang lebih baik jujur dari awal kan ?
Keluarga Shania mendengarkan penjelasan mereka dengan seksama. Cahya yang baru datang langsung ikut menyimak dengan seksama.
" Begitulah kejadian yang sebenarnya, tanpa ada rekayasa dan sesuatu yang kami tutupi" jelas pak Seno
" Jadi bagaimana sayang, apakah masih ada yang kamu takutkan ?" ibu Shania mencium pucuk rambutnya.
" Shan ?" Cahya menepuk pundak adeknya
Shania mengangguk dan menunduk malu.
" Terimakasih Shania" untuk pertama kalinya Bastian menggenggam tangan Shania.
" eh " kata Shania kaget dan menarik cepat tangannya. semua tertawa melihat tingkahnya.
" Jaga adek ku Bas, awas saja sampai kau buat Shania menangis" Cahya meninju lengan Bastian
" aw, siap kakak" jawabnya meringis sambil mengelus lengannya
Ayah dan ibunya geleng-geleng melihat sikap anak-anak mereka.
..........
Jam 7 malam Cafe Cahya rame pengunjung. Selain tempat nongkrong yang asyik, camilan di sana lumayan enak dan tergolong murah.
Waitres yang ramah serta pemiliknya yang sesekali ikut gabung sekedar menyapa pengunjung menjadi salah satu alasan mereka betah di sana.
Belum lagi fasilitas WIFI dan musik yang bisa mereka request.
Shania datang bersama Cahya.
" Duduk sini Shan , sebentar lagi kejutan untukmu datang " Cahya menggandeng adeknya untuk duduk di kursi Kasir.
" kejutan ..." katanya menggantung " hei apakah mereka kejutan itu kak ?" suara Shania memekik ketika teman-temannya berdatangan. Shania hendak bergabung dengan mereka namun tangan Cahya menahannya. Shania memandang temannya satu persatu dari tempat duduknya. Wajahnya yang terhalang layar komputer tak bisa dilihat dari meja konsumen.
Cahya menghampiri mereka.
" Shania mana kak ? " Safron mulai celingukan mencari Gadis itu.
Tring
Bastian melihat melihat HPnya, pesan dari Shania
My sweety : aku di kursi kasir mulai saja acaranya
Bastian melongokkan kepalanya ke sana, Shania melambaikan tangan
it's me : Ngapain ngumpet ? takut sama fans mu ya ?
My Sweety : Hok oh mereka semua, cowok-cowok itu saingan kamu 😂😂
it's mine : awas saja berani macam-macam😤
My sweety : 😱
Safron ternyata menemukan Shania
" Shaniaaaa.. " wajahnya langsung sumringah digandengnya tangan Shania menuju grup mereka.
Shania menepis tangan Safron mengikuti di belakangnya.
" Shaniaa" Kiara langsung memeluknya
" Shania aku merindukanmu " sapa Revan . Shania membalasnya dengan tertawa.
" Bastian kamu semakin ganteng aja " Shania menepuk punggung tangan Bastian.
" ehem " Nada dan Berlian tampak tidak suka dengan sapaan Shania untuk Bastian
Bastian terkekeh, bagaimanapun pujian Shania membuatnya melambung tinggi
" Bastian, kamu sudah punya pacar belum ?" tanya Berlian to the point. Shania meliriknya.
" Sudah " jawab Bastian mantap.
" yaahhh.. kok sudah sih" Nada dan Berlian kecewa.
" Pasti dong, secara hidupnya di Jakarta kaan banyak yang bening-bening " Safron menimpali
" Bisa aja kamu Saf, yang bening belum tentu cling hahaa..." balas Bastian
Safron dan Revan saling pandang, dan mengedikkan bahu.
" Shan, abang Safron bawa sesuatu untukmu" Safron mengeluarkan sekotak jajanan khas Jogja.
" Jadi .. spesial nie, buat Shania ? yang laennya nggak di kasih ?" ledek Bastian
" eeh boleh kok buat kalian, yuk dimakan bareng"
Jawab Shania " Terimakasih ya Saf, kamu baik sekali, ini Kiara " Shania
" Hai Shania sayang .. kamu semakin manis saja" sapa seseorang yang baru masuk.
" Haii.. kak Fatmaa, aku kangen kakak" cipika cipiki pun terjadi. Cahya berdiri di belakang Fatma.
" owh .. jadi.. kakak nyambung lagi nie ceritanya ? kalau ini kejutannya Shania yes banget !" serunya.
Ternyata yang dimaksudkan dengan calon istri oleh Cahya adalah Fatma, calon kakak ipar Shania adalah Fatma
" Dan senin lusa kami tunangan " bisik Fatma Shania memeluk Fatma, senyum bahagia terukir dibibirnya. Shania juga mengatakan hal yang sama. Mereka melepaskan pelukan .
Bastian menghampiri kak Cahya, sepertinya mereka sedang merundingkan sesuatu. Bastian tidak mau menundanya, kemudian menghampiri Shania dan menggandeng tangannya. Tak perduli dengan ocehan teman-temannya.
" Selamat malam teman-temanku semua" kata Bastian
" Malam " jawab mereka kompak meskipun ada tanda tanya besar terpancar dihati mereka
" Di malam yang penuh bahagia ini ijinlanlah saya menyampaikan sesuatu..." Bastian sengaja menggantung kalimatnya untuk melihat reaksi teman-temannya.
" Apa hoi .. katakan " suara penasaran mulai terdengar. Shania deg deg an
" Kami akan tunangan Senin lusa "
Mendengar kata kami mereka mulai berkasak-kusuk, ada raut tidak suka dimata Nada dan Berlian.
" Siapa yang kamu maksud kami ?"
" Kamu dengan siapa Bastian ? " tanya Safron lantang, ada perasaan mulai tidak tenang.
Safron mengawasi sekeliling ada beberapa pengunjung cewek yang duduk dibangku pojok yang memandang Bastian, Safron pikir dialah orangnya. Revan juga memikirkan hal yang sama.
" Saya dan Shania, mohon doanya"
Bagai kesetrum aliran listrik Safron, Revan, Nada, Berlian mendadak kaku tidak bisa bergerak, mulut mereka terkunci.
" What ? " mereka menoleh ke asal suara itu. Seorang cowok yang tak kalah ganteng dengan Bastian.
" Kak Rendra" gumam Shania
" Katakan sesuatu Shania" teriaknya seolah tidak terima " Cahya " secara bergantian menatap Cahya seakan meminta penjelasan.
Cahya menepuk pundak Rendra temannya.
Sejak lama Rendra menaruh hati sama Shania, tetapi hanya memendamnya sendiri rasa itu untuk memantapkan hati.
Bagaimanapun dia tidak ingin gagal lagi itulah alasan dia mengulur keinginannya. Shania yang pendiam dan Cahya yang posesif menjaga adeknya, membuatnya percaya dan mantap bahwa Shania pantas untuknya.
" Kami akan segera tunangan, jika teman-teman ada waktu mohon kehadirannya" akhirnya Shania menegaskan hubungan mereka.
" Hancuuurr hatiku.. hahaaa " Safron tertawa menertawakan kebodohannya, karena harusnya sadar cinta Shania untuk siapa.
" kalah telak aku" kata Revan
" Beruntungnya Shania" kata Nada
" Harusnya aku jujur sama Bastian waktu itu" kata Berlian
" Selamat Shania" Kiara memeluknya lagi.
" Selamat Bro, kamu memang pantas untuk Shania. Semoga kalian bahagia selalu " Rendra menepuk pundak Bastian, bagaimana kabar hatinya ? pasti hancur malam ini.
.....
.....
Kalau Cinta katakan saja, jangan nunggu di srobot orang. Buktikan bahwa kita pantas untuk dapatkan Cinta.
-Sekian dan Terimakasih yang mampir-🙏🙏
Salam manis buat Readers😍😍